NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan yang Tidak Bisa Dijawab

Malam di dalam gang kecil pemukiman padat penduduk itu terasa jauh lebih tenang dan senyap dibanding biasanya.

Sebagian besar warung kelontong dan kedai makan pinggir jalan sudah menutup pelataran mereka sejak satu jam lalu, menyisakan keheningan yang perlahan merayap di sela-sela dinding rumah semi permanen.

Lampu-lampu teras rumah warga menyala redup kekuningan, sesekali bergoyang pelan ditiup angin malam yang membawa hawa sejuk.

Di salah satu sudut meja plastik sederhana milik kedai Ayam Geprek Rumah Rasa, Axel masih duduk diam dengan posisi tegak.

Piring anyaman bambu berisi nasi dan ayam geprek di hadapannya akhirnya sudah berkurang setengah porsi.

Meskipun cara makan anak itu terbilang sangat lambat—penuh potongan jeda seolah sedang mengunyah sesuatu yang asing—setidaknya kali ini makanan buatan Alana benar-benar disentuh dan dinikmati olehnya dengan baik.

Alana sendiri duduk santai di kursi plastik seberangnya sambil menopang dagu dengan kedua tangan. Rambutnya yang masih terikat jepit badai besar bergoyang kecil saat ia memiringkan kepala.

Tatapan sepasang mata bulatnya tidak lepas dari bocah berwajah dingin di depannya. Semakin diperhatikan dari dekat, Alana merasa anak ini benar-benar menyimpan banyak misteri yang tidak sinkron dengan fisiknya.

Usianya paling baru menginjak dua belas tahun, tetapi cara bicaranya terlampau formal, kaku, dan seperti orang dewasa yang sudah terlalu banyak memikul beban hidup yang berat.

"Kamu memang selalu seserius ini ya kalau di rumah?" tanya Alana tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Suaranya sengaja direndahkan agar tidak menggema di gang yang sepi.

Axel perlahan mengangkat kepalanya dari piring. Sepasang netra hitamnya yang jernih namun redup menatap Alana datar. "Maksud Kakak?"

"Ya... ekspresi wajahmu itu loh. Dari kemarin kita ketemu, kamu nggak pernah kelihatan senyum," urai Alana sambil menunjuk wajah Axel dengan ujung jari telunjuknya. "Nggak pernah ketawa lepas kayak anak-anak seumuran kamu. Bahkan pas digodain atau diomelin pun, kamu nggak pernah kelihatan kesal atau marah. Kayak robot beneran."

Kali ini, Axel memberikan respons verbal yang cukup cepat, seolah tidak terima disebut robot. "Saya bisa marah."

Alana mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, merasa tertarik karena akhirnya mendapat respons yang lebih panjang. "Oh, ya? Tapi mukamu dari kemarin sama sekali nggak berubah, tuh. Tetap datar, kaku, kayak tembok semen kosan gue yang belum dicat. Gimana kalau lagi marah?"

Axel kembali mengalihkan pandangannya, menatap sisa bumbu geprek di piringnya. Jari-jari kecilnya meremas sendok dengan ritme konstan. "Mama saya pernah bilang... struktur wajah saya memang sudah dari sananya seperti ini. Sulit berekspresi, jadi orang-orang sering mengira saya tidak punya emosi."

Mendengar kata mama meluncur dari bibir kecil anak itu, rasa ingin tahu Alana langsung melonjak.

Di dalam kepalanya yang sedikit kreatif, ia berspekulasi tentang latar belakang keluarga kaya raya yang tampaknya tidak harmonis ini.

Ia merasa akhirnya menemukan satu celah topik yang bisa digali untuk mengenal bocah misterius ini lebih jauh. "Oh, ya? Memangnya Mama kamu orangnya tipe yang disiplin dan galak?"

Axel mendadak terdiam. Keheningan yang tercipta kali ini terasa sangat lama, berat, dan canggung.

Sendok di tangan Axel berhenti bergerak. Alana mulai merutuki dirinya sendiri di dalam hati, takut jika anak itu tersinggung dan memilih untuk langsung pergi meninggalkan kedainya.

Namun, di saat Alana sudah membuka mulut hendak mengalihkan pembicaraan ke topik lain, suara kecil Axel kembali terdengar, mengalun tipis membelah udara malam yang sunyi.

"Saya... sudah lama sekali tidak bertemu dengan Mama."

Senyum ramah yang sempat tersisa di sudut bibir Alana perlahan memudar hingga lenyap tak berbekas. Jantungnya berdenyut mencelos. "Oh..."

"Sudah beberapa tahun ini kami tidak tinggal bersama lagi," tambah Axel lagi.

Nadanya tetap datar tanpa intonasi sedih yang berlebihan, namun justru hal itulah yang membuat dada Alana terasa sesak.

Anak sekecil ini sudah belajar mematikan emosinya sendiri saat membahas hal sepenting ibu kandung.

Alana langsung didera rasa bersalah yang teramat sangat karena telah lancang bertanya terlalu jauh. "Eh... maaf ya. Kakak beneran nggak bermaksud buat nanya hal-hal sensitif kayak gitu. Maaf banget."

Axel menggelengkan kepalanya perlahan, ekspresinya kembali seperti semula saat ia mendongak. "Tidak apa-apa, Kak."

Namun, bagi Alana, jelas itu tidak benar-benar tidak apa-apa. Karena meskipun ekspresi wajah Axel tetap sedatar es batu di kutub utara, ada kilatan redup, hampa, dan kesepian yang mendadak muncul di sepasang netra hitamnya saat membicarakan sang ibu.

Sesuatu yang membuat hati Alana yang biasanya cuek mendadak diselimuti rasa iba yang mendalam. Ia tidak tega untuk melanjutkan interogasi tersebut.

Sebagai gantinya, Alana memilih untuk menunjuk piring di depan Axel dengan dagunya, mencoba mencairkan suasana yang sempat membeku.

"Yaudah, nggak usah dipikirin lagi. Makan lagi tuh, mumpung nasi hangatnya belum mengeras. Habisin semuanya, ya."

Axel menurut tanpa bantahan. Ia kembali menyuap nasinya dengan gerakan teratur. Di balik sikap kaku itu, sebenarnya ada rasa nyaman yang aneh yang dirasakan Axel.

Kehangatan sederhana dari sepiring makanan dan perhatian tulus dari orang asing adalah hal mewah yang tidak pernah ia dapatkan di kamarnya yang megah.

Sejak ibunya pergi, rumahnya tak lebih dari sekadar bangunan besar berlapis marmer yang terasa mati.

Alasan itulah yang membuatnya nekat mengunci pintu kamar dari dalam sore tadi, lalu diam-diam melompat dari balkon lantai dua demi menghindari atmosfer rumah yang mencekam, tanpa memedulikan fakta bahwa belasan pelayan dan ayahnya pasti akan murka begitu menyadari kepergiannya.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!