NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:536
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Khawatir

Hanif mengobrol banyak dengan bapak dan kakek, yang ditengahi nenek dan juga mamah.

Pak Adam berdiri dengan kepalan tangannya.

"Saya gak akan pernah menjadi wali nikah Riyani!"

Pak Dayat selaku ayah memintanya untuk tenang.

"Kamu gak kasihan dengan anak gadis kamu? Hanif juga laki-laki yang baik, insyallah kalau Riyani dititip sama dia hidupnya bakal lebih baik. Kamu akan menghambat hidup Riyani kalau kayak gitu, Dam."

"Kita semua tau, bahkan Riyani sendiri sadar kalau kamu kesel sama dia karena gak mau mengikuti perkataan kamu. Tapi kamu juga harus pikirin sisi riyani, dia juga gak bakal kayak gini kalau masih bisa tahan dengan sikap kalian."

"Kita gak akan paksa kamu buat jadi wali dia, kalau kamu terus gak mau. Tapi jangan merasa tersinggung kalau Riyani menganggap ayahnya meninggal."

Mamah menggenggam tangan bapak. Seolah mulai luluh dan tidak memaksakan keadaan lagi.

"Udah, Pak. Jangan emosi terus. Hanif juga udah balik lagi buat minta restu, masa bapak mau terus keras kepala karena Neng gak mau nikah di sini."

Pak Adam sedikit luluh. Ia menghela napasnya lalu duduk kembali.

"Adam akan pikir-pikir lagi tentang jadi wali riyani nanti. Tapi Adam sama Sinta merestui dia untuk menikah dengan Hanif."

Hanif merasa lega. Begitupun dengan Kakek Dayat dan istrinya.

...----------------...

Sepulang dari rumah Pak Dimas, Hanif memilih untuk mampir lebih dulu. Sekalipun jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Ia hanya ingin memastikan Riyani dalam keadaan baik. Tapi Bi Wati berbicara bahwa dia tidak melihat Riyani keluar dari kamarnya semenjak kembali dari rumah sakit. Bahkan makanannya saja masih ada di depan pintu kamar—sudah dingin dan hampir kering.

Hanif menghela napasnya. Ia ketuk pelan pintu kamarnya itu.

Perlahan, suara decitan pintu terdengar. Riyani terlihat begitu berantakan—matanya sembab, rambut urakan, bahkan pakaiannya saja masih sama persis dengan apa yang dipakainya di rumah sakit.

"Saya boleh masuk?"

Tanpa menjawab pasti, Riyani membuka pintunya lebih lebar. Lebih mengejutkan bagi Hanif, saat melihat semua kamarnya itu berantakan.

Kamar yang lebih sering ia lihat begitu rapih, tersusun bahkan detail. Kini seperti sudah terkena bencana. Semua berserakan, seprei dan selimut saling menggulung, makeup dan skincare yang berjatuhan, pakaian yang sudah berada di bawah lemari, gorden yang hanya tertutup sebelah, bahkan lampu yang tidak dinyalakan—padahal Hanif tahu jika Riyani tidak bisa berada di dalam ruangan gelap apalagi saat tertidur, wanitanya akan selalu menyalakan lampu sekalipun redup.

Hanif duduk, bersimpuh di hadapan Riyani yang kini bersandar pada tempat tidurnya.

"Neng, ada apa?"

"Kan udah janji mau cerita sama Aa. Kenapa pake berantakin kamar begini? Ada sesuatu yang bikin kamu kesel?"

Riyani memeluk lututnya. Ia mulai menangis—tanpa suara sampai sesenggukan terdengar perih buat Hanif.

Hanif menggenggam tangannya. Lelaki itu berusaha menenangkan calon istrinya tanpa menyentuh yang berlebihan.

"A!?"

"Cobaan mau nikah berat banget ya?"

"Neng gak bisa ya hidup setenang orang lain?"

"Seumur hidup, hidup aku cuman buat orang ya A?"

"Aku gak berhak pilih jalan hidup aku sendiri?"

Hanif menggeleng.

"Kamu berhak atas hidup kamu."

"Kamu berhak memilih, kamu berhak bahagia dengan jalan yang kamu ambil."

"Tapi kenyataannya hidup aku punya orang lain."

Riyani terus menangis.

"Hidup kamu akan berubah, Aa gak akan buat kamu terkekang lagi. Setelah menikah nanti, kamu bisa pilih jalan hidup kamu, hidup yang kamu mau, serta hidup yang mau kamu jalani. Dengan syarat, Aa perlu tau apa yang kamu rencanakan," jelas Hanif, "Aa bakal selalu dukung kamu untuk terus menuju kebahagiaan."

"Dan satu lagi, kamu gak usah pikirkan lagi tentang menikah harus di rumah orang tua kamu. Kita jadi menikah di sini, bapak dan mamah udah kasih restu. Mereka bakal kasih kabar kalau bapak mau jadi wali kamu, kalau enggak, bakal diganti sama kakek," jelas Hanif.

Riyani menatap calon suaminya.

"Aa kapan temui mereka?"

"Tadi. Aa gak mau kayak gini terus, apalagi tanggal pernikahan kita juga semakin dekat. Aa gak mau ada beban lagi terutama di diri kamu," jawab Hanif.

"Dia gak apa-apain Aa kan?"

Hanif terkekeh. Ia mencubit pipi riyani gemas.

"Enggak, bapak udah lebih baik kok. Kan tadi juga datangnya sama kakek dan nenek."

"Tapi beneran mereka udah gak keberatan tentang pernikahan kita?"

Hanif menggeleng dengan senyumannya.

Riyani menatap sekitarnya. Sungguh berantakan, bahkan ia melihat cermin yang cukup besar itu—perihal dirinya yang kini terlihat begitu berantakan.

"Aa yakin mau jadikan aku istri, Aa?"

"Kok malah tanya begitu?"

"Aa gak jijik ngeliat aku begini? Berantakan, terus kayak orang gila begini,"

Hanif malah terkekeh mendengarnya.

"Enggak tuh. Aa juga pernah ada di posisi kamu, walaupun masalahnya beda tapi namanya manusia pasti pernah ada di fase ngerasa hancur."

"Yang dipastikan cuman bangkit lagi, bukan selamanya begini."

Riyani tersenyum.

"Ini aku habis ngelakuin apa ya, sampe dikasih yang melebihi permintaan aku sama Allah!"

Hanif terkekeh mendengarnya.

"Kamu ini."

"Udah ah. Kamu beresin dulu kamarnya, Aa mau hangatkan dulu makanan kamu ya. Habis itu makan terus minum obat," ucapnya beranjak dari kamar.

Riyani tersenyum melihat cermin besar di hadapannya. Ia membereskan kembali barang-barangnya, kembali rapih dan tersusun.

Wanita itu menyusul Hanif ke dapur. Sedangkan nenek dan kakek masih terlihat menonton di ruang tengah.

"Aa kenapa gak pulang aja? Ini udah malem."

Hanif menoleh.

"Kamu ngusir?"

Riyani terkekeh.

"Enggak. Cuman gak enak aja, Aa habis kerja masih bantuin aku begini."

"Gak apa-apa, calon istri. Aa insyaallah ikhlas."

Riyani tersenyum malu. Mendengar panggilan baru dari Hanif yang kini sibuk menghangatkan kembali makanan untuknya.

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, nenek dan kakek meminta Hanif untuk menginap saja. Apalagi ini sudah terlalu malam untuk pulang. Sekalipun, rumahnya memang tidak terlalu jauh.

"Gak apa-apa, Kek. Mau pulang aja. Hanif juga udah tenang ngeliat Riyani baik-baik aja, udah makan sama minum obat."

"Ya udah kalau gitu. Kamu hati-hati ya!" Hanif mengangguk.

Hanif menghela napasnya.

(Pasti cukup lama sih buat pulang sekarang. Soalnya banyak yang nobar juga)

Hanif tetap izin pulang tapi bukan ke rumahnya melainkan kembali ke rumah sakit dan tidur di sana.

...----------------...

Keesokan paginya, Hanif terbangun karena panggilan masuk pada ponselnya.

"Ehmm.... iya halo!"

(Abang dimana? Kok gak pulang?)

Hanif melihat nama kontaknya. Bu Nur yang menghubunginya.

"Maaf ibu! Abang semalem di rumah neng."

(HEH!! Ngapain? kan belum menikah)

"Gak ngapa-ngapain ibu. Cuman tenangin Neng aja, dia kalut semalem. Terus Abang juga gak tenang tinggalin dia."

(Terus sekarang kamu dimana?)

"Di rumah sakit. Semalem mau pulang tapi lebih dekat ke rumah sakit di banding ke rumah, makanya ke sini aja."

(Seyila ada di rumah sakit juga? Dia gak pulang juga semalem)

"HAH? Kemana dia?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!