Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memantik Api 24
"Saya Reza Adiguna. Saya datang kemari untuk mengambil ASIP dari Mbak Saras. Tadi istri saya sudah menelpon dan kata Mbak Saras suruh ambil ke sini."
Reza sedikit merasa sungkan ketika datang ke kediaman Brajamusti. Akan tetapi dia juga mau tidak mau harus datang sendiri. Stok susu milik Elio habis. Karena menangis sejadi-jadinya, Elio minum lebih banyak dari biasanya. Alhasil ASIP yang diberikan oleh Laras sudah habis lebih dulu.
Bukan hanya itu sebenarnya. Beberapa kantong susu juga sudah dicampur oleh Eva, karena dia berharap bahwa Elio mau meminum susu campuran antara ASI nya laras dan ASI miliknya. Namun Elio menolak dengan keras. Alhasil susu-susu itu hanya terbuang percuma.
Kini Reza harus datang sendiri. Mengutus pembantu ataupun Ani dipikir menjadi hal yang tidak sopan. Maka dari itu Reza kini ada di kediaman Brajamusti. Dia tengah duduk di teras rumah berhadapan dengan Hwan dan Brigita.
Tapi entah mengapa Reza merasa tidak maslaah untuk datang ke tempat ini sendiri. Ada sedikit rasa penasaran dengan ibu susu putranya. Namun ternyata dia hanya bertemu dengan suami istri Brajamusti.
Maka dari itu sekarang perasaan Reza sungguh tidak enak. Dia merasa sedari tadi dirinya ditatap secara intens oleh pasangan paruh baya tersebut.
"Jadi kamu yang namanya Reza Adiguna, ayahnya bayi yang sedang disusui oleh keponakan kami?" tanya Brigita. Mata Brigita seolah menelisik sosok Reza. Bahkan Brigita terang-terangan menatap Reza dari kepala hingga kaki. Hal itu membuat Reza benar-benar tidak nyaman.
"I-iya benar Nyonya. S-saya Reza ayahnya Elio yang sedang disusuin oleh Mbak Saras, keponakan Nyonya,"jawab Reza dengan sedikit terbata. Keringat mengucur deras. Ada perasaan tertekan yang saat ini dirasakan oleh pria itu.
"Memang sebenarnya istrimu kenapa kok nggak bisa meng-ASI-hi anaknya sendiri? Sampai-sampai harus nyari Ibu Susu. Padahal ku dengar ASI istrimu juga deras," tanya Brigita.
Sebenarnya Brigita enggan berbasa-basi. Dia ingin segera memberikan kantong-kantong ASI itu kepada Reza agar dia segera pergi. Tapi karena geram, mengingat ulah Reza kepada Laras, Brigita ingin sedikit menekan pria ini.
"Kami pun kurang mengerti, mengapa Elio tidak mau menyusu dari ibunya. Sudah berbagai cara kami lakukan tapi Elio selalu menolak ibunya. Alhasil kami memutuskan mencari ibu susu."
Dengan mudahnya Reza menjawab, hal tersebut membuat Brigita semakin geram. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal dengan begitu erat.
Bagaimana bisa pria ini sangat percaya diri berbicara seperti itu setelah memisahkan anak dari ibu kandungnya?
"Brengsek," umpat Brigita lirih.
Hwan yang mengetahui istrinya akan meledak emosinya langsung menggenggam tangan sang istri. Dia menganggukkan kepalanya pelan, sebagai tanda bahwa Brigita harus sabar menghadapi Reza sekarang. Jika tidak penyamaran Laras akan terbongkar dan itu bisa merugikan Laras.
"Mungkin ada sebab yang nggak kelihatan sehingga kalian nggak bisa melakukan sebagai mana mestinya. Kesalahan terhadap seseorang di masa lalu mungkin. Atau kalian membuat seseorang terluka. Hukum sebab akibat itu ada," ucap Hwan. Dia juga tidak tinggal diam sekarang.
"Ah ya bener. Kadang kita melakukan kesalahan tanpa disengaja lalu akibatnya baru diterima di kemudian hari,"imbuh Brigita.
Pasangan suami istri tersenyum tipis ketika melihat wajah Reza yang berubah seketika menjadi muram. Pria itu agaknya sedang berpikir akan sesuatu.
Dirasa cukup memantik api, Brigita lalu menyerahkan kantong-kantong ASI dari kulkas kepada Reza. Dengan pikiran yang berkecamuk Reza berpamitan agar bisa segera pulang ke rumah.
Di tengah perjalanan Reza terngiang ucapan Brigita dan Hwan. Kesalahan masa lalu, kalimat itu terus menggema di kepala Reza.
Reza juga mulai menelaah kejadian-kejadian yang menurutnya aneh. Elio yang tak pernah barang setetes pun meminum ASI Eva, Elio yang tak terlalu nyaman digendong oleh Eva, dan Elio yang selalu menangis jika bersama dengan Eva. Jika ditarik garis luruh, sebuah kesimpulan bisa diambil bahwa Elio menolak Eva.
"Apa bayi itu sadar betul tentang siapa ibu kandungnya? Apa dia menolak Eva karena Eva bukan ibu yang mengandung dan melahirkannya? Kalau begini, bagaimana anakku akan berkembang nantinya? Haruskan aku mencari Laras dan memintanya kembali?"
Sungguh keterlaluan Reza. Dia bukannya menyadari kesalahannya, tapi hanya berfokus terhadap Elio. Reza sama sekali tidak mersa bersalah dan berdosa kepada Laras. Dia tidak menyadari bahwa dirinya telah menyakiti Laras begitu dalam.
Dan sekarang dia teringat Laras hanya karena takut jika Elio tidak tumbuh sebagai mana mestinya untuk dijadikan pewaris.
Lagi-lagi Reza hanya membutuhkan Laras sebagai alat, bukan sebagai ibu dari Elio. Pikiran pria itu sungguh sudah tidak bisa diselamatkan. Dia selalu egois. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri dengan mengorbankan orang lain.
TBC