Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Cemburu Yang Tak Diakui
Suasana di dalam studio utama stasiun siaran televisi nasional malam itu tampak begitu sibuk dan riuh. Suara arahan dari produser melalui earphone canggih bernada tegas berpadu dengan sinar lampu sorot studio yang terang menyilaukan. Di balik meja siaran bernuansa futuristik, Aura Zhafira duduk tegap dengan senyuman anggun dan profesionalnya yang khas. Malam ini ia mengenakan kemeja blazer berwarna pink fuchsia yang dipadukan dengan hijab senada, memancarkan pesona wanita karir yang cerdas dan berkelas.
"Demikian rangkaian berita utama Prime Time untuk malam hari ini. Saya Aura Zhafira dan rekan saya Dion Prasetya, pamit undur diri dari hadapan Anda. Selamat malam dan sampai jumpa."
Begitu lampu indikator siaran siaran langsung padam, Aura menghembuskan napas lega yang cukup panjang. Ia melepas perangkat earphone dari telinganya dan merapikan tumpukan kertas naskah berita di atas meja kayu mengkilap itu.
"Penampilan dan pembawaan yang sangat sempurna seperti biasa, Aura," puji Dion, presenter pria bertubuh jangkung yang duduk di sampingnya seraya mengulas senyum manis. "Oya, tadi sebelum kita mulai siaran, aku sempat melihatmu turun dari mobil Alphard mewah di area parkir VIP. Driver baru atau... ada sosok pria spesial yang menjemputmu?"
Aura tersentak pelan, namun dengan cepat menutupi keterkejutannya dengan senyuman ramah yang natural. "Hanya kerabat keluarga yang kebetulan searah dengan lokasi studio ini, Dion."
"Oh, begitu..." Dion mengangguk-angguk paham, lalu menggeser kursi roda kerjanya sedikit mendekati posisi Aura. "Ngomong-ngomong, setelah siaran ini selesai, apakah kamu ada waktu luang? Aku mau mengagendakan minum kopi di kafe seberang studio. Ada beberapa draft program acara baru yang ingin kubahas bersamamu."
"Maaf sekali, Dion. Malam ini saya harus langsung pulang ke rumah, ada urusan keluarga yang sangat penting dan tidak bisa ditunda," tolak Aura secara halus, santun, namun memberi batasan yang tegas.
Dion tampak sedikit kecewa, namun tetap mengumbar senyum legowo demi menjaga profesionalitas. "Baiklah, mungkin di lain kesempatan ya."
Di saat yang bersamaan, di lantai teratas gedung pencakar langit Adhyastha Group, suasana ruang kerja sang CEO justru terasa begitu dingin, hening, dan mencekat.
Reno masih duduk tegap di balik meja kerjanya yang luas dan mewah. Di layar televisi layar datar berukuran besar yang terpasang di dinding ruang kerjanya, siaran berita utama yang menampilkan wajah cantik Aura baru saja usai. Pandangan mata kelam Reno tertuju sangat tajam pada sosok Dion yang tampak begitu akrab mengobrol dan melempar senyuman pada Aura sebelum siaran ditutup.
Jemari Reno mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu jati mewahnya dengan tempo cepat dan tidak beraturan. Ada rasa panas dan tidak nyaman yang tiba-tiba membakar dadanya sebuah perasaan asing, liar, dan sangat mengganggu yang membuat fokus kerjanya berantakan seketika.
Tok, tok, tok.
Tanpa menunggu izin resmi dari pemilik ruangan, pintu kaca tebal ruang kerja Reno terbuka. Seorang wanita cantik bergaun merah marun dengan riasan tebal melangkah masuk dengan gaya yang begitu percaya diri dan dominan.
Clara Hermawan. Putri tunggal dari salah satu pemegang saham utama Adhyastha Group yang selama ini secara terang-terangan mengejar perhatian dan cinta Reno.
"Reno... kamu masih betah sibuk bekerja jam segini?" sapa Clara dengan suara manis yang dibuat-buat. Ia melangkah mendekati meja kerja Reno dan meletakkan sebuah tas kertas berlogo restoran ternama. "Aku sengaja membawakan makan malam kesukaanmu dari restoran Prancis di bawah."
Reno bahkan tidak memalingkan pandangan matanya dari layar laptop. "Clara, saya tidak ingat pernah memberikan izin kepadamu untuk masuk ke ruangan pribadi saya sembarangan."
Clara mengibaskan rambut panjangnya, mengumbar senyum manja. "Ayolah, Reno. Kita kan sudah saling kenal sejak masa kuliah. Lagipula, Papi bilang kita harus lebih sering bertemu untuk membahas kelanjutan rencana investasi proyek properti baru."
Reno menghentikan ketukan jarinya di meja. Pria itu mendongak, menatap Clara dengan pandangan mata yang sangat dingin, menusuk, dan tak tersentuh. "Urusan investasi adalah wewenang penuh dewan direksi saat jam kerja, bukan urusan pribadi di malam hari. Dan satu hal lagi... Pak Aslan!"
Pak Aslan yang bersiap di balik pintu seketika melangkah masuk dan membungkuk hormat. "Ya, Tuan Reno?"
"Antar Miss Clara keluar dari ruangan saya sekarang juga. Saya ada urusan mendesak yang harus diselesaikan malam ini," perintah Reno tanpa kompromi sedikit pun.
Wajah Clara seketika memerah padam menahan rasa malu dan kekesalan yang mendalam. "Reno! Kamu selalu saja bersikap dingin dan tidak punya perasaan seperti ini padaku! Mau sampai kapan kamu terus mengabaikan keberadaanku?"
Reno sama sekali tidak menghiraukan ceceran kekesalan Clara. Pria itu berdiri tegap, merengkuh jas hitam mewahnya yang tersampir di sandaran kursi, dan melangkah melewati Clara begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.
Tepat pukul sembilan malam, Aura melangkah keluar dari lobi utama gedung stasiun televisi. Udara malam Jakarta terasa cukup dingin. Ia merapatkan blazer pink nya seraya mengedarkan pandangan mencari keberadaan mobil Pak Aslan yang biasanya sudah bersiap di area parkir VIP.
Namun, alih-alih melihat Pak Aslan yang bergegas membukakan pintu, pintu kemudi Alphard hitam itu justru terbuka dan menampilkan sosok pria tegap bersetelan jas hitam tanpa cela.
Reno Adhyastha.
Aura membelalak kaget. Ia menghentikan langkah kakinya tepat di atas undakan tangga lobi. "Reno? Kenapa kamu yang menjemput? Mana Pak Aslan?"
Reno melangkah mendekati Aura dengan gaya berjalan yang begitu berwibawa dan dominan. Tatapan matanya yang kelam menyapu wajah Aura dari atas sampai bawah secara mendalam.
"Saya yang menyuruh Pak Aslan pulang lebih awal malam ini," jawab Reno datar seraya secara alami meraih dan mengambil alih tas laptop berat yang dipegang oleh Aura. "Ayo masuk ke mobil sekarang."
Beberapa karyawan dan kru TV yang masih berada di lobi tampak berbisik-bisik kagum dan penasaran melihat sosok pria yang sangat tampan, gagah, dan berkelas yang menjemput sang presenter berita utama mereka. Aura yang menyadari sorotan mata tersebut cepat-cepat menyusul langkah Reno masuk ke dalam mobil.
Di dalam kabin mobil yang hening dan beraroma harum, Reno menjalankan kendaraan mewahnya membelah kemacetan malam jalanan Jakarta. Suasana di antara mereka terasa agak canggung dan tegang, hingga Reno tiba-tiba membuka suara dengan nada dingin yang sarat akan sindiran halus.
"Pria yang membawakan siaran berita bersamamu tadi... sepertinya kamu sangat akrab dengannya," ujar Reno tanpa menoleh, pandangannya lurus menatap jalanan di depan.
Aura tertegun sejenak. "Maksudmu Dion?"
"Siapa pun nama pria itu," balas Reno pendek, jemarinya mencengkeram kemudi mobil sedikit lebih erat dari biasanya. "Ingat salah satu poin dalam perjanjian kita, Aura. Jangan memicu rumor atau interaksi yang berlebihan di tempat kerja yang bisa memancing kecurigaan media."
Aura menatap profil samping wajah Reno yang tegas dan kaku. Senyum tipis yang tak sadar perlahan terukir di bibirnya. Sebagai wanita yang peka, Aura bisa merasakan ada nada ketidaksukaan dan gejolak yang tersembunyi di balik kata-kata tegas sang CEO.
"Dion hanya rekan kerja profesional saya di studio, Reno," jelas Aura lembut, suaranya mengalun tenang dan sangat menyejukkan. "Dan tenang saja, saya tahu betul batas-batas diri saya sebagai seorang istri sah dari Reno Adhyastha."
Mendengar penekanan kata 'istri sah' yang diucapkan Aura dengan begitu alami, manis, dan tulus, cengkeraman erat tangan Reno di kemudi perlahan melonggar. Gejolak cemburu tak beralasan yang sempat membakar dadanya sepanjang sore seketika menguap, berganti dengan debaran halus yang membuat sang CEO dingin kehilangan kata-kata sepanjang sisa perjalanan pulang ke penthouse.