NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Baik-baik Saja

Aku berbalik menuju kamar tanpa menunggu perintah kedua. Tas tergeletak di samping ranjang, masih terbuka karena sebelumnya aku terlalu lelah untuk mengikatnya dengan benar. Aku memasukkan kain yang tercecer, menarik tali penutup sampai rapat, kemudian menyampirkannya pada bahu.

Pedangku bersandar pada dinding di dekat kepala ranjang. Jemariku menutup gagangnya dan menarik bilah keluar dari sarung. Gesekan baja terdengar terlalu nyaring di dalam kamar yang gelap, tetapi suara sepatu bot dari lantai bawah telah membuat usaha untuk tetap diam tidak lagi berarti banyak.

Marlow sudah berjalan menuju tangga ketika aku keluar. Darah masih menetes dari ujung pedangnya, meninggalkan bintik-bintik gelap pada papan lorong. Ia tidak menoleh untuk memastikan aku mengikutinya, seolah suara langkah kakiku sudah cukup memberi jawaban.

Kami menuruni tangga dengan hati-hati. Anak tangganya sempit dan berderit setiap kali diinjak. Saat tiba sebelumnya, ruang utama penginapan diterangi sebuah perapian besar serta banyak lampu minyak. Kini perapian telah padam, menyisakan bara merah di balik lapisan abu. Hanya beberapa lampu yang masih menyala pada dinding kayu, dan nyalanya bergoyang setiap kali angin masuk melalui pintu yang terbuka.

Cahayanya tidak cukup untuk mengusir seluruh kegelapan. Sudut-sudut ruangan tetap tertutup bayangan, sementara meja dan bangku tampak seperti bentuk-bentuk hitam yang ditinggalkan tergesa-gesa. Sebuah mangkuk pecah tergeletak dekat tangga. Sup yang sebelumnya berada di dalamnya telah meresap ke sela papan dan bercampur dengan darah.

Enam tentara Izengard terbaring di lantai.

Sebagian mengenakan zirah kulit dengan pelat logam pada dada, sedangkan yang lain memakai mantel biru kerajaan di atas pakaian perjalanan. Tubuh mereka tersebar dari pintu depan sampai kaki tangga, seolah satu demi satu berusaha menerobos masuk sebelum dihentikan oleh Marlow.

Salah seorang terbaring telentang dengan luka tusuk di bawah tulang rusuk. Matanya masih terbuka, memandang langit-langit tanpa melihat apa pun. Darah mengalir dari sudut mulutnya dan membentuk garis tipis sampai telinga. Pria lain roboh menimpa sebuah bangku, lehernya tertekuk pada sudut yang tidak wajar, sementara pedangnya masih berada beberapa jengkal dari tangan.

Dua orang yang mati di dekat pintu bahkan tidak tampak lebih tua dariku. Rambut mereka dipotong pendek seperti kebanyakan tentara kerajaan, wajahnya belum kehilangan seluruh bentuk masa muda. Salah satunya memiliki pipi berbintik dan rahang yang belum sepenuhnya ditumbuhi janggut. Bila tidak mengenakan zirah, ia mungkin terlihat seperti anak pedagang yang baru pertama kali meninggalkan rumah.

Aku mengenal lambang yang terjahit pada dada mereka. Elang emas itu sama dengan yang pernah menghiasi pakaian para penjaga istana. Pada masa lalu, melihat seragam itu seharusnya membuatku merasa aman. Kini keenam pemakainya terbaring dalam darah mereka sendiri, dibunuh oleh orang yang selama bertahun-tahun bekerja untuk mahkota yang sama.

Bau besi memenuhi ruangan, bercampur dengan minyak lampu, kayu hangus, dan sup dingin. Beberapa minggu lalu, pemandangan seperti itu akan membuat isi perutku naik sampai tenggorokan. Di Mitenn Highroad, aku bahkan tidak mampu menahan makanan setelah melihat tubuh pertama yang kubunuh.

Kini rasa mual itu hampir tidak datang.

Aku memperhatikan dada para tentara tersebut tanpa berharap melihatnya bergerak. Kakiku melangkahi darah tanpa gemetar. Bahkan suara lalat yang mulai berdengung di dekat luka terbuka tidak memaksaku memalingkan muka.

Kesadaran itu menakutkanku lebih daripada mayat-mayat tersebut.

Mungkin aku mulai terbiasa melihat orang mati. Mungkin tubuh manusia yang kehilangan nyawa perlahan berubah menjadi bagian biasa dari perjalanan, seperti lumpur pada sepatu dan rasa sakit pada otot. Aku tidak tahu berapa banyak kematian yang diperlukan sebelum seseorang berhenti merasa apa pun, dan aku tidak ingin mengetahui apakah aku sedang bergerak menuju keadaan itu.

Aku memaksa pandangan menjauh dari wajah tentara termuda.

“Di mana Ishar?”

Marlow berhenti dekat pintu depan. Ia mengintip melalui celah di antara daun pintu yang rusak, kemudian menarik tubuhnya kembali ketika cahaya obor bergerak di ujung jalan.

“Di gudang belakang dapur.”

Suara teriakan datang dari luar. Seseorang memberi perintah agar jalan di depan penginapan ditutup, disusul jawaban beberapa pria sekaligus. Sepatu bot menghantam batu dengan irama yang semakin jelas. Mereka tidak berusaha menyembunyikan kedatangan.

Marlow melihat tangga, jendela, dan pintu menuju dapur secara berurutan. Pikirannya pasti sedang menghitung jalur yang masih terbuka, tetapi wajahnya hanya memperlihatkan ketegangan yang sama seperti ketika kapal perang mendekati The Greymere.

“Pergilah,” katanya. “Bawa dia keluar melalui belakang. Aku akan menahan mereka.”

Aku mengira salah mendengar. Marlow berdiri dengan satu bahu terluka dan darah membasahi sisi tubuhnya, tetapi masih berbicara seolah satu legiun dapat diperlambat cukup lama hanya dengan sebilah pedang.

“Kau sudah gila?”

Ia tidak menanggapi. Tatapannya tetap tertuju pada pintu depan, mengikuti bayangan yang bergerak di luar jendela.

“Kau bahkan terluka,” lanjutku. “Biarkan aku membantumu.”

“Kal.”

Cara ia menyebut namaku sudah terdengar seperti perintah. Biasanya satu kata itu cukup untuk membuatku menahan diri, sekalipun hanya karena aku tahu perdebatan tidak akan mengubah keputusannya.

Malam itu aku tidak bergerak.

“Tidak.”

Marlow menoleh kepadaku. Cahaya lampu minyak menyentuh salah satu sisi wajahnya, memperjelas keringat, darah kering, dan garis-garis kelelahan di sekitar mata.

“Aku bukan anak kecil yang bisa terus kau suruh bersembunyi setiap kali pedang ditarik,” kataku. “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini.”

Ia memandangku cukup lama hingga suara para tentara di luar terasa semakin dekat. Aku menunggu bantahan, cemoohan, atau peringatan mengenai betapa mudahnya aku kehilangan kendali. Namun tidak satu pun keluar.

Sudut bibirnya justru terangkat sedikit.

Gerakan itu nyaris tidak dapat disebut senyum. Mungkin hanya tarikan otot karena rasa sakit, tetapi aku mengenal wajah Marlow cukup baik untuk mengetahui perbedaannya.

“Baiklah.”

Jawabannya membuatku lebih terkejut daripada penolakan.

Ia menggeser kaki kirinya ke belakang dan mengangkat pedang ke posisi siap. Darah pada bilah sudah mulai mengering, membuat pantulan cahaya tampak kusam.

“Jangan biarkan dirimu terbunuh.”

Aku menyesuaikan genggaman pada pedang. Telapak tanganku mulai berkeringat, tetapi kutahan keinginan untuk mengusapnya pada celana.

Pintu penginapan ditendang dari luar.

Kayu menghantam dinding dengan suara keras. Engsel bagian atas terlepas, membuat daun pintu miring dan bergoyang. Empat tentara Izengard menerobos masuk dengan pedang terhunus, tubuh mereka memenuhi ambang sebelum menyebar ke dalam ruangan.

Mereka masih muda. Yang tertua mungkin berusia dua puluh dua, sedangkan dua lainnya terlihat tidak jauh berbeda dariku. Rambut mereka dipotong pendek dan rapi meskipun perjalanan membuat beberapa helai melekat pada dahi. Tubuh mereka kekar karena latihan, bahu lebar di balik zirah dan lengan berotot menahan pedang dengan sikap yang diajarkan sejak kecil.

Aku pernah mendengar bahwa pada masa pemerintahan Dad, setiap keluarga di Asterra diwajibkan menyerahkan putra sulung untuk dilatih menjadi tentara kerajaan. Cerita itu beredar di antara pelayan, prajurit muda, dan para bangsawan yang gemar membicarakan keputusan kerajaan tanpa pernah menunjukkan bukti.

Aku tidak tahu apakah kebijakan tersebut benar-benar ada. Dad tidak pernah membicarakannya denganku, dan aku tidak pernah merasa perlu mencari tahu. Dahulu pasukan kerajaan hanyalah bagian dari dunia yang akan kuwarisi suatu hari nanti. Aku tidak pernah memikirkan dari rumah mana mereka diambil atau keluarga apa yang menunggu mereka kembali.

Melihat keempat pria itu berdiri di hadapan mayat rekan-rekannya, aku tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.

Tentara pertama melihat tubuh di dekat pintu. Wajahnya berubah, lalu matanya menemukan Marlow dan aku. Ia berteriak memberi peringatan, tetapi Marlow sudah bergerak sebelum kata terakhir keluar.

Baja beradu.

Marlow menangkis serangan pertama dan melangkah masuk ke jarak yang terlalu dekat bagi pedang panjang. Tangannya menangkap lengan lawan, memutarnya, lalu bilahnya bergerak cepat melintasi leher tentara tersebut. Darah menyembur ke dinding. Pria itu menjatuhkan pedang dan memegangi tenggorokan sebelum lututnya menyentuh lantai.

Tiga orang lainnya menerjang.

Salah satunya datang kepadaku. Ia menyerang dari sisi kanan dengan tebasan berat yang ditujukan untuk memaksa pedangku turun. Aku mengangkat bilah dan menahannya.

Benturan logam menjalar sampai siku. Lenganku ngilu seketika. Tentara itu lebih kuat daripada yang terlihat, dan ia menggunakan berat tubuh untuk terus menekan pedangnya pada bilahku.

Aku mundur satu langkah. Tumit menyentuh darah di lantai dan hampir tergelincir, tetapi aku berhasil memindahkan berat badan sebelum jatuh. Ia menarik pedang, kemudian menusuk lurus ke arah dada.

Aku memutar tubuh. Ujung bajanya melewati sisi rusuk dan menggores kemeja baru tanpa menembus kulit. Aku membalas dengan tebasan ke lengannya, tetapi ia mengangkat pelindung tangan dan menangkis dengan mudah.

Di belakangnya, Marlow menghadapi dua tentara sekaligus. Gerakannya tidak secepat ketika pertama kali kulihat ia bertarung. Luka di pinggang membatasi putaran tubuh dan bahu kirinya terlihat kaku, tetapi ia tetap jauh lebih terlatih daripada lawan-lawannya. Setiap gerak memiliki tujuan. Ia tidak membuang tenaga untuk serangan yang tidak dapat mengenai sasaran.

Pedangnya menembus perut salah seorang tentara. Marlow menarik bilah sebelum tubuh itu jatuh, lalu menghindari tebasan dari orang ketiga dengan menundukkan kepala.

Aku hanya sempat melihatnya sesaat. Tentara di hadapanku kembali menyerang dan memaksa perhatian kembali kepadanya.

Pedang kami bertemu dua kali. Benturan kedua membuat jemariku hampir terbuka. Ia melihat kelemahan pada genggamanku dan maju, mendorongku semakin dekat ke dinding.

“Pangeran,” katanya di antara napas berat. “Letakkan senjatamu.”

Aku membeku sesaat mendengar gelar itu keluar dari mulutnya.

Ia mengenaliku.

“Kau harus ikut dengan kami,” lanjutnya. “Kau akan diadili atas kejahatanmu.”

“Apa?”

Kata itu keluar sebelum sempat kutahan.

Kejahatanku. Seolah aku adalah penjahat yang pantas dibantai di dalam istanaku sendiri. Seolah Dann menjadi raja karena menegakkan hukum, bukan karena merebut takhta melalui darah.

Kebingungan itu hanya berlangsung sekejap, tetapi dalam pertarungan, sekejap lebih dari cukup.

Tentara tersebut menabrakkan bahunya ke dadaku. Aku terdorong mundur dan punggung menghantam dinding kayu. Kepala hampir membentur lampu minyak yang tergantung di atas bahu.

Pedangnya berhenti dekat leherku.

Ia tidak menusukkannya.

Matanya bergerak pada wajahku, memastikan aku memang orang yang dicari. Ia ingin membawaku hidup-hidup ke hadapan Dann. Mungkin itu perintah mereka. Seorang pangeran buronan lebih berguna bila dapat dipamerkan di pengadilan daripada ditemukan mati dalam penginapan.

Tanganku meraba dinding tanpa tujuan. Jari menyentuh logam hangat pada dasar lampu minyak.

Aku tidak berpikir.

Aku meraih gagangnya, mengangkat lampu dari kait, lalu melemparkannya ke tubuh tentara tersebut.

Kaca pecah pada dadanya. Minyak menyembur ke mantel biru, dan api dari sumbu menyambar kain sebelum pecahannya menyentuh lantai.

Tentara itu menjerit.

Ia menjatuhkan pedang dan memukul-mukul dada, tetapi minyak telah meresap ke pakaian. Api menjalar dari mantel menuju bahu dan lengan. Bau kain terbakar segera memenuhi ruangan, disusul aroma rambut dan daging yang membuat tenggorokanku mengeras.

Pria itu berputar tanpa arah. Tangannya merobek gesper mantel, tetapi jemarinya gemetar terlalu keras untuk membuka pengait. Ia jatuh ke lantai, berguling dalam darah dan sup yang tumpah, meraung sampai suaranya pecah.

Aku berdiri menempel pada dinding, memegang pedang tetapi tidak bergerak. Api memantul pada matanya. Untuk sesaat, aku melihat bukan tentara Dann, melainkan seorang pemuda yang tubuhnya sedang dimakan nyala.

Di sisi lain ruangan, Marlow menebas bagian belakang lutut tentara terakhir. Ketika pria itu jatuh, pedangnya bergerak ke depan dan menembus tenggorokan. Ia menarik bilah, membiarkan tubuh tersebut roboh, kemudian menoleh kepadaku.

Wajahnya berubah ketika melihat api.

“Apa yang kau lakukan?”

Bentakannya menembus jeritan tentara yang terbakar.

Marlow berjalan cepat menghampiri, meskipun satu tangannya sempat menekan luka di pinggang. Ia mengangkat pedang dengan kedua tangan, lalu menusukkan bilah tepat ke dada pria tersebut.

Jeritan berhenti.

Tubuh itu masih bergerak beberapa kali akibat api dan sisa kejang pada otot, tetapi tidak ada lagi suara selain desis minyak yang terbakar. Marlow menarik pedangnya, kemudian mengambil mantel dari salah satu mayat dan menekannya ke atas tubuh untuk memadamkan nyala.

Asap hitam naik menuju langit-langit. Bau hangus memenuhi paru-paruku dan membuat mata berair.

Marlow berdiri di hadapanku setelah api mengecil. Dadanya bergerak cepat. Darah baru merembes dari lukanya karena gerakan tadi, tetapi kemarahan pada wajahnya tidak berasal dari rasa sakit.

“Jangan menyiksa orang yang ingin kau bunuh.”

Aku melihat tubuh di lantai. Kulit pada wajahnya menghitam di satu sisi, tetapi aku masih mengenali betapa mudanya ia.

“Aku tidak bermaksud…”

“Tidak penting apa yang kau maksud.” Marlow menurunkan suara, tetapi ketegangan di dalamnya justru semakin terasa. “Kalau kau memutuskan mengambil nyawa seseorang, lakukan dengan cepat. Jangan biarkan kepanikanmu menjadikan kematiannya lebih buruk daripada yang diperlukan.”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa penuh asap.

“Maaf.”

Sebuah benda pecah dari arah dapur.

Suara itu disusul teriakan perempuan yang segera terputus.

Tubuhku menegang.

“Ishar.”

Aku berlari sebelum Marlow sempat mengatakan apa pun. Sepatuku menginjak pecahan kaca dan darah ketika melewati pintu dapur. Meja kerja terbalik pada sisinya, panci-panci berserakan di lantai, dan sebuah pintu kecil di bagian belakang terbuka menuju gudang penyimpanan.

Aku menerobos masuk.

Seorang tentara terbaring telungkup dekat pintu. Darah mengalir dari bawah dada dan menyebar mengikuti celah papan. Pedangnya terlepas dari tangan, sedangkan jari-jarinya masih bergerak sedikit sebelum akhirnya diam.

Ishar berdiri beberapa langkah darinya.

Kedua tangannya menggenggam pisau dapur. Bilahnya basah oleh darah sampai ke gagang, dan noda merah menutupi jemarinya. Gaun biru yang dikenakannya memiliki percikan pada bagian dada dan lengan, tetapi aku tidak melihat luka pada tubuhnya.

Ia gemetar.

Bukan hanya tangan. Bahu, rahang, dan lututnya ikut bergetar, seolah seluruh tubuhnya berusaha menolak apa yang baru saja dilakukan. Wajahnya pucat sampai hampir tidak memiliki warna. Matanya terpaku pada tubuh tentara di lantai tanpa berkedip.

Ini bukan pertama kalinya Ishar membunuh seorang pria. Di rumahnya di Arlenville, ia menusukkan pisau berkali-kali ke tubuh tentara yang mencoba memperkosanya. Saat itu amarah dan ketakutan membuat gerakannya liar, seolah ia baru akan berhenti setelah seluruh kekuatan meninggalkan tubuhnya.

Kali ini tidak ada amarah yang dapat kulihat.

Hanya keterkejutan.

Di belakang Ishar, pemilik penginapan meringkuk bersama dua pelayan perempuan. Wanita tua itu memeluk salah seorang pelayan, sementara yang lain menutupi kepala dengan kedua tangan. Ketiganya menekan tubuh ke dinding di antara karung tepung dan tong minuman, terlalu takut untuk bergerak.

Aku mendekati Ishar perlahan. Pisau masih terangkat di depan tubuhnya, dan genggamannya begitu kuat sampai ruas-ruas jarinya memutih di bawah darah.

“Kau tidak apa-apa?”

Matanya bergerak kepadaku, tetapi seolah membutuhkan waktu untuk benar-benar mengenali wajahku.

“Aku…”

Suaranya tersangkut. Ia menarik napas pendek, lalu melihat kembali pisau di tangannya.

“Aku baik-baik saja.”

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!