Florence, gadis panti yang polos, tak sengaja melihat pembunuhan oleh Lucifer Azrael—miliarder dingin yang diam-diam menguasai dunia hitam. Ia diculik ke pulau pribadi Lucifer dan dijadikan tahanan.
Di sana, Lucifer menerapkan aturan kejam dan menyebut dirinya Tuhan. Tapi di balik sikap beku itu, Florence menemukan luka masa kecilnya: ayahnya melatihnya membunuh dan membunuh ibunya di depan matanya.
Kebaikan Florence mulai meruntuhkan tembok Lucifer. Ia merawat, memasak, bahkan melukis Lucifer sebagai manusia biasa, bukan monster. Namun ketika kedekatan itu tumbuh, Lucifer membohongi dan mengurungnya lagi, takut kelemahan akan membunuhnya.
Kisahnya adalah benturan antara iman dan trauma, belas kasih dan kekuasaan. Mampukah mawar putih yang tumbuh di neraka bertahan, atau justru ikut layu bersama rajanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Kesempatan dari Mawar yang Layu
Pukul 08.12 pagi.
Lucifer membuka mata. Gelap di kepalanya surut sedikit, meninggalkan hampa dan dengung. Demamnya surut, menyisakan tubuh yang terasa dipahat ulang dengan palu tumpul. Tenggorokannya kering seperti tanah kuburan.
Ia duduk. Kamar kerja membentang—dingin, sunyi, bau obat dan logam tua. Sofa kusut. Selimut tebal. Baskom air di meja, airnya sudah keruh.
Ingatan semalam retak seperti kaca beku. Ada tangan dingin di dahinya. Ada bisikan. Ada wajah. Florence? Mustahil. Demam tinggi pandai memahat hantu.
Tapi handuk itu basah lagi. Diganti diam-diam, berkali-kali. Reginald dan Marco tak punya sabar setenun itu. Tak punya hati setenang itu.
Ia berdiri. Dunia oleng sesaat. Gengsi langsung menjilat tulang. Lucifer Azrael. Demam sampai mengigau. Memohon nyawa lewat surat wasiat. Memalukan.
Di cermin kamar mandi, air dingin tak cukup menghapus kusut di wajahnya. Ia hidup. Sial. Ia hidup.
Ketukan pintu. Marco masuk, wajahnya seperti topeng retak.
“Tuan... Anda sudah bangun. Dr. Anya bilang Anda butuh—”
“Aku sehat,” potong Lucifer. Suaranya diasah es. Topeng Raja Neraka retak, tapi dipasang ulang. “Semalam... aku mengoceh apa?”
Marco menelan. Di belakang matanya, ingatan Bos mengigau nama Florence berputar seperti pisau. Tapi sumpah pada Florence lebih tajam.
“Tidak ada yang dengar, Tuan. Anda diam. Anda tidur.”
Bohong. Bau bohongnya menusuk. Tapi Lucifer tak mendesak. Ia takut mendengar kebenaran itu dengan telanjang.
“...Ada yang masuk ke sini semalam?”
Marco membeku.
“Eh... hanya saya dan Dr. Anya—”
Krek.
Sepotong kertas menyelinap dari bawah pintu. Tanpa nama. Tanpa suara. Hanya ada.
Darah Lucifer dingin. Ia tahu selipan itu. Ia kenal berat kertas yang ditulis dengan kebencian terkendali.
“Pergi,” katanya. Suara rendah, tak memberi ruang bantah.
Marco lenyap.
Lucifer berjongkok. Jari-jarinya—yang tak pernah gemetar saat membunuh—gemetar sekarang. Ia buka lipatan itu. Tulisan Florence. Kecil. Rapi. Seperti jahitan luka.
Aku baca suratmu.
Jantungnya berhenti.
Aku tidak mati. Jadi kamu juga tidak boleh.
Udara di paru-parunya hilang.
Demam tidak membunuh iblis. Tapi kalau kamu mati karena bodoh, semua yang kau tulis jadi bangkai.
Jadi hidup. Jaga dirimu. Karena aku belum selesai benci kamu.
Aku beri kamu satu kesempatan. Satu. Jangan rusak lagi.
Kalau rusak, aku yang akan tulis surat wasiatmu.
Florence.
Ia baca lagi. Dan lagi. Sampai tinta itu terasa membakar kulit. Kalimat Satu kesempatan menancap seperti duri.
Dari gadis yang ia hancurkan. Dari gadis yang seharusnya menusuknya dalam tidur.
Api di dadanya yang ingin membakar dunia tiba-tiba padam. Bukan mati. Hanya ditahan. Seperti napas sebelum eksekusi.
Surat itu diremasnya. Bukan untuk merobek, tapi untuk menahan agar tangannya tidak mencari pistol. Gengsinya terlalu tinggi untuk terima kasih. Lidahnya terlalu kering untuk maaf.
Ia melangkah ke meja, membuka laci paling bawah. Dingin logam menyambut. Pistol, pisau, dokumen rahasia disingkirkan dengan acuh. Dua kertas ia letakkan berdampingan: wasiat yang ditulis saat demam, dan balasan Florence yang menahannya dari jurang.
Laci dikunci. Bunyinya seperti peti mati ditutup.
---
Di kamar Florence. Waktu yang sama.
Florence duduk di tepi ranjang, mendengar langkah Marco, mendengar pintu kamar kerja Lucifer dibuka lalu ditutup. Tangannya dingin seperti batu nisan.
Ia benci dirinya karena semalam merawat iblis itu. Benci karena pagi ini ia memberi iblis itu tali. Benci karena sebagian dirinya yang paling busuk tak rela jika Lucifer mati konyol oleh demam.
Maaf tidak pernah lahir. Malam itu masih hidup di bawah kulitnya. Basah. Nyeri. Setiap kali ia pejam mata, ia kembali ke sana.
Tapi iblis itu mengigau namanya. Iblis itu menulis wasiat untuknya. Iblis itu takut mati bukan karena neraka, melainkan karena meninggalkannya telanjang di hadapan dunia.
Florence lelah. Lelah menjadi bangkai yang berjalan. Lelah menjadi bayangan yang hanya bisa membenci.
Satu kesempatan. Bukan untuk Lucifer. Untuk dirinya—melihat apakah iblis bisa belajar bernapas seperti manusia, atau ia harus menjadi algojo yang menulis wasiat dengan darah sungguhan.
Ia berdiri. Langkahnya tanpa suara ke meja rias. Cermin memantulkan wajah pucat, tulang pipi tajam, mata yang tidak lagi mati sepenuhnya.
Ketukan pintu. Pelan. Ragu. Seperti orang yang tak yakin masih punya hak mengetuk.
Hanya satu orang.
“...Masuk,” katanya. Suaranya tipis, tapi tajam seperti silet.
Pintu terbuka. Lucifer berdiri di ambang. Pucat. Kusut. Tanpa jas, tanpa topeng. Matanya tidak ada marah, tidak ada nafsu. Hanya hati-hati. Seperti pembunuh yang berjalan di atas kaca.
Florence tidak menoleh. Ia menatap bayangan Lucifer di kaca. Menatap monster yang belajar berpura-pura menjadi manusia.
Hening jatuh. Berat. Panjang. Seperti hitungan mundur.
“Aku...” Suara Lucifer serak, pecah. “...aku hidup. Sesuai perintahmu.”
Florence diam. Sudut bibirnya tidak bergerak naik. Tapi juga tidak mengeras menjadi benci. Ada tarikan tipis di sana—retak kecil di es.
Cukup. Untuk hari ini, retakan itu cukup.
Lucifer mengangguk pelan. Ia mundur satu langkah, lalu berbalik. Pergi tanpa mendekat. Karena kesempatan itu setipis bilah silet, dan ia tak mau mematahkannya dengan napasnya sendiri.
Pintu tertutup pelan.
Florence menghela napas. Panjang. Seperti napas terakhir sebelum menjatuhkan palu.
Ia berbisik pada pantulan dirinya sendiri.
“Satu kali, Florence. Satu kali saja. Kalau dia rusak lagi... kau yang kubur dia. Kau yang pastikan ia tidak bangkit lagi.”
Esnya belum cair. Tapi di atasnya, sekarang ada setapak jalan. Licin. Berdarah. Ada.
Dan untuk pertama kalinya, Florence mau mencoba berjalan di atasnya. Bukan lari. Bukan kabur. Jalan. Pelan-pelan, menuju sesuatu yang mungkin bukan maaf, tapi bukan lagi neraka.
---
jangan tamattt disinii🥺
ditunggu season berikut nya😭👍