"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PELARIAN DI BAWAH RERUNTUHAN MONAS
00:10... 00:09...
Angka merah di layar monitor itu berkedip seperti detak jantung malaikat maut.
Arka berdiri di tengah ruangan yang mulai berguncang. Reruntuhan beton dari langit-langit mulai hancur, menjatuhkan debu dan serpihan batu tepat ke dalam genangan merkuri.
Permukaan air raksa yang tadinya diam kini mulai bergetar, membiaskan pantulan yang kacau.
"Arka! Lepaskan!" teriak Reyna. Ia mencoba menerjang ke arah pilar, namun medan energi dari Prasasti Tanah Sejati justru makin kuat seiring dengan sinkronisasi 20% yang masuk ke tubuh Arka.
Arka tidak bisa bicara. Seluruh sarafnya terasa seperti dialiri lava cair. Rantai-rantai hitam di jiwanya berdentang hebat, mencoba menahan lonjakan kekuatan yang meledak tiba-tiba.
“Jika aku mati di sini, Dafa tidak punya siapa-siapa lagi.”
Pikiran itu memicu insting purba di dalam darah Arka. Ia tidak lagi mencoba menarik tangannya secara halus. Ia justru mendorong energinya masuk ke dalam pilar itu.
Jika pilar itu ingin menyedot kekuatannya, maka Arka akan memberikannya hingga pilar itu meledak karena kelebihan beban.
00:03...
"Reyna! Berlindung di balik pilar utama! SEKARANG!" raung Arka.
00:01...
DHUAAARRRRRR!!!!
Ledakan termobarik itu meletus, merobek gendang telinga. BUMMMM! Api raksasa menyembur di dalam terowongan, melumat oksigen.
VREEEUUUUMMM! Struktur masif Monas ambruk menimbun area bawah tanah. KRAKKK! BRAKKKK!
Namun di tengah kekacauan itu, terjadi sebuah peristiwa yang tak masuk akal saat Arka menghantamkan tangannya ke lantai bersamaan dengan hancurnya pilar penyangga.
Ia melepaskan seluruh Segel Bumi 20% dalam satu hentakan statis.
Bukannya hancur, tanah di bawahnya malah mengeras sekuat berlian. ZINGGGGG! Sebuah kubah energi berwarna cokelat keemasan muncul, menyelimuti Arka dan Reyna tepat saat api ledakan menghantam mereka.
BOOOOMMMM! DUUAARRR!!
Ledakan dahsyat yang menyusul terdengar bagaikan kiamat kecil bagi Arka. Seketika dunianya gelap, tertelan jutaan ton reruntuhan yang menimbun segalanya.
Sepuluh menit berlalu, dan Jakarta tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Asap tebal menyelimuti kawasan Monas yang kini hancur separuhnya.
WIIIUUUU... WWIIIIUUUU...
Sirine pemadam kebakaran dan ambulans meraung-raung dari segala penjuru, namun tak ada yang berani mendekat ke titik kawah reruntuhan karena suhu udara yang masih sangat panas.
Terkubur lima puluh meter di bawah beton, Arka membuka mata. Dalam ruang yang sempit dan menyesakkan, Arka berjuang untuk bernapas. KREK... KREK...
Tubuhnya gemetar hebat. Kaosnya hancur, memperlihatkan tato segel di punggungnya yang kini mengeluarkan asap tipis.
Sementara luka-lukanya mulai mengeluarkan darah dari berbagai penjuru tubuh, bahkan hingga ke pori-pori kulitnya.
Mengaktifkan kubah pelindung untuk menahan ledakan termobarik dalam kondisi tersegel adalah harga yang harus dibayar dengan kerusakan organ dalam yang parah.
"Reyna...?" suara Arka serak, nyaris hilang.
Di sampingnya, Reyna terbaring lemah. Beruntung perlindungan Arka membuatnya selamat dari luka parah, meski akhirnya dia tumbang karena paru-parunya tak lagi sanggup menghirup udara.
Arka mencoba menggerakkan tangannya. Setiap gerakan terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Ia menatap ke atas. Tak ada cahaya. Hanya tumpukan beton dan besi penyangga yang saling mengunci.
“Aku harus keluar... Dafa menungguku.”
Arka memejamkan mata, mencoba merasakan getaran bumi. Melalui Segel Bumi 20%, ia kini bisa "melihat" struktur tanah di sekitarnya tanpa mata.
Ia merasakan ada sebuah celah kecil di sisi timur, sebuah pipa drainase kuno yang belum runtuh total.
Dengan sisa tenaga yang ada, Arka memapah Reyna. Dia merayap pelan, berusaha menyelip di antara celah-celah reruntuhan yang menjepit tubuhnya. SREK... SREK...
Setiap kali ada beton yang hendak runtuh lagi, TING! Arka hanya menyentuhnya pelan, menyalurkan sedikit getaran energi agar struktur itu tetap stabil selama beberapa detik.
Setelah satu jam perjuangan yang menyiksa, mereka sampai di ujung pipa yang tembus ke arah stasiun bawah tanah Gambir yang sudah kosong dan gelap. TAP... TAP...
Arka merebahkan Reyna di bangku peron yang berdebu. Ia sendiri jatuh berlutut, HOK... HOEK! Ia memuntahkan darah hitam kental. CRAAAHH.
"Arka..." Reyna terbangun, terbatuk karena debu. Ia melihat kondisi Arka yang sangat mengenaskan. "Kau... kau menyelamatkan kita."
Arka cuma tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke tiang peron seolah beban di pundaknya sedikit terangkat.
"Jangan senang dulu. Rendra masih ada di luar sana. Dan Aksara... dia sudah mendapatkan apa yang dia mau."
"Apa maksudmu?"
Arka membuka telapak tangan kanannya. KLING. Di sana, sebuah kristal hitam kecil tampak merasuk, memancarkan cahaya redup. "Prasasti itu memang tracker.
"Tapi saat meledak tadi, aku berhasil mengambil 'inti log' dari artefak itu. yang ternyata menyimpan rahasia lokasi tujuh titik meridian di seantero Nusantara.."
"Aksara pikir dia menang, tapi dia hanya mendapatkan cangkang kosongnya."
Reyna menatap kristal itu dengan ngeri. "Artinya... sekarang kau adalah target nomor satu di dunia, Arka. Bukan cuma oleh The Sovereign, tapi oleh siapa pun yang punya satelit di langit."
"Aku tahu," gumam Arka sembari memaksakan untuk berdiri, meski kakinya masih gemetar hebat. "Kejadian tersebut menjadi alasan kuat mengapa identitas 'Arka si Penjual Buku' harus dihapus selamanya malam ini juga."
***
KUKURUYUK... (Suara ayam di pemukiman kumuh).
Subuh baru saja menyingsing di langit Jakarta yang kelabu. Arka dan Reyna merangkak keluar dari lubang ventilasi di tepian rel kereta, menghirup udara luar yang masih terasa dingin.
Mereka mencuri dua setel pakaian kuli panggul yang sedang dijemur di pemukiman kumuh dekat rel untuk menyamar.
Arka menatap Monas yang masih berasap di kejauhan. Dari kejauhan, tampak beberapa helikopter mulai mendarat.
Pasukan khusus dengan seragam yang tampak asing dan canggih segera bergerak menyisir area, mengambil alih keadaan.
"Mereka mencari mayatmu," bisik Reyna.
"Biarkan mereka mencari," Arka menarik topi kusamnya lebih dalam. "Kita akan menuju Batu melalui perjalanan darat demi menjamin keselamatan Dafa."
Namun, saat mereka hendak melangkah menuju terminal bus darurat... CIIIIIIT. sebuah sedan hitam kuno menepi di hadapan mereka.
Di balik jendela yang terbuka perlahan, terlihat seorang lelaki tua mengenakan seragam batik Korpri yang sangat rapi.
Penampilannya menyerupai pensiunan pegawai negeri yang biasa menghabiskan waktu dengan tenang di taman. "Mau numpang sampai stasiun Senen, Mas? Mbak?" tanya pria tua itu dengan senyum tulus.
Arka menegang. Ia tidak merasakan aura membunuh, tapi ia merasakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya, Kesunyian yang Mutlak. Pria ini tidak memiliki detak jantung yang bisa dideteksi oleh indera Arka.
"Terima kasih, Pak. Kami bisa jalan kaki," jawab Arka waspada.
Pria tua itu terkekeh. "Jalan kaki dengan paru-paru yang bocor karena gas termobarik itu bukan ide bagus, Nak Arka Nirwana. Masuklah. Jenderal Wironegoro sudah menyiapkan tim medis di dalam mobil ini."
Arka dan Reyna saling pandang. Mereka tak punya pilihan lain. KLAK! Setelah pintu tertutup, pria tua itu langsung menyerahkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal kepada Arka tanpa banyak kata.
"Namaku Eyang Jugo," ucap pria itu. "Aku adalah orang yang mengirimkan peta meridian ke tokomu lewat wanita caping kemarin."
Arka tertegun. "Siapa Anda sebenarnya? Dan apa hubungan Anda dengan Wironegoro?"
Eyang Jugo melempar pandang ke luar jendela, memperhatikan matahari yang perlahan merayap naik menyapa pagi.
"Wironegoro hanyalah murid kecilku yang memilih jalur militer. Aku? Aku hanyalah seorang penjaga gerbang yang telah lama terlelap." gumamnya pelan.
"Arka, ledakan di Monas semalam telah membangunkan sesuatu yang jauh lebih tua dari The Sovereign. Sesuatu yang terkubur di bawah Candi Borobudur."
Eyang Jugo menyerahkan sebuah paspor baru kepada Arka. Di sana tertera nama baru: Satria Erlangga.
"Mulai hari ini, kau bukan lagi Arka. Kau adalah Satria. Dan misi pertamamu bukan mencari meridian, tapi mencari 'Pusaka Sang Hyang' yang kini berada di tangan seorang kolektor gila di Singapura."
"Kolektor itu... adalah ayah kandung dari Siska Adiningrat."
KRETEK!
Arka meremas paspor itu. Nama Siska kembali disebut, memicu perih dari luka lama yang ternyata belum benar-benar mengering.
"Kenapa harus sekarang?" tanya Arka.
"Karena Rendra Adiningrat sedang menuju ke sana untuk mengambil pusaka itu sebagai mahar untuk melamar Siska kembali," Eyang Jugo menatap tajam ke mata Arka.
"Dan jika pusaka itu jatuh ke tangan Rendra, dia akan memiliki kekuatan untuk memanggil pasukan Lelembut yang bisa meratakan seluruh pulau Jawa dalam semalam."
Tiba-tiba... DOR! DOR! DOR!
Mobil berguncang hebat. ***DUAG! ***Tiga motor trail dengan topeng singa perak muncul. ***VREEEUMMM! VREEEUMMM! *** Mereka memberondong mobil dengan peluru.TRATATATATA!
"Sepertinya kita tidak punya waktu untuk sarapan," Eyang Jugo tetap tenang, ia mengambil sebuah tongkat kayu jati pendek dari bawah joknya.
"Arka, kau ingin tahu bagaimana cara bertarung dengan kekuatan 20% tanpa merusak tubuhmu? Lihat baik-baik."
Eyang Jugo membuka pintu mobil yang melaju 100 km/jam. ***BRAK! *** Ia melompat keluar hanya dengan tongkat kayu jati. TAP!
***
Dukung Perjalanan Arka Nirwana dengan cara Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.