Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Sinar matahari sore yang mulai miring menembus celah-celah blind jendela besar di lantai eksekutif, menciptakan garis-garis cahaya keemasan yang menari di atas meja marmer. Di dalam ruangan luas itu, suasana terasa begitu produktif namun intim. Bunyi keyboard yang dipacu dengan kecepatan tinggi menjadi melodi latar, berasal dari sudut ruangan tempat Arunika duduk. Ia sedang bergelut dengan tumpukan laporan bulanan, matanya bergerak lincah antara kertas dokumen dan layar monitor.
Tepat saat ia hendak menekan tombol save, ponselnya yang diletakkan di atas meja bergetar hebat, berputar kecil di atas permukaan kayu hingga mengeluarkan bunyi dengung yang memecah konsentrasi.
Arunika melirik layar. Nama "Mama" terkedip di sana.
"Ya, halo, Ma?" jawab Arunika cepat. Ia menjepit ponsel tipis itu di antara telinga dan bahunya, membiarkan tangannya tetap bekerja menyelesaikan satu paragraf terakhir.
"Nika, kamu sama Thomas apa kabarnya? Sibuk banget ya sampai lupa jalan pulang ke rumah Mama?" Suara Mama terdengar manja di seberang sana, namun ada nada kerinduan yang tak bisa disembunyikan.
Arunika meringis kecil, ia melirik sekilas ke arah Thomas yang duduk di meja besarnya di seberang ruangan. "Maaf ya, Ma. Akhir-akhir ini emang lagi banyak kerjaan di kantor. Mas Thomas juga jadwalnya padat banget, banyak proyek akhir tahun yang harus diselesaikan."
"Pokoknya Mama nggak mau tahu, malam ini kalian berdua harus makan malam di rumah. Papa juga sudah bolak-balik tanya soal kalian. Kalian ini sejak resmi nikah belum pernah sekali pun mampir buat makan bareng yang santai. Masa harus nunggu lebaran baru mau injak rumah orang tua sendiri?"
Arunika tertawa kecil, hatinya sedikit tersentuh. Ia tahu mamanya hanya sedang rindu. "Iya, Ma, iya. Nanti aku bilang sama Mas Thomas ya. Insya Allah malam ini kami ke sana kalau urusan kantor sudah bisa ditinggal."
"Harus ya! Mama masak rendang kesukaan Thomas dan sambal goreng ati buat kamu. Mama masak banyak, jadi no excuse! Jam tujuh Mama tunggu!"
Begitu sambungan telepon terputus dengan bunyi klik, Arunika menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah suaminya. Thomas tampak sangat serius, matanya terpaku pada layar monitor dengan kacamata baca berbingkai tipis yang membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih berwibawa dan... seksi. Namun, Arunika tahu, di balik wajah kaku itu, Thomas adalah pendengar yang sangat tajam.
"Mas..." panggil Arunika dengan nada paling lembut yang ia punya, mencoba merayu.
"Makan malam di rumah Mama kamu?" Thomas langsung menyahut bahkan sebelum Arunika sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia memutar kursi kerjanya yang mewah, menanggalkan kacamata bacanya dengan gerakan elegan yang sangat maskulin.
Arunika melongo kecil. "Kok tahu?"
"Suara Mama kamu cukup melengking sampai ke sini, Nika. Ruangan ini memang kedap suara dari luar, tapi tidak dari suara mertua yang sedang rindu," canda Thomas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang jarang ia tunjukkan pada staf lain.
Thomas berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut karena seharian duduk. Ia berjalan mendekat ke arah meja Arunika, lalu duduk di pinggiran meja istrinya dengan gaya yang sangat santai namun tetap terlihat seperti bos besar.
"Siapkan barang-barangmu sekarang. Selesaikan yang paling penting saja, sisanya biarkan Ardi yang mengurus besok pagi," perintah Thomas sambil melirik jam tangan Rolex-nya. "Kita berangkat satu jam lagi supaya tidak terkena macet parah di jalur selatan. Aku tidak mau mertuaku menunggu terlalu lama dan menganggap aku menantu yang tidak tahu waktu."
Arunika tersenyum lebar, ia merasa sangat dihargai karena Thomas tidak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakan ajakan keluarganya. "Makasih ya, Mas. Aku kira Mas bakal nolak karena masih banyak berkas."
Thomas mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Arunika dengan gerakan protektif. "Pekerjaan tidak akan pernah habis, Nika. Tapi menyenangkan hati ibu mertua adalah investasi jangka panjang yang paling penting."
Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Arunika, menatap mata istrinya dengan intensitas yang mendadak berubah menjadi hangat. "Lagi pula, aku juga butuh istirahat dari angka-angka ini. Melihatmu makan masakan Mama dengan lahap jauh lebih menarik daripada melihat grafik saham."
"Ih, Mas Thomas mulai deh!" Arunika tersipu, buru-buru mematikan laptopnya sebelum wajahnya semakin memerah.
"Ayo, cepat. Kalau kamu lama berdandan lagi, kita bisa sampai di sana saat rendangnya sudah habis dimakan kucing," goda Thomas sambil berjalan kembali ke mejanya untuk mengambil kunci mobil.
Arunika tertawa lepas. Semangatnya kembali penuh. Sore yang melelahkan itu mendadak terasa ringan hanya karena sebuah undangan makan malam sederhana dan respon manis dari suaminya yang terkadang dingin, namun selalu tahu cara menempatkan prioritas. Mereka segera bersiap, meninggalkan ruang kantor yang sunyi menuju sebuah malam yang ternyata akan menyimpan kejutan yang tidak terduga di meja makan nanti.
Sesampainya di rumah orang tua Arunika, aroma sambal goreng dan rendang langsung menyapa indra penciuman mereka. Namun, kegembiraan Arunika sedikit luntur saat ia melihat sebuah mobil yang sangat familiar terparkir di halaman.
Begitu masuk ke ruang makan, jantung Arunika hampir berhenti. Di sana, duduk di sebelah Papanya, adalah Marcell. Pria itu tampak tenang, mengenakan kemeja kasual, sedang berbincang ringan seolah dia adalah bagian dari keluarga ini.
"Lho, Thomas, Arunika! Sini, duduk," seru Papanya Arunika dengan hangat.
Thomas merasakan tubuhnya menegang sesaat, namun ia segera menguasai diri. Genggamannya di tangan Arunika mengerat, memberikan kekuatan.
"Marcell? Kamu... kok bisa di sini?" tanya Arunika, suaranya mengandung nada tidak percaya.
Marcell mendongak, tersenyum tipis—jenis senyum yang tidak lagi agresif seperti biasanya. "Halo, Nik. Halo, Mas Thomas. Kebetulan tadi aku ada urusan di dekat sini, terus mampir sebentar buat anterin titipan Mama untuk Mama kamu. Eh, malah diajak makan malam bareng."
Thomas menarik kursi untuk Arunika dengan gerakan protektif sebelum ia duduk di sampingnya. "Ternyata kamu cukup rajin 'bertamu' ke rumah orang ya, Cell," sindir Thomas halus, namun tatapannya tajam.
Marcell hanya mengangguk tenang, tidak terpancing emosi seperti biasanya. "Hanya menjaga silaturahmi, Mas."
Suasana meja makan terasa agak canggung, namun Mama Arunika berusaha mencairkan suasana dengan terus menyodorkan makanan. Thomas, entah karena merasa terancam dengan kehadiran Marcell atau memang ingin menunjukkan dominasinya, tiba-tiba bertingkah sangat berbeda.
"Nika, rendangnya kelihatan enak," ujar Thomas sambil menatap potongan daging di piring Arunika.
"Iya, Mas. Mau aku ambilkan?"
Thomas menggeleng. Ia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Arunika, tatapannya melembut namun penuh maksud. "Sayang, suapin dong," rengek Thomas dengan nada manja yang dibuat-buat, cukup keras untuk didengar semua orang di meja itu.
Arunika tersedak air yang baru saja diminumnya. Ia menatap Thomas dengan mata membelalak. "Mas... malu ih! Ada Mama, Papa, sama... ada tamu juga. Sudah tua juga masa minta suapin?" bisik Arunika sambil melirik Marcell yang kini tampak sibuk dengan nasinya.
"Memangnya kenapa kalau sudah tua? Kan sama istri sendiri," balas Thomas tanpa rasa malu. Ia tetap membuka mulutnya sedikit, menanti suapan istrinya.
Mama Arunika hanya bisa tersenyum simpul melihat kemesraan menantunya. "Duh, Papa... liat tuh menantu kamu. Manjanya nggak ketulungan kalau sama Nika."
Papa Arunika tertawa. "Biarin, Ma. Namanya juga pengantin baru, dunianya emang milik berdua."
Arunika yang merasa terpojok akhirnya menyerah. Dengan wajah semerah kepiting rebus, ia menusuk sepotong daging kecil dan menyuapkannya ke mulut Thomas. Thomas menerima suapan itu dengan penuh kemenangan, matanya melirik sekilas ke arah Marcell yang tangannya tampak sedikit mengepal di bawah meja.
"Gimana, Mas? Enak?" tanya Arunika ketus karena malu.
"Sangat enak. Apalagi kalau disuapin kamu terus sampai kenyang," sahut Thomas santai.
Marcell akhirnya berdehem, ia meletakkan sendoknya. "Sepertinya Mas Thomas dan Nika makin serasi ya. Syukurlah kalau kalian bahagia."
Thomas menatap Marcell dengan pandangan datar. "Tentu kami bahagia, Marcell. Kebahagiaan itu akan semakin sempurna kalau tidak ada gangguan dari luar yang mencoba masuk kembali ke kehidupan kami."
Kalimat itu telak menghujam Marcell. Pria itu terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. "Aku mengerti, Mas. Tenang saja, kedatanganku ke sini murni hanya untuk silaturahmi antar keluarga."
Makan malam berlanjut dengan obrolan ringan antara orang tua Arunika dan Thomas, sementara Marcell lebih banyak diam dan mendengarkan. Thomas tidak melepaskan tangannya dari pinggang Arunika di bawah meja, seolah menegaskan bahwa wilayah itu adalah kekuasaannya yang mutlak.
Setelah makan malam selesai dan Marcell pamit pulang lebih dulu, barulah Arunika bisa bernapas lega. Saat mereka sedang berpamitan di teras rumah, Arunika langsung menyenggol lengan Thomas.
"Mas Thomas tadi sengaja ya?" tuduh Arunika.
"Sengaja apa?" tanya Thomas pura-pura polos.
"Manja-manjaan tadi! Pake minta suapin segala. Malu tahu, Mas!"
Thomas menarik Arunika ke dalam pelukannya di bawah sinar lampu teras. "Aku hanya tidak suka melihat dia duduk tenang di sana seolah dia punya tempat di hati keluargamu. Aku harus menunjukkan padanya siapa pemenangnya, Nika."
Arunika menghela napas, ia menyandarkan kepalanya di dada Thomas. "Mas, tanpa Mas minta suapin pun, dia sudah tahu kalau dia kalah. Jangan sering-sering ya, aku beneran malu tadi."
Thomas terkekeh, ia mencium kening Arunika. "Tidak janji. Tapi kalau kita sudah di rumah nanti, gantian kamu yang manja sama aku, ya?"
"Mas Thomas!"
Malam itu berakhir dengan kelegaan. Meskipun Marcell datang dengan kedamaian yang tak terduga, Thomas telah memasang pagar tinggi di sekeliling Arunika. Baginya, tidak ada ruang sedikit pun bagi siapa pun untuk mengusik ketenangan rumah tangganya, apalagi seseorang dari masa lalu istrinya.
Saat mobil mereka melaju meninggalkan rumah orang tua Arunika, Thomas menggenggam tangan istrinya erat-erat, merasa puas karena misi "perlindungan" wilayahnya malam itu berhasil dengan sempurna.
mending nikah kontrak la ngangkang gratisan gimana ceritanya
untuk pelajaran orang tua zaman now terkadang sering masalah harga diri yg dipikirkan tapi kondisi anak nggak dipikirkan ditanya kek duduk bareng itulah yg terjadi pada orang tua zaman now anak tidak menganggap orang tua rumahnya tempat berkeluh kesah akhirnya banyak perbuatan yg membuat malu keluarga terjadi saat ketahuan sudah tidak bisa diperbaiki lagi