Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 . Obsesif
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama persis selama dua minggu pertama. Sesuai janji, Aiden benar-benar mendatangkan seorang guru privat yang dipilihnya sendiri seseorang yang memiliki latar belakang terjamin, berusia paruh baya, dan terlebih dahulu sudah ditandatangani perjanjian ketat untuk tidak membawa kabar apa pun dari dalam rumah ini ke dunia luar. Setiap pukul sembilan pagi sampai pukul satu siang, ruang belajar di lantai dua itu menjadi tempat satu-satunya Alesha bisa mendengar hal-hal baru, membuka buku, dan merasakan sedikit kesibukan yang dulu ia rindukan.
Di permukaan, semuanya terlihat indah dan sempurna. Mansion itu megah, lantainya dipoles mengkilap, dindingnya dihiasi lukisan mahal, udaranya selalu sejuk karena pengatur suhu yang canggih, dan setiap kebutuhan fisik Alesha terpenuhi tanpa kekurangan sedikit pun. selama ini Aiden selalu bersikap lembut saat mengantar Alesha ke ruang belajar sebelum ia pergi ke kantor, Aiden merasa kali ini ia berhasil membuat gadis manis nya patuh dan tidak pernah menanyakan hal hal yang menguji kesabaran nya itu
"Belajarlah yang rajin, sayang. Semua ini Aku siapkan khusus sesuai permintaan mu ," ucap Aiden setiap kali, suaranya hangat dan menenangkan.
Namun perlahan tapi pasti, dalam benak Alesha mulai tumbuh kesadaran yang menyakitkan. Setelah dua minggu menjalani rutinitas itu, Alesha mulai menyadari satu kenyataan pahit ,tempat ini bukan ruang untuk tumbuh, melainkan sangkar emas yang sangat mewah.
Setiap langkahnya dibatasi aturan yang tak tertulis namun sangat tegas. Ia hanya boleh berada di kamar tidur, ruang makan, dan ruang belajar itu saja. Jendela-jendela besar yang terlihat indah dari luar ternyata dipasang kaca tebal dan jeruji halus yang hampir tak terlihat dari kejauhan. Tidak ada satu pun pintu keluar yang bisa dibuka tanpa kode khusus yang hanya diketahui Aiden. Bahkan saat guru privat itu datang dan pergi, selalu ada dua pengawal yang mengantar jemput, tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Alesha untuk menyelipkan pesan satu pun
Semakin lama Alesha duduk mendengarkan pelajaran, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya bukan soal isi buku, melainkan soal hidupnya sendiri. Ia mulai membandingkan masa kini dengan masa lalu yang masih tergambar jelas dalam ingatannya. iya masih mengingat saat dulu Ia bersama Dedy dan Mami nya yang begitu memanjakan nya,ia selalu bebas mau apapun itu,ia juga bisa bersekolah di luar di ,bertemu dengan taman teman nya,dan bisa jalan jalan kemana saja bersama kedua orang tua nyan.
Di sana, ia bukan milik siapa-siapa yang harus selalu meminta izin untuk sekadar berjalan ke sudut ruangan lain.
Rasa sesak itu makin membesar seiring berjalannya waktu. Dua minggu berubah menjadi satu bulan, lalu melaju cepat hingga genap dua bulan penuh sejak hari ia menerima tawaran belajar di rumah. Selama itu, tidak ada satu kali pun kakinya melangkah keluar dari gerbang tinggi mansion itu. Aiden selalu punya alasan yang terdengar masuk akal namun tak bisa dibantah setiap kali Alesha memberanikan diri menanyakan hal itu.
"Untuk apa keluar, gadis manis ku? di negara ini bukanlah tempat paling aman sayang,di sini banyak orang jahat yang akan menyakiti mu,dan Aku tidak mau Kamu terluka sedikit pun,negara ini bukan seperti negara tepat Kamu tinggal dulu,ini berbahaya buat Kamu jadi Kamu nurut nya ini Aku sekarang perlindungan Mu yang aman ,ucap Aiden dengan nada lembut tapi pasti, sambil memegang bahu Alesha erat-erat.
Namun kata-kata itu tidak lagi terdengar sebagai perhatian bagi Alesha, melainkan seperti belenggu yang diucapkan dengan nada manis. Perlahan, matanya mulai terbuka melihat wajah asli dari apa yang selama ini ia alami. Ia menyadari bahwa apa yang disebut perlindungan oleh Aiden, sesungguhnya adalah obsesi buta yang ingin mencabut seluruh identitas dan kehidupan lamanya. Aiden ingin memisahkannya total dari dunia yang ia kenal, dari kenangan akan Dedy dan Mami, dari kebebasan, dari teman-teman, dan terutama dari keinginannya yang paling mendasar: bersekolah dan hidup seperti anak-anak lain seusianya.
Suatu sore setelah pelajaran usai, Alesha duduk termenung di dekat jendela sambil memegang buku pelajaran yang belum dibukanya lagi. Pandangannya menerawang jauh ke arah jalan raya yang terlihat samar dari balik kaca. Ia melihat sekelompok siswa yang mengenakan seragam sama, berjalan beriringan sambil tertawa lepas, membawa tas punggung mereka dengan ringan. Pemandangan itu menusuk hatinya lebih tajam daripada perkataan kasar sekalipun.
Di dalam hatinya, suara kecil yang sudah lama terpendam itu kembali berteriak makin keras, tidak lagi bisa dibungkam:, Ini bukan hidup, ini kurungan. Aiden tidak melindungi ku ia hanya ingin memiliki aku sepenuhnya, mengambil segala hal yang membuatku menjadi diriku sendiri.
Ingatan akan masa lalu meluap deras. Ia teringat bagaimana Dedy selalu mengajarkannya untuk berani bermimpi, bagaimana Mami selalu menyiapkan bekal dan mengelus kepalanya sebelum berangkat sekolah sambil berkata, "Belajarlah yang baik, putri ku, agar kelak kamu bisa menentukan jalan hidupmu sendiri." Sekarang, jalan itu seolah tertutup rapat di depan matanya.
Air mata menetes perlahan membasahi halaman buku. Alesha menyadari sudah tidak ada gunanya lagi memohon atau berdebat dengan Aiden . Setiap kali ia mengungkapkan keinginan untuk melihat dunia luar lagi dan kembali bersekolah, Aiden akan langsung berubah sikap ,tatapannya menjadi dingin, nada bicaranya tajam, dan hukuman halus akan segera menyusul: dicabut hak membaca buku selama beberapa hari, dibiarkan sendiri dalam kegelapan, atau tidak diajak bicara sampai ia tampak "menyesal" atas permintaannya sendiri.
Tubuh Alesha terguncang menahan tangis yang ingin meledak. Rasa lelah secara batin sudah mencapai batasnya. Dua bulan terperangkap dalam kemewahan tanpa kebebasan terasa lebih berat daripada hidup sederhana namun bebas bernapas. Di saat itulah, di tengah kesunyian ruangan yang megah itu, satu tekad bulat tumbuh dalam hati Alesha meski Alesha tahu risikonya sangat besar.
"Alesha harus pergi dari mansion ini,sebelum kehidupan Alesha di ambil alih sepenuhnya oleh kak Aiden , pikirnya dengan napas yang terengah-engah karena emosi.
" Alesha tidak bisa terus hidup seperti ini selamanya, Alesha ingin melihat dunia lagi, ingin merasakan matahari yang menyentuh kulit secara langsung, ingin mengingat kembali mansion tempat Dedy dan Mami nya membesarkan Alesha, dan lebih dari segalanya Alesha ingin kembali bersekolah, bukan hanya duduk di dalam ruangan ini seperti burung yang dikurung di sangkar emas, ucap Alesha yang mulai berpikir ia sudah mulai sedikit paham tujuan Aiden membawa nya kesini bukan untuk menjaga nya atau membantu Alesha untuk besar hingga ia bisa mencari kehidupan sendiri, tapi ini adalah sebuah obsesi Aiden yang ingin Alesha tetap bersama nya apapun cara nya
Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menatap sekeliling ruangan dengan pandangan baru ,bukan lagi sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai tembok yang harus Alesha tembus, tekad itu tertanam kuat di dalam sanubarinya, meski Alesha belum tahu caranya bagaimana. Yang ia yakini hanya satu: jika ia terus diam dan menuruti saja, maka Aiden akan berhasil menghapus seluruh jejak hidup lamanya, menjadikannya boneka cantik yang hanya bergerak sesuai keinginan laki-laki itu saja. Dan hal itu adalah nasib yang jauh lebih menakutkan daripada apa pun yang bisa terjadi jika Alesha berusaha melarikan diri.
Di luar, matahari mulai terbenam mewarnai langit dengan warna jingga dan merah yang indah, tapi bagi Alesha, keindahan itu terasa seperti tontonan yang dijual mahal sebagai ganti kebebasannya yang hilang. Mulai malam itu juga, Alesha mulai berpura-pura lebih patuh dari biasanya, lebih banyak tersenyum, dan tidak lagi mengucapkan satu kata pun tentang keinginan keluar atau bersekolah menyembunyikan rencana kaburnya di balik sikap penurut yang diharapkan Aiden, agar sang penjaga itu lengah dan membuka celah sekecil apa pun untuk Alesha kabur
Bersambung.
Thank you yang sudah baca cerita oyen😊