NovelToon NovelToon
Sujud Terakhir Sang Pemikat

Sujud Terakhir Sang Pemikat

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Kutukan
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.

Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏

#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : Syarat Pangeran Pesisir dan Persekutuan Baru

Angin dingin membekukan berembus dari arah selatan, mengibarkan ujung jubah sutra biru tua milik Pangeran Arya Braja. Tekanan udara di halaman rumah panggung Sari semakin berat, seolah-olah beban ribuan ton air laut yang tak kasat mata turun menindih pundak siapa pun yang berada di tempat tersebut. Beberapa warga desa Karang Tumpuk yang menggenggam bambu runcing di balik pagar kayu mulai bergetar, mundur perlahan dengan wajah pucat pasi.

Marno berdiri kokoh bagaikan pilar besi di depan Sari. Otot-otot di tubuhnya menegang, dan mata garangnya menatap lurus ke arah sang pangeran pesisir. Martil besi di tangan kanannya terangkat sedikit, siap dihantamkan kapan saja jika pria asing itu membuat gerakan mencurigakan.

"Jangan mengancam kami dengan nama Pasukan Tengkorak Hitam, Pangeran!" gertak Marno dengan suara berat yang menggetarkan dada. "Karang Tumpuk baru saja memusnahkan Mbah Jiwo Suro beserta seluruh ilmu racunnya. Jika pasukan dari barat itu berani datang, mereka akan bernasib sama dengan utusan-utusan Tengger yang kini membusuk di Lembah Tengkorak!"

Pangeran Arya Braja tidak terpancing emosi. Wajahnya tetap tenang bagaikan permukaan danau tak berangin, meski matanya kilat memancarkan kekuasaan yang amat tinggi.

"Kau punya keberanian yang patut dipuji, Pande Besi," kata Pangeran Arya Braja santai. "Tapi keberanian tanpa pengetahuan adalah jalan tercepat menuju liang kubur. Mbah Jiwo Suro hanyalah seorang tua gila yang mengandalkan racun bangkai dan asap belerang. Sementara Pasukan Tengkorak Hitam dari Lembah Barat dipimpin oleh Pangeran Jagad Karang—seorang penyihir perang yang menunggangi gajah-gajah zirah dan menguasai ilmu Pelebur Otot."

Pangeran Arya Braja memutar kepalanya ke arah Sari, pandangannya melunak sesaat saat menatap mata gadis itu. "Gadis Pembuat Soto, bibimu—Nyai Seruni—dulu mencuri lempengan Kunci Pusaka Ranubaya dari Istana Bawah Laut karena terperdaya oleh janji-janji manis Mbah Jiwo Suro. Namun di akhir hidupnya, ia sadar bahwa kunci itu tidak boleh jatuh ke tangan sekte barat. Itulah sebabnya ia menyembunyikannya di dalam jilid Kitab Usada Tengger."

Sari meremas ransel terpal di dadanya. Kehangatan lempengan perak rahasia itu terasa menembus kain terpal tebal. "Jika Kunci Pusaka ini begitu berbahaya, mengapa Kedatuanmu baru datang sekarang? Mengapa kalian membiarkan bibiku meratapi dosanya dan membiarkan desa kami terancam selama bertahun-tahun?!"

Pangeran Arya Braja menghela napas panjang, sebuah guratan luka tua tampak tersirat di keningnya. "Karena segel guratan laut di Istana Bawah Laut baru saja retak tiga hari lalu—tepat saat kau dan Marno mengalahkan Mbah Jiwo Suro di Sendang Biru. Hancurnya energi ghaib Mbah Jiwo Suro memicu kebangkitan sinyal gaib dari lempengan perak itu. Kini, bukan hanya aku yang tahu keberadaan kunci ini. Pangeran Jagad Karang dan ratusan penunggang kuda tengkorak barat sedang melaju kencang menuju lereng selatan gunung ini!"

Uuk! Uuk!

Si Mbah yang bertengger di atas atap rumah panggung melompat turun ke atas pundak Marno. Kera hitam itu mencium udara utara, lalu melengkingkan suara peringatan yang sangat nyaring! Kain merah di kepalanya berkibar tegang.

Di kejauhan, di balik deretan bukit pinus sebelah barat yang berbatasan dengan Lembah Tengkorak, gumpalan debu merah membumbung tinggi ke udara. Suara genderang perang dari kulit lembu purba berdentum melintasi bukit: DUM! DUM! DUM!

Suara itu begitu berat hingga tanah di bawah kaki warga Karang Tumpuk terasa bergetar pelan secara konstan.

Pak Karto RT yang bersembunyi di balik pagar menjerit ketakutan. "Pasukan! Ada pasukan berkuda sangat banyak dari arah lembah barat!"

Marno menatap gumpalan debu merah itu dengan raut wajah amat tegang. Genderang perang itu bukan lagi sekadar trik ghaib atau asap belerang, melainkan tanda dari kedatangan ratusan prajurit perang terlatih yang membawa senjata besi dan ilmu peledak tanah.

"Waktu kalian sudah habis," kata Pangeran Arya Braja sambil mencabut pedang naga lautnya separuh dari sarungnya. Cahaya biru jernih berkilat dari mata pedang tersebut, memancarkan aroma es laut yang menyejukkan. "Jika kalian menyerahkan kunci itu padaku sekarang, aku dan empat puluh prajurit berkuda siluman dari Kedatuan Pantai Selatan yang bersembunyi di dalam Danau Bening akan turun mencegat Pasukan Tengkorak Hitam di perbatasan desa."

Sari melangkah maju, berdiri sejejer dengan Marno. "Bagaimana kami bisa percaya bahwa Pangeran tidak akan menghancurkan desa kami setelah mendapatkan kunci itu?"

Pangeran Arya Braja tersenyum tipis, lalu berlutut satu kaki di atas tanah basah halaman rumah Sari—sebuah bentuk penghormatan tertinggi dari seorang bangsawan pesisir kepada seorang rakyat biasa.

"Atas nama penguasa Laut Selatan dan demi arwah Nyai Seruni yang pernah menjadi murid kehormatan di istana kami, aku bersumpah di atas tanah Karang Tumpuk," ucap Pangeran Arya Braja dengan nada yang amat tulus dan berwibawa. "Kedatuan Pantai Selatan hanya menginginkan Kunci Pusaka itu agar tidak dipergunakan untuk membangkitkan Raksasa Ranubaya. Jika desamu tersentuh oleh api perang Pasukan Barat, pedangku ini yang akan pertama kali patah!"

Marno menatap Sari, lalu mengangguk pelan. Pande besi itu bisa merasakan kejujuran murni di dalam getaran aura Pangeran Arya Braja—sangat berbeda dari aura licik dan bau busuk yang selalu memancar dari Mbah Jiwo Suro mau pun para murid Tengger.

Sari menarik napas dalam-dalam. Dengan tangan yang mantap, ia merogoh bagian dalam sampul Kitab Usada Tengger, mengeluarkan lempengan perak berukir Empat Kepala Naga yang Saling Menggigit Buntut. Lempengan itu memancarkan pendar putih keperakan saat terkena sinar matahari pagi.

Sari menyerahkan lempengan perak itu kepada Pangeran Arya Braja. "Ambil kunci ini, Pangeran. Tapi dengan satu syarat!"

Pangeran Arya Braja menerima lempengan perak itu dengan kedua tangannya, lalu menengadah. "Katakan syaratmu, Gadis Pembuat Soto."

"Biarkan kami bertiga—aku, Kang Marno, dan Si Mbah—ikut bertarung di garis depan perbatasan!" tegas Sari dengan mata menyala penuh keberanian. "Kami tidak akan berteduh di dalam rumah sementara orang lain mengalirkan darah untuk melindungi tanah kelahiran kami!"

Pangeran Arya Braja tertegun sejenak, lalu tertawa bergaung lebar penuh kekaguman. "Luar biasa! Darah keberanian Seruni memang mengalir murni di dalam nadimu!"

Pangeran itu berdiri tegak, memutar tubuhnya ke arah danau dan meniup sebuah selompret kerang raksasa di pinggangnya.

UWOOOOOOOONG!

Suara selompret kerang itu bergema membahana memenuhi seluruh lembah Karang Tumpuk. Dari balik air tenang Danau Bening di kejauhan, meledak puluhan pilar air raksasa! Dari dalam pilar-pilar air tersebut, melompat keluar empat puluh prajurit zirah perak menunggangi kuda-kuda air berwarna biru transparan, meluncur kencang membelah daratan menuju halaman rumah Sari!

Warga Karang Tumpuk bersorak takjub melihat pemandangan ajaib tersebut. Rasa takut yang tadinya mencengkeram dada mereka seketika sirna, berganti menjadi semangat perlawanan yang membara.

Marno mengangkat martil besinya tinggi-tinggi ke udara, memancarkan hawa panas penempa besi. Si Mbah melompat ke atas kepala Marno, mengacungkan tongkat kayu kecilnya dengan penuh gaya.

"Pasukan Barat mungkin membawa gajah dan peledak!" raung Marno garang. "Tapi Karang Tumpuk punya besi murni dan keturunan pendekar!"

Di bawah kibaran panji-panji biru Kedatuan Pantai Selatan dan naungan sinar matahari pagi yang kian terang, sebuah persekutuan baru antara rakyat Karang Tumpuk dan pasukan pesisir resmi terbentuk—siap menyambut gempuran Pasukan Tengkorak Hitam di Gerbang Barat Lembah Karang.

1
MARQUES
coba bikin novel yang MC nya cewe KK pasti bagus dengan genre horor🙏
Selie Noris: Terima kasih masukannya ya kak, 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!