NovelToon NovelToon
Dimanjakan Oleh Cintanya

Dimanjakan Oleh Cintanya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.

​Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.

​"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di balik pintu kokoh sang CEO

​Jarum jam dinding di divisi audit telah menunjuk ke angka lima sore. Suasana kantor yang tadinya tegang oleh tenggat waktu laporan keuangan, perlahan mulai mencair. Beberapa karyawan senior terdengar mengembuskan napas lega dan mulai merapikan meja kerja mereka, memasukkan barang-barang ke dalam tas untuk bersiap pulang.

​Aira pun melakukan hal yang sama. Dia mengemasi buku catatan akuntansinya dan merapikan kemeja oversized yang dia kenakan hari ini. Tangan kecilnya sempat mengusap perut buncit empat bulannya yang mulai terasa agak kaku karena duduk terlalu lama. Di dalam hatinya, Aira sudah membayangkan kehangatan sofa penthouse mereka dan teh herbal yang biasa disiapkan suaminya.

​Namun, tepat saat dia bersiap menyampirkan tasnya di bahu, seorang staf senior utusan dari lantai atas melangkah terburu-buru memasuki divisi audit dan langsung berjalan menuju kubikel Aira.

​"Aira," panggil karyawan itu, suaranya cukup terdengar oleh kubikel di sekitarnya. "Kamu dipanggil Pak Rayyan ke ruang kerja utamanya di lantai teratas sekarang juga."

​Mendengar nama sang CEO tertinggi disebut, beberapa staf yang sedang mengemasi barang langsung menghentikan gerakan mereka. Pandangan mata penuh tanya dan rasa penasaran seketika tertuju pada Aira. Panggilan langsung dari seorang Rayyan Wijaya kepada seorang anak magang di jam pulang kantor adalah sesuatu yang sangat tidak biasa.

​Aira sendiri sempat menegang sejenak. Jantungnya berdegup lebih cepat. Dia langsung teringat pada pesan ancaman "hukuman manis" yang dikirimkan Rayyan siang tadi melalui ponsel. Pria itu benar-benar tidak sabar dan nekat memanggilnya ke atas.

​"Ah... baik, Mbak. Terima kasih infonya. Saya akan segera ke sana," jawab Aira seprofesional mungkin, mencoba menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba terbit di pipinya.

​Aira berdiri, merapikan lipatan kemeja longgarnya yang menyembunyikan perut kehamilannya dengan sempurna, lalu melangkah keluar dari divisi audit menuju lift eksekutif.

​Namun, seluruh pergerakan Aira dari awal dipanggil hingga melangkah keluar ruangan ternyata tidak luput dari sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya dengan penuh rasa benci dan curiga. Di sudut koridor dekat lift, Sandra berdiri mematung dengan dokumen di tangannya.

​Rahang asisten pribadi itu mengeras, dan hatinya dibakar oleh rasa cemburu yang teramat sangat. Sandra yang sudah bertahun-tahun mendedikasikan dirinya untuk mendekati Rayyan, hampir tidak pernah dipanggil secara privat di luar jam kantor jika bukan urusan bisnis yang luar biasa darurat. Tapi sekarang, gadis kelas bawah yang hanya berstatus anak magang itu dengan mudahnya melangkah menuju ruang suci sang CEO atas undangan langsung.

​"Ada yang tidak beres. Pak Rayyan tidak mungkin sembarangan memanggil anak magang tak berguna seperti dia," desis Sandra dengan mata memicing tajam.

​Didorong oleh rasa penasaran yang besar dan ego yang terluka, Sandra membalikkan badannya. Dengan langkah kaki yang sengaja diendap tanpa suara, dia mengekor di belakang Aira, ikut naik ke lantai eksekutif menggunakan lift staf di sebelah. Sandra bertekad untuk melihat, mendengar, dan membongkar apa sebenarnya yang dibicarakan oleh Rayyan Wijaya dengan gadis polos berpakaian longgar itu di dalam ruang kerja privatnya. Dia tidak tahu bahwa melangkah mendekati pintu itu sama saja dengan mengantarkan dirinya menuju tepi jurang kehancurannya sendiri.

​Aira berdiri di depan pintu kayu jati besar berlapis peredam suara yang menjadi pembatas ruang kerja utama Rayyan. Sebelum mengetuk, dia sempat menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang. Tangannya refleks merapikan kemeja oversized-nya yang menyembunyikan rahasia kecil mereka.

​Tok, tok, tok.

​Aira mengetuk pintu itu dengan sopan, sesuai dengan protokol kantor yang selalu dia patuhi.

​"Masuk," terdengar suara berat dan berwibawa dari dalam ruangan. Nada suara yang selalu berhasil membuat seluruh direksi di Menara Wijaya bergidik segan.

​Aira memutar kenop pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang bernuansa modern-klasik tersebut. Begitu tubuhnya sepenuhnya berada di dalam, pintu otomatis di belakangnya tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus, mengunci mereka berdua dari dunia luar.

​Di sudut koridor yang gelap, tidak jauh dari pintu tersebut, Sandra berdiri menempel pada dinding. Napasnya tertahan. Sepasang matanya menatap tajam ke arah pintu yang baru saja tertutup. Sandra mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu dengan langkah yang sangat pelan, dia mendekat ke arah pintu, mencoba mencari celah untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam.

​Sementara itu, di dalam ruangan, atmosfer ketat khas kantor seketika menguap begitu mata elang Rayyan menangkap sosok Aira. Pria itu langsung meletakkan pena mahalnya, bangkit dari kursi kebesarannya, dan melangkah lebar menghampiri istri kecilnya.

​"Lama sekali, hm? Aku sudah menunggumu sejak sepuluh menit yang lalu," ucap Rayyan. Nada suaranya berubah drastis menjadi begitu lembut, hangat, dan penuh kerinduan—sangat berbeda dengan suara yang didengar karyawan lain beberapa saat lalu.

​"Aku harus merapikan berkas-berkas audit dulu, Rayyan. Kan belum jam pulang kantor," jawab Aira dengan suara pelan, agak gugup karena tatapan Rayyan yang begitu intens mengunci pergerakannya.

​Rayyan tidak memedulikan alasan itu. Dia meraih pinggang Aira, menarik tubuh ramping istrinya dengan sangat hati-hati ke dalam pelukannya. Tangan besarnya berpindah ke bagian bawah kemeja longgar Aira, mengusap perut buncit empat bulan yang terasa hangat di sana.

​"Bagaimana kondisi anak papa di dalam? Dia tidak nakal kan selama kamu bekerja tadi?" bisik Rayyan rendah, menundukkan kepalanya hingga napas hangatnya menerpa ceruk leher Aira, membuat bulu kuduk gadis itu meremang indah.

​Aira menahan dadanya yang bergemuruh, tangannya bertumpu pada dada bidang Rayyan yang berbalut kemeja mahal. Dia tidak tahu bahwa di balik pintu kokoh itu, Sandra sedang menempelkan telinganya dengan rasa penasaran yang membakar, bersiap menerima kenyataan paling mengejutkan dalam hidupnya.

1
Adinda
panggil itu ayang beb, honey, atau mas begitu Aira
Brenda
akhirnya 😄
Ryuu
cepet updateeee
Ryuu
👍
beybi T.Halim
aira payah.,🙈seharusnya dia faham apa yg terbaik untuk dirinya,yg punya suami penguasa bisnis, kesel lah akhirnya babynya jadi korban
Ryuu
Huhhh kerenn bgt
Ryuu
Baguss nggk ngebosenin sejauh ini
Ryuu
Keren bgt thor ceritanyaa
beybi T.Halim
🤭🤭hedeh..berbunga2 kertas tuu...dah bilang cinta aja susah bener lahh😁
beybi T.Halim
masa panggil nama?.,panggil mas kek apa daddy. kan romantis..sekalian jagiya lah🤭
beybi T.Halim
asek...ketahuan deh..lagi baby boom
beybi T.Halim
ada adegan pingsan gak yaa.,br ketahuan aira hamil,kok aku nunggu2 pov kepajikan seorang rayyan wijaya😁
beybi T.Halim
yaa semoga gak ada drama ulat2 lah br terkendali semua keromatisan sang penguasa🤭
beybi T.Halim
kesini dl...suka deh cerita romantis spek2 daddy 🤭😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!