NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Tidak Bisa Lepas

Bagaikan dikuasai setan, Ayu sudah tidak bisa mengelak godaan pemandangan sang suami yang terbaring lemah. Tangannya terus saja bergerak, mendekat ke kancing-kancing itu.

Perlahan tapi pasti, Ayu pun membuka kancing kemeja Arvin satu persatu.

“Tanganku kenapa gak bisa berhenti. Aku harus gimana?” gumam Ayu, dengan wajah berusaha berpaling tapi tetap saja mata melirik.

Setelah semua kancing berhasil dilepas, Ayu menyingkap kainnya lebar-lebar sampai otot-otot depat Arvin tidak terhalang kain sedikitpun.

Nampaklah, dada bidang kekar dengan hiasan titik coklat pada masing-masing puncaknya.

Turun ke bawah, terpampang nyata otot perut liat dengan pahatan kotak-kotaknya.

Baik atas dan dibawah, bersinar indah.

Ayu menganga terpana. Merah di wajahnya makin merona. Hidungnya ingin mimisan.

“Jangan-jangan sebelum jadi CEO Pak Arvin kerja jadi model?” ucap Ayu, terbata-bata.

Tidak mau terus-menerus terlena, Ayu segera mengatur napas dalam-dalam. 

“Cukup Ayu! Waktunya menjalankan tugas!”

Dengan tangan sedikit gemetar, Ayu mulai menggosok-gosok kain hangatnya ke otot-otot suaminya itu, mulai dari area atas hingga bawah.

Kepala Ayu tidak mau menunduk turun, takut jadi gila.

Sehingga, dia mengalihkannya ke tempat lain. Dia memilih memandangi wajah Arvin yang tertidur pulas. Terasa lebih aman mengalihkan pandangan ke sana.

Pria itu benar-benar sedang tertidur damai, membuat wajah Ayu yang tadinya tegang berubah ikut tenang.

Gara-gara itu, ada hal baru yang Ayu baru sadari dari Arvin ini.

Arvin memang bertampang tegas, dingin, juga terkadang galak, tapi ternyata, saat suaminya lelap begini, galak dan tegas itu seolah hilang. Sirna entah kemana.

Justru wajah tidur Arvin sekarang berubah menjadi seperti tipe pria yang murah senyum, perhatian, dan suka bicara dengan wajah ceria.

Bibir Ayu jadi tersenyum haru dibuatnya.

Selesai membersihkan bagian tubuh, Ayu beringsut mendekat ke wajah Arvin. Di sana, dia membersihkan lembut area sekitar mulut Arvin yang bebas kumis dan janggut. 

Kini, baik badan dan wajah Arvin sudah terlihat bersih. Namun, Ayu nampaknya belum ingin pergi meninggalkan kamar ini.

Dia tetap di posisinya dan malah kepalanya bergerak sedikit turun agar bisa lebih jelas memandangi wajah tampan Arvin.

Kecanduan untuk terus melihatnya.

“Andai saat bangun wajah bapak tetap begini. Ramah, polos, damai. Keseharian saya pasti tidak terlalu terbebani,” gumam Ayu, berharap benar-benar terjadi.

Puas memandangi, dia menyadari sudah terlalu lama di kamar ini.

Sebagai ucapan perpisahan, Ayu memberi hadiah belaian lembut pada wajah Arvin, lalu bangkit berdiri.

Di saat itu juga, Arvin yang masih tertidur di bawah sana tiba-tiba mulutnya mengerang tajam. Dua tangannya menjulur ke atas.

Arvin menarik lengan Ayu.

“Eh .. Pak!”

Ayu terhuyung jatuh.

Terbaring di atas tubuh Arvin.

Arvin memeluk Ayu layaknya memeluk bantal guling. Cepat sekali.

Ayu yang panik gelagapan bangkit, mendorong dada Arvin agar bisa bangun, tapi tidak cukup tenaga.

“Rggh!” Arvin mengerang lagi. Dua tangannya semakin erat mengunci dan menekan Ayu.

“Pak lepaskan saya!”

Ayu berkali-kali menekan bangun tapi kalah tenaga. Wajahnya kembali memerah. Detak jantungnya mulai berdetak tak karuan.

Dalam keadaan mabuk begini, tenaga Arvin masih besar. Entah Arvin sebenarnya sudah sadar atau belum. Yang jelas Ayu meyakini ini efek karena mabuk.

“Jangan pergi!” Arvin bersuara. Jelas itu suaranya sedang mengigau.

Mendengar suara itu, ajaibnya tubuh Ayu malah menurut diam.

Akibatnya, sensasi hangat serta kenyamanan pelukan Arvin mulai menyerap masuk ke dalam tubuh Ayu.

Sekujur tubuh Ayu mulai melemas.

Kelopak mata Ayu mulai bergerak turun.

Kepala sampingnya yang tepat berbaring di dada kiri Arvin dapat mendengar jelas suara detak jantung Arvin yang berirama tenang.

Sebuah detakan jantung yang mengajak tidur bersama.

Ayu pun sukses memejamkan mata.

“Mungkin aku diam dulu sebentar. Iya … 10 menit saja. Setelah itu aku pergi,” ujarnya lalu ikut tertidur pulas.

10 jam kemudian.

Matahari sudah terbit di ujung timur sana. Ayu masih di dalam pelukan erat Arvin.

Satu tangan pria itu mulai bergerak naik, mengusap-ngusap matanya.

Wajahnya mengerut sadar. Kelopak matanya perlahan terbuka lebar, mengerjap beberapa kali.

“Ini dimana? Oh di kamar rupanya,” gumam Arvin.

Dia hendak mengangkat badan tapi dadanya terasa berat menekan.

Dia melirik ke bawah dan ….

“AAAAH!” Arvin menjerit.

Ayu terkaget-kaget, sontak melek, bangun dan ikut menjerit.

“AAH!”

“AAH!”

Kini mereka saling mengadu jerit.

Arvin berbalik meloncat turun ke sisi seberang. Ayu ikut meloncat turun ke sisi berlawanan.

Sekarang, mereka saling berhadapan dengan tempat tidur menjadi pemisahan mereka.

Napas Arvin terengah-engah, matanya membulat. Begitu juga Ayu.

Ayu menurunkan rambutnya yang berantakan, sementara Arvin semakin panik sendiri ketika menyadari kancing kemejanya terbuka semua.

“Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu apain aku?” cecar Arvin dengan wajah menegang.

“Tenang Pak. Saya bisa jelaskan. Bapak jangan marah-marah dulu!” Ayu mengangkat telapak tangan dengan raut muka ketakutan.

Arvin tidak mendengar. Dia sibuk memasang kancing kemejanya sambil mengira-ngira sendiri apa yang telah diperbuat Ayu kepadanya.

“Jangan-jangan, kamu sudah …” Arvin menunjuk ke arah pusakanya sendiri di bawah perut.

Ayu yang paham maksudnya, segera dia membantah. “Tidak Pak. Saya tidak melakukan itu. Saya jelaskan yang sebenarnya!”

“Bohong!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!