Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raya melihat Andini dirumahnya.
Andini sudah ada didepan rumah Bagas, tumben matahari sekarang tidak panas dan juga tidak dingin. Mobil diparkir depan rumah, sekali lagi Andini melihat penampilannya ." Sempurna. "
Pintu pagar tidak dikunci. Andini dorong pelan, lalu berjalan masuk
Saridewi melihat Andini masuk pagar, langsung senyum lebar, sikapnya sangat berbeda kalau bertemu dengan Raya.
" Kamu sudah datang,Nak." Saridewi cipika cipiki dengan Andini. " Wangi!"
Andini hanya tersenyum kecut, memang dia selalu wangi,karena parfum yang selalu dipakainya, parfum mahal dan belinya juga di luar negeri.
" Dimana Bagas, Tan?" Tanya Andini tanpa basa basi.
" Dia didalam, masuk saja. Tante mau pergi dulu, kamu urus Bagas ya, Nak. Dan juga..!" SariDewi tersenyum sendiri sambil memberi kode dengan jarinya.
Andini mengerti dengan maksud Saridewi, Andini segera mengeluarkan dompet dari dalam tasnya, pecahan lima puluh ribu empat lembar keluar dari sana.
" Ini buat kesalon tante."
Saridewi tersenyum puas, Meskipun cuman dua ratus ribu, Itu sudah cukup membuat Saridewi tersenyum lebar.
" Udah ya, Nak. Tante May pergi dulu, senang senang ya!" SariDewi keluar sambil melambaikan tangannya ke arah Andini.
Andini tersenyum kecut." Dasar matre."
Pagar tertutup pelan. Sekarang Andini sudah ada disana.
Andini kembali merapikan rambutnya yang sudah ditata sempurna. Dia melihat pantulan dirinya dikaca jendela. " Sempurna. " gumannya lagi.
Dia mendorong Pintu ruang tamu dan berjalan masuk tanpa tahu malu, seolah olah rumah itu miliknya.
Andini jalan masuk heels nya bunyi pelan dikeramik.
Bagas sedang ada dibalkon,tetap dengan rokok ditangannya. Bagas sama sekali tidak tahu Andini sudah datang.
Andini berjalan mendekat kearah Bagas, bunyi sepatunya cukup berisik dan membuat Bagas memutar badan." Ma, Sudah aku bi.." Ucapan Bagas terhenti karena dia mengira itu mamanya. Tapi ternyata Andini.
" Kamu..!" Bagas langsung berdiri saat melihat Andini.
Marah. Itulah yang dirasakan Bagas sekarang, dari kemarin Bagas mencoba menghubungi Andini untuk meminta penjelasan tentang foto ciuman itu.
" Kenap sayang? apa kamu merindukan aku?" Andini mendekat dan mulai menggoda Bagas.
Andini melingkarkan kedua tangannya ke leher Bagas. Wangi parfum mewah itu langsung menyerap.
" Hentikan Andini." Bagas melepaskan tangan Andini kasar.
" Mas, jangan keras kepala." Bisik Andini, Suaranya pelan tapi ada desakan didalamnya.
" Kita bisa selesaikan semuanya sekarang, tidak usah pikirkan hal yang sudah berlalu, hanya ada Kamu dan Aku."
Bagas kaku. Badannya diam, dia mulai kembali tergoda dengan kata kata Andini. Dia bisa merasakan nafas Andini yang semakin dekat padanya.
Tiga detik. Itu saja yang Bagas tahan.
" Hentikan Andini..kamu jangan coba coba merayuku lagi." Suara Bagas pecah, kali ini bukan lelah.Marah. Asli marah.
Andini sama sekali tidak takut dengan apa yang dikatakan Bagas. Yang ada dia semakin mendekat.
" Kamu jangan munafik sayang, kamu juga menikmatinya bukan?" Andini duduk disofa.
" Apa tujuan kamu mengirim foto itu ke Raya? dan bagaimana bisa kamu mendapatkan nomor Raya? Jawab." Bentak Bagas.
Andini mengibaskan rambutnya, ucapan Bagas hanya angin lalu untuknya.
" Tentu saja dari kamu sayang. " Jawabnya dengan senyuman. "
Bagas frustasi menghadapi Andini yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Raka memarkirkan mobilnya didepan sekolah Galang dan Gilang. Raya turun dari mobil bersama dengan Kedua anak anaknya. Tas ransel yang di sandang Gilang cukup berat karena ada minuman dan bekal tambahan yang dibuat Nisa untuknya.
" Ma, nanti jemput ya." kata Gilang sambil peluk Raya.
" Iya, nanti pulang sekolah, Mama yang akan jemput Gilang sama Abang,ya." Raya mengusap kepala Gilang.
" Janji ya,ma." Gilang memberikan jari kelingkingnya kepada Raya.
" Janji sayang."
" Galang sekolah dulu ma." Galang juga berpamitan dengan Raya.
" Iya sayang, belajar yang rajin ya." Raya juga mengusap kepada Galang, anak sulungnya yang sangat mengerti dengan keadaannya sekarang.
Selama mereka tinggal dirumah Ibu Raya. Galang sama sekali tidak pernah bertanya tentang papanya. Yang ada dia selalu menunjukkan sikap dewasa yang sangat jauh dari usianya.
Berbeda dengan Gilang yang cukup sering bertanya tentang papanya. Mungkin karena mereka sangat dekat dulu.
Raya diam sebentar, matanya melihat kearah gerbang sekolah. Tempat Galang dan Gilang barusan masuk.
" Ayo, dek!" Raka yang masih berada didalam mobil, membuka sedikit jendela mobil dan memanggil Raya untuk segera masuk. karena hari ini mereka akan sekalian kerumah Bagas.
" Iya, mas." Raya masuk kedalam mobil.
Mereka berangkat. Jalanan pagi ini tidak terlalu macet. Matahari juga tidak terlalu panas. tidak juga dingin. Pas buat bicara hal yang berat.
Sepanjang perjalanan Raya larut dengan pikirannya sendiri. Apa dia benar-benar harus memberi Bagas kesempatan atau malah sebaliknya. Raya masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Sampai didepan rumah Bagas. Raya dan Raka saling pandang, karena ada mobil lain yang parkir didepan rumah.
" Mobil siapa itu dek?" Raka menunjuk mobil yang ada disana.
Raya mengeleng, karena dia sama sekali belum pernah melihat mobil tersebut.
" Mungkin orang yang menumpang parkir mobil mas. Biasanya memang begitu." Raya tidak ambil pusing dengan mobil itu.
Raya keluar dari mobil. Setelah Raka memarkirkan mobilnya disebelah mobil Andini. Mobil Bagas juga ada di rumah. Itu artinya Bagas tidak berangkat kerja hari ini.
Raya mendorong pagar pelan. Tidak dikunci. Raka mengikuti Raya dari belakang.
Didalam rumah Andini masih merayu Bagas. Andini mendekati Bagas. " Kamu itu cuman milikku sayang, tidak ada yang lain hanya milikku." Andini kembali mendekat ke Bagas.
Andini dengan sengaja memeluk Bagas. Bagas ingin melepaskan pelukkan Andini yang tiba tiba.
" BAGAS." Suara Raya keluar pelan. pecah. Dia tidak berteriak. Tidak juga menangis. Seperti semua didalam dirinya ikut hilang.
Bagas sangat kaget dengan kedatangan Raya yang tiba tiba. Ditambah hantaman bogem mentah dari Raka.
Bugh.
" Kamu memang lelaki busuk Bagas.." Satu pukulan mendarat di wajah Bagas. Membuat Bagas terhuyung ke lantai.
Andini juga hampir terjatuh, karena hal itu. Namun Andini masih bisa mengontol tubuhnya sehingga tidak ikut jatuh bersama dengan Bagas.
Raya tidak melihat kearah Andini, Matanya fokus ke Bagas yang kini terhuyung ke lantai. Laki laki yang dulu berjanji akan menjaganya seumur hidup dan tidak akan pernah membuat dia terluka. Tapi sekarang apa? dirumah yang sudah lama mereka Bagun. Bagas membawa selingkuhannya kesini. Hancur.
" Raya..Sayang dengarin aku dulu. Ini tidak seperti yang kamu lihat." Bagas berdiri dan berjalan kearah Raya.
Bagas ingin menjelaskan semuanya. Andini hanya memainkan rambutnya, seolah sangat menikmati pemandangan didepannya.
Raka mendorong Bagas untuk menjauh dari Raya, karena dia sangat ingin menghajar Bagas habis habisan sekarang.
" Menjauh dari Raya. b**s**k" Umpat Raka.
" Tidak mas, Raya harus tahu kebenarannya, Mas." Bagas tetap berusaha mendekat kearah Raya.
" Kebenaran apa, Bagas? kebenaran apa yang ingin kamu katakan padaku? Belum puas kamu bersenang senang dengan selingkuhan kamu diluar. Lantas sekarang kamu bawa dia kerumah ini. Supaya kalian bebas melakukan apa saja." Raya berbicara dengan bibir bergetar.
" Tidak sayang..!" Bagas mengelengkan kepalanya. Karena apa yang dikatakan Raya sama sekali tidak benar.
" Lebay..!" Andini menambah suasana menjadi tegang. Tanpa rasa bersalah sama sekali.
" Kamu bilang apa barusan? Lebay?" Raya menoleh kearah Andini.
Raya berjalan mendekat kearah Andini, membuat Andini berjalan pelan pelan kebelakang karena mata Raya menatapnya tajam.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏