Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Langkah kaki mereka bertiga di atas karpet merah menuju pelaminan utama langsung disambut oleh keheningan yang mendadak mencekam, sebelum akhirnya pecah oleh riuh rendah kasak-kusuk dari barisan kursi tamu.
Ratusan pasang mata tertuju lurus pada pemandangan tak biasa di depan mereka: seorang anak kiai berjalan gagah menggandeng dua pengantin wanita sekaligus.
Meskipun Diaz tampak luar biasa anggun dengan gaun penggantinya, bagi para kerabat dekat dan emak-emak sosialita sekte Umi Maryam, asal-usul Diaz yang tidak jelas tetap menjadi bahan gunjingan yang empuk.
Di barisan kursi VIP sebelah kanan, seorang wanita paruh baya bermukena premium dengan perhiasan emas berderet di jemarinya sengaja mengeraskan suaranya saat mereka melintas.
"Deloken kae, Jeng. Ganda kok yo gelem toh rabi karo cah wedok sing gak jelas asal-usule ngono? Jan ra mbois blas. Rupane yo biasa wae, paling yo mung modal nekat mampir masjid langsung entuk anak kiai kaya raya, (Lihat itu, Jeng. Ganda kok ya mau menikah dengan anak perempuan yang tidak jelas asal-usulnya begitu? Sama sekali tidak keren. Wajahnya ya biasa saja, paling ya cuma modal nekat mampir masjid langsung dapat anak kiai kaya raya,)" sindir wanita itu sambil menutup mulutnya dengan kipas, memancing tawa tertahan dari ibu-ibu di sebelahnya.
Tidak jauh dari sana, seorang bibi dari keluarga besar Laura menimpali dengan tatapan yang tak kalah sinis.
"Iyo, bener. Mosok gaun kembaran karo Laura, yo ra pantes toh! Sing siji emang pantes dadi ratu, lha sing siji kok koyo batur sing nemu klambi lungsuran. Menang akeh cah kuwi, langsung sugih dadakan! (Iya, bener. Masa gaunnya kembaran sama Laura, ya tidak pantas toh! Yang satu memang pantas jadi ratu, lha yang satu kok seperti pembantu yang menemukan baju lungsuran. Menang banyak anak itu, langsung kaya dadakan!)"
Mendengar sindiran tajam berbahasa Jawa yang menguliti harga dirinya tepat di depan telinganya, langkah Diaz mendadak goyah.
Kepalanya menunduk dalam, matanya memanas menahan air mata yang siap tumpah.
Kata-kata "batur" dan "sugih dadakan" menghujam tepat di ulu hatinya, membuatnya merasa semakin kecil dan tak berharga di tempat itu.
Laura yang berada di sisi kiri Ganda sempat menyunggingkan senyum kemenangan, merasa angin segar berpihak padanya.
Namun, senyum Laura tidak bertahan lama.
Merasakan getaran ketakutan dan cengkeraman tangan Diaz yang semakin mendingin di sisi kanannya, Ganda langsung menghentikan langkahnya tepat di tengah karpet merah.
Tindakan mendadak itu membuat seluruh area pasrah dalam senyap.
Dengan gerakan yang tenang namun sarat akan perlindungan, Ganda melepaskan tautan tangannya dari Laura.
Pria itu bergeser, melangkah satu tapak ke kanan untuk berdiri kokoh tepat di depan tubuh Diaz—menjadikan tubuh bidangnya sebagai tameng hidup yang menghalangi istri pertamanya dari tatapan-tatapan sinis dan mulut julid para tamu.
Ganda mengedarkan pandangan tajamnya yang dingin ke arah barisan emak-emak yang menyindir tadi, membuat mereka seketika bungkam dan salah tingkah.
"Diaz ini pilihan takdir saya, dan hari ini dia adalah kehormatan saya," ucap Ganda dengan suara berat yang sengaja ditekan, cukup keras hingga terdengar oleh orang-orang di sekitar karpet merah.
"Siapa pun yang tidak menghormati istri pertama saya, artinya tidak menghormati saya dan Abah."
Setelah memastikan tidak ada lagi kasak-kusuk yang berani keluar, Ganda kembali meraih jemari Diaz, meremasnya lembut seolah menyalurkan seluruh kekuatannya.
"Jangan menundukkan kepalamu, Diaz. Kamu istriku. Jalan di sampingku," bisik Ganda tegas tepat di hadapan mata Diaz yang berkaca-kaca.
Dengan perlindungan mutlak dari sang suami, Diaz perlahan menegakkan kepalanya kembali, sementara di sisi lain, Laura hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan kekalahan telak di babak pertama ini.
Acara resepsi pernikahan sesi kedua kembali dilanjutkan.
Musik kasidah modern mulai mengalun, mengiringi langkah mereka bertiga naik ke atas pelaminan megah.
Namun, meski Ganda sudah menegaskan posisinya di karpet merah tadi, kultur dan keberpihakan para tamu tidak bisa berubah instan.
Satu per satu para tokoh masyarakat dan kolega VIP naik ke panggung.
Lagi-lagi, pemandangan diskriminatif itu terulang. Para tamu seolah sepakat untuk menutup mata dari keberadaan Diaz; mereka hanya menyalami Ganda dan Laura, memberikan ucapan selamat yang bertubi-tubi pada pasangan yang dianggap "serasi" itu.
Di tengah keriuhan itu, Laura tak henti-hentinya menatap wajah Ganda yang tampak sangat tampan dalam balutan jas modern.
Rasa kepemilikan dan kemenangan kembali membuncah di dada Laura.
Ia sengaja memamerkan senyum paling menawan setiap kali kamera fotografer menyorot ke arah mereka, mengabaikan Diaz yang berdiri kaku di sisi kanan Ganda bagai bayangan yang tak diinginkan.
Satu jam berlalu bagai siksaan yang tak bertepi bagi Diaz.
Kepalanya pusing akibat beban riasan dan hantaman pesan dari mamanya yang belum selesai ia cerna.
Merasa tenaganya sudah terkuras habis, Diaz akhirnya memilih mundur.
Tanpa pamit pada siapa pun, ia membalikkan badan, turun dari pelaminan, dan berjalan cepat masuk ke dalam ndalem menuju kamar utama.
Melihat pergerakan istri pertamanya, Ganda langsung melepaskan jabat tangan seorang tamu dan bersiap melangkah turun untuk menyusul.
"Mas! Jangan pergi, ini masih banyak tamu!" tahan Laura dengan nada panik, jemarinya mencengkeram lengan Ganda.
Ganda menepis tangan Laura dengan tegas. "Kita hentikan dulu salaman ini. Kasihan Diaz, dia mungkin kelelahan setelah perjalanan jauh tadi," jawab Ganda, matanya terus menatap punggung Diaz yang mulai menjauh.
Tanpa menunggu persetujuan Laura, Ganda langsung melangkah lebar mengejar Diaz.
Rasa tidak rela digeser oleh wanita asing membuat Laura ikut berlari kecil mengejar suaminya.
Langkah kaki mereka berdua berkejaran di koridor menuju bagian dalam rumah.
Tepat sebelum Ganda menyentuh gagang pintu ndalem, Laura berhasil menyusul dan menarik ujung baju Ganda, menghentikan langkah pria itu dengan paksa.
"Mas! Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?!" jerit Laura, suaranya bergetar hebat.
Ia memasang wajah paling terluka yang ia miliki. "Tega kamu, Mas. Tega kamu memperlakukan aku begini di hari pernikahan kita? Apakah, kamu sudah mencintai wanita itu?" ucap Laura sesenggukan, sambil berpura-pura memegang dadanya yang mendadak sesak demi menarik simpati.
Ganda mengembuskan napas berat. Ia berbalik, menatap Laura yang menangis di hadapannya.
Sebagai pria yang selama ini menjalin hubungan dengan Laura, Ganda tidak bisa berbohong tentang perasaannya.
"Laura, dengarkan aku," ucap Ganda, suaranya melunak namun terdengar lelah.
"Aku masih mencintaimu. Tapi sekarang, Diaz juga istriku. Aku berutang budi besar dengan dia karena dia sudah menyelamatkan muka keluarga kita di saat kamu tidak ada tadi. Dan, aku tidak mencintainya."
Deg.
Ganda sama sekali tidak tahu bahwa di balik pintu jati ndalem yang sedikit terbuka, Diaz berdiri mematung.
Langkah kaki Diaz terhenti tepat sebelum masuk ke ruang tengah.
Setiap kata yang meluncur dari bibir Ganda menembus dinding kayu dan merobek ulu hatinya tanpa ampun.
"Aku berutang budi dengan dia, dan aku tidak mencintainya."
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Diaz, bergaung bersama pesan makian dari mamanya beberapa jam lalu.
Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini luruh membasahi pipinya yang ber-make-up tebal.
"Utang budi? gumam Diaz perih, tersenyum sarkas di tengah tangisnya yang tanpa suara.
"Kenapa, semua orang di dunia ini hanya ingin memanfaatkanku? Mama menjodohkanku demi bisnis, dan pria ini menikahiku demi status sosial keluarganya.
Rasa asing, terhina, dan kesepian yang teramat sangat menyergap Diaz seketika.
Menggunakan sisa-sisa kekuatannya, Diaz berlari kecil menuju kamar utama.
Begitu tubuhnya berhasil masuk ke dalam ruangan serba putih itu, ia langsung menutup pintu rapat-rapat dan memutar anak kuncinya dari dalam.
Ceklek.
Ceklek
Diaz mengunci pintu itu dua kali, lalu menyandarkan punggungnya di sana.
Tubuhnya perlahan merosot ke lantai, menangisi takdir gilanya yang kini resmi terkurung di dalam sangkar emas bernama pernikahan kontrak tanpa cinta.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡