NovelToon NovelToon
Romansa Malam Di Jogjakarta

Romansa Malam Di Jogjakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.

Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Siap! Kita lanjut ke Bab 3. Di bab ini, kedekatan mereka makin terasa tapi juga makin penuh

Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyelinap masuk lewat celah-celah jendela kamar Arya, namun pemuda itu sama sekali tidak merasakan hangatnya. Sepanjang malam, ia terjaga, matanya tak terlepas dari lembaran demi lembaran buku tua bersampul kulit yang ia pinjam kemarin.

Buku “Catatan Keluarga Kota Senja” itu ternyata memuat sejarah lengkap silsilah keluarga-keluarga berpengaruh di kota ini. Arya menemukan nama Wijaya di sana, tercatat sebagai keluarga pedagang terkaya pada masanya. Di sana tertulis nama: Hendrawan Wijaya dan istri, Sari Wijaya.

Jantung Arya berdegup kencang saat melihat foto hitam putih pasangan itu. Wanita di foto itu, Sari Wijaya, adalah wanita yang berdiri di samping ibunya di foto sepia yang ia temukan kemarin. Sahabat dekat ibunya. Dan jika hitungan tahun benar, maka Sari Wijaya adalah ibu kandung Naya.

"Tapi kenapa aku tidak pernah tahu?" gumam Arya, menutup buku itu kasar. "Ibu selalu bilang dia tidak punya keluarga, tidak punya teman dekat. Semuanya bohong?"

Ada rasa kecewa yang menusuk hati Arya. Selama ini ia pikir ia tahu segalanya tentang ibunya, ternyata wanita itu menyembunyikan seluruh hidupnya yang lain. Dan sekarang, anak dari keluarga Wijaya—keluarga yang entah bagaimana berkaitan dengan nasib buruk ayahnya dan hilangnya ibunya—berada tepat di hadapannya.

Tanpa pikir panjang, Arya kembali melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Instingnya bilang, jika ada satu tempat di mana ia bisa menemukan Naya, maka itu adalah tempat itu.

Benar saja. Saat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi, sosok gadis dengan rambut hitam panjang itu kembali terlihat, duduk di meja paling pojok, dekat jendela besar yang tertutup tirai tipis. Cahaya matahari menimpa separuh wajah Naya, membuat kulitnya tampak bersinar pucat. Di depannya, terbentang buku-buku tebal bertumpuk tinggi.

Arya menarik napas panjang, menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan. Ia berjalan mendekat, berusaha terlihat biasa saja, seolah pertemuan kemarin hanyalah sebuah kebetulan acak. Ia menarik kursi di seberang meja Naya, lalu duduk.

Naya tidak mendongak. Matanya masih terpaku pada barisan tulisan di buku di depannya, jarinya yang lentik mengikuti setiap kalimat. Namun, rahangnya sedikit mengeras. Ia sadar kehadiran Arya.

"Pagi," sapa Arya pelan, membuka percakapan.

Naya baru mengangkat wajahnya perlahan. Mata cokelat madunya menatap Arya lekat-lekat, tatapan itu tajam, waspada, seolah sedang memindai setiap inci wajah Arya, mencari niat jahat di sana.

"Kamu suka sekali ke sini ya?" jawab Naya balik, nada bicaranya datar, dingin, tanpa senyum sedikitpun. "Atau... kamu sengaja mencariku?"

Jantung Arya berdegup kencang. Gadis ini tajam, pikirnya.

"Aku memang sering ke sini. Ini tempat favoritku. Dan ternyata, kamu juga suka di sini. Mungkin kita punya selera yang sama," jawab Arya, berusaha tetap tenang dan tersenyum tipis. Ia sengaja tidak membahas foto atau keluarga Wijaya sekarang. Ia butuh waktu.

Naya mendengus pelan, lalu kembali menunduk ke bukunya. "Dunia ini luas, tapi tempat duduk terbatas. Kamu boleh duduk di situ, tapi jangan ganggu aku."

"Santai saja. Aku cuma mau baca buku," ujar Arya, lalu membuka bukunya sendiri.

Namun, Arya sama sekali tidak fokus membaca. Sepanjang waktu itu, matanya sesekali melirik diam-diam ke arah gadis di hadapannya. Ia mengamati gerak-gerik Naya. Ada kesedihan mendalam di mata gadis itu, meski ia berusaha menutupinya dengan sikap dingin dan ketus. Ada kantung mata samar di bawah matanya, seolah ia juga sering terjaga di malam hari, sama seperti Arya. Dan sesekali, saat Naya menghela napas panjang, terlihat betapa berat beban yang sedang ia pikul.

"Kamu kuliah di mana?" tanya Arya lagi, mencoba memancing obrolan. Ia butuh informasi, dan satu-satunya cara adalah membuat gadis itu bicara.

Naya berhenti menulis catatan kecil di kertasnya. Ia mendongak, menatap Arya dengan tatapan menantang.

"Kenapa kamu terlalu banyak tanya? Kita kan bukan teman," ucapnya tajam. "Kemarin kita baru saja bertemu, hari ini kamu sudah bertanya ini itu. Kebiasaan buruk."

"Maaf. Aku cuma merasa... kita pernah bertemu sebelumnya. Entah di mana. Rasanya akrab," ujar Arya, memutuskan untuk sedikit jujur, namun masih menyembunyikan fakta utamanya.

Wajah Naya berubah pucat seketika. Tangannya yang memegang pulpen mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Seketika itu juga, aura dingin di sekelilingnya berubah menjadi ketakutan.

"Jangan bicara ngawur!" bisik Naya dengan suara bergetar, matanya melirik kanan-kiri dengan panik, seolah takut ada orang lain yang mendengar. "Aku tidak kenal kamu. Dan aku tidak mau kenal kamu. Sebaiknya kamu... kamu menjauh dariku, Arya."

Naya menyebut namanya. Itu pertama kalinya Naya menyebut namanya, tapi bukan dengan nada manis, melainkan penuh peringatan, bahkan sedikit ancaman.

"Kenapa?" tanya Arya, membungkukkan badannya sedikit mendekat, suaranya rendah. "Kenapa aku harus menjauh? Kamu takut sama aku? Atau kamu takut kalau aku tahu rahasiamu?"

Mata Naya membelalak. Wajahnya kini bercampur antara marah dan takut. Ia langsung menutup bukunya dengan kasar, menimbulkan bunyi BRAK! yang cukup keras hingga beberapa pengunjung lain menoleh kaget ke arah mereka.

"Kamu orang aneh!" desis Naya. Ia buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, tangannya gemetar. "Jangan pernah dekati aku lagi. Kalau kamu pintar, lupakan saja pernah melihat wajahku!"

Dengan langkah terburu-buru dan sedikit terhuyung, Naya berlari meninggalkan meja itu, meninggalkan Arya yang masih duduk terpaku. Ia melihat punggung Naya yang menghilang di balik pintu keluar, sosoknya tampak sedang melarikan diri dari sesuatu.

Arya bersandar lemas di sandaran kursi, menatap pintu yang baru saja ditutup rapat itu.

"Dia takut..." gumam Arya pelan. "Dia bukan sekadar dingin. Dia sedang bersembunyi. Dia tahu sesuatu. Dan dia sangat takut aku akan mengungkapnya."

Semakin Naya menjauh dan bersikap kasar, semakin Arya yakin bahwa gadis itu adalah kunci utama. Peringatan Naya tadi bukannya membuat Arya mundur, malah memicu semangatnya berkali-kali lipat.

Lupakan saja pernah melihat wajahku? batin Arya menirukan kata-kata Naya sambil tersenyum miring yang penuh tekad.

"Maaf, Naya. Tapi sekarang setelah aku melihatmu, mengetahui siapa namamu, dan tahu dari keluarga mana asalmu... mustahil bagiku untuk melupakanmu. Justru sekarang, aku takkan pernah melepaskanmu."

Arya berdiri, mengambil tasnya. Ia tahu, cara halus tidak akan berhasil dengan gadis setegar batu karang seperti Naya. Ia harus mencari celah lain. Dan firasatnya mengatakan, takdir akan segera mempertemukan mereka lagi, dalam situasi yang jauh lebih dekat dan tak terhindarkan.

Dan firasat Arya benar. Karena hari itu juga, sore harinya, takdir kembali memainkan perannya. Hujan turun lagi, persis seperti hari pertama mereka bertemu. Dan di tengah derasnya air hujan itu, Arya melihat skuter merah marun Naya terparkir miring di pinggir jalan, sementara sang pemilik sedang duduk di trotoar, memegangi pergelangan kakinya yang terkilir, dengan wajah kesakitan dan basah kuyup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!