NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20: Di Antara Cinta, Keraguan, dan Ikatan Raga

Matahari pagi masuk perlahan melalui celah tirai sutra tebal di kamar utama rumah besar keluarga Adhitama. Cahayanya keemasan, lembut, dan hangat, menyentuh permukaan kulit Arkan yang sudah terjaga lebih dulu sejak beberapa jam yang lalu. Ia berbaring miring, siku kanannya menopang kepala, sementara tangan kirinya terulur lembut, jari-jarinya menyusuri garis wajah Nara yang sedang tidur dengan sangat damai. Gadis itu berbaring miring menghadap ke arahnya, rambut hitam panjangnya terurai indah di atas bantal berwarna krem, sebagian menutupi pipi lembutnya yang tampak kemerahan. Napasnya teratur, halus, dan menenangkan, seolah segala beban dunia telah jauh pergi darinya saat berada di sini, di sisi Arkan.

Sejak hari kepulangan mereka ke rumah besar ini, keberadaan Nara di sisi Arkan bukan lagi sekadar kunjungan atau pertolongan. Nara kini adalah nyawa di rumah yang megah namun dulu begitu dingin ini. Kamar utama yang dulunya hanya berisi kenangan dan kesepian, kini berubah menjadi ruang paling hangat dan indah di seluruh bangunan itu. Di sini, setiap sudut berbau wangi Nara, setiap selimut menyimpan jejak kehangatan tubuh mereka, dan setiap detik terasa berharga seolah waktu berhenti berputar khusus untuk dua jiwa ini.

Arkan menatap lekat-lekat wajah itu, meneliti setiap lekuk halus, setiap bulu mata yang panjang melengkung indah, dan bibir mungil yang selalu mampu mengucapkan kata-kata penenang bagi hatinya. Di mata Arkan, Nara adalah segalanya. Dia adalah penyelamat yang datang saat ia terpuruk paling dalam, sahabat yang setia saat seluruh dunia memusuhinya, cinta pertama dan satu-satunya yang mengajarkan arti mencintai tanpa syarat, dan satu-satunya alasan mengapa ia tersenyum setiap hari dan berani melangkah ke masa depan.

Perlahan, kelopak mata Nara bergerak pelan, lalu terbuka perlahan. Di bawah cahaya pagi itu, manik mata cokelat beningnya bertemu tepat dengan tatapan Arkan yang begitu dalam dan lekat. Sebelum sempat bicara, senyum manis dan malu-malu merekah di bibirnya, membuat jantung Arkan kembali berdebar kencang persis seperti saat pertama kali mereka bertemu.

"Kamu sudah bangun sejak kapan?" tanya Nara dengan suara serak dan berat khas orang yang baru bangun tidur. Ia menarik selimut lebih tinggi, menutupi sebagian wajahnya yang mulai memerah karena ditatap sedemikian rupa oleh pria yang dicintainya itu.

"Sejak tadi..." jawab Arkan pelan, suaranya rendah dan berat, penuh dengan rasa sayang yang meluap. Ia mendekatkan wajahnya, lalu mendaratkan ciuman lembut dan lama di kening Nara, menempelkan bibirnya di sana seolah tidak ingin melepaskan. "Aku takut kalau aku tidur lebih lama, semua ini cuma mimpi. Takut aku membuka mata dan semuanya hilang. Takut aku kembali menjadi Arkan yang sendirian, yang tidak punya apa-apa di dunia ini."

Nara tertawa kecil, suara renyah itu menjadi musik terindah bagi telinga Arkan. Ia mengangkat tangannya yang lembut, menyentuh pipi Arkan, merasakan kehangatan kulit pria itu yang terasa nyata dan hangat di bawah ujung jarinya.

"Kamu tidak akan pernah sendirian lagi, Arkan. Aku di sini. Dan aku tidak akan ke mana-mana. Aku berjanji," bisik Nara lembut, menatap balik mata Arkan dengan penuh keyakinan.

Tanpa banyak bicara lagi, Arkan merengkuh pinggang ramping Nara dengan satu gerakan lembut namun tegas, menarik tubuh gadis itu mendekat hingga dada mereka saling bersentuhan tanpa celah sama sekali. Di dalam pelukan itu, ada rasa aman yang luar biasa, rasa lengkap yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Arkan menatap bibir Nara, menahan diri sejenak seolah menikmati momen itu, sebelum akhirnya ia menciumnya.

Ciuman itu berbeda dari yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Ini bukan lagi sekadar rasa syukur, persahabatan, atau sekadar ungkapan rindu. Ciuman ini penuh dengan hasrat yang terpendam lama, gairah cinta yang matang, dan keinginan untuk bersatu sepenuhnya. Lembut namun menuntut, hangat namun membakar setiap inci kulit yang tersentuh. Nara memejamkan matanya rapat, membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya dalam belaian tangan Arkan yang mulai bergerak pelan menyusuri lengannya, turun ke punggung, menghapus setiap jarak yang tersisa di antara mereka. Nara melingkarkan lengannya ke leher Arkan, membalas setiap sentuhan dengan sama dalamnya, membiarkan detak jantung mereka berpacu dalam irama yang sama.

Namun, tepat saat suasana mulai memanas dan napas mereka mulai memburu, ketukan pintu terdengar jelas dari luar, memecah keintiman pagi itu.

"Tuan Arkan? Maaf sekali mengganggu istirahat Anda. Pak Wijaya sudah datang dan membawa berkas-berkas penting untuk rapat direksi pagi ini. Beliau bilang ini sangat mendesak," suara pelayan terdengar sopan dari balik pintu.

Arkan menghela napas panjang dan berat, memutuskan ciuman itu dengan sangat berat hati. Ia menyandarkan dahinya di dahi Nara, sementara gadis itu membenahi rambutnya yang sedikit berantakan, wajahnya memerah padam menahan malu dan napas yang belum teratur. Arkan tersenyum jahil, mengusap bibirnya dengan ibu jari, menatap Nara dengan pandangan yang berjanji banyak hal.

"Kita lanjut nanti malam ya... janji," bisik Arkan dengan suara serak yang berat, membuat Nara hanya mampu menunduk sambil tersenyum malu.

 

Hari itu, di gedung pencakar langit pusat Adhitama Group, suasana tidak sepenuhnya tenang dan damai. Meskipun Arkan telah berhasil membersihkan nama baiknya, mengusir Kirana, dan mengambil kembali kekuasaan yang sah, ternyata masih ada banyak sisa-sisa orang yang dulu mendukung kejahatan wanita itu. Beberapa direktur lama, pemegang saham tua, dan mitra bisnis yang merasa terancam dengan gaya kepemimpinan Arkan yang jujur, tegas, dan transparan, diam-diam mulai menyusupkan isu-isu baru. Mereka tidak bisa lagi menyerang nama baik Arkan, jadi mereka mencari kelemahan lain—dan kelemahan terbesar Arkan, menurut mereka, adalah wanita yang selalu ada di sampingnya: Nara.

Saat rapat pagi selesai, Arkan dan Nara berjalan beriringan menyusuri koridor panjang menuju ruang kerja pribadi Arkan. Di samping mereka berjalan Pak Wijaya, namun wajah penasihat setia itu tampak jauh lebih serius dan berat dari biasanya. Ia menunggu sampai mereka masuk ke dalam ruangan dan pintu tertutup rapat, sebelum akhirnya berbicara.

"Tuan Arkan, ada hal penting yang harus saya sampaikan, dan ini agak... sulit," ucap Pak Wijaya pelan, meletakkan berkas di meja namun tidak membukanya. "Beberapa pemegang saham lama dan anggota dewan direksi mulai berbisik-bisik mengenai kehadiran Nara di sini. Mereka bilang... seorang gadis dari keluarga sederhana, dari desa, tidak seharusnya terlalu banyak ikut campur dalam urusan perusahaan besar seperti ini. Bahkan ada yang berani menyebarkan desas-desus bahwa Nara memanfaatkan kebaikan Anda, memanfaatkan momen saat Anda jatuh dulu, untuk menguasai kekayaan dan kekuasaan Adhitama."

Wajah Arkan seketika berubah dingin dan tegang. Tangan yang sedari tadi menggenggam tangan Nara seketika mencengkeram lebih erat karena marah. Nara yang berjalan di sampingnya seketika berhenti melangkah, menundukkan wajahnya, matanya menatap lantai dengan pandangan yang menyakitkan. Ia sudah mendengar bisikan-bisikan itu sejak beberapa hari terakhir. Ia tahu betul perbedaan besar latar belakang mereka. Ia sadar, meski Arkan sudah bebas dari fitnah, dunia elit dan bisnis ini masih memandang rendah orang-orang seperti dirinya, yang lahir tanpa nama besar dan harta melimpah.

"Mereka berani bicara begitu?" suara Arkan rendah namun penuh dengan amarah yang tertahan. "Mereka berani menuduh wanita yang menyelamatkan nyawaku, yang menjaga kebenaran saat kalian semua buta oleh kebohongan dan uang? Mereka sebut dia pemanfaatan? Mereka tidak tahu apa-apa! Mereka tidak tahu bahwa tanpa Nara, Adhitama Group mungkin sudah hancur total sekarang karena ulah kejahatan Kirana yang kalian semua biarkan tumbuh subur!"

"Tuan Muda, ini soal persepsi dan dunia bisnis yang keras," jawab Pak Wijaya lembut, berusaha menenangkan namun tetap menyampaikan fakta pahit itu. "Dan... ada kabar lain yang lebih berat. Keluarga Pradipta, pemilik perusahaan mitra terbesar kita yang menyumbang hampir 40% pendapatan tahunan kita, akan datang berkunjung minggu depan. Sudah menjadi tradisi lama di lingkungan bisnis besar ini, kerja sama strategis sering diperkuat dengan ikatan keluarga. Bapak Pradipta secara halus namun tegas menyebutkan bahwa dia sangat berharap ada hubungan lebih dekat antara Anda dan putrinya, Sera Pradipta. Bagi mereka, penyatuan dua keluarga besar adalah jaminan keamanan bisnis. Jika ini tidak terpenuhi, saya khawatir kerja sama besar ini akan batal, dan dampaknya akan sangat fatal bagi keuangan perusahaan kita yang baru saja pulih ini."

Arkan tertawa sinis, suara tawanya dingin dan penuh kekecewaan. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. "Jadi maksud Anda, saya harus menikahi orang yang tidak saya kenal, demi uang? Demi keuntungan perusahaan? Saya harus mengkhianati perasaan saya, mengkhianati wanita yang sudah berkorban segalanya demi saya? Biarkan saja kerja sama itu batal! Biarkan saja mereka pergi! Saya tidak akan pernah, dalam keadaan apa pun, melepaskan Nara demi apa pun di dunia ini. Apalagi demi uang."

Namun, di sisi lain, hati Nara terasa diremas sangat sakit hingga ia sulit bernapas. Kata-kata Pak Wijaya dan desas-desus itu menusuk tepat ke keraguan terbesar yang selama ini ia sembunyikan di dalam hati. Di malam harinya, saat mereka kembali ke rumah besar itu, suasana di antara mereka berubah drastis. Nara menjadi sangat pendiam, sering melamun menatap kosong ke luar jendela, dan jika ia tersenyum, senyum itu tidak pernah sampai ke matanya. Arkan yang peka langsung menyadari perubahan itu, namun setiap kali ia bertanya, Nara hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja.

Malam itu, saat makan malam, keheningan terasa menyiksa dan berat. Hanya terdengar suara piring dan sendok yang beradu, tidak ada lagi tawa atau obrolan hangat seperti biasanya. Arkan akhirnya tidak tahan lagi. Ia meletakkan sendoknya dengan keras, menatap lekat-lekat wajah Nara yang menunduk.

"Nara, ada apa? Katakan padaku. Sepulang dari kantor kamu diam saja. Apakah karena omongan orang-orang itu? Atau soal keluarga Pradipta? Dengar ya, jangan dengar kata-kata mereka. Bagi aku, semua omongan mereka tidak ada artinya. Aku tidak peduli apa kata dunia, yang penting aku punya kamu."

Nara perlahan mengangkat wajahnya, dan saat mata mereka bertemu, Arkan melihat genangan air mata yang sudah siap jatuh di pelupuk mata gadis itu. Hati Arkan terasa nyeri melihat tatapan itu.

"Tapi mereka benar, Arkan..." suara Nara bergetar, berusaha menahan tangis namun gagal. "Mereka benar sepenuhnya. Aku siapa? Aku cuma anak petani sederhana yang tidak punya apa-apa, tidak punya nama, tidak punya harta. Kamu adalah pemimpin perusahaan raksasa, pewaris tunggal nama besar Adhitama, orang yang dihormati dan dilihat oleh banyak orang. Dunia kita berbeda jauh, Arkan. Sejauh langit dan bumi. Mungkin... kehadiranku di sisimu ini justru menjadi penghalang terbesar bagi masa depanmu. Mungkin aku yang menjadi alasan kenapa banyak orang tidak mau menghargai kamu sepenuhnya. Bagaimana kalau aku pergi untuk sementara waktu? Hanya sebentar, sampai semua urusan bisnis selesai, sampai kamu aman dan perusahaan ini stabil kembali. Aku rela pergi, asal kamu baik-baik saja."

Arkan langsung berdiri kasar, membuat meja makan bergetar karena bentakan tangannya. Wajahnya memerah menahan emosi yang meluap—bukan marah pada Nara, tapi marah pada takdir dan situasi yang selalu saja ingin memisahkan mereka.

"Pergi? Kamu mau pergi meninggalkan aku? Kamu baru saja berjanji pagi tadi, kamu bilang tidak akan ke mana-mana! Apa semua yang kita lalui, semua air mata, semua perjuangan itu sia-sia di matamu? Apakah cinta kita yang sebesar ini kalah cuma karena omongan orang dan aturan kaku dunia bisnis yang busuk itu?" Suara Arkan meninggi, bergetar karena rasa sakit dan takut kehilangan.

"Aku melakukannya DEMI KAMU!" Nara akhirnya menangis, air matanya jatuh membasahi pipi, ia juga berdiri dengan tubuh gemetar. "Aku tidak mau kamu dikatai bodoh atau rendah karena memilih aku! Aku tidak mau perusahaan yang dibangun ayahmu susah payah hancur atau rugi besar cuma karena kamu mencintai orang yang dianggap 'tidak setara' oleh mereka! Aku rela menahan sakit, aku rela jauh darimu, asalkan kamu aman, sukses, dan bahagia!"

"Kebahagiaanku adalah KAMU!" seru Arkan lantang, lalu langkah kakinya lebar mendekat, menangkap kedua bahu Nara dengan genggaman kuat namun lembut agar gadis itu tidak bisa menghindar atau menunduk lagi. "Kalau kamu pergi, apa gunanya semua kekayaan ini? Apa gunanya jabatan Direktur Utama? Apa gunanya aku bernama Adhitama? Apa gunanya aku hidup? Kamu pikir aku mau jadi pengusaha paling sukses di negeri ini tapi pulang ke rumah sepi tanpa kamu? Kamu salah besar, Nara. Kamu bukan penghalang. Kamu adalah bagian dari hidupku, bagian dari jiwaku. Kalau kamu pergi, aku ikut pergi. Aku akan tinggalkan semuanya dan ikut kamu ke mana pun kamu pergi."

Nara terisak hebat, ia tidak kuat lagi menahan semuanya. Ia melingkarkan tangannya erat di pinggang Arkan, menyandarkan wajahnya di dada bidang pria itu, menangis sejadi-jadinya meluapkan semua rasa takut, ragu, dan rasa tidak percaya diri yang selama ini ia simpan sendirian.

"Tapi aku takut, Arkan... aku takut suatu saat kamu akan bosan... atau menyesal memilihku saat kamu bisa punya siapa saja wanita cantik, kaya, dan berkedudukan tinggi yang jauh lebih cocok untukmu..." bisiknya di sela isak tangis.

Arkan mengangkat wajah Nara perlahan, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus setiap butir air mata yang jatuh di pipi gadis itu. Matanya menatap tajam namun penuh dengan kelembutan dan cinta yang tak terhingga.

"Dengar aku, baik-baik dan ingat ini seumur hidupmu," ucap Arkan dengan suara tegas dan mantap. "Tidak ada wanita lain di dunia ini yang ada di hatiku selain kamu. Hanya kamu. Dari hari pertama aku sadar kamu ada di sampingku saat aku jatuh paling dalam, sampai hari aku mati nanti, cuma kamu. Kamu cantik, kamu mulia, kamu kaya hati, dan bagiku, tidak ada wanita di dunia ini yang lebih tinggi dan berharga darimu. Jangan pernah merendahkan dirimu di hadapanku, karena bagiku, kamulah ratu di hatiku dan di rumah ini."

Melihat Nara yang masih terisak dan terlihat begitu rapuh karena emosi, Arkan tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia menggendong tubuh Nara yang lemas itu dengan mudah, mengangkatnya ke pelukannya, lalu berjalan cepat naik ke lantai atas menuju kamar utama mereka. Ia menutup pintu dan menguncinya rapat, memastikan tidak ada siapa pun yang bisa mengganggu mereka malam ini. Di dalam kamar itu, cahaya lampu redup dan hangat, menciptakan suasana yang intim dan tenang.

Arkan berbaring di atas kasur, menarik Nara agar berbaring di sampingnya, menghadap kepadanya. Ia mencium setiap jejak air mata di pipi Nara, turun ke kelopak mata yang bengkak, kening, pipi, hingga akhirnya mendaratkan ciuman panjang, dalam, dan penuh rasa di bibir gadis itu. Kali ini tidak ada gangguan, tidak ada omongan orang, tidak ada masalah perusahaan, tidak ada rasa ragu. Hanya ada mereka berdua, dan cinta yang mengikat jiwa mereka.

"Jangan pernah ragu lagi... jangan pernah merasa kurang... kamu milikku, dan aku milikmu. Sepenuhnya," bisik Arkan di sela-sela ciumannya, sementara tangannya mulai bergerak pelan namun pasti menyusuri lekuk tubuh Nara, melewati pinggang, punggung, hingga bahu, membakar setiap sentuhan kulit yang tersentuh. "Tubuh ini, hati ini, nama ini, semuanya milikmu. Dan malam ini, aku akan buktikan padamu, betapa berharganya kamu bagiku, betapa aku mencintaimu tanpa syarat."

Nara merasakan getaran hangat dan mendadak merambat ke seluruh pembuluh darahnya, menghapus rasa sakit dan keraguan yang tadi ada, digantikan oleh rasa cinta yang begitu dalam dan keinginan untuk bersatu sepenuhnya dengan pria ini. Ia melingkarkan lengannya kuat ke leher Arkan, menarik wajah pria itu semakin dekat, membalas setiap sentuhan dan belaian dengan sama gencarnya. Di bawah selimut tebal yang hangat, di tengah suasana yang sunyi dan penuh keintiman, batasan antara mereka perlahan hilang sepenuhnya.

Pakaian terlepas satu per satu, terbuang sembarangan di lantai, tidak lagi menjadi penghalang. Kulit mereka bersentuhan, hangat, halus, dan membakar. Setiap sentuhan Arkan penuh rasa hormat namun penuh gairah yang meluap, setiap bisikan di telinganya adalah janji setia yang diucapkan langsung ke dalam jiwa Nara. Arkan menyusuri setiap inci tubuh Nara dengan ciuman dan belaian, seolah ingin mengukir namanya di sana, meyakinkan Nara bahwa setiap bagian dari dirinya indah dan dicintai sepenuhnya. Nara yang awalnya malu dan ragu, perlahan melepas segala pertahanan dan keraguan, membiarkan dirinya hanyut dalam aliran cinta dan gairah yang begitu indah itu, membiarkan jiwa dan raga mereka menyatu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Malam itu, mereka bukan lagi pengusaha dan gadis desa, bukan pewaris dan rakyat biasa, bukan orang kaya dan orang miskin. Mereka hanyalah dua manusia yang saling mencintai dengan segenap jiwa raga, menyatukan hati dan raga dalam kehangatan yang tak terlukiskan kata. Di dalam pelukan itu, di tengah detak jantung yang berpacu satu irama dan keringat yang bercampur, Nara akhirnya benar-benar mengerti. Tidak ada perbedaan status, kekayaan, atau latar belakang yang cukup besar untuk memisahkan dua hati yang sudah terikat oleh takdir dan cinta sekuat ini.

Keesokan paginya, saat sinar matahari kembali masuk menyinari kamar itu, Arkan terbangun lebih dulu. Ia menatap Nara yang masih tidur pulas di pelukannya, kepala gadis itu bersandar nyaman di dadanya, kulit mereka masih saling bersentuhan tanpa selembar benang pun, hangat dan damai. Rambut Nara berhamburan di dada Arkan, dan napasnya teratur membelai kulit pria itu. Arkan mengecup puncak kepala Nara dengan penuh kasih sayang.

Ia tahu, konflik belum selesai. Tantangan dari keluarga Pradipta, para direktur yang menentang, dan pandangan masyarakat masih menunggu di luar sana. Namun Arkan tahu satu hal yang pasti: ia akan berjuang dua kali lebih keras lagi. Bukan hanya untuk nama Adhitama, tapi untuk melindungi wanita yang ada di sampingnya ini, untuk membuktikan pada seluruh dunia bahwa cinta sejati jauh lebih kuat dari segala aturan dan status sosial.

Saat Nara perlahan membuka matanya, tersenyum malu namun bahagia saat mengingat segala hal indah yang terjadi semalam, Arkan berjanji dalam hatinya: Akan aku pastikan, sampai Episode 100 nanti, senyum ini tidak akan pernah hilang. Dan kita akan menaklukkan dunia ini bersama-sama, berpegangan tangan, sampai akhir hayat.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!