Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNANGAN PALSU - Chapter 21
Happy Reading Guys!
____
Namun anehnya, Sophia sama sekali tidak merasakan kebahagiaan yang seharusnya dirasakan seorang wanita menjelang pertunangannya.
Setelah semua orang pergi, ia memandang dirinya sendiri, semakin lama, semakin berat pula perasaan yang menekan dadanya.
Pertunangan ini terlalu besar.
Terlalu megah.
Seolah seluruh dunia harus mengetahui keberadaannya.
Sophia menggigit bibir bawahnya pelan. Pikirannya kembali pada kenyataan yang selama ini berusaha ia abaikan. Hubungannya dengan Damian bukanlah hubungan sungguhan. Semua ini hanyalah kesepakatan yang suatu hari nanti akan berakhir.
Lalu bagaimana jika satu tahun dari sekarang semua orang mengetahui kebenarannya?
Bagaimana jika mereka tahu bahwa pertunangan yang hari ini dirayakan dengan begitu meriah hanyalah hubungan sementara?
Akankah ia menjadi bahan tertawaan?
Akankah semua orang mencemoohnya?
Sophia mengembuskan napas panjang dan memejamkan mata sejenak. Ia tidak takut berpisah dengan Damian nanti. Yang ia takutkan adalah pandangan orang-orang setelahnya.
Lagipula ini terjadi karena ia mempertimbangkan Nyonya Sarah.
Sudahlah, Sophia memutuskan akan membicarakan masalah ini dengan Damian setelah acara selesai. Ia datang ke dalam hubungan ini dengan baik-baik, maka ia juga ingin mengakhirinya dengan baik-baik.
Tepat ketika Sophia sedang tenggelam dalam pikirannya, suara benturan keras tiba-tiba memecah keheningan ruangan.
Brak!
Sophia refleks menoleh ke arah pintu dan langsung membeku.
Seseorang berdiri di ambang pintu.
"Arkan?"
Matanya membelalak tidak percaya.
Lelaki itu tampak jauh berbeda dari biasanya. Kemejanya kusut seolah sudah dipakai berhari-hari. Rambutnya berantakan dan tidak tertata. Wajahnya terlihat lelah, sementara kedua matanya memerah seakan ia tidak pernah benar-benar beristirahat selama beberapa hari terakhir.
Namun yang paling membuat Sophia tidak tenang adalah tatapan itu.
Tatapan seseorang yang sedang berada di ambang kehilangan.
Tanpa mengatakan apa pun, Arkan menutup pintu di belakangnya lalu menguncinya.
Klik.
Suara kunci yang berputar membuat jantung Sophia langsung berdegup lebih cepat.
Ia segera berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Apa yang kau lakukan, Arkan? Kau tidak boleh berada di sini."
Sophia baru saja hendak meraih gagang pintu ketika Arkan menarik pergelangan tangannya. Gerakan itu begitu cepat hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dalam hitungan detik punggungnya sudah membentur dinding dan Arkan berdiri tepat di hadapannya.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Sophia dapat mendengar napas lelaki itu yang berat. Sementara Arkan hanya menatapnya tanpa berkedip.
"Keluar dari sini," ucap Sophia berusaha terdengar tenang. "Sebelum orang lain melihatmu."
Arkan tertawa pelan.
Namun tidak ada sedikit pun kebahagiaan dalam tawanya.
"Aku sudah dua hari memikirkan pertunangan ini."
Suara lelaki itu terdengar serak.
"Dua hari terakhir aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukan masalah besar. Aku mencoba menerima semuanya. Aku mencoba ikhlas."
Ia menggeleng pelan.
"Tapi semakin aku mencoba menerimanya, semakin sakit rasanya."
Sophia memalingkan wajah.
"Arkan, kita sudah membicarakan ini."
"Belum."
Jawaban itu keluar begitu cepat.
"Aku belum pernah benar-benar mengatakan apa yang kurasakan."
Sebelum Sophia sempat menjawab, suara ketukan terdengar dari luar.
Tok.
Tok.
Tok.
"Nona Sophia?"
Sophia segera menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
"Aku ingin sendiri dulu."
"Baik, Nona."
Langkah kaki di luar perlahan menjauh.
Ruangan kembali sunyi.
Kali ini Arkan melangkah lebih dekat.
"Ayo pergi bersamaku."
Napas Sophia langsung tertahan.
"Aku akan meninggalkan Sintia."
Mata Sophia membelalak.
"Aku tidak peduli lagi pada semua hubungan palsu ini. Aku tidak peduli siapa yang akan marah atau siapa yang akan kecewa."
Arkan menggenggam kedua tangan Sophia erat.
"Yang aku pedulikan hanya dirimu."
Suara lelaki itu mulai bergetar.
"Aku mencintaimu, Sophia."
Kalimat sederhana itu menghantam pertahanan Sophia yang sudah rapuh sejak lama.
"Aku sangat mencintaimu. Bisakah kau berhenti menghukumku? Aku sudah mengerti. Aku mengerti apa yang kau rasakan."
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Sophia melihat air mata jatuh dari mata Arkan.
Dadanya langsung terasa sesak.
Selama ini Arkan selalu menjadi sosok yang tenang. Sosok yang membuatnya merasa aman. Namun, kini lelaki itu berdiri di hadapannya dengan wajah penuh keputusasaan.
Tanpa sadar Sophia mengangkat tangannya.
Jemarinya menyentuh pipi Arkan dan menghapus air mata yang mengalir di sana.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada yang berbicara.
Namun, keheningan itu justru terasa lebih kuat daripada kata-kata apa pun.
Akhirnya Sophia menundukkan kepala.
"Tunggu aku."
Arkan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Apa?"
"Tunggu aku di jalan."
Suara Sophia terdengar pelan.
"Aku harus berganti pakaian dulu. Kita juga harus memastikan tidak ada yang melihat kita."
Harapan yang hampir mati di dalam diri Arkan seketika hidup kembali.
Lelaki itu menggenggam tangan Sophia lebih erat sebelum mengecup keningnya dengan penuh perasaan.
"Aku akan menunggumu."
Setelah mengatakan itu, ia segera pergi.
Begitu pintu tertutup, Sophia langsung bergerak cepat. Ia mengambil jaket yang terletak di kursi lalu meraih gunting yang berada di atas meja rias.
Gaun ini terlalu mencolok.
Ia harus memotong bagian bawahnya agar lebih mudah bergerak.
Namun, tepat ketika mata gunting itu menyentuh kain gaun, sebuah tangan tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.
Sophia membeku.
Seluruh tubuhnya langsung menegang.
Perlahan ia mengangkat kepala dan melihat pantulan cermin di hadapannya.
Damian berdiri tepat di belakangnya.
Tidak ada suara langkah kaki.
Tidak ada suara pintu terbuka.
Seolah pria itu muncul begitu saja dari balik bayangan.
Jemarinya mencengkeram tangan Sophia yang memegang gunting dengan tenang namun kuat.
Dari posisi mereka, siapa pun yang melihat akan mengira Damian sedang memeluknya dari belakang.
Sophia menelan ludah.
Ia ingin berbalik, tetapi Damian menahannya.
Pria itu sedikit menundukkan kepala hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Sophia.
"Kau berniat kabur?"
Suara rendah itu membuat tubuh Sophia semakin menegang.
"Aku ... aku tidak bisa melakukannya."
Suaranya terdengar rapuh.
"Aku takut."
Untuk beberapa saat Damian tidak mengatakan apa pun.
Sophia menatap bayangan mereka di cermin.
"Begitu pertunangan ini selesai, semua orang akan mengenalku."
Ia menggenggam jemarinya sendiri.
"Semua orang akan melihatku."
Damian perlahan melepaskan tangannya lalu mengusap punggung Sophia.
"Kau terlambat memikirkan itu."
Sophia tersentak, langsung menjaga jarak.
"Semua orang sudah tahu tentangmu."
Suara Damian tetap tenang.
"Kalau kau melakukan tindakan gegabah seperti ini, orang yang paling dirugikan adalah dirimu sendiri."
Sophia menggigit bibirnya.
Namun, Damian belum selesai.
"Sedangkan Arkan?"
Nama itu membuat tubuh Sophia membeku.
"Dia masih memiliki Sintia."
Tatapan Damian tetap tertuju pada bayangan Sophia di cermin.
"Pada akhirnya kau yang akan menjadi cap buruk dalam hidupnya."
Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhir Sophia.
Perlahan ia berlutut di lantai.
Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh.
"Bisakah kau melepaskanku ..." pintanya memohon. "Sejak orang tuaku meninggal, aku hidup sendirian."
Tangisnya mulai pecah.
"Aku tidak punya keluarga."
"Aku tidak punya saudara."
"Aku tidak punya tempat untuk pulang."
Sophia mengusap air matanya kasar.
"Selama ini... yang kumiliki hanya Arkan."
Damian menatap wanita yang sedang menangis itu cukup lama.
Kemudian ia berjongkok dan mengangkat dagu Sophia perlahan.
"Apa kau yakin padanya?"
Sophia mengangguk.
"Aku percaya padanya."
Damian tersenyum tipis.
"Bagaimana kalau dia memilih Sintia?"
Sophia terdiam.
"Kalau itu terjadi, siapa yang akan melindungimu?"
Tatapan Damian tetap tenang.
"Semua orang akan mencacimu."
Sophia memejamkan mata sesaat sebelum kembali membukanya.
"Aku tetap percaya padanya."
Damian mengangguk pelan.
"Kalau dia berkhianat?"
Sophia menarik napas panjang.
"Kalau itu terjadi, aku tidak akan pernah menoleh kepadanya lagi."
Damian terdiam.
Sophia menatap pria itu dengan mata yang masih basah.
"Aku lebih baik menyerahkan hidupku padamu daripada kembali padanya."
Untuk pertama kalinya Damian tertawa pelan.
Entah karena menganggap ucapan itu lucu atau justru karena alasan lain.
"Apa kau bisa memegang kata-katamu?"
Sophia tidak menjawab.
Damian memandangnya beberapa saat sebelum mengangkat tangannya dan mengusap lembut dahi Sophia.
Menghapus bekas kecupan yang tadi ditinggalkan Arkan.
Setelah itu ia berdiri.
"Pergilah."
Sophia membeku.
Ia bahkan mengira dirinya salah dengar.
"Apa?"
"Pergi."
Kali ini Damian mengulanginya dengan tenang.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kekecewaan.
Justru ketenangan itulah yang membuatnya semakin sulit dipahami.
Sophia menatapnya tidak percaya.
Namun kesempatan itu tidak mungkin datang dua kali.
Dengan cepat ia menyobek bagian bawah gaunnya, mengenakan jaket, lalu berlari menuju pintu.
Sebelum keluar, ia sempat menoleh.
"Terima kasih."
Damian tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di depan cermin dengan kedua tangan di dalam saku celana.
Wajahnya tetap tenang seperti biasa.
Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya sosok itu terlihat begitu kesepian.
____
Sophia menutupi sebagian wajahnya dengan kain dan berjalan cepat melewati kerumunan tamu. Beberapa pengawal masih berjaga di berbagai sudut gedung, tetapi tidak satu pun menghentikannya. Seolah mereka telah menerima perintah untuk membiarkannya pergi.
Apa yang akan terjadi pada Damian setelah ini?
Akankah ia menjadi bahan pembicaraan semua orang?
Akankah keluarga Liam dipermalukan karena dirinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Namun Sophia memaksa dirinya untuk berhenti memikirkannya.
Sekarang hanya ada satu hal yang ingin ia lakukan.
Menemui Arkan.
Ia ingin pergi bersama lelaki itu sejauh mungkin.
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih! 。◕‿◕。