NovelToon NovelToon
Only You

Only You

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Keluarga & Kasih Sayang / Berbaikan
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Yang tak suka, silahkan minggir!

Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.

"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.

"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.

"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."

Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?

Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?

Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

#20

Taksi yang membawa Candra berhenti di rumah besar milik orang tuanya. Sudah beberapa tahun ia memutuskan keluar dari rumah itu, sebagai bentuk protes pada sang ayah yang menikah kembali tanpa memberitahunya, serta tak lama berselang sejak ibunya meninggal. 

Tukang kebun yang sedang membersihkan halaman rumah menunduk ketika melihat Candra melangkah masuk. Di teras rumah, wanita bersanggul dan berkebaya itu tengah menikmati secangkir teh, ada banyak hidangan tersaji, sepertinya sebentar lagi ada acara. 

“Bu,” sapa Candra setelah mengucap salam. 

Wanita yang di panggil ibu itu menatap Candra, dingin, datar, dan matanya penuh dengan aura keserakahan yang kental. “Tumben sekali kamu pulang? Bukannya sudah tak mau lagi menengok ke belakang?” 

Bayi dalam gendongan Candra mulai merengek, Candra menggoyang-goyangnya sejenak, lalu bayi itu tenang kembali. “Aku ingin menitipkan bayi ini, Bu.”

“Bayi?! Bayi siapa itu?!”

Candra menggeleng, “Aku menemukannya dalam perjalanan pulang dari rumah sakit.”

“Huh, alasan! Paling-paling itu anak hasil hubungan gelapmu, kan?”

“Tidak, Bu. Aku sungguh-sungguh menemukannya di jalan.” 

“Jangan mudah percaya, Bu. Aku yakin Candra hanya bersandiwara saja, sebab bayi itu mungkin hasil hubungan gelapnya dengan seorang pria.” 

Selain Bu Retno, ada juga Hapsari anak Bu Retno dari pernikahan pertamanya. Kini, sikap Hapsari tak kalah angkuh dari ibunya, seenaknya saja, seolah dia adalah anak kandung pemilik rumah sekaligus bapak kandung Candra, Pak Agus. 

Hapsari melipat kedua lengan di dadanya, aura wajahnya selalu suram karena penuh dengan kedengkian, berlagak bangsawan, padahal ia hanya bangsawan jalur pernikahan antara ibunya dan Pak Agus. Selebihnya dia murni darah rakyat biasa. 

“Itu tidak benar!” sanggah Candra tegas. 

Bu Retno tertawa pongah, “Terus saja kamu berkata tidak benar, tapi alasanmu tinggal di rumah lain menjadi bukti kuat bahwa kamu sebenarnya hanya ingin menutupi hubungan terlarang yang kini membuahkan hasil seorang bayi. 

“Ada apa ini?” 

Kehadiran Pak Agus langsung mengubah atmosfer rumah, Bu Retno langsung menghampiri suaminya, “Ini loh, Pak. Candra pulang bawa bayi, ibu curiga bayi itu adalah anak hasil hubungan gelapnya dengan seorang pria,” bisik Bu Retno penuh racun berduri. 

Pak Agus terbelalak, putri yang sangat ia banggakan karena telah menjadi dokter hebat, ternyata pulang membawa anak hasil hubungan gelap. “Apa benar itu, Candra!?” 

Candra menggeleng kuat, “Tidak, Pak. Bapak percaya Candra, kan?” 

“Beri Bapak bukti agar Bapak bisa mempercayai omonganmu.” 

“Tak perlu bukti, Pak. Karena sudah sangat jelas. Lebih baik usir saja, kehadiran Candra dan bayinya hanya akan mempermalukan keluarga besar kita saja.” 

Candra berbalik, tak ingin lagi mendengar omongan menyakitkan dari istri kedua bapaknya. Lebih baik ia besarkan bayi ini sendiri, biarkan saja orang mau berkata apa. Yang penting ia terhormat di mata Tuhan, dan pasti akan memberinya kemudahan sebab ia menyelamatkan nyawa bayi tak berdosa. 

Flashback end. 

•••

“Kami akan rujuk.” 

“Bohong.”

“Serius, tak lama lagi kami pasti rujuk.” 

“Aku hanya diseret masuk dalam keluarga Samudera, Jhon. Karena Jantung Eyang semakin parah, ditambah ingatannya kacau karena penyakit demensia. Makanya aku setuju mengikuti permintaan pria ini untuk bersandiwara di depan eyang.” 

“Sekarang mungkin hanya sandiwara, Sayang. Tapi aku yakin, bahkan sangat serius, tak lama lagi impian kita akan jadi kenyataan. Om Bas setuju, kan?” Masih dengan gayanya yang over pede, Bagas bertahan dengan mode menyerang. Tak boleh lagi pasrah menunggu putusan. 

Bastian adalah detektif yang dulu terjun langsung dalam pencarian Abel, pria itu kini menjelang pensiun, tapi masih sangat berwibawa bagi Bagas dan Dinda. “Apakah ini tujuan utama kalian mengajakku bertemu? Ingin mengabarkan perihal berita pernikahan?” Bastian bertanya balik pada duo mantan pasangan suami istri tersebut. 

“Bukan, Om! Mas Bagas, sih, malah ngelantur nggak jelas.” Akhirnya Dinda yang mengambil alih pembicaraan. “Begini, Om. Kami ingin Om mencari putri kami sekali lagi.” 

Bastian tak bergeming di tempatnya, memorinya kembali berbalik ke masa lalu, begitu banyak hal ia telusuri, hingga detail paling kecil sekalipun. Lingkup keluarga, lingkungan, semuanya diperluas, agar pencarian bisa bercabang kemana-mana, tak terfokus pada satu titik saja. 

Sayang sekali, usaha maksimal itu tak kunjung membuahkan hasil. Hingga kepolisian terpaksa menghentikan pencarian setelah berjibaku selama dua tahun penuh dalam pencarian tanpa ada kejelasan. Dengan berat hati, almarhum ayah Dinda setuju untuk menghentikan pencarian, dan hingga akhir hayat ia masih mengira bahwa Abel cucunya telah meninggal. 

Tapi sebagai ibu, Dinda percaya bahwa putri semata wayangnya masih hidup, saat ini pasti berada di suatu tempat, dalam keadaan sehat wal afiat. 

“Om akan menolong kalian, Om janji sebelum masa pensiunku tiba, akan ku kerahkan segenap upaya agar putri kalian bisa ditemukan,” sahut Pak Bastian dengan penuh keyakinan. Sudah lama sekali ia tak melihat semangat penuh keyakinan dari wajah keponakan istrinya itu. 

Bagas ikut mencondongkan tubuhnya ke depan, “Tolong sampaikan juga ke Mama Juwita, selama sandiwara ini hingga proses rujuk kami terlaksana, aku akan menjaga putrinya dengan baik.” 

Bastian tergelak sambil mengangkat kedua tangannya. “Kalau itu aku menyerah, utusan rujuk silahkan kalian urus sendiri.” 

“Siapa yang mau rujuk? Kalian?” Dari dalam rumah Indira istri Bastian datang dengan nampan minuman serta camilan. 

“Iya, Tante. Doakan, ya.” 

“Jangan didengar, Tante. Bagas sedang mabuk,” sela Dinda sewot. 

“Betul, Tante. Mabuk cinta.” 

Dinda semakin sewot, “Gila.”

“Sejak dulu aku memang tergila-gila padamu, Sayang.” Bagas menaik turunkan alisnya. 

Bastian dan Indy tak bisa menahan gelak tawa mereka, “Mas, culik aku lagi seperti dulu, dong, sepertinya masa muda kita tak se seru masa muda mereka.” 

“Ayo! Mau kabur kemana?” 

“Pokoknya yang jauh,” jawab Indy disertai kedipan mata genitnya. 

Astoge, apa-apaan mereka, sudah tua juga masih semesra itu, bikin Bagas makin keki, karena merasa kalah dari pasangan polisi yang sudah berusia matang itu. “Om dan Tante malah pamer kemesraan.” 

“Hahaha, memang cuma kalian yang bisa romantis-romantisan. Masa muda kami juga tak kalah mendebarkan dari kalian tauk.” Bastian balas mengejek. 

Indy segera menyuguhkan secangkir kopi untuk masing-masing orang yang ada di teras rumah tersebut. “Jadi, sudah sejauh mana hubungan kalian?” 

“kami— masih dalam tahap pendekatan, Tante. Tapi kami sudah tidur satu kamar.”

Uhuk! 

Uhuk! 

“Mas!” 

“Ya, Tuhan. Maaf, Sayang, aku keceplosan, gimana, dong?” ujar Bagas berpura-pura memasang wajah memelas, sambil memukuli bibirnya sendiri. Tak sampai di sana, Dinda juga mencubit perut dan pinggang pria itu. 

“Dasar ember bocor! Kaleng rombeng! Gak bisa banget jaga rahasia! Sekalian saja umumkan di media masa!” omel Dinda. 

Bagas mengangguk setuju, “Baiklah, Sayang. Bila itu maumu.” 

•••

masih ingat Bastian dan Indira, kan? 😋😜

1
Bunda Aish
ada apa lagi nih 🤔
Shee_👚
ini Tari kakaknya bagas kan ya🤔
aku lupa nama Kaka nya bagas
Dew666
Tari tuh kakaknya bagas ya
moon: iya kak
total 1 replies
Dew666
Smangat bagas
falea sezi
wahh kenapa
🌷Vnyjkb🌷
gerceppp amattt mass 🤭 takut keduluan yg itu tuuu😜😜
Esther
Sikap Tari mencurigakan, ada apa?
Bunda Idza
ada apa dengan mbak Tari??? readers kepoo ni....☺️
Esther
Semangat Bagas untuk bersaing dengan dokter Angga🤭
Sh
ada apa dengan Tari ? selingkuh ? atau mengekorin suami yang dicurigai selingkuh?
Sh
aku jahat ga kalau aku bilang aku suka Ama Mama Juwita yang nyiksa Bagas😂😂. Aku curiga karena kecelakaan mobil, Dinda ga bisa hamil lagi. itu yang menyebabkan Dinda ga mau nikah lagi. Kalau dengan Angga pakai alasan Dinda selama anaknya belum ketemu, Dinda ga berhak bahagia
Bunda Aish
wah mulai nih persaingan perebutan perhatian dan cinta Dinda 🙄
Bunda Aish
ngeselin juga ya sama tingkah nya Bagas dulu waktu kehilangan Abel
Nar Sih
brati kemungkinan bnr ya kak klau alicia ank nya dinda yg hilang dulu
Nar Sih
setujuuu dan 👍bagas lamar lgi dinda jadikan istri mu lgi dan bareng mencari putri mu yg hilang moga sgra ketemu
Shee_👚
nah betul kata bastian, ngapain kan ya orang bukan eyangnya lagi. jadi ya tolak aja
Shee_👚
yang polisi kan kak??
Sh
ga puas episode ini walau menurut ku lumayan panjang
Dew666
🥰😍
Bunda Idza
next Thor.... ditunggu selalu kelanjutannya 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!