Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan bersama Tunangan
Cahaya keperakan perlahan memudar, menyisakan suasana sejuk dan tenang di halaman belakang kediaman Bellatrix. Begitu pijakan kaki mereka menyentuh tanah, genggaman tangan Thiago perlahan terlepas, namun rasa hangat yang tertinggal di kulit Bellatrix terasa begitu jelas, seolah membekas tanpa ia sadari.
Belum sempat ia mengatur napasnya, sosok Alexander sudah melesat mendekat dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi campuran rasa lega, marah, dan kekhawatiran yang mendalam. Ia langsung menarik tubuh adiknya ke dalam pelukan erat, seolah takut gadis itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya sebentar saja.
“Bellatrix! Di mana saja kau? Apakah kau sadar betapa kacau keadaan saat menyadari kamar kosongmu? Aku sudah mengerahkan hampir separuh pasukan pengawal istana untuk mencarimu!” Suara Alexander terdengar sedikit parau, menyembunyikan betapa takutnya ia tadi memikirkan segala kemungkinan terburuk.
Bellatrix membalas pelukan itu dengan canggung, lalu menepuk punggung kakaknya pelan untuk menenangkannya. “Maaf, Kak. Aku hanya ingin keluar sebentar. Rasanya terasa sesak jika terus dikurung di dalam tembok ini. Lihatlah, aku baik-baik saja, tidak ada goresan serius pun.”
Alexander melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah adiknya dengan cermat, sebelum pandangannya jatuh pada gaun yang robek dan kotor, serta debu yang menempel di rambut dan bahunya. Alisnya langsung mengerut tajam. “Tidak ada goresan serius? Lalu apa ini? Jangan bilang kau berkelahi di jalanan seperti orang biasa yang tidak punya nama dan kedudukan!”
Sebelum Bellatrix sempat membuka mulut untuk membela diri, suara tenang namun berat Thiago terdengar menyela dari samping. “Dia menolong seseorang yang lemah dari gangguan orang-orang jahat. Jika itu dianggap kesalahan, maka aku juga tidak akan menyalahkannya. Justru itu menunjukkan hatinya yang adil dan berani.”
Alexander menoleh, baru sepenuhnya menyadari kehadiran Putra Mahkota yang berdiri di sana dengan sikap tenang dan wibawa yang menenangkan. Ia segera menunduk memberi hormat, namun matanya tetap melirik khawatir ke arah adiknya. “Yang Mulia, terima kasih telah menemukannya dan membawanya kembali. Namun kelakuan adikku ini memang sangat sulit diatur.”
“Tidak perlu dikhawatirkan lagi,” jawab Thiago santai, matanya tetap tertuju pada Bellatrix seolah tidak ada orang lain di ruangan itu. “Mulai besok, aku akan meluangkan waktu khusus untuk mengajari dia mengendalikan kekuatannya. Selama dia memiliki tujuan yang jelas dan kesibukan yang bermanfaat, dia tidak akan punya waktu lagi untuk memanjat tembok istana atau kabur diam-diam.”
Mendengar pernyataan itu, mata Alexander membulat terkejut, begitu juga Bellatrix. “Mengajari kekuatan? Maksud Yang Mulia…?” tanya Alexander dengan nada tidak percaya.
“Sihir, pengendalian energi, dan cara memanfaatkan potensi yang ada di dalam dirinya,” jelas Thiago dengan nada mantap. “Dia memiliki bakat yang luar biasa, tapi pengetahuannya masih dangkal dan cara menggunakannya sembarangan. Jika dibiarkan terus seperti ini, bukan hanya dia tidak akan berkembang, tapi suatu hari nanti kekuatannya sendiri bisa melukai tubuhnya sendiri.”
Bellatrix menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Thiago berkata benar. Selama ini ia hanya mengandalkan naluri dan sedikit pengetahuan yang didapatkan dari ingatan asli Bellatrix, yang memang sangat terbatas. Setiap kali ia memaksakan tenaganya terlalu kuat, ia selalu merasakan nyeri di seluruh tulang dan urat nadinya. Jika Thiago benar-benar bisa mengajarkannya dengan cara yang aman, maka itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan.
“Baiklah, jika itu keputusan kalian,” kata Alexander akhirnya, menatap adiknya untuk memastikan. “Selama itu bisa membuatmu lebih aman dan terjaga, aku tidak akan menentangnya. Tapi ingat, Bellatrix, jangan sampai kau memaksakan dirimu melebihi batas kemampuanmu sendiri.”
“Aku tahu, Kak,” jawab Bellatrix singkat.
Setelah memastikan semuanya aman, Thiago berpamitan untuk kembali ke kediamannya sendiri. Sebelum pergi, ia melirik Bellatrix sekali lagi, tatapannya penuh makna yang sulit diartikan. “Istirahatlah malam ini. Besok pagi, tepat saat matahari terbit, aku akan menunggumu di taman pelatihan yang terletak di bagian utara istana. Jangan terlambat.”
Bellatrix hanya mengangguk tanpa menjawab, menyaksikan sosok itu berbalik dan berjalan menjauh sampai menghilang di balik tikungan lorong. Baru setelah bayangannya benar-benar hilang, ia menghela napas panjang yang terasa seperti melepaskan beban berat sekaligus menambah tekanan baru.
Malam itu, di dalam kamarnya yang luas dan diterangi cahaya lampu kristal yang lembut, Bellatrix duduk bersila di atas tempat tidurnya. Ia menatap telapak tangannya sendiri, mencoba merasakan aliran energi yang mengalir pelan di dalam tubuhnya. Sejak ia masuk ke tubuh ini, ia bisa merasakan kekuatan yang meluap-luap, seolah air yang terperangkap di dalam wadah yang terlalu sempit dan hampir meluap kapan saja.
“Mengajari seluruh elemen… bahkan cahaya,” gumamnya pelan, mengulang kata-kata Thiago dalam hati. “Apakah ini benar-benar kesempatan atau hanya jebakan halus agar aku semakin terikat padanya?”
Ia mengingat kembali percakapan mereka tadi, terutama kenyataan pahit bahwa ia yang dulunya memulai segalanya, dan sekarang justru ia yang ingin mengakhiri, sedangkan Thiago menolak melepaskan genggamannya. Ironisnya, posisi mereka terbalik sepenuhnya. Ia tersenyum pahit, menggelengkan kepalanya perlahan.
“Tidak peduli apa alasannya, selama ini bisa membuatku lebih kuat, aku akan melakukannya. Jika nanti aku sudah memiliki kekuatan yang cukup, maka aku yang akan menentukan nasibku sendiri, bukan dia, bukan Kaisar, dan bukan aturan kaku ini.”
Dengan tekad yang kembali membara, Bellatrix menutup matanya, mencoba memusatkan kesadarannya untuk beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi hari esok. Namun di dalam hatinya, ia tidak menyadari bahwa setiap kali ia menerima kehadiran Thiago, setiap kali ia menghabiskan waktu bersamanya, ikatan magis yang sudah terbentuk itu akan semakin erat dan semakin sulit untuk diputuskan.
Keesokan harinya, sebelum sinar matahari sepenuhnya menembus langit timur, Bellatrix sudah bangun dan bersiap. Ia mengenakan pakaian yang lebih longgar dan ringan, cocok untuk bergerak leluasa, bukan gaun panjang yang kaku dan berat. Dengan langkah yang tenang namun pasti, ia berjalan menuju taman pelatihan yang disebutkan Thiago.
Begitu sampai di tempat itu, ia mendapati sosok lelaki itu sudah lebih dulu tiba. Thiago berdiri di tengah lapangan yang luas dan rata, dikelilingi oleh pepohonan tinggi yang rindang dan aliran sungai kecil yang airnya jernih mengalir tenang. Ia berdiri membelakangi pintu masuk, namun seolah bisa merasakan kehadiran Bellatrix, ia langsung menoleh tepat saat gadis itu melangkah masuk.
“Tepat waktu,” ucap Thiago dengan senyum tipis yang samar terukir di bibirnya. “Bagus, itu tanda pertama bahwa kau benar-benar serius.”
Bellatrix berhenti beberapa langkah di depannya, menatap lurus ke matanya tanpa rasa takut atau ragu. “Aku datang untuk belajar, bukan untuk bermain-main. Mulailah saja, jangan buang waktu dengan basa-basi.”
“Keluarga Volkov dikenal sebagai pengendali air terbaik di seluruh wilayah kekaisaran,” jelas Thiago sambil berdiri di tepi sungai kecil yang membelah taman itu. “Kekuatan ini bukanlah sesuatu yang asing bagimu, ia ada di dalam setiap tetes darah yang mengalir di tubuhmu. Masalahnya selama ini kau hanya menggunakannya berdasarkan naluri, bukan dengan pemahaman yang benar. Itulah sebabnya ia terasa berat, tidak teratur, dan kadang malah melukaimu sendiri.”
Bellatrix mendengarkan dengan saksama, matanya fokus pada permukaan air yang tenang di hadapannya. “Jadi bagaimana caranya agar aku bisa mengendalikannya sepenuhnya?”
“Bayangkan air itu sebagai bagian dari dirimu sendiri,” jawab Thiago lembut namun tegas. “Ia tidak melawan, ia hanya mengikuti arah. Jika kau ingin ia bergerak, jangan memaksanya dengan kekerasan itu hanya akan membuatnya bergejolak. Panggil ia dengan kesadaranmu, alirkan energi hatimu ke dalamnya, dan biarkan ia menjadi perpanjangan dari keinginanmu.”
Ia memberi contoh sederhana. Ia mengangkat telapak tangannya, dan seketika permukaan air naik perlahan membentuk tiang yang kokoh, lalu berubah menjadi bentuk bunga, kemudian kembali mengalir turun dengan tenang tanpa percikan yang berlebihan. “Lihat? Tidak ada tenaga yang terbuang sia-sia. Kendali adalah kuncinya.”
Bellatrix mencoba mengikuti langkah itu. Awalnya, air yang ia panggil hanya melonjak naik secara tiba-tiba lalu terhempas kembali ke sungai dengan suara keras, memercikkan air ke mana-mana. Ia mengerutkan kening, merasa kesal karena belum bisa menguasainya.
“Tenanglah,” tegur Thiago, lalu melangkah mendekat tanpa suara, sampai ia berdiri tepat di belakang gadis itu. “Kau terlalu tegang di bahu dan pergelangan tanganmu. Air mengikuti kelenturan, bukan kekakuan.”
Sebelum Bellatrix sempat menoleh, kedua tangan Thiago perlahan menjulur dari belakang, menempel lembut di atas pergelangan tangannya dan siku lengannya untuk membimbing gerakan. Sentuhan itu terasa hangat, menembus kain tipis pakaian latihannya, dan membuat aliran energi yang tadinya kacau langsung terasa lebih terarah.
“Lepaskan ketegangannya,” bisiknya tepat di samping telinga Bellatrix, nadanya rendah dan menenangkan. “Ikuti arah gerakanku. Rasakan bagaimana energi mengalir tanpa hambatan.”
Bellatrix membeku sesaat, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang karena kedekatan yang tiba-tiba ini. Namun ia menuruti bimbingan itu, dan perlahan aliran air yang tadinya berantakan meluruskan diri, membentuk tiang yang kokoh dan berputar stabil.
“Bagus sekali,” ucap Thiago, tangannya masih menempel sedikit lebih lama dari yang diperlukan sebelum ditarik mundur perlahan. “Kau sudah mulai merasakannya.”
Saat Bellatrix mencoba memadatkan air menjadi es namun tenaganya terputus-putus, Thiago akan mendekat dan meletakkan satu tangannya ringan di bahunya, menyampaikan energi penyeimbang yang membuat aliran kekuatannya kembali lancar. Kadang saat ia membungkuk terlalu jauh untuk mengamati pergerakan air, Thiago akan menyentuh punggungnya perlahan untuk memperbaiki posisi tubuhnya, mengingatkan agar tulang belakangnya tetap lurus agar energi bisa mengalir sempurna.
Suatu pagi, saat ia berhasil mempertahankan dinding air setinggi dua meter selama hampir sepuluh menit, keringat membasahi dahi dan pelipisnya. Saat ia akhirnya menurunkan tangannya dan terengah-engah, Thiago sudah berdiri di sisinya dengan sehelai kain lembut di tangan. Tanpa bertanya, ia mengangkat tangannya dan dengan gerakan pelan menyeka keringat yang menetes di wajah Bellatrix, lalu menyisir rambut yang menempel di dahinya ke belakang dengan ujung jarinya.
“Terlalu memaksakan diri di awal latihan bisa membuatmu pusing nanti,” ucapnya santai, seolah itu hal yang biasa ia lakukan, meskipun matanya menatap wajah Bellatrix lebih lama dari biasanya.
Bellatrix hanya terdiam, merasakan sensasi hangat yang tertinggal di kulitnya, namun ia tidak menolak atau menjauh. Ia mulai terbiasa dengan perhatian kecil itu, meskipun di dalam hatinya ia terus mengingatkan diri sendiri untuk tetap waspada.
Dalam waktu singkat, kemampuannya berkembang pesat melebihi harapan siapa pun bahkan melebihi kecepatan perkembangan yang dimiliki Bellatrix asli dalam catatan sejarah keluarga. Ia sudah bisa membentuk air menjadi perisai, cambuk, bahkan memadatkannya hingga sekeras batu untuk menyerang atau menahan serangan.
“Kau memiliki bakat yang luar biasa,” ujar Thiago suatu pagi, saat melihat Bellatrix dengan mudah mengendalikan aliran air yang cukup besar untuk membentuk sebuah dinding pelindung yang kokoh. “Jika terus dilatih dengan benar, suatu hari nanti kekuatanmu bisa melampaui milik kakakmu, bahkan mungkin melampaui apa yang pernah dimiliki leluhurmu.”
Saat berbicara, ia melangkah mendekat lagi, lalu tanpa ragu menempatkan telapak tangannya di atas bahu Bellatrix, menekannya sedikit dengan lembut sebagai tanda dukungan. Sentuhan itu terasa menenangkan, membuat rasa lelah yang baru saja muncul seolah berkurang setengahnya.
Bellatrix hanya mengangguk singkat, meskipun di dalam hatinya ia merasa puas.