Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hesti?Cemburu?No!
Sesaat setelah sosok Meyda benar-benar menghilang di balik kerumunan pengunjung mall, Hesti seketika melepaskan genggaman tangannya dari lengan Pak Hendra dengan gerakan menyentak. Wajah manisnya yang penuh senyuman tadi langsung berubah menjadi masam dan cemberut. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, berjalan mendahului suaminya beberapa langkah.
"Mantan istri kamu itu sebenarnya maunya apa sih? Masih belum move on apa gimana, ganggu terus setiap kali kita lagi jalan berdua!" omel Hesti dengan nada ketus yang sangat kentara.
Pak Hendra yang melihat perubahan sikap istrinya justru tidak marah sama sekali. Ia mempercepat langkahnya, lalu berjalan sejajar di samping Hesti sembari melirik wajah cemberut wanita itu dengan pandangan menggoda.
"Kamu... sedang cemburu ya, Sayang?" goda Pak Hendra dengan senyuman jahil yang mengembang di bibirnya.
"Nggak! Siapa juga yang cemburu? Biasa aja!" balas Hesti ketus, memalingkan wajahnya ke arah deretan manekin butik di samping mereka.
"Tuh, kan... beneran cemburu. Pipinya sampai merah begitu," goda Pak Hendra lagi, semakin gemas melihat reaksi istrinya. Ia meraih pundak Hesti, merangkulnya dengan lembut. "Sudahlah, Dek. Jangan dipikirkan lagi omongan orang gak penting tadi ya. Maafin Mas ya sudah bikin mood kamu jadi rusak. Yuk, sebagai gantinya, katanya tadi kamu mau beli sepatu dan tas baru? Kamu boleh pilih model apa saja sesuka kamu hari ini, Mas yang bayar semuanya."
Mendengar tawaran menggiurkan itu, pertahanan cemberut Hesti seketika runtuh. Matanya langsung berbinar senang, meski ia masih mencoba menahan senyumnya. "Beneran ya, Mas? Gak pakai kuota batasan harga, kan?" tanya Hesti memastikan.
"Iyaa... beneran, Sayang. Apapun buat istri cantikku ini. Tapi syaratnya jangan ngambek lagi ya. Kalau kamu ngambek terus begini, Mas bawaannya malah jadi pengen cium kamu di sini," bisik Pak Hendra dengan nada bercanda yang mesra di dekat telinga Hesti.
"Ih! Apaan sih, Mas! Malu dilihatin orang banyak tahu! Udah ah, ayok cepat ke tokonya!" ucap Hesti dengan pipi yang benar-benar memerah akibat godaan suaminya. Ia kembali merangkul lengan Pak Hendra dengan erat.
Memang menikah dengan duda mapan, rupawan, dan royal yang satu ini bener-bener gak ada lawannya, batin Hesti dengan senyum kemenangan yang mengembang di hatinya.
Setelah puas menikmati waktu jalan-jalan dan berbelanja berdua hingga bagasi mobil dipenuhi beberapa kantong belanjaan baru, Pak Hendra dan Hesti akhirnya kembali berkendara menuju gedung Aria Music School untuk menjemput Kayla yang kelasnya sudah hampir selesai.
Tepat saat mobil mereka terparkir di area depan, pintu kaca gedung terbuka. Kayla tampak melangkah keluar bersamaan dengan Citra. Keduanya tampak sedang mengobrol kecil.
Hesti menurunkan kaca jendela mobil, sementara Pak Hendra melambaikan tangannya dari kursi kemudi. "Sayang! Bagaimana kelas pertama les pianonya hari ini? Lancar?" tanya Pak Hendra dengan nada ramah setelah Kayla mendekat ke sisi mobil. Pandangan Pak Hendra kemudian beralih pada sosok gadis anggun di sebelah putrinya. "Eh, ini siapa, Kay?"
Kayla menghentikan langkahnya di dekat pintu belakang mobil. "Ini Citra, teman sekolah Kayla di SMA. Cit, ini bokap gue... sama istrinya," ucap Kayla memperkenalkan dengan nada suara yang sengaja agak kaku di bagian akhir kalimatnya.
Citra langsung membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sangat sopan, memasang senyuman manis yang luar biasa ramah. "Halo Om, Tante. Nama saya Citra, teman Kayla di sekolah," sapa Citra dengan suara lembut yang sangat menyejukkan hati siapa pun yang mendengarnya.
Hesti mengangguk ramah, membalas senyuman gadis itu. "Halo Citra. Wah, manis sekali temannya Kayla ini," puji Hesti tulus. Ia kemudian menatap ke sekeliling area lobi yang mulai sepi. "Yasudah kalau begitu, kami duluan ya. Kamu pulangnya naik apa, Cit? Sama siapa?"
"Saya sendiri, Tante. Ini sedang menunggu taksi online, masih di jalan sepertinya," jawab Citra jujur.
"Oh, kalau begitu bareng kami saja gimana? Kamu ke arah mana, Mau bareng?" tawar Hesti dengan nada suara yang sangat ramah dan tulus.
Di samping Citra, Kayla langsung mendengus kesal dalam hati mendengarkan tawaran manis ibu tirinya. Apaan sih, sok baik banget ini nenek sihir di depan orang lain, batin Kayla menyindir tajam dalam hati.
Citra tersenyum sungkan, lalu menggeleng pelan dengan sopan. "Eh, gak usah repot-repot, Tante. Terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi ini aplikasi taksi online saya sudah dapat pengemudinya kok, posisinya sudah sangat dekat di ujung jalan depan, tinggal menunggu sampai saja."
Tanpa memedulikan basa-basi obrolan yang sedang berlangsung di antara mereka, Kayla langsung menarik gagang pintu belakang mobil, membukanya dengan sentakan kasar, lalu masuk dan duduk di dalam untuk menghindari interaksi lebih lanjut yang menurutnya sangat memuakkan.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Kami permisi duluan ya, Citra. Hati-hati di jalan pulangnya," pamit Pak Hendra dengan ramah sebelum akhirnya melajukan mobilnya perlahan meninggalkan area parkir gedung les musik tersebut.
Suasana di dalam mobil kembali sunyi selama beberapa menit pertama perjalanan pulang. Kayla memilih menatap ke arah luar jendela dengan pikiran yang berkecamuk. Namun, keheningan itu mendadak dipecah oleh suara Hesti dari arah depan.
"Kayla, kamu kemarin bilangnya mommy kamu sedang berada di luar negeri untuk waktu yang lama, kan?" tanya Hesti dengan nada santai, memecah keheningan sembari berkaca pada cermin kecil di tangannya. "Tapi aneh ya... kok tadi siang kami malah gak sengaja ketemu sama ibu kamu sedang jalan-jalan di mall yang sama dengan kami? Ya kan, Mas?" tambah Hesti sengaja meminta validasi dari Pak Hendra yang sedang fokus menyetir.
Kayla seketika tertegun di kursi belakang. Jantungnya berdegup kencang mendengarnya. Mommy? Sejak kapan Mommy pulang ke sini tanpa memberi tahu gue? batin Kayla dengan perasaan campur aduk antara bingung, rindu, sekaligus kecewa karena tidak dikabari.
Mencoba menutupi rasa terkejutnya di depan Hesti, Kayla langsung membalas dengan nada suara sarkas yang menusuk. "Oh ya? Bagus dong! Harusnya tadi gue ikut kalian aja biar bisa ketemu sama Mommy! Ibu satu-satunya yang gue punya di dunia ini!" ketus Kayla, menekankan kata 'satu-satunya' untuk menyinggung status Hesti sebagai ibu tiri.
Hesti hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak terpancing oleh emosi remaja Kayla. "Yah... sayang sekali ya. Lain kali deh kalau kami ketemu lagi, saya akan antar kamu untuk menemui ibu kamu," ucap Hesti menjeda kalimatnya sejenak, lalu melirik Kayla lewat kaca spion tengah dengan pandangan yang penuh teka-teki. "Tapi... memangnya kamu tahu alamat rumah ibu kamu yang sekarang di mana, Kayla?" tanya Hesti telak.
Kalimat pertanyaan sederhana dari Hesti itu seketika membuat Kayla tertegun membisu bagai disambar petir di siang bolong. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering, dan ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas ucapan ibu tirinya.
Kenyataan pahit itu menghantam kesadaran Kayla dengan sangat kejam. Hesti benar. Sejak perceraian tragis tiga tahun lalu, Mommy Meyda tidak pernah sekali pun mengajak Kayla untuk berkunjung atau memberi tahu di mana alamat tempat tinggalnya yang sekarang dengan alasan ia selalu sibuk berpindah-pindah di luar negeri. Setiap kali mereka bertemu, pertemuan itu selalu diadakan di kafe-kafe mewah, restoran estetik, atau di lobi hotel untuk sekadar pergi berlibur singkat. Kayla sama sekali tidak tahu di mana tempat tinggal ibu kandungnya sendiri saat ini.
Pak Hendra yang mendengarkan jalannya percakapan dingin di antara istri dan putrinya dari balik kemudi hanya bisa mengembus napas berat secara perlahan. Atmosfer di dalam mobil mendadak terasa begitu mencekam dan dingin bagai es. Pak Hendra menyadari betul bahwa perang dingin antara Kayla dan Hesti sepertinya masih akan berlangsung untuk waktu yang sangat lama di rumah mereka.