Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Suasana kamar utama kediaman Alexander terasa begitu tenang sore itu. Setelah disambut hangat oleh Eyang Arka dan si kembar di lantai bawah, Nada akhirnya diantarkan ke kamar untuk beristirahat total. Tubuhnya kini bersandar nyaman pada deretan bantal empuk, sementara selimut tebal menutupi sepasang kakinya.
Ketika keheningan mulai merayap di dalam ruangan, senyuman manis dan raut wajah rapuh yang sedari tadi Nada tunjukkan di depan ibu mertuanya perlahan memudar. Ekspresi wajahnya berubah drastis menjadi sedingin es. Sepasang mata sayunya kini berkilat tajam, memancarkan aura kelam yang sarat akan dendam yang mendalam.
Nada menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan taman belakang. Tangannya bergerak menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantungnya yang normal. Di dalam keheningan itu, hatinya mulai berbicara dengan suara yang penuh dengan racun kemenangan.
‘Catalina...’ batin Nada, menyebut nama wanita itu dengan penekanan yang teramat sinis di dalam benaknya. ‘Lihatlah pria yang sangat kau agung-agungkan itu. Kelvin Alexander yang kau cintai, sekarang sudah mulai bertekuk lutut dan jatuh ke dalam jeratanku. Dia mengkhawatirkanku, dia menyuapiku, bahkan dia menggenggam tanganku seolah aku adalah dunianya.’
Sudut bibir Nada terangkat, membentuk sebuah senyuman miring yang terlihat begitu mengerikan namun teramat cantik.
‘Dan saat dirimu nanti kembali ke dalam hidupnya... kita lihat saja bagaimana jalannya permainan ini. Aku akan memastikan kau melihat pria ini mengabaikanmu demi diriku. Aku akan menghancurkan hidupmu dan hidup Kelvin perlahan demi perlahan, helai demi helai, sampai tidak ada lagi yang tersisa dari kebahagiaan kalian berdua. Rasa sakit yang kurasakan dulu, akan kukembalikan seratus kali lipat pada kalian.’
Cklek.
Suara putaran gagang pintu seketika membuyarkan lamunan gelap Nada. Dalam kedipan mata, ekspresi dingin dan penuh dendam di wajahnya lenyap tanpa bekas, berganti dengan raut wajah yang polos, lembut, dan tampak sedikit lelah.
Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Kelvin yang melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan kemeja kerjanya, kini hanya mengenakan kaus rumahan berwarna abu-abu gelap yang melekat pas di tubuh tegapnya. Langkah kakinya terdengar tegas, namun ada kecanggungan yang sangat kentara dari bahasa tubuhnya. Gengsi dan ego tingginya yang sempat luruh di rumah sakit kini sengaja ia pasang kembali sebagai tameng pelindung.
Kelvin berjalan mendekati meja nakas, meletakkan segelas susu hangat di sana dengan gerakan yang kaku, lalu berdiri tegak sembari melipat kedua tangannya di dada. Ia menatap Nada dengan pandangan mata yang sengaja dibuat dingin dan acuh tak acuh.
"Ini susu hangat dari Mama. Mama menyuruhku memastikan kau meminumnya sampai habis," ucap Kelvin, nadanya terdengar ketus dan datar, seolah-olah ia melakukan ini murni hanya karena perintah ibunya, bukan karena keinginannya sendiri. "Jangan merajuk lagi seperti di rumah sakit. Cepat minum."
Melihat suaminya yang kembali bersembunyi di balik topeng kesombongan dan gengsi yang setinggi langit, rasa gemas seketika menggelitik benak Nada. Taktik menggoda yang menjadi senjata andalannya pun langsung ia siapkan.
Nada tidak menyentuh gelas susu itu. Sebaliknya, ia justru memajukan tubuhnya, merayap perlahan di atas kasur hingga jarak di antara mereka mengikis habis. Nada mendongak, menatap lurus ke dalam netra hitam Kelvin dengan pandangan mata yang sayu, manja, dan sarat akan rayuan yang mematikan.
"Aku akan meminumnya sampai habis, Mas... tapi dengan satu syarat," bisik Nada, suaranya terdengar begitu merdu dan berembus hangat di dekat pinggang Kelvin.
Nada mengulurkan tangan kirinya, dengan berani menyentuh ujung jemari kaku Kelvin, lalu mengusapnya perlahan naik ke pergelangan tangan pria itu. "Kau harus duduk di sini, di sampingku, dan memelukku sampai aku tertidur. Kamar ini mendadak terasa sangat dingin semenjak kita pulang dari rumah sakit... atau mungkin, sebenarnya tubuhku hanya sedang merindukan pelukan hangat dari suamiku yang tampan ini? Bagaimana, Mas?"