Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Tiga hari telah berlalu, setelah menjalani berbagai pemeriksaan termasuk biopsi dan tes darah. Hari ini Valeska datang lagi ke rumah sakit bersama Kaivandra, untuk mengambil hasil tes.
Saat Valeska dan Kaivandra sudah duduk di dalam ruangan, dokter Fahru menatapnya dengan penuh pengertian membuat keduanya sadar bahwa mereka harus siap setelah mendengar kabar tersebut.
"Dek Valeska, saya tahu ini bukan berita yang mudah untuk diterima. Setelah melakukan semua pemeriksaan," dokter Fahru terdiam sambil menarik napasnya. "Dari hasilnya menunjukkan bahwa adanya kanker otak dengan grading empat."
Dengan suara tenang, dokter Fahru akhirnya memberi tahu bahwa hasil biopsi dan seluruh pemeriksaan menunjukkan Valeska memiliki kanker otak grading 4. Penjelasan dokter mengalir pelan namun terasa begitu berat. Grading 4, jenis yang agresif dan cepat menyebar.
Valeska terdiam, lalu menunduk sembari menghela napas panjang. Sedangkan Kaivandra, dia menatap adiknya dengan tatapan terkejut.
"Jadi ... ini artinya, aku?"
"Saya paham, ini sangat berat. Kanker dengan grading empat artinya sudah berada pada stadium lanjut. Tapi, kehadiran saya di sini, tugasnya membantu. Kita bisa mengambil beberapa langkah yang diambil untuk mengendalikan dan memperlambat perkembangan penyakit tersebut," dokter Fahru berusaha menenangkan Valeska.
Perjalanan ini memang sulit, tapi bukan berarti tidak ada harapan sama sekali. Valeska mencoba mencerna semuanya, mengambil napas panjang, dan menatap abangnya yang selalu mendampingi. Meski di dalam hatinya penuh ketakutan, tapi dia tahu bahwa ia harus kuat untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang ia cintai.
Valeska meneguk saliva nya, lalu berkata. "Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan sekarang, dok? Agar aku bisa berumur panjang dan selalu menemani abang seperti apa yang abang lakukan saat ini padaku,"
"Kita akan mulai dengan sesi kemoterapi dan radiasi. Nanti akan ada tim yang setia membantu mendampingi dalam setiap proses pengobatan,"
Kaivandra merangkul adiknya, mencium pucuk kepalanya, dan perlahan keduanya pun mulai menangis dalam diam. Kali ini, gue bener-bener takut banget pleas. Ini gimana ya ke depannya, gue bingung. Penyakit ini? Argh,entahlah.
***
Setelah dari rumah sakit, Valeska pulang ke apartemen, sedangkan abangnya berangkat ke kampus karena ada jadwal kelas siang. Valeska merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang televisi, hela napas terdengar jelas dari gadis yang baru saja divonis penyakit yang menurutnya sangat mematikan.
3 SKS, yang melelahkan. Mendengar penjelasan dari dosen, membuat Kaivandra mengantuk. Di satu jam awal, dia mencatat materi yang berada di power point, tapi selebihnya, dia membuka room chat bersama sang adik. Beberapa pesan yang masuk, membuat Kaivandra tersenyum simpul, dia tidak pernah menganggap kalau adiknya itu hanya belenggu yang hadir dalam hidupnya. Justru, kedatangan Valeska, membuat Kaivandra lebih semangat.
Dek Valeska
|Banyak dek, akhir bulan ini gimana?
|Nggak mau, soalnya adek mau ada rencana juga sama temen-temen.
|lah, dadakan banget. Kenapa nggak bilang?
|Ini bilang.
|Astaga, ya maksudnya kenapa baru bilang?
|Baru inget
|Sekarang abang bilangin ke mereka.
|Ngerepotin nggak?
|Nggak ...
|Bohong dosa,
|Nggak bawel, cantiknya abang.
Setelah membaca pesan dari Valeska membuat Kaivandra tidak berpikir panjang untuk mewujudkan kemauannya. Dia tidak peduli terhadap tugas laporan yang sudah terbengkalai satu minggu itu, tapi sebelum pulang dari kampus, setidaknya dia sempat mengerjakan beberapa tugas yang meski hanya sedikit.
"Lah, emangnya Papa dan Mama lo, pisah rumah?" tanya Satya, kebetulan duduk di samping Kaivandra.
"Ya iya, ege! Kan mereka udah nggak ada hubungan, dasar pikun!"
"Hehe, jadi gimana?"
"Valeska ngajak kalian barbeque," jawabnya dingin.
"Sama cariin bahannya," lanjut Kaivandra.
Satya menatap Kaivandra sangat serius, "Nyuruh lagi?"
"Minta tolong, gue mau ngerjain tugas dulu,"
"Ya udah, gue sekalian mau ngasih oleh-oleh dari luar negeri juga buat, Valeska." Jawabnya, dan mulai fokus kembali pada materi yang sedang dipaparkan.
"Sip, terima kasih."
Baru juga seorang dosen keluar dari dalam kelas, pikiran Kaivandra sudah dirasuki oleh perkataan dokter Fahru tadi pagi. Membuat dirinya tidak nyaman, hingga tidak terkendali. Kanker otak grading 4, lebih agresif dan cepat menyebar.
Bruk!
iPad miliknya melayang begitu saja menghantam tembok. Suara benturan, berhasil memecah keheningan dalam kelas. Sehingga atensi mereka beralih ke arah Kaivandra yang sedang terdiam beribu bahasa.
"Lo, nggak apa-apa?" tanya Arjuna, melihat bagaimana tatapan Kaivandra sangat kosong.
"Seandainya sebuah penyakit bisa dipindahkan, gue siap menerimanya," ucap Kaivandra kepada Arjuna yang berada di depannya.
"Apaan sih? Lo udah gila? iPad semahal itu, lo banting gitu aja?!" pekik Satya.
"Kalau ada masalah, ngomong." Sambungnya.
Arjuna, Satya, dan Vikara, duduk mengelilingi Kaivandra. Mereka masih tidak habis pikir dengan cara berpikir sahabatnya.
"Kalau kayak gini terus, semua barang berharga lo, akan habis. Semua lo, banting. Semua lo, rusak. Masih ada cara lain buat melampiaskan ini semua, paham?" Arjuna menegur Kaivandra untuk kesekian kalinya.
"Bukankah itu lebih baik? Daripada gue harus pulang dalam kondisi pikiran kacau?"
"Kai, gue paham lo seorang kakak yang harus bersikap baik-baik saja di depan adik lo, tapi nggak gini caranya," sahut Vikara.
Kaivandra terkekeh lalu mengambil iPad nya yang baru saja diambil kembali oleh Satya. Mencoba menghidupkan kembali, dan ternyata masih berfungsi, memang iPad mahal itu benar-benar tahan banting.
"Tapi, gue harus terlihat baik-baik saja biar adik gue nggak khawatir. Apalagi sekarang, kondisi dia udah nggak kayak dulu." Finish nya, yang kemudian berjalan keluar tanpa memperdulikan mereka.
Namun, secaradiam-diam, ketiga sahabatnya mengikuti Kaivandra dari belakang, lantaran takut dia bertindak bodoh.
***
Di luar jendela, senja merangkak pelan, membawa serta gemericik hujan yang melantunkan simfoni rintik. Di dapur, kehangatan membalut ruangan, diterangi lembut oleh lampu yang menggantung di langit-langit, membentuk cahaya keemasan yang memeluk setiap sudut. Aroma daging yang telah dipulas bumbu barbeque mulai menyeruak dari atas pemanggang, perlahan menjelajahi tiap jengkal rumah. Keharumannya merayap lembut, mengisi udara dengan janji kenikmatan yang akan segera terhidang, menciptakan kedamaian yang tak terlukiskan.
"Baru juga ketemu orang yang sesuai kriteria gue, pintar iya, cantik iya, mandiri juga iya, eh malah sad ending," celetuk Satya, yang baru saja mengolesi daging pakai saos barbeque.
"Lho, kok gitu?" tanya Valeska, seraya membolak balikan sosis di atas pemanggang.
Sembari membawa beberapa minuman dari dalam kulkas, dia menjawab, "Beda agama, dek."
Valeska menggelengkan kepala, "Oalah, bentengnya terlalu tinggi."
"Libur setelah UTS, niatnya mau ke mana, dek? Kalau mau liburan, jangan terlalu jauh," tanya Kaivandra.
Valeska menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia menjawab sembari memainkan sumpit yang berada di tangannya, "Maunya ke pedesaan gitu, nginep. Kalau bisa tanpa ada sinyal, biar nggak fokus pada handphone masing-masing. Tapi nggak tahu deh, gimana nanti aja."
"Ouh bagus itu, sekalian istirahat sejenak dari keriuhan kota," sahut Vikara.
"Kak Satya, nasinya udah mateng belum? Laperr ..." rengek Valeska, seperti anak kecil.
"Udah nih, tapi harus dikipas dulu biar nggak panas,"
"Sini, biar gue kipas aja," ucap Kaivandra.
Satya memindahkan nasi dari rice cooker ke mangkuk berukuran besar. Dan Kaivandra, dia terus mengipasi nasinya pakai kipas portable, sembari diaduk.
"Ini, ambil piringnya dek, makan yang banyak, terus minum obat, lanjut istirahat."
"Oke abang." Setelah menghabiskan makanannya, Valeska bertanya kepada empat orang yang berada di dekatnya sekarang.
"Adek mau tanya, deh. Menurut kalian, habis lulus SMA nanti, baiknya adek ambil jurusan apa buat kuliah?" Valeska menatap Kaivandra dan ketiga abangnya penuh harap.
"Emang adek kepikiran mau ambil apa?" Kaivandra bertanya santai, sambil sesekali mencuri pandang kewajah adiknya yang serius.
"Adek pinginnya sih, kedokteran. Tapi sekolahnya kan lama. Kalau manajemen keuangan, bagus nggak?"
Valeska memandang satu per satu, berharap mendapat jawaban yang bisa menenangkan hatinya.
"Adek kan dari IPA, kata mereka peluang masuk jurusan IPS lebih kecil, emang bener?"
Keempatnya terdiam sejenak, berpikir untuk memilih kata yang tepat. Mereka tahu, ini keputusan besar yang tidak bisa dijawab sembarangan.
"Kalau manajemen, berarti adek bakal mulai dari nol," ujar Arjuna dengan nada hati-hati.
"Adek harus belajara kuntansi dasar, hukum bisnis, sampai manajemen riset. Banyak hitung-hitungannya juga, ini dasar kalau adek mau masuk ke dunia bisnis atau accounting."
"Di awal bakal terasa susah," lanjutnya sambil teringat pacarnya yang juga kuliah di jurusan yang sama, "apalagi dari IPA ke manajemen yang ranahnya anak IPS. Pacar kakak juga di semester awal sering nangis karena laba ruginya nggak balance."
"Tapi kalau adek bener-bener suka sama hitung-hitungan, ini jurusan oke banget," tambah Vikara, meyakinkan. "Sekarang, kebanyakan perusahaan memang cari yang ahli di bidang ini. Accountin gitu nggak gampang tergantikan, bahkan sama teknologi."
"Susah nggak?" tanya Valeska.
"Emang sih, semua jurusan ada tantangannya sendiri. Dibilang susah, ya nggak juga, dibilang gampang, ya nggak. Semua balik ke adek, gimana cara belajarnya," Kaivandra menambahkan.
Valeska menghela napas panjang, sedikit memijat keningnya yang mulai terasa pening.
"Kalau gitu, ambil farmasi aja, gimana?" Kaivandra tersenyum, mengangguk.
"Farmasi bisa jadi pilihan yang bagus. Setidaknya adek sudah punya dasar dari sekolah. Kalau manajemen, berarti belajar dari awal lagi."
"Tapi kalau teknik elektro, gimana?" tanya Valeska lagi, setengah berharap dapat jawaban yang sedikit lebih santai.
Vikara tertawa kecil, melirik Satya yang juga senyum-senyum di sebelahnya. "Gini, Dek. Kalau adek pengen kuliah yang jarang tugas, lulus tepat waktu dengan IPK tinggi, dan lebih banyak praktik ketimbang teori, ya teknik elektro pilihan terbaik. Nggak ada deh senioritas, presentasi juga jarang."
Satya menambahkan, dengan senyum misterius, "Iya, teknik elektro mah tinggal utak ayok. Udah, Selesai!"
Valeska hanya bisa mengerutkan dahi, cepat-cepat menyadari lelucon di balik kata-kata mereka.
"Ketahuan banget bohongnya. Kalau capek, ngaku aja, nggak usah ngajak-ngajak," balasnya, tertawa.Tawa mereka pecah. Kaivandra mengacak-acak rambut Valeska penuh sayang.
"Bisa aja nih anak! Beneran gampang kok. Saking gampangnya, jam tidur jadi opsional."
"Mau ambil teknik elektro, dek?" goda Arjuna.
Dengan lantang, Valeska langsung menjawab, "Nggak, makasih!"
Kaivandra tertawa kecil sambil mengusap pundak adiknya. "Udah malem, dek. Kalau udah makan, sikat gigi terus minum obat, ya. Istirahat biar nggak sakit."
"Iya, Bang. Adek tidur dulu, ya." Valeska pamit, lalu berlalu ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, tawa dan canda masih menggema di meja makan. Sesekali Vikara dan Satya saling lempar candaan tentang cerita jurusan teknik elektro mereka yang nyaris menipu Valeska. Kaivandra yang asik membalas pesan di ponselnya mendadak terdiam.
Arjuna, memperhatikan hal itu, langsung bertanya."Kenapa, Kai?"
Kaivandra tersenyum tipis, sambil memperlihatkan pesan dari mamanya. "Biasa, nyokap nanyain kabar Valeska. Giliran diajak ketemu, malah punya alasan ini itu," jawabnya, santai.
Arjuna tertawa kecil. "Orang tua kadang begitu, Kai. Nggak apa, paling nggak mereka sayang sama kalian berdua."