NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Di tengah kegaduhan portal kampus, Luca duduk di pinggir kasurnya dengan mata berkaca-kaca. Dia langsung mengirim screenshot unggahan Vania ke WhatsApp Brant. Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar. Brant menelepon.

​Luca mengangkatnya dengan suara serak. "Halo..."

​"Ca, lo jangan percaya foto itu," suara Brant terdengar berat dan ada nada frustrasi di sana.

​"Tapi itu di penginapan, Kak... kalian berduaan?"

​Brant menghela napas kasar, terdengar suara bising bola basket di latar belakang. "Dengerin gue. Waktu tanding di luar kota itu, gue mau ke warung. Vania maksa numpang. Pas di jalan, motor gue oleng dan jatuh kesrimpet. Gue cuma tanggung jawab, Ca. Nggak mungkin gue biarin dia luka gara-gara gue, biarpun gue risih setengah mati sama dia."

​Luca diam, mencoba mencerna. "Terus kenapa harus di kamar?"

​"Itu di ruang tengah penginapan, bukan kamar! Siapa pun yang ambil foto itu sengaja cari angle yang bikin orang salah paham," nada suara Brant meninggi, bukan marah pada Luca, tapi kesal dengan kelakuan Vania yang sudah kelewat batas. "Gue cuma bantuin ganti perban karena dia kesulitan. Habis itu gue langsung pergi. Demi apa pun, di otak gue cuma ada lo, Ca. Bisa-bisanya jadi drama sampah kayak gini."

Luca terdiam, hatinya sedikit tenang tapi masih ada rasa sesak yang tersisa. "Beneran cuma tanggung jawab?"

​"Beneran, Ca. Lo tahu sendiri gue gimana. Gue nggak punya waktu buat ngurusin orang lain kalau bukan karena merasa bersalah dia jatuh gara-gara gue," sahut Brant. Suaranya merendah, kali ini terdengar lebih lembut. "Udah ya, jangan dipikirin lagi. Jangan nangis, makin jelek nanti muka lo."

​"Ih, Kak Brant!" seru Luca kesal tapi sedikit tersenyum.

​"Gue harus lanjut brifing, bentar lagi mau latihan. Lo nggak usah ke kampus dulu kalau emang malas denger gosip," kata Brant memberi saran.

​"Terus kita nggak bisa ketemu?" tanya Luca pelan.

​"Nggak sekarang. Dengerin gue, habis tanding sore nanti, gue langsung balik. Lo tunggu gue di tempat biasa, kita ketemuan. Gue bakal jelasin semuanya langsung di depan lo biar lo puas marahin guenya. Oke?"

​Luca mengangguk kecil. Seolah Brant bisa melihatnya "Iya, Kak. Semangat tandingnya.

​"Hmm. Tungguin gue," ucap Brant singkat sebelum mematikan telepon.

Suasana ruang ganti sore ini dipenuhi aroma keringat dan euforia kemenangan. Pekikan puas dari Jack dan anak-anak tim basket lainnya saling bersahutan, merayakan skor akhir yang mutlak. Di sudut ruangan, Brant sedang sibuk mengelap lehernya dengan handuk kecil.namun wajah Brant tetap sedatar biasanya. Jack berdiri di tengah ruangan, memberikan isyarat agar semua anggota tenang.

​"Gue ucapin makasih buat kalian semua. Latihan keras kita selama ini kebayar dengan kemenangan sparing hari ini," buka Jack dengan nada bangga. Namun, ekspresinya berubah serius. "Tapi, gue mau nyampein satu hal penting. Mulai besok, beberapa anggota tim basket akan Off.Gue Brant, dan beberapa senior lain sudah masuk masa kritis buat fokus ke ujian skripsi. Kita harus lulus tepat waktu. Jadi, gunain waktu ini buat fokus ke akademik kalian juga sampai ada pengumuman lebih lanjut."

Pengumuman dari Jack sukses mengubah atmosfer euforia di ruang ganti menjadi sedikit melankolis. Tatapan sayu dari para junior tak terbendung; mereka sadar, mulai besok pilar-pilar utama tim akan off demi mengejar bab-bab skripsi mereka.Jack tak membiarkan mental timnya turun. Dengan suara baritonnya yang mantap, sang kapten membakar kembali semangat adik-adik tingkatnya.Mereka dituntut untuk terus berlatih mandiri dan berjuang lebih keras.

​Setelah mereka bubar, Vania buru-buru menyusul Brant yang sedang berjalan menuju parkiran.

Brant baru saja hendak membuka pintu mobil saat Vania mencegatnya. Napas cewek itu sedikit memburu, matanya menatap Brant penuh harap, seolah gosip di portal kampus pagi tadi memberinya kekuatan lebih.

​"Brant! Tunggu," Vania berdiri tepat di depan pintu mobil. "Gue boleh bareng ya?"

​Brant berhenti. Tangannya masih memegang gagang pintu, tapi dia tidak menoleh. Wajahnya datar, menatap kosong ke depan. "Gue nggak lewat depan, Van. Gue mau muter dulu, nggak searah sama rumah lo."

​"Nggak apa-apa! Gue ikut aja dulu, turunin di mana aja yang searah sama lo, nanti gue terus pake ojek," Vania membalas cepat, tangannya bahkan hampir menyentuh lengan Brant, menunjukkan ambisinya yang tidak mau menyerah.

​Brant menarik napas panjang. Dia sedang mencoba menahan rasa muak yang sudah di ujung kepala. Dia memutar tubuhnya perlahan, menatap Vania dengan sorot mata yang begitu dingin hingga membuat Vania refleks menarik tangannya kembali.

​"Van," suara Brant rendah, tenang, tapi sangat mengancam. "Sebaiknya lo jangan terlalu dekat sama gue. Berhenti bersikap seolah lo punya hak buat di samping gue."

​Vania tertegun, wajahnya memerah. "Gue... gue cuma mau kita temenan, Brant. Emang salah?"

​"Temenan?" Brant mendengus tipis, hampir tak terdengar. "Lo tahu gue punya pacar. Lo kenal Luca. Dan lo tahu persis apa yang lo lakuin di portal kampus pagi ini bukan sikap seorang teman."

​Skakmat. Kepercayaan diri Vania yang tadinya meluap-luap langsung runtuh. Dia merasa telanjang di depan Brant, semua niat busuknya terbaca dengan jelas.

​"Gue harap kita jadi rekan satu tim di basket saja. Cukup itu, jangan lebih," lanjut Brant dengan nada yang sangat dewasa tapi menutup rapat segala pintu kesempatan bagi Vania.

​Tepat saat suasana semakin canggung, Jack muncul sambil membawa tas olahraga di bahunya. Dia melihat wajah Vania yang sudah hampir menangis karena malu.

​"Van, itu ada mobil anak tim yang kosong di sebelah sana. Gue udah minta dia buat anter lo sampai depan rumah," potong Jack dengan nada tegas yang seolah bilang 'berhenti ganggu Brant'.

​Vania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasa kecewa dan malu meledak di dadanya. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak tepat di hadapan dua orang paling berpengaruh di tim.

​"Nggak usah! Makasih, gue pesan ojek online aja!" ketus Vania, suaranya bergetar menahan tangis. Dia langsung berbalik dan berjalan cepat tanpa menoleh lagi.

​Jack menatap kepergian Vania, lalu menoleh ke arah Brant yang sudah masuk ke kursi kemudi.

"Sabar, Brant. Untung lo nggak meledak."

​Brant cuma menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan mata sejenak untuk membuang sisa kekesalannya. "Gue cuma nggak mau buang waktu buat drama sampah kaya gitu, Jack."

​Jack menepuk pintu mobil Brant dua kali. "Bagus. Ayo pulang."

​Brant mengangguk kecil. "Sip, gue duluan."

Sudut lounge kafe itu terasa begitu privat dengan lampu kuning remang-remang dan sofa kulit yang empuk. Awalnya, Brant hanya ingin bicara berdua dengan Luca, tapi entah takdir macam apa, geng mereka malah bertemu di lokasi yang sama. Alhasil, meja panjang itu penuh sesak oleh dua kubu yang kini melebur jadi satu.

​Di satu sisi, obrolan berat mulai mengalir.

​"Gila, beneran ya? Berarti besok lo berdua nggak ke lapangan?" tanya Clay sambil menyandarkan punggungnya, menatap Brant dan Jack bergantian. "Nggak asik banget kampus kalau duo bintang basketnya malah mendekam di perpus."

​"Mau gimana lagi, Clay," sahut Jack tegas sambil menyesap kopi hitamnya. "Kita sama-sama udah masuk masa kritis. Kalau kita masih sibuk latihan, bisa-bisa toga kita cuma jadi pajangan tahun depan. Gue nggak mau lulus jadi fosil di sini."

​"Sialan, bener juga sih," gerutu Rey. "Gue yang bukan atlet aja pusing liat tumpukan jurnal, apalagi lo berdua yang jadwalnya padat gila."

​Brant mengangguk santai, tangannya merangkul bahu Luca yang duduk di sebelahnya. "Data skripsi gue udah siap, tinggal olah dikit lagi."

​"Eh, Kak Brant beneran mau lulus? Berarti nanti nggak ada lagi dong yang bisa di-fans-girl-in di lapangan?" celetuk Luca dengan wajah polosnya.

​Elena menyenggol lengan Luca. "Ya iyalah, Ca! Lagian lo harusnya seneng, saingan lo berkurang satu. Ngomong-ngomong soal saingan, foto si Vania udah ilang tuh dari portal."

​"Iya, gue liat tadi pas di jalan ke sini. Bersih tanpa sisa," tambah Rose yang duduk tepat di sebelah Jack, wajahnya sedikit bersemu merah saat Jack tanpa sengaja menggeser posisi duduk mendekat ke arahnya.

​Vin mendengus sinis. "Syukur deh. Lagian itu cewek nyalinya gede banget, anjir. Berani-beraninya upload foto privasi kayak gitu buat giring opini."

​"Kak Brant udah marahin dia tadi, makanya dia takut!" seru Luca sedikit keras dengan nada bangga. Karna Sebelumnya Brant sudah menceritakam kejadian dengan vania di parkiran tadi.

​Brant melirik Luca, Lalu berdehem pelan. "Bukan marah, Ca. Gue cuma kasih penjelasan biar dia ngerti posisinya dan nggak ngelakuin hal gitu lagi."

​Jack tertawa renyah mendengar itu. "Iya, nggak marah versi Brant emang beda. Tapi jujur, kalau si Vania itu cowok, gue yakin udah bonyok muka dia tadi di parkiran. Tatapan Brant dingin banget, aspal aja bisa retak kayaknya kalau diajak adu mata. Gue aja ngeri liatnya."

​"Tega bener lo, Brant. Padahal cakep gitu anaknya," canda Clay sambil geleng-geleng. "Kenapa dia nggak deketin gue aja sih? Gue jomblo padahal, available banget nih."

​Rey langsung menyambar, "Halah, lo mah semua yang bening disikat. Ca, temen lo ada yang jomblo nggak? Bagi-bagi dong, masa Brant doang yang enak ada pawang angle kaya lu."

​Luca tampak berpikir serius sambil memeluk manja dan menyandarkan kepala di lengan Brant, nggak peduli kalau teman-temannya sedang memperhatikan dengan tatapan iri.

​"Mmm... Elena sebenernya jomblo, tapi kriterianya tinggi banget, harus cowok berotot kayak pemain NFL gitu," ucap Luca tanpa beban.

​"Eh, mulut lo ya, Ca! Gue nggak semilih itu!" Elena melotot, wajahnya memerah menahan malu.

​"Terus kalau Rose, dia ngefans banget sama Kak Jack..."

​UHUK!

​Rose langsung tersedak es batu dari minumannya sampai terbatuk-batuk hebat. Jack yang kaget refleks menyodorkan tisu dan memegang punggung kursi Rose, membuat cewek itu makin salah tingkah sampai ingin menghilang saja.

​"Dan kalau Vin..." Luca melanjutkan dengan nada polos tanpa dosa, "Dia jomblo kok, dan dia tipe yang terima apa adanya. Jadi nggak ribet buat kalian."

​Rey langsung menyeringai lebar ke arah Vin. "Oh, terima apa adanya ya? Ya udah, Ca, atur aja jadwalnya sama gue. Kayaknya gue masuk kriteria pria sederhana."

​Vin tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya memberikan tatapan maut yang seolah bisa mengirim Rey ke akhirat saat itu juga.

​"Sialan, tatapannya serem banget, ampun Vin!" seru Rey sambil mengangkat tangan, tanda menyerah.

Tawa meledak di pojok lounge malam itu saat ketegangan soal Vania menguap, digantikan hangatnya persahabatan dan bumbu asmara yang mulai tumbuh acak di antara mereka, namun di balik senyum tipisnya, pikiran Brant sebenarnya berkecamuk hebat; baginya kelulusan bukan sekadar akhir masa kuliah, melainkan awal dari hitung mundur janji kepada ayahnya untuk pergi meninggalkan zona nyamannya. Sebuah kenyataan pahit yang membuatnya mengeratkan rangkulan pada Luca seolah ingin menahan waktu agar tidak bergerak menuju perpisahan yang kian nyata.

Malam itu, seolah ada keajaiban yang lahir dari doa-doa para jomlo yang merana, mereka semua pulang berpasangan. Takdir sepertinya sedang berpihak; Rose tampak sumringah bukan main saat naik ke boncengan motor sport Jack, Elena akhirnya satu mobil dengan Clay karena mereka tidak berhenti beradu argumen soal betapa menyebalkannya Vania, sementara Vin yang nggak bawa kendaraan malam itu. akhirnya pasrah berada satu mobil dengan Rey yang diam-diam bersikap tenang namun menghanyutkan.

Sementara ​itu Brant melajukan mobilnya membelah malam untuk mengantar Luca pulang. Saat mereka sampai di depan rumah Luca, suasana sudah gelap gulita. Jarum jam menunjukkan waktu sudah melewati pukul sebelas malam, di mana penghuni rumah biasanya sudah terlelap dalam mimpi.

​Luca baru saja hendak membuka pintu mobil, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Brant. Belum sempat Luca bertanya, Brant sudah lebih dulu menarik tengkuknya dan menyambar bibir Luca dengan posesif.

​Luca tersentak kaget, namun ia tidak menghindar. Ia tahu mereka berdua sama-sama butuh pelampiasan setelah melewati ketegangan seharian ini.

Ciuman yang awalnya terasa lembut dan penuh kerinduan itu perlahan berubah menjadi kasar dan menuntut. Suara napas yang memburu mulai memenuhi ruang kabin mobil yang sempit, beradu dengan bunyi kecipak basah yang semakin intens saat lidah mereka saling bertautan.

​Brant mengerang rendah di sela ciumannya, tangannya mulai bergerak liar, sementara Luca berusaha mengimbangi ritme Brant meskipun ia tidak pernah sejago kekasihnya itu. Saat Brant mulai turun, menciumi rahang Luca dengan lapar dan bersiap memberikan kissmark merah di leher jenjang itu, Luca tiba-tiba sedikit berteriak sambil mendorong bahu Brant.

​"Kak Brant! Kalau itu nanti ninggalin tanda gimana?!"

​Brant terhenti, napasnya masih tersengal berat di ceruk leher Luca. Mata Brant yang gelap karena gairah menatap Luca dengan bingung.

​"Aku harus bohong lagi bilang digigit nyamuk? Mama nggak akan percaya, Kak! Masa nyamuknya sebesar mulut Kak Brant?" Luca menjelaskan dengan nada manja sekaligus lucu, wajahnya merengut tulus.

​Detik itu juga, suhu panas di dalam mobil seolah anjlok drastis. Brant terdiam kaku. Rasa malu dan canggung mendadak menyerangnya saat menyadari satu hal.

​"Jadi... selama ini Mama kamu lihat kalau gue kasih bekas?" tanya Brant dengan suara serak yang kini terdengar sangsi.

​Luca mengangguk polos. "Iya! Kemarin Mama sampai bilang, 'Nyamuk di kamar kamu kok pinter banget ya, Ca, bikin tanda bulat sempurna gitu'. Aku malu tau!"

​Gairah yang tadi hampir membawa Brant ke puncak nafsu seketika padam total. Dia memijat pangkal hidungnya, merasa bodoh sekaligus malu setengah mati karena baru tahu kalau "jejak" perbuatannya selama ini menjadi bahan interogasi calon ibu mertuanya.

Brant hanya bisa membuang nafas pasrah memikirkannya."Sana masuk," gumam Brant pelan sambil mengacak rambut Luca untuk menutupi rasa malunya yang membuncah.

​Luca terkekeh, lalu mengecup pipi Brant singkat sebelum turun. Brant tetap diam di sana, memperhatikan Luca sampai pria itu menutup pagar rumah dengan aman, barulah ia melajukan mobilnya pulang dengan perasaan yang campur aduk—antara cinta, gairah yang tertahan, dan rasa malu yang luar biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!