NovelToon NovelToon
Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Hamil Anak Mantan Dinikahi Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayamgoreng

Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.

Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.

Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.

Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.

"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kenaifan yang menguntungkan Ghea

Ghea Clarissa berlari bagaikan dikejar setan menembus gerbang besi raksasa mansion keluarga Alister. Langkah kakinya gontai, tumit sepatu hak tingginya bahkan sudah patah sebelah, membuatnya terpaksa bertelanjang kaki di atas aspal yang mulai menghangat. Napasnya terputus-putus, dan jantungnya masih bertalu dengan ritme horor.

Begitu berhasil menjauh beberapa ratus meter dari pos penjagaan, ia langsung melambaikan tangan dengan panik ke arah sebuah taksi yang kebetulan lewat. Tanpa menunggu aba-aba, Ghea menerobos masuk dan mengempaskan tubuhnya ke kursi belakang.

BLAM!

"Jalan, Pak! Cepat jalan dari sini!" seru Ghea dengan suara parau yang gemetar, matanya melirik waswas ke kaca spion luar, takut jika tiba-tiba ada anak buah Devan yang mengejarnya, padahal itu mustahil terjadi.

Sopir taksi paruh baya itu terkejut melihat penampilan berantakan penumpang wanita di belakangnya. Riasan wajahnya luntur total oleh air mata, menyisakan garis-garis hitam maskara yang mengerikan di pipi.

"Mbak... Mbak tidak apa-apa?" tanya sopir itu dengan nada cemas sekaligus ngeri. "Perlu saya antar ke kantor polisi? Atau... saya antar ke rumah sakit?" tanya sang sopir dengan nada lembut dan khawatir.

Ghea memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Begitu mobil sudah menyala mesinnya, aura ketakutan Ghea perlahan menguap. Wajah memelas yang penuh air mata tadi lenyap dalam sekejap, digantikan oleh sorot mata yang kembali dingin dan angkuh.

"Nggak usah banyak tanya deh, Pak" kata Ghea ketus. "Jalan saja ke arah sana! Lurus terus nanti bakal saya tunjukkin rumahnya!" sambung Ghea. Suaranya berubah total—tidak ada lagi nada parau kesakitan, yang ada hanyalah suara ketus seorang wanita kota yang sombong.

Sopir taksi itu tertegun, sedikit bingung dengan perubahan drastis sikap penumpangnya, namun ia memilih diam dan kembali fokus menyetir.

Di kursi belakang, Ghea menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil. la menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang ia ambil dari dalam tas. Menyedihkan, pikirnya. Namun, sedetik kemudian, sebuah tawa hambar lolos dari belahan bibirnya. Tawa itu perlahan berubah menjadi kekehan sinis penuh ketidakpercayaan yang menggelora di dalam dadanya.

"Nadia... Nadia..." gumam Ghea lirih, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu itu sebenarnya terbuat dari apa, sih? Malaikat? atau memang otaknya saja yang ketinggalan di rahim ibumu?"

Ghea benar-benar tidak habis pikir. Logika sehatnya sebagai wanita yang terbiasa menghalalkan segala cara sama sekali tidak bisa menjangkau jalan pikiran mantan rivalnya itu.

Di dunia Ghea, hukum tabur tuai adalah mutlak. la tahu betul seberapa bejat kelakuannya bersama Arkan di masa lalu. Mereka berselingkuh terang-terangan, merampas kebahagiaan Nadia, memamerkan kemewahan di atas penderitaan wanita itu, bahkan mendepak Nadia dari rumah bagaikan membuang seonggok sampah tak berguna.

Harusnya, Nadia tertawa puas saat ia datang bersujud dan merangkak seperti anjing kurap di atas lantai marmer tadi. Harusnya, Nadia meludahi wajahnya, mencaci-makinya, atau setidaknya menonton dengan senyum kemenangan saat Devan Alister memerintahkan pengawal untuk menyeretnya keluar. Itu adalah reaksi normal manusia yang waras!

Namun, apa yang dilakukan si bodoh Nadia itu?

Wanita itu justru menangis. Dia merasa iba. Dan yang paling gila, Nadia bahkan berani mempertaruhkan hubungan rumah tangganya yang baru seumur jagung dengan menentang sang penguasa Alister Group demi membela mantan suami yang telah mengkhianatinya!

"Jangan biarkan hatimu yang terlalu luas itu berubah menjadi kenaifan yang menjijikkan!"

Ghea tersenyum puas mengingat bentakan Devan tadi. Kali ini, ia seratus persen setuju dengan kalimat tajam sang CEO. Kebaikan hati Nadia bukan lagi sebuah kebajikan yang patut dipuji, melainkan sebuah kelemahan mental yang teramat bodoh. Bagaimana bisa ada seorang wanita di dunia ini yang begitu mudah melunakkan hatinya hanya karena melihat air mata palsu dari musuh bebuyutannya sendiri?

Drrt... Drrt...

Ponsel di dalam tas Ghea bergetar. la membukanya dengan tergesa-gesa. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor resmi Alister Group.

[Pesan dari Tim Alister Group]

"Berdasarkan instruksi khusus dan mutlak dari pihak yang berkaitan, kami telah melakukan peninjauan kembali atas berkas tuntutan denda terhadap saudara Arkan. Nominal denda resmi dipotong hingga batas maksimal yang masuk akal. Surat resmi pembatalan sita aset sebagian akan dikirimkan oleh pihak bank hari ini"

Mata Ghea melebar sempurna. Bibirnya gemetar, bukan lagi karena takut, melainkan karena rasa kemenangan yang meletup-letup. Kenaifan Nadia baru saja menundukkan kekuasaan absolut seorang Devan Alister!

Tanpa buang waktu, Ghea langsung menekan sebuah nomor telepon.

"Halo, Pak Dani?" seru Ghea begitu panggilan tersambung. Suaranya terdengar sangat ceria dan percaya diri, sama sekali berbeda dengan wanita yang bersujud di lantai marmer setengah jam lalu.

"Iya, Bu Ghea? Bagaimana hasilnya? Apakah Anda berhasil menemui Pak Devan?" tanya suara di seberang telepon—kuasa hukum Arkan—dengan nada penasaran. "Saya baru saja mau mengabari Anda untuk bersiap menghadapi penyitaan total semua harta suami anda. Mustahil melunakkan hati Devan Alister, Bu. Pria itu berotak keras."

Ghea terkekeh geli, memainkan ujung rambutnya yang berantakan. "Devan memang iblis, Pak Dani. Dia tidak akan pernah melepaskan Arkan."

Suara pak Dani terdengar hening di sana. "Lalu? Berarti gagal?"

"Tentu saja tidak" potong Ghea tajam dengan nada meremehkan. "Devan memang tidak punya hati, tapi sayangnya, dia baru saja menikahi seorang wanita yang tidak punya otak. Umpan air mata saya dimakan habis oleh Nadia. Tim legal Alister baru saja mengirim pesan, denda finansial Arkan dipotong habis-habisan sampai batas maksimal!"

Suara di seberang telepon mendadak hening selama beberapa detik, tampaknya sang pengacara terkejut setengah mati. "Hah? Seri-serius Anda, Bu? Bagaimana bisa Bu Nadia membujuk pria sekejam Devan Alister?"

"Caranya? Cukup menangis dan menjual drama anak dalam kandungan'" kata Ghea sinis. "Nadia itu terlalu naif, Pak Dani. Dia pikir dengan menolong kami, dia sedang membersihkan hatinya dari dendam. Dia tidak sadar kalau ketololannya itu adalah keuntungan besar buat kita. Sekarang, urus sisa administrasinya ke bank. Pastikan Arkan tahu kalau asetnya selamat karena akting luar biasa istrinya ini!"

Terdengar suara decak kagum dari seberang telepon. "Wah... Luar biasa... Anda benar-benar pintar sekali memanfaatkan situasi bu, Ghea!" puji pengacara itu dengan nada tak percaya. "Baik, buk!. Saya akan urus sisa administrasinya sekarang juga!" seru sang pengacara sebelum menutup telepon.

Ghea menurunkan ponselnya, lalu menatap keluar jendela. Struktur megah mansion Alister yang perlahan menghilang di balik tikungan jalanan menyisakan senyum licik yang semakin lebar di wajahnya.

la memang berhasil menyelamatkan finansial Arkan dari kehancuran total. Namun, di balik itu semua, Ghea tahu betul apa yang baru saja ia tinggalkan di dalam rumah mewah tersebut.

Ingatan tentang bagaimana Devan membentak Nadia, tatapan kecewa mendalam yang menghunus istrinya, hingga kata kata keras yang Devan ucapkan tadi, masih terekam jelas di otak Ghea.

Devan Alister adalah tipe pria dominan ber ego tinggi yang memegang kendali penuh. Dan hari ini, ego serta harga diri pria itu telah diinjak-injak oleh istrinya sendiri demi membela masa lalu.

"Kamu menyelamatkan suamiku dari kemiskinan, Nadia..." bisik Ghea penuh kemenangan pada angin malam yang berembus dari celah jendela taksi. "Tapi sebagai gantinya, kamu baru saja melempar bom waktu ke dalam pernikahanmu sendiri. Mari kita lihat, seberapa lama pernikahan 'bahagia' kalian akan bertahan setelah kamu membuat iblis seperti Devan sekecewa itu" kata Ghea sinis. "Selamat menikmati neraka barumu, Nadiara." seru Ghea dalam hati, tertawa oleh kemenangan nya hari ini.

★★★

1
Rita Rita
pelakor selalu menikmati hasil orang lain,dan Arkan sama Ghea menikmati hasil juga dari merampas harta orang
Rita Rita
pokoknya begitu klik langsung lebur,, AQ paling suka gercap,,,
Rita Rita
diri ku mampir, keknya menarik banget alur ceritanya Thor,,
KakLia
canggung bngt yah pak🤭
KakLia: terserah kk aja, kan author adalah penguasa🤣
total 2 replies
Ayamgoreng
wah ad yg komen. oke!! udh ta up satu tuh
Iffanaya 😽
kuy ditunggu lanjutannya kk 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!