NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Efek Samping 32 Pesan

Aroma minyak pelumas, besi tua, dan wangi maskulin yang tajam seolah-olah menolak pergi dari indra penciuman Kirana. Bahkan setelah ia mandi dua kali dan merendam kemeja putih mahalnya ke dalam ember detergen, bayangan dada bidang Bima yang keras dan panas sore itu masih melekat erat di kepalanya.

Kirana merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan wajah yang kembali memanas. Tangannya bergerak menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang masih belum kembali ke frekuensi normal.

"Gue pasti udah gila. Refleks macam apa yang bikin gue meluk beruang kutub itu?" gerutu Kirana pada diri sendiri. Ia menarik guling, membekap wajahnya rapat-rapat untuk meredam teriakan frustrasinya. Gengsinya sebagai mahasiswi Sastra yang selalu memuja estetika kata-kata merasa runtuh seketika hanya karena pelukan di tengah bengkel penuh oli.

*Tring! Tring! Tring!*

Ponsel Kirana di atas nakas bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi dari grup WhatsApp "Tiga Dara"—grup berisi dirinya, Maya, dan Sari. Dengan malas, Kirana meraih ponselnya. Namun, begitu membuka ruang obrolan, matanya langsung membelalak sempurna.

Sebuah foto dikirim oleh Maya. Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik mesin bubut, memperlihatkan Kirana yang sedang meremukkan tubuhnya dalam pelukan Bima. Detik itu juga, ketikan *capslock* dari Maya memenuhi layar.

**Maya Comms:** *“HEBOH!!! WARGA SASTRA DAN TEKNIK HARUS LIHAT INI!!! Kirana, lo utang penjelasan ya sama gue dan Sari! Pantesan Ayang Adit nelpon gue sambil ngakak-ngakak, katanya singa betina Sastra akhirnya jinak di kandang macan! Gimana rasanya dipeluk Asisten Lab hits, Ra? HAH?! @Kirana_Sastra”*

Kirana rasanya ingin tenggelam ke dasar bumi saat itu juga. Ia segera mengetik balasan dengan jari yang gemetaran karena malu.

> **Kirana_Sastra:** *“MAYA!!! Hapus nggak?! Itu cuma refleks karena kita menang proyek! Nggak usah lebay ya!”*

> **Sari Psych:** *“Secara psikologis, refleks emosional yang intens kayak gitu biasanya dipicu oleh rasa percaya yang udah lama numpuk di alam bawah sadar, Ra. Lo nggak bisa bohong kalau lo merasa aman di dekat Bima.”*

> **Maya Comms:** *“Tuh dengerin Bu Psikolog! Lagian ya, Adit cerita ke gue, si Bima semalem senyum-senyum sendiri kayak orang kesurupan sambil ngeliatin hp. Katanya ada yang nge-spam chat sampai puluhan kali. Cieeee yang diperhatiin sama cowok kaku!”*

Kirana melempar ponselnya ke kasur. Wajahnya benar-benar merah padam sampai ke telinga. Belum sempat ia menenangkan diri, satu notifikasi personal masuk. Sebuah pesan singkat dari nomor yang dinamainya "Bima Teknik".

> **Bima Teknik:** *“Udah sampai rumah belum? Jangan lupa minum teh anget, Kir, biar nggak masuk angin.”*

Kirana menggigit bibir bawahnya. Butuh waktu hampir dua puluh menit, mengetik dan menghapus kalimat berkali-kali, hanya untuk membalas pesan sependek itu. Gengsi Sastrawannya kembali mengambil alih kemudi.

> **Kirana_Sastra:** *“Udah. Lo juga jangan lupa mandi yang bersih, baju lo bau oli.”*

Di seberang sana, Bima yang baru selesai membersihkan motor tuanya hanya menatap layar dengan senyum tipis yang tertahan. Baginya, balasan ketus Kirana adalah konfirmasi bahwa gadis itu sedang salah tingkah.

---

Keesokan paginya, atmosfer Universitas Wikerta terasa berbeda bagi Kirana. Langkah kakinya menyusuri koridor koridor utama dengan sedikit ragu. Di samping kiri dan kanannya, Maya dan Sari berjalan mengapitnya.

"Ayang Adit mana, ya? Katanya mau bawain gue sarapan bubur," celoteh Maya sambil celingukan, merapikan rambutnya yang sengaja digerai.

Sari hanya tersenyum maklum. "Paling masih di jalan bareng Kak Roni sama Kak Gendut, May. Anak Teknik kan jarang ada yang beneran bangun pagi kalau nggak ada praktikum."

"Tapi Bima pasti bangun pagi, Sar. Dia kan asisten lab kesayangan dosen," timpal Maya sengaja mengerlingkan matanya ke arah Kirana yang mendadak kaku. "Ya kan, Ra?"

"Gak tahu, bukan urusan gue," jawab Kirana ketus, mencoba fokus pada binder yang dipeluknya erat di dada.

Namun, hukum alam kampus tampaknya sedang ingin bercanda. Begitu mereka berbelok di selasar dekat gedung rektorat, rombongan anak Teknik Mesin berjalan berlawanan arah dengan mereka. Di depan ada Adit, Roni, dan si Gendut yang sedang tertawa lebar. Dan tepat di tengah-tengah mereka, berjalan dengan langkah santai, adalah Bima.

Bima pagi ini terlihat sangat segar. Ia mengenakan kemeja PDL Tekniknya yang berwarna biru dongker dan rambutnya tertata rapi.

"Ayang Adiitttt!" Maya langsung melepaskan pautan tangannya dari Kirana dan berlari manja menuju Adit.

"Bubu Maya! Kangen banget padahal baru semalem telponan," balas Adit tanpa tahu tempat, langsung menerima pelukan Maya sambil menyerahkan sebungkus bubur ayam. Pasangan itu langsung asyik dunia berdua, mengabaikan Roni dan si Gendut yang kompak memasang wajah ingin muntah di belakang mereka.

Sari hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum sopan menyapa kating-kating Teknik tersebut. "Pagi, Kak Roni, Kak Gendut, Kak Bima."

"Pagi, Sari. Waduh, pawangnya Adit udah datang, untung telinga gue nggak budek dengerin dia bucin dari subuh," goda Roni.

Di tengah keriuhan itu, mata Bima langsung terkunci pada Kirana. Kirana berusaha keras membuang muka, berpura-pura tertarik pada tanaman hias di pot selasar. Namun, Bima justru melangkah mendekat, memisahkan diri dari rombongannya.

Ia berhenti tepat satu langkah di depan Kirana. Aroma parfumnya yang segar—aroma yang sama dengan yang ia pakai saat bersolek di lab kemarin—langsung menyerbu indra penciuman Kirana.

"Teh angetnya diminum semalem?" tanya Bima langsung, suaranya pelan namun terdengar sangat berat dan intim di tengah keramaian selasar.

Kirana tersentak. Ia mendongak, menatap mata hitam Bima yang tampak berkilat jahil. "Di... diminum kok. Kenapa emang?" jawab Kirana gugup, merutuki suaranya yang mendadak terbata-bata.

"Nggak apa-apa," Bima menyodorkan sebuah map jilid tebal berwarna biru ke depan dada Kirana. "Ini berkas akhir proyek kita yang harus ditandatangani dekanat hari ini. Gue udah isi bagian gue. Tinggal bagian lo."

Kirana menerima map itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Sentuhan singkat jemari mereka saat beralih map membuat sengatan listrik aneh kembali menjalar di lengan Kirana.

Sebelum Kirana sempat membalas dengan omelan galaknya yang biasa, Bima sudah berbalik, berjalan menyusul Adit dan Maya yang sudah berjalan duluan di depan. Namun, langkah Bima sempat terhenti. Ia menoleh sedikit, memberikan satu senyuman tipis yang sangat langka ke arah Kirana.

"Gue tunggu di kafe biasa jam empat. Jangan telat, Ra. Gue nggak suka nunggu, tapi kalau lo yang bikin nunggu... kayaknya statistik toleransi gue bisa berubah."

Setelah mengatakan itu, Bima benar-benar pergi meninggalkan Kirana yang mematung dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Di sampingnya, Sari hanya menepuk bahu Kirana pelan sambil berbisik, "Teori penyangkalan lo resmi gagal pagi ini, Kirana."

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!