SANG NAGA PURBA (Garis Darah yang Terbuang)
Di Benua Canglan, garis darah adalah segalanya. Terlahir dari pasangan prajurit kuat Klan Chi, bayi Chi Tian justru dibuang ke kasta terendah karena Altar Naga tidak memberikan respon sedikit pun. Dianggap sampah tak berguna, ia ditinggalkan untuk mati.
Belasan tahun berlalu, Chi Tian kembali menyamar di balik jubah hitam dan zirah perak, siap membalas dendam di Arena Penyisihan.
Namun, empat klan agung tak pernah menyadari kebenaran mengerikan ini: Altar Naga hari itu bukannya mati, melainkan darah Chi Tian terlalu tinggi dan agung untuk dijangkau oleh altar biasa.
Mereka pikir telah membuang sebuah sampah, tanpa tahu telah melepaskan seekor Naga Purba yang siap meruntuhkan seluruh takhta kesombongan benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Cakar dan Bayangan Naga
Dalam sekejap mata, bentrokan jarak dekat yang amat sengit pecah membelah keheningan area pembantaian.
Cakar naga milik Ao Yun meluncur deras membelah udara murni. Pekatnya energi elemen air berwarna kebiruan membungkus jemarinya, mengincar langsung dada Lu Shi dengan kecepatan luar biasa.
Namun, Lu Shi tidak sedikit pun panik.
Dengan kelincahan mutlak dari wujud Mode Tempur Rubah Ekor Sembilan, tubuh anggunnya memutar luwes. Ia menukik rendah ke sisi kiri hanya berselang beberapa milimeter dari sabetan maut musuh.
"Makan ini, Bajingan!" seru Lu Shi lantang.
WUSH! WUSH! WUSH!
Sembilan ekor energi di belakang punggungnya bergerak liar secara bersamaan.
Dua belas bola energi berwarna merah keperakan meluncur deras dari ujung-ujung ekornya, memborbardir tubuh Ao Yun dari jarak yang sangat dekat.
BOOOOM! BOOOOM! BOOOOM!
Rangkaian ledakan dahsyat beruntun menghantam tanah granit tempat Ao Yun berdiri.
Debu, batu-batuan hancur, dan asap hitam tebal membubung tinggi menutupi pandangan di area pertempuran tersebut.
Lu Shi melompat mundur beberapa meter, mendarat di atas dahan pohon tua dengan napas yang mulai sedikit memburu.
Namun, tepat saat asap ledakan perlahan tersapu oleh angin sore...
"HAHAHAHA!"
Sebuah suara tawa bernada meremehkan menggema keras dari balik gumpalan debu.
Ao Yun melangkah keluar secara perlahan.
Zirah keemasan Klan Ao di dadanya memang sedikit ternoda jelaga hitam, namun tubuhnya sama sekali tidak terluka fatal. Sisik-sisik naga kebiruan yang membungkus rapat kulitnya memancarkan pendar pelindung yang sangat tebal.
Ia menyunggingkan senyuman mengejek yang amat memuakkan.
"Apa hanya segini kekuatanmu, Gadis Kecil?" cibir Ao Yun seraya menepuk-nepuk bahunya santai.
"Kau terlalu meninggi-ninggikan keagungan garis darah usangmu itu! Di Benua Canglan, Keturunan Naga adalah raja yang tak tertandingi!"
WUUUSSHH!
Tanpa memberi jeda bernapas bagi sang gadis, Ao Yun kembali melesat maju bagai kilat. Cakar naga berunsur airnya mengayun semakin brutal, terus-menerus mengejar jalur pergerakan Lu Shi.
Di sisi lain lapangan, Tian Xue hanya berdiri diam.
Sepasang matanya yang tajam seperti silet terus mengamati pola pergerakan, kebiasaan tumpuan kaki, serta cara penyaluran energi dari Klan Ao. Sebagai seorang petarung yang lahir dari kerasnya tambang belerang, menganalisis gaya bertarung musuh sebelum mengeksekusi adalah naluri alamiahnya.
Sementara itu, pertempuran Lu Shi memasuki fase kritis.
Gadis itu terus melompat lincah dari satu dahan ke dahan lain, melepas tembakan demi tembakan energi untuk menahan laju serang musuh.
"Sialan! Sisiknya keras sekali!" umpat Lu Shi di dalam hatinya.
Saat tubuhnya mendarat kokoh di dahan pohon raksasa berdiameter tiga meter, Lu Shi mengambil keputusan nekat.
Ia tidak lagi menghindar.
Lu Shi berbalik secara mendadak menghadap Ao Yun yang sedang meluncur lurus ke arahnya di udara.
BRUUUSSHH!
Sembilan ekor energi berbulu halus melilit rapat di depan dada dan wajahnya, memadatkan seluruh kerapatan energi fisik untuk membentuk sebuah perisai pelindung yang kokoh.
Cakar naga milik Ao Yun menghantam perisai ekor tersebut secara telak!
BOOOOOOM!
Ledakan energi ganda meletus hebat di atas dahan. Gelombang kejutnya bahkan menumbangkan puluhan dahan pohon di sekeliling mereka.
Ao Yun menyeringai merasa serangannya berhasil tertahan di permukaan benteng musuh.
Namun, ada satu hal penting yang sama sekali tidak disadari oleh pemuda Klan Ao tersebut.
Di balik lingkaran perisai ekornya yang tebal, Lu Shi telah memusatkan seluruh sisa energi ledakan murni tepat di kedua telapak tangannya!
Tepat ketika cakar Ao Yun tertahan pada perisai...
Sssrr-WUSH!
Ekor-ekor energi Lu Shi mendadak terbuka lebar!
"Mati kau!" jerit Lu Shi penuh amarah.
Dua telapak tangan Lu Shi yang telah membara oleh gumpalan energi merah keperakan menghantam telak bagian dada Ao Yun yang tidak terlindungi!
BOOOOOOOOOOMMM!
Ledakan jarak dekat yang sangat dahsyat menghantam tubuh pemuda Klan Ao tersebut.
"AAAKKKHHHH!"
Jeritan kesakitan pecah di udara.
Zirah mewah Ao Yun retak berantakan. Tubuh besarnya terpelanting deras melintasi udara, menghantam tanah berpasir hingga terseret puluhan meter di antara tumpukan bangkai Beast.
Darah segar berwarna merah pekat menyembur dari mulut Ao Yun saat ia tersungkur tak berdaya.
Lu Shi melompat turun dari dahan, mendarat dengan tumpuan kaki yang sedikit gemetar. Napasnya memburu sangat kasar, dan raut wajah cantiknya tampak sedikit pucat.
"Hah... hah... Sialan..." gumam Lu Shi seraya memegangi dadanya. "Serangan tadi menguras sebagian besar tenaga fisiku. Aku belum sepenuhnya menguasai manipulasi energi dari Garis Darah Tingkat Empat ini..."
Dua pemuda Klan Ao lainnya, Ao Feng dan Ao Lin, terbelalak kaku menyaksikan rekan mereka tersungkur berdarah.
"Si Bodoh Ao Yun itu...!" umpat Ao Feng dengan raut wajah sangat membara.
BRUUUUUSSSSSHHH!
Tanpa membuang waktu lebih lama, Ao Feng dan Ao Lin melangkah maju secara bersamaan.
Dua gelombang aura tekanan Naga Murni meledak dahsyat dari tubuh mereka berdua. Sisik-sisik naga tebal merayap cepat menutupi leher hingga lengan mereka, memancarkan gelombang intimidasi yang sangat mencekam.
"Jangan buang waktu lagi! Tangkap dan lumpuhkan rubah kecil itu sekarang!" teriak Ao Feng memberi perintah.
Keduanya bersiap melesat bersamaan untuk mengeroyok Lu Shi yang sedang dalam kondisi kelelahan.
Namun...
Tian Xue tidak lagi tinggal diam.
Langkah kaki pemuda itu maju satu tapak ke depan.
BRUUUUSSSSSZZZZT!
Sebuah tekanan aura yang jauh lebih pekat, lebih dingin, dan jauh lebih mengerikan meluncur meledak dari dalam tubuh Tian Xue!
Gelombang aura keemasan bercampur hitam kusam milik Garis Darah Naga Purba Tingkat Empat meledak menyapu seluruh area Hutan Purba.
BUMI BERGETAR HEBAT!
Tekanan hierarki agung yang tak tertandingi itu mendadak menghantam bahu Ao Feng dan Ao Lin secara mutlak, membuat kedua pemuda dari klan murni tersebut terhenti paksa di tempat dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi!
"Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin budak ini memiliki tekanan aura sekuat ini?!" seru Ao Feng dengan suara bergetar hebat.
Lutut pemuda Klan Ao itu terasa lemas. Aura keemasan bercampur hitam kusam yang memancar dari tubuh tian xue menghantam jiwanya tanpa ampun, memotong aliran energinya secara paksa.
Ao Lin di sampingnya tidak kalah kaget. Matanya membelalak lebar, memandang sosok pemuda di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang mendalam.
Selama ini, yang ia ketahui tian xue hanyalah cacing tanah dari kasta Low-Dragon—seorang budak tambang belerang tak berguna yang biasa diinjak-injak. Namun, tekanan hierarki yang menyergap dada mereka saat ini justru terasa jauh lebih menakutkan daripada aura para petarung elit klan!
Srrr...
Di bawah terpaan angin malam Hutan Purba, sisik-sisik naga berwarna hitam pekat merayap cepat menyelimuti lengan kanan tian xue.
Jemari tangannya mengeras secara ekstrem, memanjang dan meruncing menjadi cakar naga purba yang berkilau dingin di bawah temaram cahaya.
tian xue mengangkat pandangannya. Sepasang mata keemasannya menyala redup di balik kegelapan, memancarkan aura pembunuh yang amat pekat.
"Lawan kalian... ada di sini," bisik tian xue dingin.
Kata-kata itu terucap pelan, namun dampaknya bagaikan petir menyambar tepat di telinga Ao Feng dan Ao Lin.