NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Ambil Saja Suamiku, Mbak Mantan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.

Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa

Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.

Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inara 18

Masuk ke mobil!" perintah Mahesa, suaranya naik "satu oktav. Dia mencengkeram pergelangan tangan Inara. Namun, detik itu juga, Mahesa tersentak. Pergelangan tangan istrinya terasa sangat panas, berbanding terbalik dengan kulitnya yang semalam sedingin es. Wanita ini sedang demam tinggi.

"Kamu demam," desis Mahesa, kilat kekhawatiran yang sangat murni lolos dari matanya.

Inara menarik tangannya dengan sentakan pelan namun penuh penolakan.

"Bukan urusan Anda. Lepaskan."

"Inara!"

"Saya bilang lepaskan, Pak Mahesa!" Suara Inara yang biasanya lembut kini meninggi, memotong kalimat suaminya dengan ketegasan yang belum pernah Mahesa dengar seumur hidupnya.

"Jangan bersikap seolah-olah Anda peduli pada saya! Anda melakukan ini hanya karena takut reputasi Anda rusak, kan? Tenang saja, saya tidak akan mati di depan rumah Anda dan membuat jalang kesayangan Anda menunggu di apartemen barunya!"

Plaaaakkk

Map dokumen di tangan Mahesa tanpa sengaja terjatuh ke tanah saat dia melepaskan cengkeramannya karena terkejut. Kata-kata Inara barusan bukan lagi sekadar pembelaan diri, melainkan sebuah deklarasi bahwa wanita itu telah mencapai batas akhir dari rasa sabarnya.

Sebelum Mahesa sempat merespons, sebuah mobil sedan lain berhenti di depan gerbang mereka. Clarissa turun dari taxi, bukannya langsung ke kantor malah ke rumah mereka.

"Mas Mahesa? Kenapa lama sekali? Aku sudah nungguin di depan dari tadi," panggil Clarissa dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat, namun matanya menatap tajam ke arah Inara yang berdiri lemas di samping motor tuanya.

"Ada apa sih? Kok pembantu VIP mu ini belum berangkat kerja?"

Mendengar suara Clarissa, Inara tersenyum getir. Dia menatap Mahesa yang mendadak kaku, terjebak di antara istri sahnya yang sedang sakit sakral dan mantan istri yang teramat dia puja.

"Lihat, Pak? Masa depan Anda sudah menjemput," lirih Inara, suaranya kembali datar dan dingin.

Dia merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya sendiri, dan menekan aplikasi ojek daring dengan tangan yang gemetar hebat.

"Pergilah. Jangan biarkan Mbak Clarissa menunggu. Saya bisa mengurus diri saya sendiri."

Mahesa menatap Inara, lalu beralih menatap Clarissa yang mulai membunyikan klakson mobilnya dengan tidak sabar. Ada tarikan kuat di dalam dada Mahesa untuk mengabaikan Clarissa dan menggendong Inara masuk ke dalam rumah. Namun, ego lelakinya yang menolak kalah dari seorang wanita jaminan utang, membuat Mahesa kembali menarik topeng dinginnya.

Pria itu memungut map dokumennya yang kotor terkena tanah, lalu berbalik tanpa menatap Inara lagi.

"Terserah kamu," ucap Mahesa dingin, melangkah lebar menuju mobil Clarissa.

"Jangan harap saya akan meminta Dokter Tirta memeriksa kamu lagi jika kamu tumbang di kantor hari ini."

Inara hanya diam menatap punggung suaminya yang masuk ke dalam mobil Clarissa. Saat mobil itu melesat pergi meninggalkan kepulan debu, ojek daring pesanan Inara tiba. Dengan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis dan pandangan yang mulai berkunang-kunang karena demam yang membakar tubuhnya, Inara naik ke atas motor matic sang ojek, bersiap menerjang polusi Jakarta demi menyelesaikan sisa harinya sebagai wanita pajangan yang tidak berharga.

Angin pagi yang kencang memapar tubuh Inara yang sedang membara karena demam. Baru setengah perjalanan, kesialan kembali menghantamnya. Motor ojek daring yang dia tumpangi mogok total di tepi jalan layang yang ramai.

Inara terpaksa turun dengan tubuh yang limbung. Kepalanya berputar hebat, dan aspal di bawah kakinya terasa seolah bergerak. Di tengah keputusasaan dan klakson kendaraan yang bersahutan, sebuah mobil SUV hitam berhenti di depannya. Kaca jendela diturunkan, menampilkan wajah terkejut seorang pria.

"Bu Inara? Benar Bu Inara, kan?"

Pria itu adalah Arga, Manajer Pengembangan Bisnis di Dirgantara Group. Dia adalah salah satu rekan kerja yang menghormati dedikasi Inara dan terkenal ramah di kantor.

"Pak Arga?" lirih Inara, suaranya nyaris habis.

Melihat wajah Inara yang sepucat mayat dan keringat dingin yang mengucur di pelipisnya, Arga langsung keluar dari mobil tanpa berpikir dua kali.

"Ya ampun, Bu Inara, sepertinya anda sakit. Ayo masuk ke mobil saya, saya antar ke kantor atau ke rumah sakit saja?"

"Ke kantor saja, Pak. Saya ada laporan yang harus diserahkan," jawab Inara setengah berbisik.

Dengan sisa tenaganya, dia berpamitan pada abang ojek dan membiarkan Arga membantunya masuk ke dalam mobil.

Di dalam kabin mobil Arga yang hangat dan beraroma kopi, Inara akhirnya bisa menyandarkan kepalanya. Arga bahkan dengan perhatian mengecilkan suhu AC dan memberikan sebotol air hangat dari tumbler-nya.

"Minum dulu, Bu. Jangan dipaksakan kalau tidak kuat."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Inara merasakan bentuk kepedulian yang tulus dari seorang pria sesuatu yang seharusnya dia dapatkan dari suaminya sendiri.

Pukul 08.15, mobil Arga memasuki pelataran lobi utama Dirgantara Group. Di saat yang bersamaan, Mahesa baru saja turun dari mobil bersama dengan Clarissa setelah terjebak macet. Mahesa berdiri di lobi, berniat melepaskan Clarissa, namun pandangannya mendadak terkunci pada SUV hitam yang baru saja berhenti.

Pintu penumpang terbuka. Mahesa menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Arga turun terlebih dahulu, berjalan memutari kap mobil, dan dengan sangat hati-hati memapah tubuh ringkih Inara keluar. Tangan Arga berada di siku Inara, menjaga agar wanita itu tidak jatuh, sementara wajah Inara tampak menatap Arga dengan pandangan penuh rasa terima kasih.

Deeegh

Sesuatu yang panas dan tajam mendadak meledak di dalam dada Mahesa. Genggaman tangannya pada tali tas kerjanya mengencang seketika hingga urat-urat di tangannya menonjol. Pemandangan itu membakar matanya. Istri sahnya, wanita yang semalam baru saja dia selimuti dengan jasnya, kini datang ke kantor dipapah oleh pria lain.

"Mas Mahesa? Kamu lihat apa sih?" tanya Clarissa manja, mencoba menarik lengan Mahesa.

"Kamu pergilah ke ruanganmu sekarang, Clarissa. Saya ada rapat," jawab Mahesa dengan nada yang sangat dingin dan ketus.

Hal itu membuat Clarissa tersentak kaget karena perubahan drastis sikap pria itu. Tanpa menunggu jawaban Clarissa, Mahesa melangkah lebar dengan aura membunuh menuju lobi dan pergi ke ruangannya.

Sepanjang siang itu, ruang kerja Direktur Utama berubah menjadi neraka bagi para karyawan. Mahesa benar-benar uring-uringan tanpa alasan yang jelas. Semua laporan yang diserahkan oleh kepala divisi ditolak mentah-mentah. Dia berulang kali memaki sekretarisnya hanya karena masalah sepele seperti salah meletakkan bolpoin.

Pikirannya sama sekali tidak bisa fokus pada dokumen di mejanya. Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan tangan Arga yang memegang siku Inara kembali berputar di kepalanya, memicu rasa bergemuruh yang teramat menyiksa. Dia tak suka melihat Inara di sentuh pria lain seperti itu!

Braaaaakkkk

Mahesa menghempaskan penanya ke meja. Dia berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas.

"Kenapa dia harus menolak naik mobilku kalau ujung-ujungnya malah naik mobil pria lain?"

"Apakah dia sengaja melakukan ini untuk membalas dendam padaku dan Clarissa?"

"Murahan sekali!" ego Mahesa terus meracuni pikirannya, mencoba menyangkal bahwa rasa panas di dadanya saat ini adalah rasa cemburu yang terasa sangat membakar. Dia sepertinya tidak sadar kalau sudah mencintai Inara.

Pukul dua siang, Mahesa sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menekan tombol interkom di mejanya.

"Sekretaris Anna, panggil Bu Inara dari divisi akuntansi ke ruangan saya. Sekarang."

"Maaf, Pak Mahesa," suara Anna terdengar ragu dari seberang sana.

"Bu Inara tadi jam sebelas siang sudah dilarikan ke ruang kesehatan kantor karena pingsan saat melakukan input data. Dan Pak Arga yang mengantarnya ke sana. Menurut bagian kesehatan saat ini Pak Arga masih menemani beliau. Kondisi Bu Inara sangat lemah, namun dia menolak saat di bawa ke rumah sakit,"

Mendengar nama Arga kembali disebut, pertahanan Mahesa runtuh total. Wajahnya menggelap, dipenuhi amarah dan rasa tidak tenang yang bercampur aduk. Tanpa membalas ucapan sekretarisnya, Mahesa menyambar jasnya, menghentakkan pintu ruang kerjanya, dan melangkah tergesa-gesa menuju ruang kesehatan.

Pria baji-ngan itu tidak peduli lagi pada batasan atau harga diri yang dia tahu pasti saat ini. Tidak ada satu pun pria yang boleh menyentuh miliknya, terutama di saat hatinya sendiri sedang berdarah-darah menahan cemburu yang tak kunjung dia akui.

1
Ma Em
Syukur Alhamdulillah Inara sdh bebas dari Mahesa dan sekarang Inara sdh pergi , jgn sampai Mahesa bisa bertemu Inara lagi biarkan Mahesa dgn perempuan idaman nya dan paling Mahesa cintai sekarang Mahesa sdh miskin apakah Clarisa mau bersama Mahesa .
Dew666
🩵🩵🩵
Mundri Astuti
hmmmmmm ....apa loe cari" Inara lagi...
sana bawa tuh cewek benalu...
Rahma
Alhamdulillah akhirnya keadilan buat Inara dtg jg, silahkan nikmati hasil dr kelakuanmu mahesa
Oma Gavin
Alhamdulillah mahesa kere dan pastinya clarisa ngga mau lagi dan cari mangsa baru kaya .eskipun sdh tua om" gendut ngga masalah yg penting ada duitnya
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
silahkan pertanggungjawabkan semua bersama clarissa ya mahesaa
nely_48
Gavin kau bantu lindungi inara ya, sampe keadaan inara tenang n pulih dr trauma nya
Muft Smoker
waaaah ada apa niih ,,
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Dew666
🩵🩵🩵
sunaryati jarum
Harus sabar melihat kejutan untuk Mahesa
sunaryati jarum
Setelah lepas dari tekanan Mahesa kau menemui kebahagiaan,Insra
Mundri Astuti
Alhamdulillah ada Gavin, lega aqoh 😄
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuuut maaak 😘😘😘😘
Hary Nengsih
lanjut penasaran apa yg terjadi d gedung
Oma Gavin
up lagi kak pengen lihat mahesa nangis darah ngga diangkat jadi direktur utama dan dicoret dari ahli warisnya pak raharja
Anisa Nur
pasti gak jadi di angkat deh Mahesa sama papanya biar di tau rasa
Arin
Sekarang tinggal tunggu penyesalan Mahesa setelah Inara meninggalkannya
hasana
wah keterlaluan ini mahesa
harus d laporkan k polisi ituuuuu
pasal perampasan aset🤭🤭🤭
Hary Nengsih
jahat manget mahesa jngn sampe balikan m inara
nely_48
apa coba maksudnya s mahesa menyiksa lahir batin inara salama d nikahi oleh nya❓ edan boa s mahesa teh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!