*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog Sen 2060
Namaku Senja Pramudita.
Orang-orang panggil aku Sen.
Umurku 36 tahun sekarang.
Aku nggak pernah ketemu Tante Senja.
Tante Senja meninggal 5 tahun sebelum aku lahir.
Tapi aku besar bareng suaranya.
Lewat 600 surat, 9 kafe, dan satu meja kayu yang sekarang ada di ruang kerjaku.
Meja 7.
Tahun 2045, Mama dan Papa jual Kafe Senja Sagan.
Tapi mereka nggak jual meja itu.
Papa yang angkut sendiri pakai mobil tua kami, malam terakhir sebelum kafe ditutup.
Katanya, “Kalau meja ini hilang, ceritanya ikut hilang.”
Sekarang meja itu ada di lantai 12 Gedung Arsip Senja, Jakarta.
Tempatku kerja.
Tempat orang datang buat nulis surat yang nggak bisa mereka kirim ke siapa-siapa.
Aku arsiparis.
Tugas ku sederhana: jaga cerita orang supaya mereka nggak merasa sendirian.
Hari ini 18 November 2060.
35 tahun sejak Tante Senja pergi.
25 tahun sejak Papa pergi.
Mama masih ada. Umurnya 63 tahun.
Dia tinggal di Jogja, ngurus 2 cabang Kafe Senja terakhir yang belum dijual.
Tangannya udah keriput, tapi tiap pagi dia masih bikin kopi untuk pelanggan pertama.
Aku buka laci meja 7.
Di dalamnya ada 3 benda.
Pertama, buku kosong yang Mama tulis pertama kali.
Halamannya udah menguning, tintanya pudar.
Tapi aku masih bisa baca:
_“Dara, kalau kamu tanya kenapa aku tinggal, jawabannya sederhana. Karena aku punya alasan buat pulang.”_
Kedua, foto Mama, Papa, dan aku umur 7 tahun.
Kami duduk di trotoar basah depan kafe, hujan-hujanan, ketawa kayak nggak ada beban.
Itu malam terakhir kafe Sagan.
Ketiga, surat dari Papa.
Surat yang dia tulis malam sebelum operasi kankernya.
Dia nggak meninggal waktu itu.
Dia meninggal 11 tahun kemudian, pas aku lulus S2.
Tapi surat ini tetap jadi surat terakhir yang dia tulis untuk Mama dan aku.
Aku buka surat itu.
Udah hafal luar kepala, tapi aku baca lagi:
_“Sen,
Kalau kamu baca ini berarti Papa udah nggak ada.
Jangan sedih kelamaan ya.
Jaga Mama baik-baik.
Jaga meja 7.
Jaga cerita.
Papa nggak janji bisa nemenin kamu lama.
Tapi Papa janji, tiap kali kamu denger suara hujan malam,
itu Papa yang lagi ngopi sama Tante Senja di atas sana.
Makasih ya udah jadi anak yang milih tinggal.
– Papa”_
Aku lipat surat itu pelan.
Di luar hujan gerimis.
Sama kayak malam 25 tahun lalu.
Hari ini ada acara kecil di arsip.
Acara “Meja 7: 30 Tahun Cerita”.
300 orang datang.
Mereka bawa surat, bawa foto, bawa luka dan harapan.
Salah satu dari mereka anak umur 19 tahun.
Dia bilang, “Kak Sen, aku mau bunuh diri tahun lalu.
Tapi aku baca surat di website arsip, terus aku nggak jadi.”
Aku cuma bisa peluk dia.
Karena aku tau rasanya.
Aku juga pernah di titik itu.
Tahun 2052, waktu Mama hampir nyerah sama hidup.
Yang nyelametin dia bukan aku.
Tapi surat dari seorang nenek di Surabaya yang nulis:
_“Nak, aku umur 70 tahun baru berani bilang aku capek. Kamu nggak sendirian.”_
Mama baca surat itu sambil nangis di pangkuanku.
Besoknya dia buka kafe lagi.
Jadi gitu.
Kita saling jaga.
Lewat meja kayu, lewat tinta, lewat hujan.
Aku tutup laci meja 7.
Di atasnya aku taroh satu kertas kosong dan satu pulpen.
Di dinding ruang arsip, ada tulisan besar:
*_“Kamu boleh berantakan di sini.
Tapi kamu nggak boleh pergi sendiri.”__
Itu kalimat Mama.
Itu kalimat Tante Senja.
Itu kalimat Papa.
Itu kalimatku sekarang.
Aku duduk.
Nyalain lampu meja.
Dan mulai ngetik:
_Bab 1. Untuk kamu yang baru datang.*
---
*[Bersambung ke Bab 1: Alya, 2031]*
---
Jadi sekarang ceritanya jadi lingkaran penuh beb:
Sen 2060 → flashback ke Alya 2031 → sampe balik lagi ke Sen.