Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Kacau
Kayla berlari menaiki anak tangga dengan setengah berjingkat, mencoba menahan suara langkah kakinya agar tidak menimbulkan kecurigaan. Begitu sampai di depan kamarnya, ia langsung mendorong pintu, masuk, dan menguncinya rapat-rapat dari dalam.
Punggungnya bersandar pada daun pintu yang tertutup. Napas Kayla memburu cepat, sementara dadanya naik turun dengan detak jantung yang berdentum luar biasa kencang. Kedua tangannya yang dingin saling meremas satu sama lain di depan dada. Rasa cemas dan ketakutan yang teramat sangat seketika mengurung seluruh akal sehatnya.
"Kayla, lo bego banget sih! Kenapa tadi gak mastiin dulu itu teh dibuat buat siapa?!" rutuk Kayla dalam hati, memukuli kepalanya sendiri dengan frustrasi.
Bayangan wajah Papihnya yang tersenyum lega saat menyesap teh melati beracun itu terus membayangi pelupuk matanya. Kayla benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Niat hati ingin membalas dendam dan membuat Hesti menderita semalaman, kini senjata itu justru berbalik arah telak menghantam ayah kandungnya sendiri.
Sementara itu di lantai bawah, suasana tampak berjalan normal seperti biasa. Setelah menghabiskan setengah cangkir teh hangat yang disuguhkan oleh sang istri, Pak Hendra bangkit berdiri dari sofa ruang keluarga. Tubuhnya yang terasa kaku setelah seharian penuh bergelut dengan berkas-berkas di kantor membuat otot-ototnya meronta minta disegarkan.
"Mas mandi dulu ya, Dek. Nggak kuat rasanya, badan lengket semua," ucap Pak Hendra lembut kepada Hesti yang sedang merapikan beberapa majalah di atas meja.
Hesti mendongak, lalu mengangguk dengan senyuman manis yang menenangkan. "Iya, Mas. Mandi air hangat saja ya biar badannya agak enakan. Biar aku bawa gelas bekas tehnya ke dapur dulu."
Pak Hendra melangkah santai menuju kamar utama mereka di lantai bawah untuk membersihkan diri. Di sisi lain, Hesti berjalan membawa cangkir keramik kosong itu kembali ke pantry dapur. Saat mencuci cangkir tersebut di bawah kucuran air keran, Hesti sempat terdiam sejenak. Ingatannya kembali pada raut wajah Kayla yang tampak sangat panik dan seputih kertas saat mengambil air putih tadi. Namun, karena tidak ingin merusak suasana malam ini, Hesti memilih menepis kecurigaan kecil itu dari kepalanya.
Waktu terus bergulir hingga malam semakin larut. Keheningan mulai menyelimuti seluruh sudut rumah mewah tersebut, menyisakan ketenangan di dalam kamar utama milik Pak Hendra dan Hesti. Suasana di dalam kamar itu mendadak terasa begitu intim dan hangat.
Pak Hendra yang sudah selesai membersihkan diri keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di lehernya, mengenakan pakaian tidur yang santai. Namun, pandangan matanya seketika terkunci rapat pada sosok sang istri yang sedang duduk di depan meja rias.
Malam ini, Hesti tampak sangat berbeda. Wanita itu rupanya sudah berganti pakaian, mengenakan sebuah gaun malam berupa lingerie sutra tipis berwarna merah marun yang sedikit seksi. Potongan pakaian itu dengan sempurna mengekspos lekuk tubuh Hesti yang terawat dengan anggun di bawah temaram lampu tidur yang kuning hangat.
Pemandangan indah di depan matanya itu seketika membuat rasa lelah, pening, dan kantuk yang menggelayuti tubuh Pak Hendra menguap tanpa sisa dalam sekejap mata. Keletihan akibat lembur di kantor mendadak digantikan oleh gelora nafsu dan gairah yang tinggi sebagai seorang pria dewasa.
Dengan langkah perlahan dan senyuman yang tertahan, Pak Hendra berjalan menghampiri meja rias. Ia berdiri tepat di belakang Hesti, lalu meletakkan kedua telapak tangannya yang hangat di atas pundak Hesti, memijatnya pelan dengan penuh kelembutan.
Hesti sedikit tersentak, lalu mendongak menatap pantulan wajah suaminya di cermin besar. Sebuah senyuman malu-malu yang sarat akan pesona terukir di bibir tipisnya, membuat pipinya merona merah di bawah cahaya temaram.
"Sayang... kamu tuh cantik banget ya malam ini," bisik Pak Hendra dengan suara baritonnya yang merendah, sarat akan damba.
Hesti membalikkan badannya perlahan, kini duduk menghadap lurus ke arah Pak Hendra. "Mas bisa saja. Bukannya tadi katanya capek sekali?" goda Hesti pelan, merapikan sedikit kerah baju tidur suaminya.
Pak Hendra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menundukkan wajahnya, perlahan memangkas jarak di antara mereka. Matanya terpejam saat bibirnya bergerak mendekati bibir Hesti yang merekah indah. Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja, siap untuk menyatukan kerinduan malam itu.
KRUUUUKKK! GULUGULUGUK!
Tepat sebelum bibir mereka saling bertautan, sebuah suara gemuruh yang cukup keras dan nyaring mendadak menggema dari dalam perut Pak Hendra. Suara itu begitu jelas memecah keheningan kamar.
Pak Hendra seketika membuka matanya, menjauhkan wajahnya dengan ekspresi terkejut sekaligus menahan rasa sakit yang mendadak melilit hebat di ulu hatinya. Rasa mulas yang luar biasa tajam tiba-tiba menyerang perutnya tanpa ampun, seolah ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam sana.
"Aduh... kenapa ya? Kok... kok perut Mas mendadak jadi melilit begini. Mas ke toilet sebentar ya, Sayang. Sudah gak tahan," ucap Pak Hendra terbata-bata menahan rasa sakit.
Tanpa menunggu jawaban Hesti, Pak Hendra langsung berbalik setengah berlari menuju kamar mandi, menutup pintunya dengan terburu-buru. Di depan meja rias, Hesti hanya bisa melongo menatap kepergian suaminya dengan dahi berkerut heran sekaligus bingung dengan perubahan situasi yang begitu mendadak.
Satu jam berlalu, berganti menjadi dua jam yang menyiksa bagi Pak Hendra. Efek obat pencahar dosis tinggi racikan Gavin yang dicampurkan Kayla ke dalam teh benar-benar bekerja secara brutal di dalam pencernaan pria paruh baya tersebut.
Ketika Pak Hendra akhirnya bisa keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah mulai lemas, ia mendapati Hesti rupanya sudah terlelap tidur di atas ranjang karena kelelahan menunggu. Pak Hendra mencoba merebahkan dirinya di samping sang istri, berharap badannya bisa beristirahat.
Namun, baru lima menit memejamkan mata, gelombang mulas yang jauh lebih hebat kembali menghantam perutnya. Pak Hendra kembali melompat dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Siklus menyiksa itu terus terjadi berulang-ulang sepanjang malam. Pak Hendra terus bolak-balik ke toilet hingga tubuhnya benar-benar terkuras habis.
Hingga menjelang pukul tiga dini hari, Pak Hendra sudah tidak sanggup lagi berdiri. Seluruh tenaganya hilang, pandangannya mulai berkunang-kunang, dan bibirnya tampak sangat kering pecah-pecah akibat dehidrasi parah yang menyerang tubuhnya karena kekurangan cairan.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Pak Hendra merangkak naik ke atas kasur. Tangannya yang gemetar hebat meraih bahu Hesti, mengguncangnya dengan lemah.
"Sayang... Hesti... bangun, Sayang..." rintih Pak Hendra dengan suara yang teramat serak dan parau.
Guncangan itu seketika membuat Hesti terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya sejenak sebelum pandangannya beralih pada sosok suaminya yang terbaring di sampingnya. Begitu melihat kondisi Pak Hendra di bawah remang lampu, kantuk Hesti seketika sirna digantikan oleh rasa syok yang luar biasa.
Wajah Pak Hendra tampak sangat pucat pasi bagai mayat, keringat dingin membanjiri pelipisnya, dan napasnya terdengar pendek-pendek menahan lemas.
"Mas! Mas Hendra kamu kenapa?!" seru Hesti panik, langsung memosisikan tubuhnya duduk dan memegangi dahi suaminya yang terasa dingin. "Kenapa badan kamu bisa selemas ini, Mas?!"
"Perut... perut Mas sakit banget dari semalam... Mas sudah gak kuat, kepala Mas pusing banget, lemas..." rintih Pak Hendra sebelum akhirnya memejamkan matanya rapat-rapat, hampir kehilangan kesadaran saking lemasnya akibat dehidrasi akut.
Kepanikan Hesti langsung memuncak seketika. Tanpa membuang waktu untuk mengganti pakaian lingerie-nya, ia hanya menyambar sebuah jubah panjang untuk menutupi tubuhnya, meraih kunci mobil dan ponselnya di atas nakas.
Dengan air mata panik yang mulai menggenang di pelupuk mata, Hesti memapah tubuh lunglai Pak Hendra keluar kamar dengan susah payah, bergegas membawanya menuju ke rumah sakit terdekat demi menyelamatkan nyawa suaminya yang tengah kritis malam itu.