Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kereta Menuju Utara dan Peraturan Hidup Baru
Fajar baru saja merangkak naik ketika aku menyadari satu fakta penting: perjalanan hidup sebagai villainess memang melelahkan, tetapi perjalanan fisik menuju wilayah utara ternyata jauh lebih melelahkan.
Di dunia modern, kalau aku harus bepergian jauh, aku tinggal memesan tiket, memastikan baterai ponsel penuh, membawa camilan, lalu mengeluh karena kursi kendaraan terlalu sempit. Di dunia ini, bepergian ke Northmere berarti naik kereta kuda selama berhari-hari, membawa pengawal bersenjata, melewati hutan berkabut, dan menerima kemungkinan diserang oleh kelompok rahasia yang punya hobi menggambar gagak di setiap benda.
Kemajuan peradaban benar-benar terasa ketika seseorang rindu pada rest area.
Aku berdiri di halaman istana dengan mantel tebal yang sebenarnya terlalu indah untuk disebut pakaian perjalanan. Mira berlari mengelilingiku seperti induk ayam panik yang anaknya hendak dikirim ke kandang naga.
“Nona, sarung tangan sudah?”
“Sudah.”
“Obat flu?”
“Sudah.”
“Selimut wol?”
“Sudah.”
“Surat wasiat?”
Aku menoleh pelan. “Mira.”
“Untuk berjaga-jaga saja, Nona! Hamba tidak ingin jika Nona meninggal, koleksi pita rambut Nona jatuh ke tangan orang yang tidak menghargai warna merah darah bangsawan!”
“Prioritasmu mengerikan.”
“Hamba belajar dari situasi.”
Di dekat kereta, Duke Cassian North berdiri dengan mantel hitam berbulu, ekspresi tenang, dan tentu saja, secangkir teh. Aku mulai curiga pria itu tidak punya darah, melainkan teh hangat dengan aroma bergamot.
Adrian, kakakku yang baru saja kembali dari tugas militer, sedang memeriksa pasukan pengawal dengan wajah segarang patung singa. Ia menyuruh semua orang berdiri lurus, lalu menegur seorang prajurit hanya karena tali sepatunya tampak “kurang punya harga diri”.
Sementara itu, Putra Mahkota Lucien berdiri beberapa langkah dari kami. Ia tidak ikut ke utara, tetapi wajahnya menunjukkan ia ingin ikut hanya untuk memastikan aku tidak melakukan sesuatu yang merusak reputasi kerajaan. Atau mungkin untuk memastikan Cassian tidak menculikku secara legal melalui kontrak.
Aku tidak tahu mana yang lebih mengganggu.
“Lady Evangeline,” ucap Lucien saat aku mendekat. “Perjalanan ini tidak berarti kau bebas sepenuhnya.”
“Terima kasih sudah mengingatkan, Yang Mulia. Saya sempat lupa karena rantai imajiner di leher saya terasa ringan pagi ini.”
Mira tersedak udara. Adrian memejamkan mata seperti sedang berdoa agar adiknya tidak menantang calon raja di depan umum. Cassian, tentu saja, hanya menyesap teh.
Lucien menatapku datar. “Aku mengirim dua utusan istana untuk mengawasi laporan penyelidikan.”
“Bagus. Semakin banyak orang mengawasi, semakin besar kemungkinan ada yang benar-benar bekerja.”
“Aku juga akan meminta laporan tertulis setiap dua hari.”
Aku mengangguk. “Tentu. Apakah harus lengkap dengan ilustrasi? Mira sangat suka membuat gambar ekspresi panik.”
“Nona!”
Lucien menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, aku melihat kelelahan manusiawi di wajahnya. Mungkin menuduh tunangan sendiri lalu membiarkannya pergi bersama Duke Utara memang kegiatan yang menguras energi.
“Evangeline,” katanya lebih pelan. “Jangan mati di utara.”
Aku terdiam sebentar.
Itu bukan permintaan maaf. Bukan juga pengakuan bahwa ia mulai percaya padaku. Tapi untuk Lucien, kalimat itu mungkin sudah setara dengan puisi cinta sepanjang tiga jilid.
Aku tersenyum tipis. “Saya akan berusaha. Saya juga punya jadwal membalas dendam, jadi mati sekarang akan sangat tidak sopan.”
Lucien tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi Cassian sudah melangkah ke sampingku.
“Kereta siap,” ujar Duke itu.
Aku menatapnya. “Anda terdengar seperti orang yang sedang mengumumkan teh sudah dingin, bukan perjalanan yang mungkin dipenuhi pembunuh.”
“Teh dingin lebih mengganggu.”
“Duke North, suatu hari saya akan menemukan sesuatu yang membuat Anda panik.”
“Saya menantikannya.”
Dengan bantuan Mira yang hampir menangis karena “perpisahan dengan lantai istana terasa sangat emosional”, aku naik ke kereta. Interiornya nyaman, jauh lebih luas dari yang kubayangkan, dengan kursi empuk, selimut tebal, rak kecil berisi buku, dan—tentu saja—perlengkapan teh lengkap.
Aku menunjuk rak itu. “Apakah ini kereta atau kedai teh bergerak?”
Cassian duduk berhadapan denganku. “Keduanya.”
Adrian masuk setelah memberi perintah terakhir kepada para pengawal. Mira menyusul dengan tiga tas kecil, dua tas besar, dan satu kotak misterius yang bergerak sedikit.
Aku menatap kotak itu. “Apa isinya?”
Mira memeluknya erat. “Persediaan darurat.”
“Berupa?”
“Roti manis, selai stroberi, jarum jahit, salep, pita rambut, dan satu sendok.”
“Kenapa sendok itu selalu muncul dalam rencana daruratmu?”
“Sendok adalah simbol harapan, Nona.”
Adrian menatapnya dengan wajah seperti melihat strategi militer dari dimensi lain. Cassian tampak benar-benar mempertimbangkan kalimat itu.
Kereta mulai bergerak. Roda berderit pelan di atas batu halaman istana. Aku menatap keluar jendela, melihat menara-menara istana menjauh. Tempat itu hampir menjadi akhir hidupku, tetapi anehnya saat meninggalkannya aku tidak merasa bebas. Aku justru merasa memasuki babak cerita yang lebih gelap dan lebih tidak tercatat dalam novel.
Di novel asli, Evangeline sudah mati sebelum bagian ini. Northmere hanya disebut sekilas sebagai wilayah Duke Utara yang dingin dan tidak ramah. Tidak ada adegan perjalanan. Tidak ada ruang di balik menara beku. Tidak ada pesan dari ibu Evangeline.
Artinya, mulai sekarang, keuntunganku sebagai pembaca novel menurun drastis.
Bagus. Aku transmigrasi ke dunia fiksi dan bahkan tidak mendapat peta lengkap.
“Wajahmu tegang,” kata Adrian.
“Aku sedang memikirkan kemungkinan diserang, dibekukan, diracun, difitnah ulang, atau dijadikan menantu utara tanpa persetujuan.”
Mira langsung menjerit kecil. “Nona, dari semua kemungkinan itu, yang paling menakutkan yang mana?”
“Jadi menantu tanpa membaca kontrak.”
Cassian mengangkat cangkir. “Saya akan selalu memberi kontrak.”
“Itu bukan hal yang menenangkan.”
Adrian menyilangkan tangan. “Selama aku ada, tidak ada yang akan menyentuhmu.”
Aku menatapnya. “Kakak, itu terdengar hangat.”
“Siapa pun yang menyentuhmu akan kehilangan tangan.”
“Dan kehangatannya hilang.”
Perjalanan awal berjalan tenang. Terlalu tenang. Kami melewati jalan berbatu, desa kecil, ladang musim gugur, dan hutan yang mulai menipis. Matahari naik perlahan, membuat kabut di pepohonan tampak seperti kain putih yang sengaja digantung untuk membuat suasana mencurigakan.
Cassian membuka peta dan menjelaskan rute. Aku mencoba mendengarkan dengan serius, tetapi setiap kali ia menunjuk titik tertentu, Mira mengeluarkan camilan dari tas dan bertanya apakah “hutan yang namanya Serigala Tua” berarti ada serigala tua sungguhan atau hanya nama artistik.
“Serigala sungguhan,” jawab Cassian.
Mira memasukkan roti ke mulutku. “Nona harus makan. Kalau dimakan serigala, setidaknya jangan dalam keadaan lapar.”
“Mira, itu bukan cara kerja keselamatan.”
“Ini cara kerja ketenangan batin.”
Menjelang siang, kereta memasuki jalur hutan yang lebih sunyi. Burung-burung berhenti berkicau. Angin menjadi lebih dingin. Adrian membuka tirai sedikit dan memberi isyarat kepada pengawal di luar.
Aku langsung tegang.
“Ada apa?” bisikku.
Cassian menutup kotak tehnya dengan sangat pelan. “Kita diikuti.”
Mira membeku sambil memegang roti. “Oleh serigala tua?”
“Manusia,” jawab Adrian.
“Lebih buruk,” gumamku.
Kereta berhenti mendadak. Dari luar terdengar suara ranting patah, lalu derap kaki. Pengawal berteriak. Pedang keluar dari sarungnya.
Aku memegang tangan kursi. Tubuhku ingin panik, tetapi otakku memaksa berpikir. Ordo Gagak Mahkota tahu kami pergi ke utara. Serangan ini mungkin bukan untuk membunuhku, tetapi menguji penjagaan, mencuri dokumen, atau membuatku tampak seperti sumber bencana berjalan.
Pintu kereta terbuka. Seorang pengawal muncul. “Yang Mulia Duke, ada penghalang di jalan. Pohon tumbang. Kemungkinan disengaja.”
Cassian berdiri. “Adrian.”
“Aku tahu.” Adrian menarik pedang. “Jangan keluar, Eva.”
Aku mengangguk cepat. “Percayalah, aku tidak punya hobi mencari panah.”
Mira berbisik, “Nona, jika situasi genting, hamba punya sendok.”
“Aku akan mati dengan rasa penasaran, bukan karena musuh.”
Namun baru saja Adrian keluar, sebuah panah menembus jendela kereta dan menancap di dinding dekat kepalaku.
Mira menjerit.
Aku menatap panah itu.
Di batangnya terikat kertas kecil.
Cassian mengambilnya sebelum aku sempat bergerak. Ia membaca isinya, lalu matanya mengeras.
“Apa?” tanyaku.
Ia menyerahkan kertas itu padaku.
Tulisannya hanya satu kalimat.
Jangan bawa Mawar Hitam ke Northmere.
Aku merasakan udara di paru-paruku berhenti.
Mawar Hitam.
Itu lambang ibuku.
Cassian menatapku. “Mereka tidak hanya tahu kau pergi.”
Adrian berteriak dari luar, suara benturan pedang terdengar bersamaan.
Cassian menutup pintu kereta, lalu untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia meletakkan cangkir tehnya tanpa menyelesaikan isinya.
Aku menatap cangkir itu.
“Ini buruk, ya?”
Cassian mengeluarkan pedang tipis dari sisi kursinya.
“Sangat.”
Mira menatap cangkir yang ditinggalkan. “Bahkan tehnya ikut kehilangan harapan.”
Aku memegang kertas ancaman itu erat-erat.
Hutan di luar dipenuhi suara pertempuran.
Dan perjalanan ke utara baru berjalan setengah hari.
Satu hal aneh terjadi setelah panah itu. Tidak ada serangan lanjutan selama beberapa detik. Dalam pertempuran, beberapa detik bisa terasa seperti satu bab penuh. Aku mendengar suara ranting patah, kuda meringkik, dan Adrian memberi perintah dengan nada yang biasanya dipakai orang untuk menakuti pintu agar terbuka sendiri.
Cassian menatap kertas ancaman di tanganku. “Sembunyikan itu.”
“Kenapa?”
“Jika penyerang berhasil masuk, mereka akan mencari bukti bahwa pesan sampai padamu.”
Aku segera menyelipkannya ke balik korset gaun. Lalu menyesal karena gaun bangsawan ternyata punya banyak struktur tetapi sedikit logika. “Kalau aku selamat, aku akan mendesain pakaian perempuan dengan kantong rahasia.”
Mira menatapku kagum. “Nona memikirkan mode di tengah serangan?”
“Mode praktis menyelamatkan nyawa.”
Cassian membuka sedikit tirai, lalu menutupnya kembali. “Tiga orang bergerak ke sisi kanan. Satu menuju belakang.”
Mira menggenggam sendoknya lebih erat. “Belakang kereta berarti arah koper hamba.”
“Mira,” kataku, “kalau harus memilih antara koper dan hidupmu?”
“Hamba memilih hidup Nona.”
“Itu tidak termasuk pilihan.”
“Hamba tidak suka pilihan yang tidak dramatis.”
Di luar, suara benda berat jatuh terdengar. Kereta berguncang lagi. Aku menahan napas. Untuk pertama kalinya sejak menjadi Evangeline, aku menyadari bahwa hidup sebagai bangsawan tidak otomatis berarti aman. Kadang justru kepalamu lebih mahal untuk diburu.
Cassian berdiri di depan pintu, pedangnya terangkat. Mira berdiri di sampingku, sendok siap lempar. Aku menatap mereka berdua dan berpikir, inilah tim penyelamatku: Duke paling tenang di kerajaan dan pelayan yang menjadikan alat makan sebagai warisan tempur.
Tidak meyakinkan.
Tapi anehnya, aku merasa sedikit berani.