NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21 : Winarsih dan Clarissa

Suasana di Pabrik Roti Juragan Warso kembali ramai. Aroma roti yang baru matang memenuhi seluruh ruangan. Para pekerja sibuk memasukkan roti ke dalam keranjang sesuai pesanan yang akan dikirim ke berbagai warung di Desa Sekar Sari dan desa-desa sekitarnya.

Winarsih tampak berdiri di dekat meja pengepakan. Meski matanya masih sedikit sembap, ia tetap bekerja seperti biasa. Dengan teliti ia menghitung jumlah roti, lalu menyusunnya ke dalam beberapa keranjang rotan.

"Warung Bu Yanti... dua puluh bungkus. Warung Pak Hadi... lima belas bungkus." Ia memastikan tidak ada pesanan yang tertukar.

Di sudut ruangan, Rudi memperhatikan Winarsih beberapa saat. Sejak pagi ia sudah mendengar cerita dari beberapa warga mengenai keributan di rumah Sulastri. Hatinya merasa tidak tega melihat Winarsih tetap memaksakan diri bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.

Saat Winarsih hendak mengangkat salah satu keranjang, Rudi segera menghampirinya.

"Mbak Winarsih."

Winarsih menoleh sambil tersenyum tipis. "Iya, Mas Rudi?"

Rudi tampak ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, "Tadi... waktu saya mau mengantar pesanan ke rumah Bu Salma, saya dengar dari warga kalau pagi-pagi Mbak sempat datang ke rumah Bu Sulastri."

Winarsih terdiam sesaat.

Rudi mengembuskan napas pelan. "Buat apa lagi, Mbak?"

Winarsih menundukkan kepala.

"Bukannya... Mbak sudah diceraikan Mas Benni?" ucap Rudi hati-hati. "Maaf kalau kata-kata saya kurang enak didengar."

Winarsih menggenggam pegangan keranjang lebih erat, tetapi tetap berusaha tersenyum.

"Saya cuma..." Rudi melanjutkan dengan nada tulus, "nggak mau Mbak dihina lagi sama Bu Sulastri."

Winarsih mengangkat wajahnya perlahan.

"Saya lihat sendiri beberapa warga membicarakan kejadian tadi. Jujur saja, saya ikut sedih."

Winarsih tersenyum tipis meski matanya kembali berkaca-kaca. "Iya, Mas Rudi... saya tahu."

Rudi menggeleng pelan. "Kalau saya boleh memberi saran, Mbak... lebih baik jangan datang lagi ke sana. Saya takut Bu Sulastri malah semakin menyakiti perasaan Mbak."

Winarsih menarik napas panjang. "Saya mengerti maksud Mas Rudi." Ia menatap pria itu dengan sorot mata penuh rasa terima kasih. "Tapi... ini masalah rumah tangga saya."

Rudi terdiam.

"Saya sendiri masih bingung harus bersikap seperti apa." Suara Winarsih terdengar lirih. "Saya hanya ingin semuanya menjadi jelas. Setelah itu... apa pun keputusan Mas Benni, saya akan menerimanya."

Rudi mengangguk pelan. Ia bisa melihat ketulusan di mata wanita itu. "Saya doakan semoga Mbak segera mendapatkan jalan keluarnya."

"Terima kasih, Mas."

Winarsih mengangkat keranjang roti yang sudah tersusun rapi. "Kalau begitu... saya permisi dulu. Pesanan harus segera saya antar."

"Hati-hati di jalan, Mbak."

"Iya, Mas."

Winarsih pun melangkah keluar dari pabrik sambil membawa keranjang roti. Meski hatinya masih dipenuhi luka, ia tetap berusaha menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Di balik senyumnya yang tipis, masih tersimpan harapan kecil bahwa suatu hari nanti ia bisa berbicara langsung dengan Benni dan mengungkapkan kebenaran yang selama ini terkubur.

Winarsih terus mengayuh sepedanya menyusuri jalan desa. Keranjang rotan berisi roti tersusun rapi di bagian belakang. Angin pagi berembus pelan menerpa wajahnya, tetapi pikirannya masih dipenuhi kejadian di rumah Sulastri.

Setiap kayuhan sepedanya terasa berat. Ucapan demi ucapan Sulastri kembali terngiang di telinganya.

"Kamu sudah bukan siapa-siapa Benni lagi. Benni tidak mau lagi berhubungan dengan perempuan sepertimu. Hidup kami sekarang jauh lebih baik."

Tanpa sadar, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Mas Benni..." bisiknya lirih. "Apa benar semua itu keinginan Mas?" Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran buruk yang terus menghantuinya.

Kemudian, wajah Dokter Arga terlintas di benaknya. Ucapan pria itu masih ia ingat dengan jelas.

"Saya akan membantu Mbak sebisa saya."

Winarsih menggenggam setang sepedanya sedikit lebih erat. "Semoga... Dokter Arga benar-benar bisa membantu saya mendapatkan nomor telepon Mas Benni," batinnya penuh harap. "Kalau saya bisa berbicara langsung dengan Mas... mungkin semuanya masih bisa menjadi jelas."

Tak lama kemudian, seluruh pesanan roti berhasil diantarkannya ke beberapa warung langganan. Setelah berpamitan kepada pemilik warung terakhir, Winarsih kembali mengayuh sepedanya menuju pabrik.

Jalan desa saat itu tampak lengang.

Tiba-tiba...

Sreeet...

Sebuah mobil sedan mewah berwarna putih berhenti melintang tepat di depan sepeda Winarsih.

Winarsih sontak menarik rem.

"Chitt..."

Sepedanya berhenti hanya beberapa senti dari bodi mobil itu.

Winarsih mengernyit kebingungan. "Siapa ya...?"

Pintu mobil terbuka perlahan.

Seorang wanita muda berpenampilan elegan turun dengan anggun. Ia mengenakan gaun putih sederhana namun berkelas, dipadukan dengan sepatu hak tinggi dan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

Wanita itu melepaskan kacamata hitamnya perlahan.

Tatapannya langsung tertuju kepada Winarsih.

Sorot matanya tajam, seolah sedang menilai seseorang.

Wanita itu kemudian melangkah mendekat.

Tap... tap... tap...

Winarsih tanpa sadar mundur selangkah sambil tetap memegang setang sepedanya.

Wanita itu berhenti tepat di hadapannya. Matanya mengamati Winarsih dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pakaian sederhana, kulit yang sedikit menggelap karena sering bekerja di bawah matahari. Sepeda tua dengan keranjang rotan di bagian belakang.

Beberapa detik kemudian, sudut bibir wanita itu terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.

"Jadi..." ucapnya pelan. "Kamu Winarsih?"

Winarsih tampak bingung. "Iya... saya Winarsih."

Wanita itu mengangguk kecil. "Oh... jadi ini wanita kampung yang belakangan ini sering bersama Arga."

Winarsih semakin tidak mengerti. "Maaf... anda siapa ya?"

Wanita itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan tersebut. Tatapannya tetap melekat pada wajah Winarsih.

Beberapa saat kemudian, ia berkata dengan nada tenang namun dingin, "Perkenalkan, nama aku Clarissa. Aku adalah wanita yang sudah mengenal Arga jauh sebelum kamu hadir dalam hidupnya."

Tatapan Clarissa kembali menyapu penampilan Winarsih dari atas sampai bawah. Entah mengapa, semakin ia memperhatikan wanita desa itu, semakin besar rasa penasaran yang muncul di dalam hatinya.

"Apa sebenarnya yang membuat Arga begitu peduli padanya...?" batin Clarissa.

Winarsih mengernyit pelan. Nama itu terasa asing, namun wajah wanita yang berdiri di hadapannya perlahan membangkitkan sebuah ingatan.

Ia menatap Clarissa beberapa saat. "Sepertinya... aku pernah melihatnya." Winarsih berusaha mengingat, beberapa detik kemudian, matanya sedikit membesar. "Bukankah... dia wanita yang waktu itu datang ke Puskesmas?"

Ingatannya kembali pada hari ketika Dokter Arga sempat berbicara dengan seorang wanita cantik berpenampilan elegan. Saat itu Winarsih hanya melihat mereka dari kejauhan. Ia tidak mengetahui siapa wanita tersebut, apalagi hubungan mereka. Kini wanita itu justru berdiri tepat di hadapannya.

Winarsih semakin bingung. "Kalau tidak salah... anda yang pernah menemui Dokter Arga di Puskesmas, ya?" tanyanya hati-hati.

Clarissa hanya tersenyum tipis. "Ternyata ingatanmu cukup baik."

Winarsih semakin tidak mengerti. "Tapi... kenapa anda mencari saya?" tanyanya sopan. "Apa ada yang bisa saya bantu?"

Clarissa tidak langsung menjawab. Ia justru kembali memperhatikan wajah Winarsih dengan saksama. Dari dekat, ia tidak menemukan sesuatu yang istimewa.

Tidak ada pakaian mahal, perhiasan, ataupun riasan wajah yang mencolok. Winarsih hanyalah seorang gadis desa sederhana.

"Kalau dilihat dari mana pun... dia memang wanita biasa," batin Clarissa. Lalu... kenapa Arga begitu memperhatikannya?"

Beberapa saat kemudian, Clarissa akhirnya membuka suara. "Kamu sering bertemu Arga, bukan?"

Winarsih tampak gugup mendengar pertanyaan itu. "Saya... hanya pernah beberapa kali bertemu Dokter Arga."

"Hanya beberapa kali?"

"Iya."

Clarissa menatapnya lekat, seolah ingin memastikan apakah Winarsih sedang berkata jujur. "Setahuku, Arga bahkan mengantarmu pulang."

Winarsih segera menggeleng. "Itu karena saya mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu. Dokter Arga hanya menolong saya."

"Lalu pagi ini?" tanya Clarissa lagi.

Winarsih tampak terkejut. "Anda... tahu?"

Clarissa tidak menjawab pertanyaan itu. Sudut bibirnya hanya terangkat tipis.

Winarsih semakin bingung. "Bagaimana dia bisa tahu kejadian pagi tadi?" batinnya.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap pergerakannya diam-diam diawasi oleh Dimas atas perintah Clarissa.

Dengan sopan Winarsih kembali berkata, "Maaf, Nona... saya benar-benar tidak mengerti. Kenapa anda menemui saya?"

Tatapan Clarissa tetap tenang, tetapi sorot matanya terasa tajam. "Aku hanya ingin melihat sendiri..." ucapnya pelan. "Melihat wanita seperti apa yang akhir-akhir ini selalu membuat Arga memberikan perhatiannya."

Ucapan itu membuat Winarsih benar-benar tertegun. "Nona... sepertinya anda salah paham. Saya dan Dokter Arga tidak memiliki hubungan seperti yang anda pikirkan." Winarsih menundukkan kepalanya dengan sopan. "Dokter Arga hanya menolong saya karena ia seorang dokter... tidak lebih dari itu."

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!