Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sari menghela napas lega saat pembeli terakhir melangkah pergi menjauh dari lapak.
Ia menatap ke dalam wadah-wadah besar di atas meja semen; semuanya kini telah kosong melompong.
Tubuhnya terasa sangat remuk, pinggangnya kaku, dan telapak tangannya yang terbalut kasa berdenyut linu.
Namun, di balik rasa lelah yang mendera, seulas senyum puas sempat terbit di bibirnya.
Misi nekatnya menggantikan Arka pagi ini berhasil total. Semua kue ludes terjual.
Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Saat Sari hendak merapikan meja dan meraih wadah plastik tempat ia menyimpan uang hasil dagangan sejak subuh tadi, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Sari tersentak saat melihat wadah plastik itu kosong.
Ia membalikkan wadah tersebut, meraba bagian bawahnya, namun hasilnya nihil.
Semua uang tunai hasil jerih payahnya berdiri berjam-jam di lapak dingin itu telah hilang tanpa sisa.
Rasa panik dan bingung seketika menyerang kepala Sari.
Matanya mengedar liar ke sekeliling los pasar yang masih ramai, namun ia sama sekali tidak tahu siapa yang tega mengambilnya di tengah keramaian tadi.
Dengan tangan gemetar dan pikiran yang berkecamuk, Sari segera membereskan sisa-sisa wadah kosong dengan terburu-buru.
Ia ingin cepat sampai ke rumah kontrakan untuk memberitahukan kejadian ini dan meminta maaf kepada Arka atas kelengahannya.
Sari tiba di depan rumah kontrakan dengan napas terengah-engah dan wajah yang teramat lelah.
Kedua tangannya yang sakit tampak kepayahan menjinjing tumpukan wadah kosong yang saling berbenturan.
Begitu ia mendorong pintu depan yang ternyata tidak terkunci, langkah Sari seketika terkunci di ambang pintu.
Atmosfer di dalam ruangan terasa begitu pekat dan mencekam.
Di sana, Arka sudah duduk tegap di kursi kayu ruang tengah, menatapnya dengan sepasang mata yang sangat tajam, dingin, dan memancarkan kilat amarah yang mengerikan.
Sari mencoba mengatur napasnya yang memburu, lalu melangkah maju demi menjelaskan situasi pelik ini dengan sejujur-jujurnya.
"Arka, maafkan aku, uang hasil dagangannya hilang dicuri orang di pasar. Tapi aku bersumpah, aku berhasil menjual semuanya sampai habis, Arka. Aku—"
BRAK!
Arka bangkit dari duduknya dengan emosi yang sudah meledak, menendang kaki kursi kayu hingga menimbulkan suara dentuman keras.
Pria itu langsung memotong ucapan Sari dengan bentakan yang menggelegar, memenuhi seluruh sudut ruangan.
"BOHONG!!"
Napas Arka memburu, wajahnya merah padam menahan murka yang teramat sangat.
Ia menunjuk tepat ke wajah Sari dengan telunjuk yang bergetar.
"KAMU MEMBUANG KUENYA DI TONG SAMPAH, KAN?! TEGA KAMU, MBAK!! KARENA SEMALAM AKU MEMBELA NIKEN, KAMU MEMBALASNYA DENGAN CARA SERENDAH INI?!"
Sari tertegun, matanya membelalak tak percaya mendengar tuduhan keji yang keluar dari mulut pria itu.
"Arka, dengarkan aku dulu, itu tidak benar—"
"CUKUP! AKU TIDAK MAU MENDENGAR KEBOHONGANMU LAGI!" bentak Arka, memotong kalimat Sari dengan suara yang kian meninggi, menutup rapat-rapat pintu hatinya dari segala penjelasan.
"PERGI DARI RUMAHKU!! PERGI!!"
Sari tertegun, dadanya terasa begitu sesak seolah dihantam godam yang tak kasat mata.
Kata-kata Arka barusan bukan sekadar bentakan, melainkan sebuah penolakan paling kejam yang pernah ia terima sepanjang hidupnya.
Air matanya menetes perlahan, mengalir di pipinya yang pucat karena kelelahan yang amat sangat.
Jiwa CEO-nya yang biasanya kokoh dan tak tergoyahkan, runtuh seketika di lantai kontrakan sederhana itu.
Ia tidak menyangka ketulusan dan pengorbanannya sejak semalam dibalas dengan tuduhan sekeji itu.
Sari membuka mulut, mencoba menjelaskan semuanya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
"Arka, dengarkan aku dulu... ada Kang Asep yang membantuku tadi... tanganku perih, Arka... aku berdiri semalaman melayani pembeli agar kuemu tidak sia-sia..."
Suaranya bergetar, terputus-putus oleh rasa perih yang menjalar di dada dan telapak tangannya yang masih terbalut kasa putih.
Namun, Arka yang sudah dibutakan oleh amarah yang membakar dan trauma masa lalu akibat dikhianati orang kota, sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Sari untuk membela diri.
Sorot mata pria itu tetap mengunci Sari dengan kebencian dan ketidakpercayaan yang mutlak.
Menyadari bahwa kata-kata tidak ada gunanya lagi di hadapan pria yang sudah menutup rapat pintu hatinya, Sari perlahan menyeka air matanya dengan punggung tangan.
Cukup sudah. batin Sari
Harga dirinya menolak untuk mengemis kepercayaan dari orang yang sudah menghakiminya tanpa bukti.
Dengan langkah kaku dan hati yang hancur berkeping-keping, Sari berbalik dan masuk ke dalam kamar tamu untuk mengambil barang-barangnya.
Tidak banyak yang ia bawa, hanya tas dan pakaian yang ia kenakan saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah ini.
Tak berselang lama, Sari keluar dari kamar. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, menatap Arka untuk terakhir kalinya dengan sorot mata yang penuh luka mendalam—tatapan yang akan selamanya membekas di ingatan rumah kontrakan ini.
Dengan suara bergetar namun mencoba sekuat tenaga untuk tetap tegar, ia berkata, "Aku meminta maaf kalau kehadiranku hanya membawa sial untukmu. Aku pamit."
Sari melangkah keluar dari pintu kontrakan tanpa menoleh lagi.
Langkah kakinya membawa seluruh luka itu pergi, menjauh membelah udara pagi yang dingin.
Ia meninggalkan Arka yang masih berdiri membeku diselimuti amarah, tanpa pria itu tahu bahwa ia baru saja mengusir satu-satunya wanita yang telah mengorbankan segalanya demi dia subuh ini.
Sari melangkah keluar dari gang kontrakan dengan pandangan kosong.
Ia segera memanggil taksi yang kebetulan lewat di tepi jalan raya.
Di dalam mobil yang bergerak membelah kemacetan pagi kota Jakarta, Sari hanya diam menatap jendela, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara.
Luka di hatinya jauh lebih perih daripada gesekan kasa di telapak tangannya yang terluka.
Sesampainya di rumah mewah miliknya, ketegangan lain sudah menanti.
Di ruang tamu yang megah, sang nenek—kepala keluarga besar Maheswara—sudah duduk berwibawa, didampingi oleh Tante Marta dan Diana yang tersenyum penuh kemenangan.
Nenek datang untuk menagih janji terkait klausul warisan dan pernikahan Sari.
Sari berhenti di tengah ruangan. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan penampilannya sangat kontras dengan citra CEO yang biasanya rapi sempurna.
"Sari, waktu yang Nenek berikan sudah habis. Mana calon suamimu? Jika tidak ada, kamu tahu konsekuensinya," ucap sang nenek dengan nada berat.
Tante Marta dan Diana sudah bersiap membusungkan dada, menanti ledakan kemarahan atau pembelaan dari Sari.
Namun, jawaban Sari justru membuat seisi ruangan terperangah.
"Silakan Nenek ambil posisi CEO itu, dan ganti dengan Diana," ujar Sari. Suaranya terdengar sangat datar, lelah, dan tanpa beban.
"Aku tidak akan menghalangi Nenek lagi. Ambil saja semuanya."
Tanpa menunggu reaksi dari keluarganya, Sari melangkah kaku menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sang nenek yang semula ingin bersikap tegas, mendadak tersentak.
Ada rasa iba dan kekhawatiran yang mendalam di hati sang nenek saat melihat punggung cucu kesayangannya yang tampak begitu rapuh dan hancur, tidak seperti Sari yang ia kenal.
Sementara itu, di belahan kota yang lain, atmosfer di dalam rumah kontrakan Arka masih diselimuti emosi yang pekat.
Arka masih duduk di kursi ruang tengah, napasnya memburu, dan dadanya naik-turun menahan amarah serta rasa kecewa yang belum reda atas apa yang ia yakini sebagai pengkhianatan Sari.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kontrakan yang tidak terkunci rapat itu mendadak didorong dari luar.
Muncul sosok Kang Asep, salah satu pedagang di pasar subuh yang juga mengenal Arka dengan baik.
Kang Asep masuk dengan napas terengah-engah dan wajah panik.
"Kang Arka! Di mana Neng Sari?" tanya Kang Asep langsung, matanya mengedar ke sekeliling ruangan mencari keberadaan wanita itu.
Arka mendengus sinis, memalingkan wajahnya dengan gusar.
"Untuk apa kamu mencari wanita jahat itu, Kang? Dia sudah pergi. Dan jangan sebut namanya lagi di rumah ini."
Kang Asep tertegun, dahinya berkerut dalam. "Apa maksud Kang Arka? Wanita jahat bagaimana?"
"Dia sudah membuang semua kue buatan saya ke tong sampah hanya karena balas dendam! Dia menghancurkan jerih payah saya, Kang!" bentak Arka, meluapkan emosinya yang sejak tadi terpendam.
Mendengar penuturan Arka, wajah Kang Asep langsung berubah drastis antara terkejut dan tidak percaya.
Ia menggelengkan kepala dengan kuat, lalu merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah wadah plastik yang tampak sangat familier di mata Arka.
"Kang Arka, kamu ini bicara apa?!" seru Kang Asep, suaranya meninggi karena gemas.
"Ini! Ini uang dagangan Kang Arka yang berhasil saya rebut kembali dari Baron!"
Arka seketika mematung. Matanya terbelalak menatap wadah plastik penuh uang tunai yang disodorkan oleh Kang Asep.
"B-Baron...?" bisik Arka, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.
"Iya! Subuh tadi, Neng Sari itu sendirian di lapak dan kang Asep temani melayani pembeli sampai semua kuemu habis ludes, Kang! Tangannya yang dibalut kasa itu sampai gemetar membungkus kue untuk pelanggan," jelas Kang Asep dengan nada menggebu-gebu, melempar kebenaran yang langsung menghantam telak jantung Arka.
"Lalu saat kang Asep melayani pembeli sayur di lapak kang Asep sendiri. Si Baron memanfaatkan situasi ramai untuk mencuri wadah uang ini dari belakang lapak atas perintah Niken! Saya yang melihatnya langsung mengejar Baron dan merebut uang ini kembali. Neng Sari tidak membuang kuemu, Kang! Dia justru berjuang mati-matian demi kamu!" ucap Kang Asep.
Deg.
Dunia Arka seolah runtuh seketika mendengarnya.
Seluruh amarah yang membakar dadanya lenyap, berganti dengan rasa bersalah yang teramat besar dan menghimpit napasnya.
Wajah pucat Sari, tangannya yang terluka, dan tangisan tulus wanita itu saat diusir tadi langsung berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Arka tersadar, ia baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎