Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.
Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.
Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.
Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.
Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.
Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertahanlah untuk masa depan (part 2)
Suasana hening. Suara jangkrik dan hembusan dingin angin malam menerpa kulit mereka yang sedang duduk di pendopo omah ndalem Pak Kades.
Hidangan pisang goreng, singkong dan jagung rebus, menemani obrolan mereka. Sesekali, teh hangat dituangkan dari teko, mengisi cangkir-cangkir yang cepat kosong.
Linda menempel erat di sebelah Sekar. Sementara Azra bergelayut di lengan Arunika yang duduk berdampingan dengan suaminya Lukman.
Sementara Pak Kades membahas pembangunan jalan dengan Lukman dan Pak Wandi, Sekar melirik ke arah Linda, yang kedapatan beberapa kali curi pandang ke arah Azzam, yang datang mengantar Pak Wandi.
"Kamu naksir Azzam, yo?" bisik Sekar.
"Opo toh, Mbak." Linda salah tingkah dengan pertanyaan Sekar.
"Mbah, interupsi!" sela Sekar di tengah obrolan orang-orang di pendopo.
Pak Kades langsung melotot ke arah Sekar. Namun diabaikan oleh putri bungsunya yang terkenal usil ini.
Pak Wandi meminum teh dari cangkirnya, "Enek opo, Nduk?" tanyanya sambil tersenyum.
Semua mata beralih menatap Sekar. Yang ditatap segera memperbaiki posisi duduknya.
"Mbah Wan, sebentar lagi Mbah Wan punya cucu mantu," kata Sekar blak-blakan.
"Haahhh?"
Semua yang di pendopo terperangah mendengar perkataan Sekar.
Tak terkecuali Pak Wandi. Mata beliau sampai menyipit, untuk memastikan ekspresi wajah Sekar.
"Beneran Mbah Wan, serius!" lanjutnya lagi lebih antusias.
"Sekar, kamu ini ngomong apa toh? Jangan bikin Mbah Wandi bingung!" tegur Arun.
"Azzam, kamu beneran nggak ngerasa?" tanya Sekar tiba-tiba kepada Azzam.
Yang ditanya bingung gelagapan, mendapat serangan mendadak dari Sekar. Sementara Linda di sebelah Sekar, tegang.
Krak!
Ada suara hati yang patah. Linda tiba-tiba merasa patah hati, sebelum melabuhkan hati.
Ganti, semua mata menatap Azzam, menunggu jawaban.
"Ngerasa apa toh, Mbak Sekar? Aku ora kroso opo-opo." jawab Azzam jujur.
"Hah??? Kamu nggak ngerasa, ada gadis yang naksir kamu?" tanya Sekar heran.
Azra menatap Sekar penuh selidik, "Kamu suka Azzam, Sekar?"
"Haaahhh?"
Kembali semua yang ada di pendopo kaget.
"Lho, kok jadi aku? Bukan! Bukan aku." jawab Sekar kelabakan.
"Lha terus siapa, Sekar?" tanya Lukman.
Linda tersadar, matanya membulat, sebelum Sekar membuka mulut, Linda mencubit lengan Sekar kuat-kuat.
"Aduh! Apa Linda? Sakit." protes Sekar sambil menatap Linda.
Linda mendelikkan matanya, memberi isyarat agar jangan bicara lagi. Sekar terdiam beberapa saat, mencoba mencerna isyarat dari Linda. Kemudian tersenyum, dan mengangguk-angguk paham.
"Sekar, siapa calon cucu mantu saya?" tanya Pak Wandi.
Mampus, gumam Linda dan Sekar bersamaan.
"Hehe ... mboten Mbah. Kirain Simbah ke sini mau bilang kalau Azzam sudah punya calon. Hehe ..." Sekar menutup keusilannya dengan terkekeh pelan.
Semua yang di pendopo menggeleng-gelengkan kepala, selalu heran dengan kelakuan usil Sekar.
Linda bernapas lega. Setidaknya dia aman untuk malam ini.
"Ini pisang gorengnya siapa yang masak, enak rasanya gurih dan renyah," tanya Pak Wandi sambil mengunyah pisang goreng di tangannya.
"Azra yang bikin, Mbah." jawab Bu Padma.
"Hmm ... pantesan," ujar simbah sambil manggut-manggut.
"Pantesan kenapa Pak, eh Mbah?" tanya Linda mulai penasaran.
Di antara sekian orang yang ada di pendopo, sepertinya hanya dia yang paling penasaran dengan hubungan Pak Wandi dan Azra.
"Ora popo, panggil aku Mbah yo ra popo. Sama dengan yang lain," senyum bijaksana Pak Wandi terbit.
Linda tersenyum sambil mengangguk.
"Lho, jagungku tadi mana ya?" Azzam tiba-tiba bersuara mencari potongan jagungnya.
"Lho, punya sampeyan toh, Mas. Tak makan ini tadi. Yang putulan tadi toh?" tanya Yanto memastikan.
"Iyo! Lha, kenapa nggak ambil yang utuh saja, Mas? Sengaja tak potong, nunggu dingin baru tak makan, gitu maksudku tadi," jawab Azzam sambil garuk-garuk kepala.
Semua yang di pendopo tertawa melihat insiden potongan jagung ilang.
"Yo wis, ambil lagi yang utuh. Nih." Pak Kades menyodorkan satu jagung utuh ke arah Azzam.
"Maturnuwun, Pak," ucap Azzam sambil mengangguk sopan.
"Ehhem. Pangapunten, Mbah. Tadi kenapa dengan pisang gorengnya Azra? Kok Mbah Wandi bilang pantesan?" tanya Lukman tiba-tiba.
Nah sama kayak aku kan, penasaran, batin Linda bersorak.
Pak Wandi tersenyum. Matanya menatap Azra, lalu mengalihkan pandangan ke luar pendopo. Menjelajah gelapnya malam.
"Pisang goreng itu, mengingatkan aku, pada seorang Wanita yang Luar Biasa, yang pernah hidup di hatiku, dan juga di desa ini," Kakek Wandi mengambil napas. Memandang ke semua orang yang ada di pendopo.
"Nama wanita itu Utari. Sesuai namanya, dia adalah sosok wanita yang anggun, lembut, setia, dan memiliki keteguhan hati."
Azra menahan napas. Itu adalah nama neneknya. Dia memperbaiki posisi duduknya. Bersila dan menatap kakek Wandi dengan serius. Dia mengaktifkan seluruh panca indranya dengan tegang.
Gerakan Azra tak luput dari pandangan Pak Kades dan istrinya. Mereka saling tatap, mata mereka mengisyaratkan bahwa cerita itu akan diungkap malam ini.
"Dia datang ke desa ini, waktu masih sangat muda. Sebagai bidan. Kebaikan hatinya yang menolong warga tanpa pamrih, terutama menolong kelahiran bayi-bayi suci, membuatnya dicintai banyak warga."
Pak Wandi menjeda kembali ceritanya, diminumnya teh yang baru diisi Linda.
"Kamu ingat nggak, Sastro, berapa banyak pemuda yang jatuh hati sama Utari?"
Raden Sastro tersenyum, lalu mengangguk.
"Banyak yang mengejar cinta Bidan Utari, termasuk saya. Hehehe ..." Pak Wandi terkekeh.
"Tapi sungguh, nasib pemuda desa ini memang bukan jodoh Utari. Meski Utari dekat sekali dengan saya, tetap juga saya tidak bisa mendapatkannya. Karena kedekatan kami, dia anggap sebagai kedekatan kakak dan adik."
Bu Padma tersenyum. Nampak jelas dalam ingatannya, wanita yang bernama Utari ini memang cantik. Seperti Azra.
"Terus siapa yang beruntung dapat Bu Utari ini, Mbah?" tanya Lukman.
"Orang Luar. Bahkan bukan orang Indonesia. Orang Turki!" jawab Pak Wandi.
"Oooh ..." spontan Linda bersuara, otaknya bergerak cepat, ini kisah nenek Kak Azra. Seru!
Pak Wandi tersenyum sambil melirik Linda. Pribadi sepuh ini sangat tahu, rasa penasaran di hati gadis yang duduk di samping kanannya.
"Waktu itu, ada seorang turis yang berjalan-jalan ke desa ini. Lucunya, saya lah orang yang pertama kali dia temui. Bahasa Indonesianya masih terbata, intinya dia mendengar tentang danau Widuri Asri. Dan tertarik untuk mengunjunginya."
Mata teduhnya, menatap Azra. Gadis itu tersenyum manis. Ada perasaan terharu dan bahagia, karena dia akan mendengar kisah kakek neneknya dari mulut orang yang berbeda.
Selama ini, dia hanya mendengar kisah singkat kakek neneknya dari almarhum ibunya. Ibunya sangat pendiam, sedikit sekali bicaranya. Beliau lebih sering menunjukkan kasih sayang dengan perbuatan dan pemberian hadiah kecil.
Apapun itu, tapi Azra sudah bisa merasakan kasih sayang tulus itu, walau dalam diam.
Tapi pembawaan itulah yang membekas dalam ingatan Azra, sehingga membentuknya menjadi pribadi seperti sekarang.