"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Meninggalkan Desa, Menjadi Bayangan di Malam Hari
Fajar mulai menyingsing, namun tidak ada cahaya yang mampu menembus kegelapan yang menyelimuti hati Li Yao. Ia berdiri di atas bukit tinggi yang menghadap ke desa tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.
Desa itu terlihat begitu damai, begitu sederhana. Asap tipis mulai mengepul dari cerobong-cerobong rumah, pertanda para warga mulai bangun dan memulai hari mereka yang biasa. Tidak ada yang tahu tragedi mengerikan yang baru saja terjadi di pinggiran hutan mereka. Tidak ada yang tahu bahwa anak desa yang dulu ceria kini telah berubah menjadi monster.
Li Yao menarik napas panjang, mencium bau tanah desa yang familiar. Bau ini adalah bau masa kecilnya, bau saat ia masih menjadi Li Yao yang polos.
"Selamat tinggal... desa ku..." bisiknya pelan, suaranya bergetar sedikit. Ada rasa rindu yang aneh, tapi ia tahu ia tidak bisa kembali.
"Siapa yang ada di sana?!"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah. Itu adalah Pak Tua penjaga gerbang desa, orang yang sudah mengenal Li Yao sejak ia masih bayi. Pak Tua itu memicingkan mata melihat sosok tinggi besar yang berdiri di atas bukit.
"Itu... Li Yao? Anak Li Yao?!" seru Pak Tua kaget. "Wahai anak muda! Kenapa kau berdiri di sana sendirian? Dan kenapa penampilanmu begitu mengerikan? Kau baru saja keluar dari neraka?"
Li Yao menunduk menatap orang tua itu. Ia ingin tersenyum, ingin menyapa seperti biasa, tapi otot wajahnya terasa kaku. Yang muncul hanyalah senyum tipis yang datar.
"Aku memang baru saja keluar dari neraka, Pak..." jawabnya lirih, namun dengan teknik mengatur napas, suaranya bisa terdengar jelas sampai ke bawah.
"Dasar anak aneh, cepat turun! Ibumu pasti sedang mencarimu! Atau kau sedang pergi ke hutan lagi bersama gadis cantik itu?" tanya Pak Tua dengan nada bercanda, tidak tahu apa-apa.
Sebutan 'gadis cantik itu' bagaikan pisau yang menusuk jantung Li Yao. Namun ia menahannya dengan kuat.
"Gadis itu... sudah tidak ada. Dia sudah pulang ke kayangnya," jawab Li Yao pelan.
"Hah? Maksudmu?" Pak Tua bingung.
"Aku juga akan pergi, Pak. Aku tidak akan tinggal di sini lagi."
"Pergi? Mau ke mana kau pergi?! Desa ini rumahmu! Kerabatmu ada di sini! Tanah warisanmu ada di sini!" seru Pak Tua semakin bingung dan cemas melihat perubahan pada pemuda itu. Mata Li Yao kini terlalu dingin, terlalu gelap.
"Rumah ini sudah hancur, Pak. Tidak ada lagi tempat untukku di sini," jawab Li Yao tegas. "Dunia ini luas, dan aku harus pergi ke sana. Aku harus menjadi kuat. Sangat kuat. Lebih kuat dari siapa pun."
"Kau bicara macam apa ini? Kau sakit jiwa ya?"
"Tolong sampaikan pada semua orang... terima kasih untuk segalanya," Li Yao mengangkat tangannya sedikit, memberi hormat terakhir kali. "Dan tolong... lupakan nama Li Yao. Orang yang kalian kenal sudah mati di hutan itu."
"Hei! Jangan bicara ngawur! Cepat turun kau ini!!" Pak Tua mulai panik, ia mencoba memanjat bukit itu.
Namun saat ia mendongak lagi... sosok Li Yao sudah tidak ada.
Wush!
Hanya ada angin yang berhembus. Li Yao melesat pergi dengan kecepatan yang luar biasa, meninggalkan bayangan samar di udara. Ia tidak lagi berjalan seperti manusia biasa, ia bergerak seperti asap, seperti bayangan.
Sejak hari itu, kehidupan Li Yao berubah total.
Ia tidak lagi berjalan di bawah terik matahari. Ia tidak lagi tinggal di tempat yang nyaman. Ia memilih untuk hidup di tempat-tempat yang gelap, gua-gua terpencil, atau di bawah jembatan.
Siang hari, ia tidur atau bermeditasi mengolah energi yang gelap dan pekat.
Malam hari, ia bangun. Ia menjadi hantu yang berkeliaran. Ia berburu hewan buas untuk latihan, ia merampok penjahat untuk mendapatkan uang dan informasi, dan ia membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya atau mencoba menyakiti orang tak bersalah dengan cara yang kejam.
Warga desa di sekitar sana lama-kelamaan mulai menyebarkan cerita seram.
"Pernah dengar? Ada hantu tinggi besar di hutan. Matanya merah kalau malam. Dia tidak bicara, dia hanya membunuh dan pergi."
"Orang bilang itu iblis yang mengambil alih tubuh manusia."
Li Yao mendengar desas-desus itu saat ia bersembunyi di atas dahan pohon. Ia hanya tersenyum miring di balik kerudung hitam yang menutupi sebagian wajahnya.
Iblis?
Ya. Aku memang iblis.
Aku telah meninggalkan kehidupan manusiamu, meninggalkan desa, dan meninggalkan cahaya. Mulai sekarang, aku hanyalah bayangan di malam hari, yang hadir hanya untuk membawa kematian bagi orang-orang yang bersalah.
"Dengarkan baik-baik, dunia..." bisiknya di tengah kegelapan malam. "Siapkanlah kuburanmu. Karena Iblis telah bangkit dan sedang berjalan menuju kalian."