NovelToon NovelToon
Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Ranting Kaku Yang Di Peluk Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Kaya Raya / Romantis / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelundupan di midnight oak

"Sumpah ya, Vi. Lo itu bukan cuma cegil lagi, tapi sudah taraf butuh dirukiyah," cetus Avyanna sambil geleng-geleng kepala melihat Violet yang sibuk memilih satu dari sepuluh dress desainer di walk-in closet-nya yang seluas lapangan basket.

"Gila sih boleh, Vi, tapi jangan hilang akal sehat juga," Lavanya menimpali sambil menyesap jus jeruk di sofa beludru apartemen mewah Violet. "Masa lo mau diselundupkan sama Danantya ke bar tempat para bos kumpul? Kalau lo ketahuan Arden lagi nyamar jadi anak magang biasa tapi pake baju seharga motor, tamat riwayat lo."

Evara, yang sedari tadi asyik berputar-putar di kursi pijat otomatis, malah membela. "Halah, Lav! Hidup itu cuma sekali, kalau nggak gila sekarang kapan lagi? Gue dukung lo 100%, Vi! Gue bakal ikut buat jagain lo kalau si 'Kulkas Berjalan' itu macem-macem!"

Violet tertawa kencang sambil mematut diri di depan cermin besar. "Nah, itu baru sahabat gue! Vya, Lav, tenang aja. Danantya itu kelihatannya seru. Dia sengaja mau bantu gue karena dia bosan lihat Arden hidupnya kaku kayak kanebo kering. Ini misi suci menyelamatkan Arden dari gosip 'belok' itu!"

Di Bar "The Midnight Oak"

Bar itu sangat eksklusif, hanya orang-orang kelas atas yang bisa masuk. Di pojok ruangan yang remang-remang, Arden duduk bersama Danantya dan Atlas. Arden hanya menyesap air mineral—sangat membosankan—sementara Danan dan Atlas sudah asyik dengan gelas mereka.

"Den, lo beneran nggak mau nyoba cari pacar? Orang-orang kantor mulai beneran percaya lo suka sama asisten cowok lo itu," goda Atlas.

"Aku punya target yang harus dicapai bulan ini, At. Cinta itu distraksi yang mahal," jawab Arden kaku tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

"Distraksi mahal ya?" Danantya melirik jam tangannya, lalu tersenyum licik. "Tapi gimana kalau distraksinya datang sendiri?"

Tiba-tiba, dari arah pintu masuk, muncul seorang gadis dengan dress ungu tua yang pas di badan, dilapisi jaket kulit hitam agar tetap terlihat santai. Gadis itu tidak datang sendiri, dia diapit oleh Evara yang dandanannya sangat mencolok dan Lavanya yang elegan.

Arden hampir tersedak air mineralnya saat melihat sosok itu mendekat.

"Wah, kebetulan banget ya! Tuan Bos juga ada di sini?" Violet menyapa dengan nada paling tidak berdosa di dunia. Ia langsung mengambil tempat duduk tepat di sebelah Arden.

"Bagaimana bisa kamu masuk ke sini? Ini bar terbatas untuk anggota," desis Arden, matanya menajam ke arah Danantya yang mendadak sibuk melihat langit-langit bar.

"Aku yang ajak!" Danantya mengaku dengan wajah ceria. "Tadi nggak sengaja ketemu di depan. Kasihan mereka mau nongkrong tapi nggak tahu tempat yang enak, ya udah gue ajak gabung."

"Danan!" Arden memberikan tatapan peringatan yang bisa membuat karyawan biasa langsung mengundurkan diri.

"Aduh Tuan Bos, jangan galak-galak. Di kantor kan Tuan Bos, di sini kan teman," ucap Violet dengan berani. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Arden sebentar sebelum pria itu menghindar dengan kaku. "Tuan tahu nggak? Temen-temen saya—si Evara ini—sampai nyebut saya gila karena mau ngejar Tuan."

Evara langsung menyambar dengan polosnya, "Emang gila, Pak! Dia tuh di apartemen—eh, di tempatnya suka ngomong sama foto Bapak!"

"Evara! Jangan buka kartu!" Violet tertawa sambil mencubit lengan sahabatnya.

Arden memijat keningnya, merasa harga dirinya sedang diuji oleh sekumpulan anak muda ini. "Kalian semua... benar-benar tidak waras."

"Tapi Tuan suka kan sama orang gila?" Violet mengedipkan mata, kembali ke mode tengilnya.

Kegembiraan itu tiba-tiba terhenti saat sebuah botol bir diletakkan dengan keras di meja mereka. Bukan oleh pelayan, melainkan oleh seorang pria yang matanya memerah karena alkohol.

Arjuna.

"Oalah... jadi bener ya, lo di sini sama Om-Om ini?" suara Arjuna terdengar berat. "Lo pikir lo cantik bisa ganti-ganti cowok dalam semalam, Vi?!"

Violet langsung berdiri, wajahnya berubah tegang. "Juna, lo ngapain di sini?! Pergi!"

"Gue pergi kalau lo ikut gue!" Arjuna menarik tangan Violet dengan kasar. "Ayo pulang!"

Danantya dan Atlas hendak berdiri untuk mengintervensi, tapi Arden bergerak lebih cepat. Tanpa mengeluarkan suara, Arden berdiri dan mencengkeram tangan Arjuna yang sedang memegang pergelangan tangan Violet.

Cengkeraman Arden terlihat sangat kuat sampai Arjuna meringis kesakitan.

"Saya sudah bilang kemarin, jangan sentuh dia," suara Arden terdengar sangat rendah, dingin, dan berbahaya. "Dan satu lagi... dia tidak sedang bersama 'Om-Om'. Dia di sini dengan saya."

Arden kemudian menarik Violet ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya dari jangkauan Arjuna. "Keluar dari bar ini sekarang, atau saya pastikan besok pagi kamu menyesal pernah lahir di kota ini."

Arjuna, yang meskipun mabuk masih punya rasa takut melihat aura mematikan Arden, akhirnya mundur sambil memaki-maki tak jelas.

Suasana meja menjadi sunyi. Violet menatap punggung lebar Arden dengan tatapan yang sangat dalam. Jantungnya berdebu hebat, bukan karena takut pada Arjuna, tapi karena kata-kata Arden: 'Dia di sini dengan saya'.

"Tuan Bos..." bisik Violet pelan.

Arden berbalik, menatap Violet tanpa ekspresi seperti biasa. "Pulang. Sekarang. Danantya, kamu yang bawa mereka pulang. Kalau besok saya lihat kamu bawa anak magang ini ke tempat seperti ini lagi, jangan harap kita bisa berteman lagi."

Arden langsung pergi meninggalkan bar dengan langkah lebar.

Violet memegangi pergelangan tangannya yang memerah, lalu tersenyum sangat lebar sampai giginya terlihat. "Vya, Lav, Va... denger nggak tadi? Dia bilang 'Dia di sini dengan saya'! Fix, ini adalah awal dari masa depan kita!"

"Vi, dia itu marah karena lo bikin repot, bukan karena cinta!" sahut Lavanya pedas.

"Beda tipis, Lav! Di kamus gue, 'bikin repot' itu sinonimnya 'sayang'!" balas Violet penuh kemenangan.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!