Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 23
Ansel menatap ragu pintu apartement yang di tempati Jenia dan juga Cwen, hatinya sedikit ragu untuk menekan tombol bel, tapi aksinya lebih cepat dari pikirannya, tangannya menekan bel dua kali.
Ansel menunggu pintu terbuka dengan perasaan yang semakin campur aduk, jika tujuannya bukan untuk membicarakan hal yang sangat serius terkait perasaannya, mungkin Ansel tidak akan merasakan secemas ini.
Pintu terbuka. Ansel langsung mematung begitu melihat penampilan Jenia yang sedikit membuatnya pangling. Malam ini Jenia tampak begitu cantik dan anggun dalam waktu bersamaan, gaun hitam sepanjang mata kaki, terlihat sangat pas di tubuhnya, bahkan rambutnya tertata begitu rapi, membuat Ansel meneguk ludahnya kasar.
“Pak Ansel,”
Lamunan Ansel langsung buyar begitu telinganya menangkap suara Jenia.
“Ya ampun, maafkan saya Jenia,”wajah sampai telinga Ansel langsung memerah malu Karena tertangkap menatap Jenia selama itu.
“Tidak apa-apa, " balas Jenia terlihat santai, padahal ia pun sama malunya dnegan Ansel. Jenia sadar jika Ansel memperhatikan dirinya, tapi Jenia berusaha mengabaikan itu, agar dirinya tidak semakin malu di hadapan Ansel yang kemungkinan besar akan membuat Jenia menjadi gugup berbicara dengan Ansel.
“Boleh kita berbicara?”tanya Ansel sedikit ragu, kedua matanya tidak fokus menatap Jenia, karena jujur saja, Ansel merasa gugup.
Jenia mengangguk,“mau bicara di dalam?”
“Apa tidak akan mengganggu Cwen?”tanya Ansel.
Jenia menggeleng, “Cwen sudah tidur sejak jam delapan tadi, jadi tidak akan menganggu Cwen sama sekali, “
“Justru karena Cwen sedang tidur, saya takut menganggu Cwen,”
Jenia mengangguk paham, lalu menutup pintu pelan-pelan, membuat Ansel mengerutkan dahinya bingung.
“Kita mau bicara di sini saja?”tanya Ansel yang mengira jika Jenia sengaja menutup pintu karena mereka akan berbicara di depan apartement sehingga tidak menganggu Cwen yang sedang tertidur.
“Kita bicara di taman bawah saja. Pak Ansel tidak keberatan, kan?”
Ansel menggeleng, “tidak sama sekali,”
Lalu keduanya melangkah menuju lift dengan perasaan canggung yang tiba-tiba mendatangi Jenia, membuat keduanya tidak ada yang membuka suara sampai tiba di taman yang Jenia maksud, taman yang pernah membuat Jenia malu setengah mati kepada Ansel karena kemeja putihnya yang ternyata menerawang jika terkena sinar matahari.
Bahkan di saat keduanya duduk di bangku taman pun, keduanya masih saling diam, tidak ada yang memulai percakapan. Tapi kalau diingat-ingat, seharusnya Ansel lah yang memulai membuka obrolan, karena Ansel yang sejak awal ingin berbincang dengan Jenia, bukan sebaliknya.
“Pak Ansel,”
Tapi tetap saja, jenia yang harus membuak topik, karena tidak ada tanda-tanda Ansel yang akan membuka topik pembicaraan, membuat Jenia mengalah dan bersuara lebih dulu.
Ansel menoleh, hanya menatap Jenia yang terlihat berbeda dari biasanya.
“Kamu pulang dari mana? Kenapa memakai pakaian yang sedikit formal?”
Bukan itu yang ingin Ansel bicarakan, tapi ia pun sedikit ragu menyampaikan semua perasaannya dan juga permintaan bundanya untuk membawa Jenia ke rumahnya.
Jenia mengernyitkan dahinya bingung, kenapa Ansel malah membahas masalah pakaian yang sedang di pakainya?
‘bodoh Ansel, kenapa malah membahas masalah pakaian’ lirih Ansel dalam hati.
“Jenia,”
“Pak Ansel,”
Kedua bersuara secara bersamaan, membuat kedua mata mereka saling memandang satu sama lain.
“Silakan berbicara lebih dulu, Jenia,”
Jenia mengangguk, lalu ia menarik napas pelan, sebelum mengatakan sesuatu yang sangat ia sampaikan kepada Ansel.
“Untuk pertanyaan pak Ansel saat di mobil itu, saya minta maaf, karena saya benar-benar tidak bisa,”
Ansel menoleh cepat,”Kenapa?”tanya Ansel, suaranya sedikit pecah karena ia seperti kalah sebelum benar-benar perang.
Jenia diam, tatapannya malah menerawang, karena setelah kejadian dimana Ansel menyatakan perasaannya, Jenia menjadi sedikit linglung, perasaan tidak percaya diri itu muncul begitu saja begitu tahu siapa yang menyukainya, bukannya Jenia tidak mau di cintai oleh Ansel, tapi ia sadar posisi dan tempatnya, Jenia merasa tidak pantas.
“Jenia, aku benar-benar serius, a-aku, aku menginginkanmu,”
Jenia masih diam, perasaannya semakin tidak karuan,“Pak Ansel, bukan saya bermaksud menolak atau apa, apalagi menyakiti perasaan pak Ansel, s-saya hanya merasa tidak percaya diri dengan pak Ansel yang menyukai saya,”ucap Jenia jujur, kepalanya tertunduk, ada perasaan bersalah yang tiba-tiba menyelimuti perasaannya, tapi perasaan tidak percaya diri itu lebih besar dari perasaan bersalah.
“Jenia, orang tua saya meminta untuk bertemu denganmu, kamu mau kan?”Ansel menyentuh tangan Jenia dan mengengganya lembut. Mengabaikan penolakan Jenia terkait perasannya itu.
“P-Pak Ansel, a-aku,”
“Kalau kamu tidak bisa, tidak apa-apa jenia, jangan memaksakan diri,”ucap Ansel lembut, ibu jarinya mengelus lembut punggung tangan Jenia yang masih berada di genggamannya.
“Bukan itu maksud saya pak Ansel, saya tidak bermaksud menolak, t-tapi,”
“Tapi apa?”
Jenia menggeleng, ia memalingkan wajahnya, kedua tangannya melepaskan genggaman tangan Ansel, tapi tentu saja Ansel tidak akan semudah itu melepaskan genggaman tangannya kepada Jenia.
“Saya serius Jenia, saya tidak bercanda soal perasaan saya, saya juga tidak bercanda soal saya yang ingin menikahi kamu, saya sudah berperang dengan pikiran saya seminggu lamanya, saya tidak ingin menyesal, itulah mengapa saya mengutarakan perasaan saya lebih cepat. Maaf, pasti itu membuatmu terkejut,”
Jenia menggelang, kembali menatap Ansel,“saya memang sangat terkejut, tapi yang membuat saya lebih terkejut, kenapa harus saya pak? Masih banyak perempuan lain di luar sana,”
“Memang masih banyak perempuan lain di luar Jenia, tapi yang saya inginkan hanya kamu, hanya kamu seorang, jenia,”
“Pak Ansel akan menyesal setelah mencintai saya pak, mungkin sekarang belum, tapi suatu saat nanti, pak Ansel benar-benar akan menyesal telah memilih saya,”
Ansel menggeleng tiodak setuju,“pikiran dari mana itu? Saya bukan mantan suami kamu, kamu tidak bisa menyamankan saya dengannya, kita berbeda,”
“Saya tidak bermaksud menyamakan pak Ansel dengan Anwar, jangan salah paham. Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya menolak pak Ansel, tapi saya sarankan untuk berhenti sekarang pak sebelum pak Ansel menyesal telah memilih saya!”
Jujur saja Jenia masih belum berani membuka lembaran baru, luka lamanya masih tidak mau menghilang dari ingatannya. Rasanya masih sakit ketika orang-orang yang dulu mengasihinya, mengatakan menyesal telah memilih dirinya. Jenia ingin menyelamatkan Ansel dari rasa penyesalan karena telah memilih dirinya.
“Saya tidak akan memaksamu Jenia, tapi beri saya kesempatan untuk membuatmu percaya kepada saya. Boleh, kan?”
Jenia diam, hanya menatap mata Ansel yang terlihat tersenyum kepadanya,“lalu bagaimana dengan orang tuamu besok? Apakah saya harus tetap datang? ”
“Tidak perlu datang, saya tahu kamu belum siap untuk hal yang lebih jauh lagi. Maafkan saya yang terkesan memaksamu untuk menerima saya, Jenia,”
Jenia menggeleng,“tidak pak Ansel, aku tetap mau datang untuk bertemu dengan orang tuamu, tetap boleh kan?”
Ansel menatap Jenia terkejut, matanya tiba-tiba saja merasakan panas, lalu tanpa menjawab pertanyaan Jenia, Ansel langsung memeluk Jenia. Begitu erat.
seru ceritanya