NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Lilis lalu pergi begitu saja meninggalkan putrinya terpaku dengan segala tuduhan tidak benar. Tatapan Miranda menghujam bumi. Ia tatap beberapa lembar uang tadi. Air matanya menetes. Ya Allah... Sehina itukah dirinya, sampai Ibunya sendiri tega menuduhnya yang tidak-tidak. Dalam keadaan rapuh, Miranda luruh. Ia segera mengambil uang tadi, dan berniat untuk mengembalikannya kepada sang Ibu. Sambil menyeka air matanya, wanita berjilbab itu bergegas cepat berjalan menuju depan. Tapi, mobil yang ditumpangi Ibunya sudah perlahan melaju.

"Ibu... Miranda nggak butuh uang ini! Bu...." Suaranya hanya tercekat. Miranda berlari kecil, namun mobil tadi sudah terlalu jauh. Uang pecahan 10 juta itu masih tergenggam dalam tanganya.

Dada Miranda masih terasa sangat sesak. Ia berniat, uang itu akan dirinya ibahkan ke Masjid untuk nama sang Ayah. Dan segera mungkin ia masuk kembali untuk mengurus pesanan kuenya.

Hancur. Remuk. Dada Miranda bak dihantam kepedihan ujian yang tak pernah usai selama hidupnya. Sebagai anak, Miranda tidak pernah menyangka. Mungkin banyak pari basa seorang anak yang durhaka terhadap Ibunya. Lantas, apakah tetap berdosa; jika seorang Ibu yang durhaka kepada anaknya? Dan apakah anak juga yang harus menanggung semua dosa itu?

Motor Miranda berhenti sejenak di Masjid. Selain menemui pengurus Masjid untuk menyerahkan uang tadi, sekalian juga ia melakukan sholat dhuhur terlebih dulu. Basuhan air wudhu akan membuat pikiran serta hatinya kembali tenang.

"Terimakasih banyak, Mbak! Semoga almarhum Pak Ridwan dan Mas Arya dilapangan kuburnya, di berikan tempat terbaik di sisi Allah. Saya terima uang ini, dan Mbak juga sudah menyerahkannya dengan Ikhlas."

"Amiin... Terimakasih banyak, Pak! Saya permisi mau sholat dulu," Miranda segera masuk ke dalam dan segera menunaikan sholat.

Sementara di luar, sebuah mobil mewah baru saja tiba. Seorang sopir turun, lalu segera membuka pintu belakang. Dan disana turunlah seorang pria cukup tampan, rapi dengan kemeja batiknya. Setelah tadi seharian dari perpustakaan, pria yang tak lain_Dewa, kini mengajak sopirnya untuk singgah di Masjid terlebih dulu, ia belum menunaikan sholat dhuhur.

"Pak, nanti tolong imamin saya, ya!" Serunya.

Sopir pribadi bernama Pak Bambang itu mengangguk antusias. Sempat tak percaya Tuan Mudanya sudah bersyahadat, tapi sebagai orang dekat dan paling di percaya Dewa, Pak Bambang merasa bahagia dan penuh syukur.

"Baik, Mas Dewa! Ayo... Ayo kita ambil wudhu dulu."

Setelah mengambil air wudhu, kedua pria itu segera melaksanakan sholat. Dewa yang masih belajar, tentu merasa bahagia ada orang terdekatnya yang sudah fasih dalam urusan agama dan sholat.

Dalam sebuah Masjid yang sama, antara Miranda dan Dewa bersimpuh dalam satu sujud yang sama. Sudah bertahun-tahun pria itu berdoa, diam-diam mencari keberadaan Miranda, namun tak sekalipun Dewa tahu dimana kabar Miranda sekarang.

Begitu selesai, melipat mukena dan mengembalikan ke rak, Miranda segera keluar. Wanita cantik itu menyipitkan mata melihat sebuah mobil yang tak asing lagi dalam pandangannya.

Di belakang, Dewa mengendurkan langkahnya. Ia mengernyit tipis melihat seorang wanita dibalik hijabnya tampak memandangi mobilnya penuh telisik.

"Ini seperti mobil milik Mas Dewa? Tapi... Apa mungkin dia ke Masjid? Mas Dewa bukanya masih dalam masa pemulihan? Ya Allah... Jika saja Mas Dewa pada saat itu sudah sehat pikiranya, pasti dia akan membelaku. Dia pasti tahu apa yang terjadi sebenarnya."

Miranda sudah hendak bersiap berbelok menuju parkiran motor.

Tiba-tiba...

"Miranda!!!"

Deg!

Reflek Miranda menoleh. Tertegun. Rasa tak percaya. Tapi, ada titik bahagia yang menyentuh sesuatu bagian tubuhnya paling dalam.

"Mas Dewa...." Suara Miranda cukup bergetar. Ada rasa syukur melihat pria yang dulu ia rawat, menjadi anak Tuhan, dan kini sudah gagah keluar dari Masjid.

Dewa segera menghampiri Miranda. Wajah pria itu penuh rasa syukur. Mungkin jika di perkenankan memeluk, Dewa sudah memeluk mantan perawatnya dengan erat.

"Mas Dewa... Ya Allah, ini saya nggak lagi mimpi 'kan?! Mas Dewa sudah sehat? Mas Dewa juga barusan keluar dari Masjid? Ya Allah... Alhamdulillah!!"

Dewa tersenyum puas. Senyum yang tak pernah ia berikan pada siapapun selain untuk mantan Perawatnya dulu. Siapa lagi kalau bukan Miranda.

"Saya barusan habis sholat dhuhur, Mir! Oh ya... Kamu selama ini kemana saja? Asal kamu tahu... Saya selama ini mencari kamu kemana-mana. Tapi, saya bersyukur doa-doa saya selama ini di kabulkan sama Allah. Kita bisa bicara sebentar?"

Miranda mengangguk. "Kita duduk di teras saja, Mas!"

Miranda dan Dewa bergegas kembali duduk di tepi teras Masjid.

"Miranda... Kamu ingat kejadian 5 tahun lalu? Kamu hanya di jebak oleh Mamah saya," ucap Dewa.

Wajah Miranda berubah sendu jika mengingat itu. Ia sejujurnya juga sudah tahu jika dirinya di jebak. Tapi siapa yang menjebak, itulah yang masih menjadi pertanyaan Miranda.

Dewa melanjutkan. "Malam itu aku melihat semuanya. Aku sudah meretas Cctv di rumah sebelum Cctv itu rusak. Tapi, pada saat itu kamu juga tahu bagaimana keadaanku. Ezar tak akan percaya begitu saja. Rasanya sia-sia, karena otaknya sudah di cuci oleh Mamah. Aku sudah mengamankan rekaman itu."

Miranda menatap. Senyumnya dipaksakan indah. Tapi, helaan napas itu menandakan rasa putus asa yang berujung_percuma.

"Saya juga mengerti apa yang terjadi sama Mas Dewa. Terimaksih Mas Dewa sudah bersimpati dengan masalah saya pada saat itu. Tapi saya rasa... Apa yang terjadi biarlah berlalu dengan sendirinya. Memang ini takdir saya sama Mas Ezar. Saya juga sudah memiliki keluarga."

Wajah Dewa agak sendu. "Kamu sudah menikah, Mir?"

Miranda mengangguk menampakan senyum terbaiknya. "Dari suami saya... Saya dapat berhijrah seperti saat ini. Putra saya sudah berusia 5 tahun, Mas! Tapi...."

Dewa menyipitkan mata. "Tapi apa?"

"Suami saya-"

Drttt!!!

Gawai Miranda tiba-tiba bergetar. Nama sang mertua muncul. Miranda terpaksa mengangkat sejenak. "Iya, Bu... Ini Miranda segera pulang. Iya, baik."

Miranda kembali menatap Dewa. "Mas Dewa... Maaf, saya pamit duluan ya. Assalamualaikum," pamitnya tergesa.

Dewa bangkit. "Walaikumsalam....." Kalimat itu terdengar lemah, menatap Miranda begitu lamat sampai wanita itu melajukan mobilnya keluar dari Masjid. "Aku akan mencari bukti untuk kamu, Mir! Akan aku pastikan Mamah harus bertanggung jawab atas semua tindakannya."

Setelah masuk ke dalam mobil, Dewa hanya mampu terdiam. Bukunya ia peluk, bayangan beberapa tahun lalu masa-masa ia dirawat Miranda kembali menguar. 'Ternyata kamu sudah menikah, Mir! Padahal aku mencarimu ingin membawa kamu pada hidup yang lebih indah dan baik. Aku juga sudah masuk Islam. Tapi---'

Batin Dewa tergolak. Meskipun ada rasa perih, namun kebahagiaan lebih menyelimuti perasaannya. Apalagi saat tadi melihat Miranda dalam balutan abaya yang rapi.

*****

Mobil Dewa baru tiba di rumah. Dengan langkah tegap, pandangan kuat namun terkesan kosong, Dewa segera masuk ke dalam sambil memegang dua bukunya.

"Dewa... Darimana saja kamu? Mamah sejak tadi nggak lihat kamu ikut doa' bersama. Lalu... Sampai siang baru pulang. Darimana saja?!" Ria menghadang langkah putranya.

Ezar yang baru keluar dari ruangan kerja, kini juga segera menghampiri sang kakak di ruang tengah.

Dewa selalu sama menampakan wajah dingin serta sikap kaku. "Untuk apa menanyakan hal yang tak perlu di tanyakan?"

"Mas... Mamah itu hanya khawatir sama kamu. Emangnya Mas Dewa darimana?" Ezar menyahut.

Dengan suara rendah, tarikan napas cukup teratur, Dewa menjawab tanpa beban. "Aku habis menemui Miranda!"

Deg!

1
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Nesya
dasar maruk wanita jahat, lanjut thor
Nesya
hhmm muak kali ama ezar
Anonim
Jangan lama lama bersambung nya dong🥹
Meliandriyani Sumardi
semoga jodohnya miranda itu dewa...
Ig:@septi.sari21: kita doakan ya kak❤
total 1 replies
delis armelia
sedih banget jadi miranda
Ig:@septi.sari21: sangat kak💔
total 1 replies
I Love you,
dasar cowo letoi😤😤😤😡
Nesya
masih aja zuudzon ama miranda pengen tk 👊🏻👊🏻 akan nyesel kamu erza setelah tau kebenaran tentang miranda
Ayesha Almira
ni c erza suka skli memfitnah miranda...smga miranda enggan kembali bersma erza...
Ig:@septi.sari21: agak agak emang💔
total 1 replies
Nesya
kasihan miranda selalu di kelilingi orang2 toxic
Ig:@septi.sari21: potek hatinya🥀💔
total 1 replies
Nesya
ibu kandung dewa
Ig:@septi.sari21: ibunya Ezar juga kak💔
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤 kesel lama lama..jahat banget
Ig:@septi.sari21: miranda kek serba salah💔
total 2 replies
Nesya
ngeselin bgt si lita g beradab
Ayesha Almira
lom da kebahagian yg akn menghampiri miranda
Nesya
tenang dewa, miranda udah janda, janda cantik soleha lagi.. bebas pedekate wkwk🤭
Meliandriyani Sumardi
lita berjilbab tapi ga punya etika dan adab...percuma....ditinggal sama arfan baru tau kamu lit...lanjut kak
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Ig:@septi.sari21: kasihan kak💔
total 1 replies
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Nesya
dihh ibu durhaka
Ig:@septi.sari21: jahat banget ya kak💔
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
Ig:@septi.sari21: kak dew, macihh bintangnya😍✋
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!