NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lanjut..

Malam ini Varren menatap tajam Shena yang duduk di meja makan, di balas tak kalah dingin oleh Shena.

Di sisi lain meja, Amel duduk dengan sorot sinis di matanya. Dan di samping Shena, Davin—pria muda yang selalu ada di mansion—ikut menikmati makan malam. Davin sebenarnya hanya teman dekat Shena, tapi Varren tahu hubungan mereka lebih dari itu. Namun Davin selalu bersikap baik pada Varren. Mungkin karena umur mereka hanya terpaut lima tahun, Davin lebih bisa memahami penderitaan Varren.

"Kamu menampar Amel tadi gara-gara mengingatkan kamu supaya nggak ribut?" tanya Shena dingin.

Varren melirik Amel yang meliriknya dengan tersenyum miring, pipinya yang merah dan kebiruan terpampang nyata, seakan-akan menunjukkan bukti nyata. "Untung nggak saya bunuh saja. Lain kali jaga teman anda biar tidak terlalu liar." tegas Varren mencoba makan dengan tenang, sama sekali tidak mau emosi.

"Varren..!" Shena menatap Varren dingin dan tak suka, menaruh sendok makannya dengan keras. "Dia juga sahabat mama. Kenapa kamu tidak bisa menerima Amel sedangkan Fina dan Ivana bisa kamu terima ha? Mereka sama saja." tegas Shena kepada Varren.

Varren tidak tahu apa yang disampaikan oleh Amel tentang dirinya dan apa yang terjadi tadi. Varren menatap Shena malas dan tak suka. "Sutttt... Kalo ngomong masalah sahabat mama, mama punya banyak kan? Cuma yang terkuak aja dua. Sahabat-sahabat mama di luar sana ada berapa? Sebelas? Dua belas? Atau berapa? Apa saya harus nerima semuanya juga?" tanya Varren tak kalah keras menarik sendok di atas meja.

Shena melihat Varren yang melawan menatap nyalang anaknya.

"Kamu kurang ajar—" Ucapan Shena tercekat, perasaan tak enak menyangkut di tenggorokannya. Amel pun di sana memejamkan mata.

Uhuk..

Amel memuntahkan darah di atas meja. Disusul oleh Shena yang ikut muntah darah di atas meja makan.

Shena menatap nyalang Varren yang tersenyum miring dan berdiri. "Itu peringatan buat kalian. Sekali lagi nyakitin keluarga saya, saya tidak akan pernah main-main. Apalagi dengan anda, Amelia Antartika Sari." tegas Varren kepada Amel tajam. "Bukan hanya anda, putri anda bisa saya hancurkan dengan mudah..!" tekan Varren dan mengepak meja kuat hingga meja kaca itu retak.

Davin yang sejak tadi diam ikut terkejut. Namun bukan karena takut pada Varren, melainkan khawatir. Ia menatap Varren dengan tatapan prihatin. Selama ini Davin tahu bagaimana Shena memperlakukan Varren. Davin sering melihat Varren menahan amarah, menahan tangis, dan bertahan di rumah yang dingin ini. Davin ingin membantu, tapi ia tidak punya posisi untuk ikut campur.

Ia hanya bisa diam dan berdoa semoga Varren baik-baik saja.

Shena memegang dadanya yang terasa sesak, memuntahkan lagi darah. Sama dengan Amel yang sudah seperti meregang nyawa. Bahkan seluruh tubuhnya terasa panas terbakar.

Davin segera berdiri. "Saya panggil dokter!" ujarnya cepat, lalu berlari keluar ruangan. Tapi sebelum pergi, ia melirik Varren sekilas—tatapan yang berkata, "Aku khawatir sama kamu."

Shena menatap Varren yang sudah berbalik pergi. Lihat saja apa yang akan dirinya lakukan nanti.

Ia akan membalasnya!

Sedangkan Varren menatap ke arah depan. Andai saja Fina dan Ivana tidak begitu setia pada Shena, sudah pasti Varren akan menghancurkan Shena, atau bahkan membunuhnya.

Tapi mereka bodoh, terlalu bodoh dalam kesetiaan. Shena yang sering menyakiti mereka saja terus mereka layani dengan tulus.

Niat awalnya ingin membunuh Amel, cuma Varren tidak tega melihat dia meninggal dan tidak merasakan sakitnya. Varren mau melihat seberapa jauh Amel mempengaruhi Shena dalam keluarga ini. Varren yakin jika suatu hari ini Amel akan terkena batunya.

"Kak Varren mau kemana? Gab mau ikut." ujar Gabriel—putra Fina—berlari kecil menghampiri Varren di lorong mansion.

Varren yang mendengar suara Gabriel segera melirik ke bawah. Ada Gabriel yang memeluk boneka beruang coklat menatap dirinya merengek polos. "Gab ini boneka nggak boleh dimainin terus. Kamu laki-laki, kalo nyonya tahu kamu bakal dihukum..!!" tegas Varren menatap Gabriel menarik boneka itu menjauh dari Gabriel.

Gabriel menatap Varren menurunkan bibir ke bawah sedih karena dibentak. Varren menghela napas pelan membungkuk membuang boneka coklat tersebut tapi ditahan oleh Gabriel. Ingat dulu dirinya juga suka main boneka, tapi saat Shena tahu semua boneka Varren dibakar habis, bahkan tangan Varren juga ia bakar sebagai peringatan. Varren tidak boleh sekali-kali main boneka atau bahkan main permainan perempuan.

"Kak Varren nggak marah. Cuma kalo nyonya tahu kamu bakal dibakar tangannya, kamu bakal dihukum." ujar Varren sendu.

"Tapi ini nyonya yang kasih buat ulang tahun Gab tahun ini." ujar Gabriel nanar dan lirih.

Varren mendengarnya melebarkan mata tak percaya. Shena memang terlihat membenci Gabriel tapi siapa yang bisa menebak jika dia memberikan hadiah untuk Gabriel. Shena sulit ditebak. Mungkin. Tapi yang pasti dia sangat menyukai anak anak, apalagi anak laki-laki.

Varren mengepalkan tangannya, apaan? Kenapa dirinya tak berkutik? Baik Fina, Ivana dan Gabriel sangat setia pada Shena, mereka tidak tahu bagaimana sakitnya menjadi Varren.

Varren menghela napas pelan melepaskan tangan dari kepala Gabriel. Menatap lain arah dengan tatapan sendu.

"Nyonya nggak apa-apa. Nanti dia baik-baik aja. Gab temenin aja nyonya." ujar Varren pelan.

Gabriel menggeleng pelan menatap Varren yang segera berdiri. "Gab marah sama Kak Varren kalo nyonya kenapa-napa." ujar Gabriel nanar hampir menangis.

Tapi Varren sudah membuang muka dan tidak mau mendengarnya.

"Kak Varren..!" teriak Gabriel. Tapi Varren tidak menjawab. Gabriel memegang dadanya sesak menatap Varren menjauh. "Kakak mau kemana? Di rumah aja loh..!" teriak Gabriel dengan lirih dan nanar.

Gabriel menatap ke dalam lagi sendu. Kenapa sih Varren tidak menyukai nyonya Shena? Padahal nyonya Shena memberinya hadiah ulang tahun.

Bersambung...

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!