NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Mobil SUV hitam itu akhirnya berhenti sempurna di depan lobi kediaman Widjaja. Aroma melati dari taman dan udara sore yang mulai mendingin menyambut kepulangan sang putri kedua. Sebuah kantong plastik berisi beberapa cup es krim premium berada di genggaman Aurora, namun fokusnya sama sekali bukan pada kudapan dingin itu.

"Ayo, Ra. Es krim kamu harus segera dimakan, nanti keburu cair jadi susu," ucap Anggara sambil melangkah turun dan merapikan jasnya.

Melati dan Haura sudah lebih dulu keluar. "Iya, Kak. Ayo masuk, aku udah nggak sabar mau nyobain yang rasa pistachio," seru Haura sambil melambaikan tangan dari pintu utama.

Aurora tidak langsung bergerak. Ia melirik Langit yang sedang membukakan pintu mobil untuknya, lalu matanya beralih ke arah ayahnya. "Bentar, Pa. Eeemm... aku ada urusan sebentar sama Pak Bambang. Soal... itu, soal motor aku yang kemarin lecet pas aku jatuh. Papa, Mama, sama Haura masuk dulu aja. Nanti aku nyusul."

Anggara memicingkan mata sejenak, namun karena melihat wajah ceria putrinya yang baru sembuh, ia hanya mengangguk. "Jangan kelamaan. Masuk sebelum maghrib."

"Siap, Bos!"

Begitu punggung Anggara, Melati, dan Haura menghilang di balik pintu jati besar yang tertutup rapat, suasana lobi mendadak sunyi. Hanya ada suara jangkrik dari arah taman dan deru mesin mobil yang baru saja dimatikan oleh sopir.

Aurora segera berbalik ke arah Langit dengan senyum lebar yang terlihat nakal. Ia melangkah mendekat, mengabaikan jarak aman protokol yang biasanya dijaga ketat oleh sang ajudan.

"Mas Langit," panggil Aurora dengan suara yang sengaja direndahkan, terdengar manja sekaligus menggoda.

Langit berdiri kaku, tangannya tertaut di depan. "Ya, Non? Urusan apa yang ingin Non bicarakan dengan Pak Bambang? Beliau ada di pos samping."

"Nggak ada urusan sama Pak Bambang," bisik Aurora sambil menarik dasi Langit dengan satu jari, memaksa pria itu untuk sedikit merunduk. "Itu cuma alasan biar aku bisa berduaan sama Mas sebentar. Mas tahu nggak? Seminggu di rumah sakit itu rasanya kayak dipenjara seumur hidup."

"Non, ini di depan rumah. Bapak bisa saja keluar sewaktu-waktu," Langit memperingatkan, meski ia sendiri mulai merasa sesak napas karena jarak mereka yang kini hanya terpaut belasan sentimeter.

"Papa lagi mandi. Mas nggak kangen sama aku? Seminggu cuma bisa liat-liatan dari balik pintu?" Aurora melangkah lebih dekat, masuk ke dalam ruang pribadi Langit. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin Langit yang bercampur dengan bau matahari sore—khas dan memabukkan.

Langit menelan ludah. Matanya menatap bibir Aurora yang kini melengkung membentuk senyum kemenangan. "Saya... saya selalu menjalankan tugas saya, Non."

"Halah, tugas terus!" Aurora mendengus. Ia meletakkan kantong es krimnya di atas kap mobil yang masih hangat, lalu kedua tangannya dengan berani merambat naik ke bahu tegap Langit, melingkar di lehernya. "Sekali-kali, lupain kalau Mas itu ajudan. Liat aku sebagai Aurora."

"Aurora..." suara Langit melemah. Pertahanannya yang sekeras baja itu mulai retak. Tatapan mata Aurora yang penuh binar dan aroma rambutnya yang wangi membuat Langit kehilangan fokus.

Aurora berjinjit, mendekatkan wajahnya. Hembusan napasnya terasa di permukaan kulit Langit. "Mas, aku udah sembuh. Dan aku mau hadiah karena udah jadi pasien yang penurut."

"Hadiah apa?" bisik Langit parau.

"Ini."

Tanpa menunggu jawaban, Aurora menarik tengkuk Langit dan mendaratkan bibirnya di atas bibir pria itu. Awalnya hanya sentuhan singkat yang ragu, namun rasa rindu yang tertahan selama seminggu terakhir meledak seketika. Langit, yang awalnya terkejut, akhirnya menyerah pada gejolak di dadanya. Tangannya yang tadinya kaku di samping tubuh, kini bergerak melingkar di pinggang ramping Aurora, menarik gadis itu lebih rapat ke pelukannya.

Ciuman itu menjadi lebih dalam, penuh dengan rasa ingin memiliki yang selama ini terhalang oleh kata 'kasta' dan 'protokol'. Di balik pilar besar lobi rumah mewah itu, mereka seolah menciptakan dunia mereka sendiri, di mana tidak ada anggota DPR, tidak ada ajudan, hanya ada dua hati yang saling mendamba.

Namun, dunia nyata tidak pernah benar-benar menghilang.

"ASTAGA NAGA BONAR!"

Sebuah pekikan keras yang disusul suara benda jatuh terdengar dari arah samping lobi.

Aurora dan Langit langsung melepaskan tautan mereka dengan gerakan secepat kilat. Langit bahkan hampir terjengkang ke belakang karena kaget, sementara Aurora buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Di sana, hanya beberapa meter dari mereka, berdiri Pak Bambang dengan mulut menganga lebar. Di bawah kakinya, sebuah senter besar tergeletak di lantai, sepertinya jatuh karena sang pemilik terlalu kaget.

"Pak... Pak Bambang?" Aurora terbata, wajahnya kini merah padam, lebih merah dari cup es krim stroberi di sampingnya.

Langit langsung kembali ke posisi tegak sempurna, meski napasnya masih tersengal dan wajahnya menunjukkan ekspresi antara panik dan malu yang luar biasa. "Pak Bambang, ini... ini tidak seperti yang Bapak lihat."

Pak Bambang mengucek matanya berkali-kali, lalu menatap Langit dan Aurora bergantian. "Tidak seperti yang saya lihat gimana, Ngit? Jelas-jelas tadi kalian lagi... lagi... adu kumis begitu!"

"Pak Bam! Jangan kencang-kencang suaranya!" desis Aurora sambil menghampiri Pak Bambang dan menarik tangan pria tua itu. "Pak Bam sayang, Pak Bam kan tim sukses aku... Jangan bilang-bilang Papa ya? Plissss..."

Pak Bambang menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Langit dengan tatapan 'kecewa tapi bangga'. "Duh, Langit, Langit... Saya suruh kamu jagain Non Aurora, bukan malah 'dimakan' begini di depan lobi. Kalau Bapak keluar tadi, habis kamu jadi perkedel!"

Langit menunduk dalam, benar-benar kehilangan wibawa ajudannya di depan seniornya itu. "Mohon maaf, Pak. Saya khilaf."

"Khilafnya enak ya, Ngit?" ledek Pak Bambang, mulai kembali ke mode jahilnya setelah rasa kagetnya hilang. "Tapi beneran, Non Aurora, Mas Langit... Ini bahaya banget. Untung saya yang lewat, kalau Bintang yang liat, besok satu paviliun bisa hajatan."

"Makanya, Pak Bam... Rahasia ya? Aku janji bakal beliin Bapak kopi paling enak sebulan penuh!" rayu Aurora.

Pak Bambang menghela napas, lalu memungut senternya. Ia melirik Langit yang masih tampak sangat salah tingkah. "Ya sudah, ya sudah. Rahasia aman sama saya. Tapi tolong, kalau mau 'latihan' jangan di lobi. Di taman belakang kek, atau di mana gitu yang nggak kelihatan CCTV."

"PAK BAMBANG!" seru Aurora dan Langit bersamaan.

"Hahaha! Sudah, masuk sana, Non. Es krimnya beneran cair nanti. Langit, kamu ikut saya ke pos. Kita perlu 'sidang' kecil-kecilan biar jantung saya nggak copot lagi," ujar Pak Bambang sambil berjalan menjauh sambil terkekeh-kekeh sendiri.

Aurora menatap Langit yang masih terlihat seperti ingin menghilang dari muka bumi. Ia menyentuh lengan Langit pelan. "Mas, jangan tegang gitu mukanya. Pak Bam orang baik kok."

Langit menatap Aurora, lalu menghela napas panjang. "Non, Anda benar-benar hampir membuat saya jantungan."

"Tapi Mas suka kan hadiahnya?" goda Aurora sambil mengedipkan sebelah matanya.

Langit tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan senyum tipis—senyum yang penuh dengan arti—sebelum berjalan membuntuti Pak Bambang ke arah pos.

Aurora mengambil kantong es krimnya, masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan dan hati yang berbunga-bunga. Meskipun hampir ketahuan, bagi Aurora, rasa manis es krim itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa manis dari ciuman pertamanya dengan sang ajudan kaku di bawah langit sore kediaman Widjaja.

***

Boleh tinggalin like+komen ngga 🥹 biar aku tau kalo ada yang baca cerita ini.

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!