Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3. Saat Nama Itu Diucapkan
ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ
Setelah setengah jam perkuliahan berjalan, Profesor Surya menghentikan penjelasannya sebentar untuk melakukan absensi. Dia membuka daftar nama dan mulai menyebutkan satu per satu nama mahasiswa sarjana dan pascasarjana yang hadir.
"Mahasiswa sarjana pertama... Aisyah Adeeba!" ucap Profesor Surya dengan suara yang jelas.
"Ada, Pak!" jawab Aisyah sambil mengangkat tangan dengan anggun.
Pada saat yang sama, Gus Aqlan yang sedang mencatat materi tiba-tiba menggigil sejenak. Nama itu terdengar sangat akrab di telinganya – seolah dia sudah pernah mendengarnya berkali-kali di masa lalu. Dia segera mengangkat kepala dan melihat ke arah Aisyah, mata penuh dengan kebingungan dan kegembiraan yang tidak bisa dijelaskan.
"Aisyah Adeeba... Aisyah..." bisiknya dalam hati, mencoba mengingat dari mana dia pernah mendengar nama itu. Lalu tiba-tiba, seperti kilat yang menerangi kegelapan, kenangan lama muncul di benaknya – sebuah sore di Bogor beberapa tahun yang lalu, ketika dia melihat seorang wanita muda dengan wajah cantik berdiri di tepi danau, sebelum kejadian yang membuat seorang ibu pingsan.
"Pak, bolehkah saya bertanya?" tanya Gus Aqlan dengan suara tenang, mengangkat tangan.
"Tentu saja, pak Aqlan. Apa yang ingin Anda tanyakan?" jawab Profesor Surya dengan senyum ramah, karena sudah mengenal keluarga beliau dari lama.
"Maaf Pak, apakah mahasiswa bernama Aisyah Adeeba itu anak dari Bapak Arya Pratama dan Ibu Larasati Wijaya?" tanya Gus Aqlan dengan hati-hati, matanya tetap terpaku pada Aisyah yang kini juga menoleh ke arahnya dengan wajah penuh rasa penasaran.
Profesor Surya mengangguk. "Betul sekali, Gus. Aisyah adalah salah satu mahasiswa terbaik kami. Mengapa Anda bertanya?"
Tanpa bisa menahan rasa ingin tahu lagi, Gus Aqlan berdiri dan menghampiri meja Aisyah. Seluruh kelas terdiam sejenak, melihat dengan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Aisyah juga berdiri, merasa jantungnya berdebar kencang.
"Permisi, Nona Aisyah," ucap Gus Aqlan dengan sopan. "Apakah Anda pernah berkunjung ke kawasan wisata alam Bogor sekitar tiga tahun yang lalu? Pada sore hari, di tepi danau?"
Aisyah mengerutkan kening, mencoba mengingat momen itu. Kemudian wajahnya tiba-tiba menjadi jelas, seolah dia juga baru saja mengingat semuanya. "Ya... saya ingat. Saat itu ibu saya tiba-tiba pingsan karena terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidak dikenal. Mengapa Anda tahu tentang itu?"
"Karena saat itu saya juga berada di sana," ucap Gus Aqlan dengan suara lembut. "Saya adalah orang yang Anda lihat berdiri tidak jauh dari tempat ibu Anda jatuh. Saya tidak punya kesempatan untuk memperkenalkan diri pada waktu itu."
Aisyah merasa dada nya terasa lega dan sekaligus terkejut. Semua getaran yang dia rasakan sejak bertemu Gus Aqlan beberapa kali belakangan ini akhirnya menemukan jawabannya. "Jadi memang benar, kami pernah bertemu dulu," pikirnya dengan senyum perlahan muncul di bibirnya.
"Maafkan saya jika kejadian itu membuat ibu Anda tidak nyaman," lanjut Gus Aqlan. "Saya sebenarnya ingin membantu, namun situasi pada waktu itu tidak memungkinkan saya untuk melakukan lebih banyak."
"Itu tidak apa-apa," jawab Aisyah dengan lembut. "Ibu saya memang sedang mengalami tekanan darah tinggi pada waktu itu, jadi sedikit saja kejutan bisa membuatnya tidak enak badan. Saya bersyukur ada orang yang ada di sana saat itu."
Profesor Surya melihat keduanya dengan senyum hangat. "Sepertinya Anda berdua sudah kenal lama ya? Kalau begitu, mungkin bisa saling membantu dalam perkuliahan ini. Khususnya Anda, Gus Aqlan, yang akan segera berangkat ke Kairo – mungkin Aisyah bisa membantu Anda menyelesaikan beberapa tugas jika diperlukan."
Keduanya mengangguk dan kembali ke tempat masing-masing, namun pandangan mereka sering saling bertemu sepanjang sisa perkuliahan. Rasa akrab yang dulu hanya tinggal sebagai kesan samar kini telah menemukan alasannya, dan keduanya merasakan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang akan mengikat mereka berdua.
BERSAMBUNG....