Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Ancaman
Pertanyaan Adnan menggantung di udara selama beberapa detik. Tidak ada seorang pun yang menjawab. Keenam tamu itu justru saling bertukar pandang seolah telah sepakat untuk menyimpan rahasia mereka.
Gladys akhirnya berdiri dari sofa dan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kita sudah kehabisan waktu," katanya tenang. "Acara akan segera dimulai."
Salah seorang pria berkacamata mengangguk. "Lebih baik kita mulai sekarang."
Mereka segera bergerak. Suasana santai yang sebelumnya memenuhi ruangan mendadak lenyap begitu saja. Keenam tamu itu berjalan menuju ruangan lain yang berada di bagian dalam suite VIP tersebut. Ruangan itu cukup luas dan tampaknya memang telah dipersiapkan sebelumnya.
Adnan masih berdiri dengan kebingungan. "Mbak, saya masih belum dapat penjelasan loh."
Gladys menatapnya sekilas. "Kamu hanya perlu melakukan pekerjaanmu."
"Tapi—"
"Siapkan kameramu!" Nada suara Gladys tidak memberi ruang untuk membantah.
Adnan menghela napas panjang. Dalam hati dia mulai menyesali keputusannya datang malam itu. Namun karena rasa penasaran yang lebih besar daripada rasa takut, ia akhirnya membuka tas kameranya. Tangannya menyentuh kamera tua yang dirinya gunakan untuk bekerja.
Adnan menelan ludah. "Kita lihat saja..." gumamnya pelan. Ia mengambil kamera tua itu lalu mengikuti para tamu menuju ruangan dalam.
Begitu memasuki ruangan tersebut, bulu kuduknya langsung berdiri. Lampu utama sengaja diredupkan. Hanya beberapa lampu kecil yang menyala di sudut-sudut ruangan. Di bagian tengah terdapat meja besar yang ditutupi kain hitam. Beberapa lilin telah disusun membentuk pola melingkar.
"Astaga..." bisik Adnan. Perasaannya semakin tidak nyaman.
Keenam tamu itu berdiri mengelilingi meja. Wajah mereka tampak jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Kemudian salah seorang wanita membuka sebuah koper kecil yang sejak tadi dibawanya.
Saat koper itu terbuka, aroma anyir langsung memenuhi ruangan.
Adnan spontan menutup hidungnya. "Apa itu?"
Tidak ada yang menjawab. Dari tempatnya berdiri, ia hanya bisa melihat beberapa benda aneh yang diletakkan di dalam kotak tersebut. Semuanya tampak kotor dan berlumuran cairan merah gelap yang sudah mengering.
Bau logam yang menyengat membuat perut Adnan terasa mual. Salah seorang pria mulai meletakkan benda-benda itu ke atas meja. Sementara yang lain menyalakan lebih banyak lilin. Suasana menjadi semakin ganjil.
"Mulai merekam!" perintah Gladys tiba-tiba.
Adnan tersentak. "Sekarang?"
"Iya!"
Dengan gugup, Adnan mengangkat kameranya. Lensa kamera langsung mengarah ke tengah ruangan.
Awalnya tidak ada yang aneh. Namun beberapa detik kemudian, layar kamera tua itu mulai berkedip. Jantung Adnan langsung berdebar. Ia sangat mengenal tanda tersebut.
Setiap kali kamera itu menunjukkan sesuatu yang tidak normal, layar biasanya akan bereaksi seperti itu. Lalu perlahan muncul tulisan berwarna merah.
Aktivitas terdeteksi.
Kategori: Ritual.
Status: Tidak disarankan berada di lokasi.
Mata Adnan langsung membelalak. "Apa?"
Tangannya mulai gemetar. Tulisan berikutnya muncul.
Terdeteksi keberadaan entitas non-fisik.
Ancaman: Tinggi.
Darah Adnan seolah membeku. Ia mengangkat kamera sedikit lebih tinggi. Kemudian sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak muncul di layar.
Di tengah lingkaran para tamu itu berdiri sosok lain. Sosok yang sama sekali tidak terlihat oleh mata telanjang. Tubuhnya tinggi. Jauh lebih tinggi dibanding manusia normal. Kedua tanduk besar menjulang dari kepalanya. Matanya menyala merah. Sementara seluruh tubuhnya diselimuti bayangan hitam yang terus bergerak seperti asap pekat. Makhluk itu berdiri diam di antara para peserta ritual. Seolah sedang mengawasi mereka.
"Nggak mungkin..." bisik Adnan. Keringat dingin langsung mengalir di punggungnya. Ia menurunkan kamera sejenak.
Ruangan terlihat normal. Hanya ada Gladys dan para tamunya. Tidak ada makhluk apa pun. Namun saat kamera kembali diangkat, sosok bertanduk itu masih berdiri di sana. Kali ini bahkan lebih jelas. Makhluk itu perlahan menoleh. Tatapannya tepat mengarah ke lensa kamera. Seolah mengetahui bahwa dirinya sedang diamati.
"Gila!"
Adnan spontan mundur. Jantungnya berdetak begitu keras hingga telinganya berdenging.
Makhluk itu tampak tersenyum. Senyum yang sangat tipis. Namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Adnan merinding. Tangannya kehilangan tenaga.
BRAK!
Kamera tua itu terlepas dari genggamannya lalu jatuh ke lantai. Suara benturan membuat seluruh ruangan mendadak hening.
Semua orang menoleh ke arahnya. Termasuk Gladys. "Apa yang kamu lakukan?" timpalnya tajam.
Adnan masih membeku. Wajahnya pucat. Napasnya memburu. "A-aku..."
"Apa masalahmu?"
Adnan melirik ke arah tengah ruangan. Makhluk bertanduk itu masih terlihat di layar kamera yang terjatuh. Namun anehnya, tidak seorang pun di ruangan itu tampak menyadarinya. Bahkan para tamu masih berdiri dengan tenang.
"Mbak..." suara Adnan bergetar.
Gladys mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Kita harus pergi dari sini."
"Apa?"
"Kita harus pergi sekarang juga."
Beberapa tamu mulai terlihat kesal.
Bastian melangkah maju. "Kamu sedang apa?"
Adnan menunjuk ke arah tengah ruangan. "Di sana!"
Semua orang menoleh. Namun tentu saja mereka tidak melihat apa-apa. "Di sana ada sesuatu!"
Bastian menghela napas panjang. "Saya mulai menyesal memilih fotografer ini."
Gladys memungut kamera yang terjatuh lalu menyerahkannya kembali kepada Adnan. Tatapannya dingin.
"Dengarkan aku baik-baik! Kamu dibayar untuk mendokumentasikan acara ini."
"Tapi ada—"
"Tidak ada apa-apa!" Gladys memotong tegas. Lalu ia menatap Adnan tepat di mata.
"Jadilah profesional!"
Kalimat itu membuat Adnan terdiam. Sementara di balik bahu Gladys, sosok bertanduk yang hanya bisa dilihat melalui kameranya perlahan mengangkat kepala. Seakan sedang memperhatikan percakapan mereka.
Tanpa diduga, Bastian mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya. Dia todongkan benda tajam itu ke leher Adnan. "Lakukan saja pekerjaanmu! Kalau kau pergi, maka pisau ini akan merobek lehermu!" ancamnya.