NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Diabaikan.

Kabar mengenai tumbangnya sang 'Putri Jahat' di koridor kampus segera sampai ke telinga Saka Tanubrata sore itu juga. Di meja kerja kantornya yang megah, Saka menatap layar ponselnya yang bergetar hebat. Nama ibunya, Ratih Tanubrata, terpampang di sana. Begitu panggilan diangkat, suara panik dan omelan khas sang ibu langsung memenuhi seisi ruangan, memerintahkan dengan tegas agar Saka segera meninggalkan tumpukan berkasnya dan pergi menjenguk Prisha di rumah sakit.

Namun, Saka tetaplah Saka. Dengan gerakan tenang, ia menjauhkan ponsel dari telinganya sebelum akhirnya mematikan sambungan secara sepihak. Ia sama sekali tidak berniat melangkah ke rumah sakit. Jika Saka adalah tipe pria penurut yang langsung tunduk pada setiap titah ibunya, sudah pasti ia sudah menikahi salah satu dari belasan gadis pilihan ibunya sejak beberapa tahun yang lalu.

Saka menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulitnya, menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota. Sebuah dengusan sinis lolos dari hidungnya yang mancung.

"Karma," gumam Saka pelan pada keheningan ruangan.

Bagi Saka, kemalangan yang menimpa Prisha hari ini adalah buah dari perbuatannya sendiri di masa lalu. Berdasarkan data rekam jejak yang pernah ia baca, Prisha dikenal sebagai sosok yang angkuh dan kerap menindas orang lain saat keluarganya masih berjaya.

Siapapun pelaku yang menjebak Prisha dengan minyak goreng di tangga atau menjatuhkan pot bunga hari ini, pastilah salah satu dari sekian banyak orang yang pernah disakiti oleh gadis itu. Dan jumlah orang yang membenci Prisha jelas tidak hanya satu atau dua orang.

Saka yakin, bahkan Prisha sendiri pun tidak akan bisa menebak dengan pasti siapa dalang di balik semua ini, terkecuali jika gadis itu akhirnya mulai sadar dan merenungi dosa-dosa masa lalunya.

Menjelang malam, Prisha akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Langkah kakinya terasa begitu berat dan canggung karena gips tebal yang kini membungkus kaki kirinya. Dengan telaten, Bora memapah bahu Prisha, membimbingnya selangkah demi selangkah menyusuri koridor mansion mewah Tanubrata menuju kamar tidurnya di lantai atas.

Begitu mendudukkan diri di tepi ranjang dengan napas sedikit terengah, Prisha langsung memijat pangkal paha kirinya yang terasa kaku. "Besok aku tidak akan datang ke kampus dulu," cetus Prisha tiba-tiba, suaranya terdengar lelah namun penuh penekanan. "Bisa mati konyol aku jika nekat masuk kelas dalam keadaan pincang seperti ini."

Bora yang sedang merapikan bantal di belakang punggung Prisha mengangguk paham. "Pilihan yang sangat bijak, Nona. Tapi jika suatu hari nanti Nona memutuskan untuk kembali ke kampus, saya sangat menyarankan agar Nona membawa saya ikut serta."

Prisha menoleh, menatap pelayan mudanya dengan kening berkerut. "Membawamu? Untuk apa?"

Bora menegakkan tubuhnya, menampilkan senyum tipis yang sarat akan kepercayaan diri. "Saya adalah pelayan yang sangat kompeten, Nona. Selain cekatan dalam urusan domestik, saya juga dibekali dengan refleks tingkat tinggi dan kemampuan bela diri yang mumpuni. Saya bisa menjamin tidak akan ada sebutir debu atau pot bunga pun yang bisa menyentuh ujung rambut Nona jika saya ada di samping Anda."

Mendengar tawaran itu, Prisha sempat tertegun. Memiliki asisten pribadi seperti Bora terdengar sangat menggiurkan di situasi berbahaya seperti ini. Namun, sedetik kemudian, bayangan wajah sinis Yunha kembali melintas di benaknya. Prisha menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Tidak, Bora. Tetap tidak boleh," tolak Prisha mutlak. "Aku tidak ingin membuktikan perkataan miring Yunha yang mengatainya diriku sebagai simpanan om-om kaya. Datang dengan mobil mewah saja sudah membuat seisi kampus gempar, apalagi jika aku mendadak membawa pelayan pribadi bersamaku ke kelas. Gosipnya pasti akan semakin liar."

Bora tidak membantah lagi. Ia hanya membungkuk hormat, memaklumi keras kepalanya sang majikan baru yang rupanya masih sangat menjaga sisa-sisa harga dirinya. "Saya mengerti, Nona. Kalau begitu, saya pamit keluar untuk menyiapkan keperluan malam Anda."

Saat melangkah keluar dari kamar Prisha dan menutup pintu kayu tersebut, Bora berpapasan dengan Saka yang kebetulan baru saja melangkah naik ke lantai atas setelah pulang dari kantor. Langkah kaki Saka sempat melambat begitu melihat Bora keluar dari kamar Prisha.

"Bagaimana keadaannya? Apa dia masih bisa berjalan?" tanya Saka dengan nada suara sedatar mungkin, seolah pertanyaan itu hanyalah basa-basi formalitas belaka.

Bora menundukkan kepalanya dengan sopan. "Nona Prisha bisa berjalan, Tuan Muda. Namun, beliau harus menggunakan bantuan tongkat penyangga. Tapi untuk beberapa hari ke depan, beliau tidak akan berjalan sendirian karena dokter menyarankan dengan sangat agar Nona tidak banyak bergerak untuk sementara waktu demi pemulihan tulangnya."

Saka hanya mengangguk pelan satu kali, ekspresi wajahnya tetap sekaku es batu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, pria itu melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya sendiri yang berada di ujung koridor lain.

Bora menatap punggung tegap majikan mudanya itu sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Di dalam hatinya, Bora bisa menebak dengan sangat akurat bahwa Tuan Muda Saka pasti merasa sangat senang dan lega malam ini. Dengan kondisi kaki Prisha yang patah dan terbungkus gips, gadis tebal muka itu dipastikan tidak akan bisa leluasa bergerak ke sana kemari untuk mengganggu ketenangannya lagi seperti hari sebelumnya.

Waktu pun merambat naik, hingga jam di dinding menunjukkan tengah malam yang sunyi. Di dalam kamarnya yang gelap, Prisha mendadak terbangun dari tidurnya. Tenggorokannya terasa begitu kering dan perih, seolah-olah dilapisi oleh pasir. Rasa haus yang tak tertahankan membuatnya terpaksa membuka mata.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang remang-remang, lalu mencoba mengulurkan tangan kanannya, berusaha menggapai teko air dan gelas kaca yang terletak di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Namun, saat tubuhnya sedikit bergeser, kaki kirinya yang digips secara tidak sengaja terbentur pinggiran kasur.

"Akh!" Prisha meringis kesakitan, rasa linu yang dahsyat seketika menusuk hingga ke syarafnya.

Sentakan rasa sakit yang mendadak itu membuat tangannya kehilangan kendali. Alih-alih menggenggam teko, jemarinya justru menyenggol wadah kaca tersebut hingga terdorong ke tebing meja.

Prang!!!

Suara pecahan kaca yang nyaring seketika memecah kesunyian malam. Teko beserta gelas itu hancur berkeping-keping di atas lantai, menumpahkan seluruh airnya dan menyisakan serpihan tajam yang berkilau di kegelapan.

Prisha mengutuk dalam hati. Kini, mau tidak mau dia harus turun sendiri ke dapur lantai bawah jika tidak ingin mati kehausan malam ini. Mengingat jam sudah menunjukkan waktu dini hari, Bora atau siapapun pelayan di mansion ini pasti sudah terlelap tidur di paviliun belakang.

Dengan bersusah payah, Prisha berangsur-angsur menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Ia mengambil tongkat penyangganya, bertumpu dengan kaki kanannya yang sehat, dan mulai berdiri secara hati-hati. Langkahnya terdengar pincang dan lambat saat ia berjalan menyeret kakinya keluar dari kamar.

Begitu sampai di ambang pintu dan melangkah ke koridor, pandangan Prisha menangkap sesosok siluet tinggi yang baru saja keluar dari arah ruang kerja. Itu Saka. Pria itu tampaknya juga belum tidur dan baru saja menyelesaikan pekerjaan malamnya.

Sebuah ide nakal mendadak melintas di kepala Prisha yang haus. Mengabaikan rasa perih di tenggorokannya, Prisha sengaja melepas cengkeraman pada salah satu tongkatnya, membiarkan benda itu jatuh berdenting di lantai, sementara tubuhnya sengaja diambrukkan ke dinding koridor dengan pose yang dibuat seolah-olah ia baru saja terjatuh dan tidak berdaya lagi.

Saka menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Prisha. Sepasang matanya mengernyit tajam. Dari tempatnya berdiri, Saka bisa melihat dengan sangat jelas alur gerakan Prisha. Pria dengan tingkat ketelitian tinggi seperti dia tentu tahu bahwa jatuhnya Prisha barusan tidaklah serapuh dan setragis itu. Itu adalah akting yang sangat payah.

Prisha mendongak, memasang wajah paling memelas yang bisa ia ciptakan, menatap Saka dengan tatapan mata sayu. "Kak ... tolong aku. Kakiku sakit sekali. Bisa minta tolong gendong aku ke dapur? Aku sangat haus," rintihnya dengan suara yang dibuat selembut mungkin.

Namun, respons Saka benar-benar di luar harapan. Pria itu hanya menatapnya dingin selama satu detik, seolah sedang melihat pertunjukan teater jalanan yang tidak bermutu. Tanpa mengeluarkan satu kata pun, Saka kembali melangkah, melewati tubuh Prisha begitu saja dan berjalan menuju kamarnya seolah-olah gadis itu adalah makhluk kasat mata yang tidak ada di sana.

Cklek. Brak. Pintu kamar Saka ditutup dengan rapat.

Prisha yang masih bersandar di dinding seketika melebarkan matanya tak percaya. "Dasar pria kejam! Es batu berjalan! Aku ini benar-benar sedang sakit, tahu!" teriak Prisha kesal setengah mati.

Meskipun tadi ia sempat menambahkan bumbu pura-pura saat menjatuhkan diri, tetapi fakta bahwa kakinya sedang patah dan tubuhnya kesakitan adalah hal yang nyata. Ia benar-benar merasa akan jauh lebih baik dan manusiawi jika pria itu bersedia menolongnya sedikit saja ke dapur. Namun kenyataannya, Saka memang tidak memiliki hati.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!