NovelToon NovelToon
Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Suami Dadakanku Ternyata Bos Baruku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Aluna,seorang staf admintrasi bawahan, ia tidak menyangka kalau hidupnya akan berjungkar balik dalam waktu sehari .
Mendapat tekanan dari pekerjaan, niat hati ingin berkeluh kesah dan memeluk kekasiihnya namun kenyataan pahit ia terima kekasihnya berselingkuh didepan matanya.

Dengan derai air mata ia pulang kerumah namun lagi - lagi ia mendapati pemandangan yang memilukan Ayahnya bersimbah darah karena ulah kakak tirinya .

Hidup Aluna berubah menjadi mimpi buruk dalam semalam. Ayahnya kritis akibat dianiaya oleh kakak tirinya, dan kini Aluna terancam "dijual" untuk melunasi utang judi sang kakak.

Di ambang maut, sang ayah memohon satu hal: Aluna harus segera menikah agar punya pelindung.

Masalahnya, Aluna baru saja diselingkuhi dan menyandang status jomblo . Dalam kondisi panik dan terdesak di rumah sakit, ia nekat menarik lengan seorang pemuda asing yang kebetulan lewat. "Tolong, nikahi aku sekarang!"

Bagaiman kisah Aluna selanjutnya ? siapa sebenarnya suami dadakan Aluna ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ijab kabul di Depan Ruang Rawat

Koridor di depan ruang perawatan intensif terasa begitu hening dan mencekam. Bau obat-obatan yang tajam beradu dengan aroma karbol, menciptakan atmosfer yang semakin menekan dada Aluna.

Di dinding lorong, lampu neon memancarkan cahaya putih pucat, memantulkan bayangan dua orang yang sedang melangkah tergesa-gesa. Aluna berjalan di depan, sementara pria asing misterius berkaos polos itu mengikuti dari belakang dengan langkah lebar yang tenang.

Pikiran Aluna berkecamuk hebat. Hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, ia telah mengambil keputusan paling gila sepanjang dua puluh empat tahun hidupnya.

Ia baru saja menyerahkan masa depannya kepada seorang pria yang bahkan belum ia ketahui namanya.

Namun, ketakutan akan kehilangan ayahnya dan ancaman rentenir Doni telah menghapus semua keraguan.

"Di sini," ucap Aluna lirih sambil menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kaca buram dengan papan nama bertuliskan High Care Unit.

Di bangku tunggu koridor, tampak seorang pria paruh baya mengenakan baju koko putih dan peci hitam sedang duduk sambil memegang tas kecil. Pria itu adalah Pak Rahman, ustaz yang juga merangkap sebagai pengurus musala rumah sakit, yang sengaja Aluna hubungi beberapa menit lalu melalui bantuan perawat jaga.

Di sampingnya, berdiri dua orang petugas keamanan rumah sakit bertubuh tegap yang telah dimintai tolong untuk menjadi saksi pernikahan dadakan ini.

"Aluna, apakah ini calon suamimu?" tanya Pak Rahman sambil berdiri, pandangannya beralih menatap pria tegap yang berdiri di samping Aluna.

Aluna mengangguk cepat. Ia menoleh ke arah pria di sampingnya, baru menyadari bahwa ia belum menanyakan nama pria itu. Rasa canggung sempat menyeruak di dada Aluna, membuat lidahnya mendadak kaku.

Pria berkaos polos itu tampaknya mengerti kebingungan Aluna. Ia melangkah maju, mengulurkan tangannya kepada Pak Rahman dengan sikap yang sangat sopan namun penuh wibawa. "Selamat malam, Pak Ustaz. Nama saya Elvan. Saya yang akan menikahi Aluna malam ini."

"Elvan," gumam Aluna dalam hati, mengulang nama itu seolah ingin mengukirnya dalam ingatan. Nama yang singkat, namun terdengar begitu kokoh di telinganya.

Pak Rahman mengangguk-angguk, lalu menatap Aluna dengan pandangan prihatin. "Perawat tadi sudah menceritakan kondisi ayahmu di dalam, Aluna. Beliau sempat sadar sebentar dan memberikan mandat wali hakim kepada saya karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berbicara, apalagi menjabat tangan. Apakah kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusan ini, Nak?"

"Saya yakin, Pak Ustaz. Sangat yakin," jawab Aluna dengan suara bergetar namun penuh penekanan. Air mata kembali mengambang di pelupuk matanya, tetapi ia menahannya kuat-kuat. Ia tidak boleh terlihat lemah di saat-saat krusial seperti ini.

Pak Rahman kemudian beralih menatap Elvan. "Dan Anda, Nak Elvan? Pernikahan bukan perkara main-main, apalagi dilakukan dalam kondisi darurat seperti ini. Apakah Anda bersedia menjadi pelindung bagi Aluna dan menerima segala konsekuensinya?"

Elvan menatap Pak Rahman lurus-urus. Sepasang mata elangnya tidak berkedip sedikit pun, memancarkan kesungguhan yang membuat jantung Aluna berdesir aneh. "Saya bersedia, Pak. Saya akan mengambil alih tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi Aluna mulai malam ini."

"Baiklah, kalau begitu. Mengingat waktu dan kondisi ayah Aluna yang kritis, kita laksanakan prosesi akad nikah ini sekarang juga secara agama. Untuk mahar, bagaimana?" tanya Pak Rahman.

Aluna terkesiap. Ia benar-benar melupakan perkara mahar. Di dalam tasnya hanya ada sisa uang transport dan beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah. Ia memandang Elvan dengan tatapan panik dan bersalah.

Namun, Elvan dengan tenang merogoh saku celana jinsnya. Ia mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam yang tampak sederhana, lalu mengambil selembar uang tunai berwarna merah. "Saya nikahi Aluna dengan mahar uang tunai seratus ribu rupiah, dibayar tunai."

Aluna menatap selembar uang itu dengan perasaan campur aduk. Pernikahan yang ia impikan sejak dulu bersama Kafka, yang seharusnya penuh dengan dekorasi indah, gaun putih mewah, dan mahar yang berkilau, kini menjelma menjadi sebuah prosesi sunyi di lorong rumah sakit berbau obat, dengan mahar selembar uang seratus ribu rupiah dari seorang pria asing. Namun anehnya, ada rasa aman yang perlahan merayap di hatinya, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama dua tahun bersama Kafka.

Pak Rahman mengajak mereka untuk duduk melingkar di atas kursi tunggu koridor. Elvan duduk berhadapan dengan Pak Rahman, sementara Aluna duduk agak bergeser di samping, didampingi oleh dua petugas keamanan yang bertindak sebagai saksi.

Suasana koridor seketika berubah menjadi sangat khidmat dan tegang. Hanya suara desis pendingin ruangan dan detak jam dinding yang menemani mereka.

Pak Rahman menjabat tangan kanan Elvan dengan erat. Sebelum memulai, pria paruh baya itu menarik napas dalam-dalam, lalu melafalkan khotbah nikah singkat dengan suara rendah yang merdu, memohon keberkahan dari Sang Pencipta untuk pernikahan yang tidak biasa ini.

Jantung Aluna berdegup begitu kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Jemarinya saling bertautan di atas pangkuan, meremas rok kerjanya yang kusut. Ia melirik Elvan dari samping. Pria itu tampak sangat tenang. Tidak ada gumpalan keringat di dahinya, tidak ada tanda-tanda kegugupan di wajah tampannya. Rahangnya yang tegas tampak mengeras, menandakan fokus yang penuh.

"Saudara Elvan bin ..." Pak Rahman sempat tertahan sejenak, menatap Elvan untuk meminta nama ayahnya.

"Elvan Adhitama," jawab Elvan dengan suara bariton yang mantap, sengaja tidak menyebutkan nama belakang keluarganya secara lengkap demi menjaga kerahasiaan identitas aslinya dari orang-orang di rumah sakit.

Pak Rahman mengangguk, lalu melanjutkan. "Saudara Elvan Adhitama, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Aluna Putri binti Kusuma, yang walinya telah mewakilkan kepada saya, dengan mahar uang seratus ribu rupiah dibayar tunai!"

Cengkeraman tangan Pak Rahman mengencang. Detik itu juga, Elvan langsung menjawab tanpa jeda, dengan suara yang begitu tegas, lantang, dan menggema di sepanjang koridor sunyi tersebut.

"Saya terima nikah dan kawinnya Aluna Putri binti Kusuma dengan mahar tersebut, tunai!"

Pak Rahman menoleh ke arah dua petugas keamanan di samping mereka. "Saksi, sah?"

"Sah," ucap kedua petugas keamanan itu hampir bersamaan dengan wajah serius

"Alhamdulillah," bisik Pak Rahman, diikuti oleh ucapan doa yang dipanjatkan dengan khusyuk.

Mendengar kata SAH menggema, air mata Aluna akhirnya luruh tanpa bisa ia bendung lagi. Namun, kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan air mata kelegaaan yang luar biasa hebat. Beban berat yang menghimpit pundaknya sejak dari kontrakan Kafka hingga darah ayahnya di lantai rumah seolah terangkat sebagian. Secara hukum agama, ia bukan lagi seorang wanita sebatang kara yang tidak berdaya. Ia telah memiliki seorang suami, seorang pelindung sah yang akan berdiri di depannya.

Setelah doa selesai dibacakan, Pak Rahman menyerahkan selembar kertas putih bergaris yang berisi tanda tangan para saksi dan wali hakim sebagai bukti tertulis pernikahan siri mereka malam itu, sebelum nantinya bisa diurus ke Kantor Urusan Agama secara resmi.

Elvan menerima selembar uang seratus ribu rupiah yang menjadi mahar tadi, lalu menyerahkannya kepada Aluna. "Ini maharmu. Simpan baik-baik," ucap Elvan lembut, menatap Aluna dengan tatapan yang kini terasa jauh lebih hangat.

Aluna menerima uang itu dengan tangan yang gemetar. Ia menatap Elvan dengan pandangan penuh rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih ... Terima kasih banyak, Mas Elvan. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda malam ini."

Tepat setelah prosesi akad nikah selesai, pintu kaca ruang HCU terbuka. Seorang dokter dengan pakaian jaga hijau keluar sambil melepas maskernya. Wajahnya tampak lelah namun menyiratkan kabar baik.

Aluna langsung berdiri menyongsong sang dokter. "Dokter, bagaimana kondisi ayah saya?"

Dokter itu tersenyum tipis. "Masa kritisnya sudah lewat. Pendarahan di kepalanya sudah berhasil kami hentikan, dan luka-lukanya sudah dijahit. Beruntung beliau cepat dibawa ke sini. Saat ini ayah Anda sedang beristirahat karena pengaruh obat bius. Besok pagi kemungkinan besar sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap biasa."

Mendengar penjelasan dokter, Aluna merasa seolah-olah seluruh pasokan udara di dunia ini kembali masuk ke dalam paru-parunya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa syukur yang tak terhingga.

Penderitaan malam jahanam ini akhirnya berujung pada keselamatan sang ayah.

Elvan yang berdiri di sampingnya perlahan mengulurkan tangannya, menepuk bahu Aluna dengan lembut untuk memberikan ketenangan. "Ayahmu sudah aman sekarang. Tugas kita selanjutnya adalah memastikan keselamatanmu."

Aluna mendongak, menyeka air matanya, lalu menatap suami dadakannya itu. Ia teringat akan ancaman Doni tentang rentenir yang bisa datang kapan saja. "Mas Elvan, rumah saya sudah tidak aman lagi. Kakak tiri saya pasti akan mencari saya ke sana, atau mungkin rentenir itu yang akan datang. Saya ... saya harus pergi dari rumah itu."

Elvan mengangguk setuju. "Kamu benar. Jangan kembali ke sana untuk sementara waktu. Apakah kamu punya tempat lain untuk tinggal?"

Aluna terdiam sejenak, memikirkan kondisi keuangannya yang menipis. Mengingat penampilan Elvan yang sangat sederhana dengan kaus polos dan celana jins, Aluna berasumsi bahwa pria ini pasti hidup pas-pasan dan mungkin hanya bekerja serabutan. Ia tidak ingin membebani suami barunya dengan meminta tinggal di tempat yang mahal atau merepotkan hidupnya yang sudah tenang.

"Saya ... saya akan mencari rumah kontrakan kecil yang murah besok pagi, Mas. Saya hanya perlu mengemas beberapa baju dan barang penting dari rumah secepatnya, lalu kita bisa tinggal di sana agar aman dari kejaran mereka," ujar Aluna dengan nada sungkan namun penuh tekad.

Elvan menatap Aluna dengan alis yang sedikit terangkat, merasa geli sekaligus kagum dengan kemandirian wanita yang baru saja menjadi istrinya ini.

Aluna mengira dirinya miskin, dan Elvan memutuskan untuk membiarkan kesalahpahaman itu berlanjut untuk sementara waktu. Baginya, menyamar sebagai pria biasa di samping Aluna jauh lebih aman daripada membawanya masuk ke dalam lingkaran mewah keluarganya yang penuh dengan intrik berbahaya.

"Baiklah. Kalau itu maumu, kita akan cari kontrakan besok pagi. Sekarang, kemas barang-barangmu di rumah sebelum hari terang," ucap Elvan tegas, bersiap menemani sang istri memulai babak baru pelarian mereka.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr😄
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
perjalanan hidup akan baru di mulai, semangat
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Indriani Kartini
semoga dia laki2 baik bisa menjaga dan melindungi aluna, dan nantinya akan saling jatuh cinta😍
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!