Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Akar dari Semua
"Ya ampun, anak cantik. Tante kangen banget lho." Mira menepuk pipi Shanaya pelan. Kulit tangan wanita itu terasa dingin.
"Naya juga kangen, Tante. Maaf baru bisa mampir sekarang. Urusan kantor menyita banyak waktu akhir-akhir ini." Shanaya merendahkan suaranya, memasang senyum polos seorang gadis muda.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ayo masuk. Papa sama Alvian sudah nunggu di meja makan."
Ruang makan keluarga Restu diterangi lampu gantung kristal berukuran raksasa. Surya Restu, ayah Alvian, duduk diam di kursi utama. Pria berwajah keras itu tidak berdiri saat Shanaya masuk. Matanya menatap Shanaya perlahan, menilai bukan sebagai manusia, melainkan sebagai portofolio aset yang berjalan.
"Duduk, Nay," perintah Surya pendek.
Alvian menarik kursi untuk Shanaya. Pria itu tersenyum manis, memamerkan pesona andalannya yang biasa menipu kamera wartawan. Di depan media, Alvian adalah pangeran impian. Di rumah ini, bahunya melengkung turun. Postur tubuhnya sangat kaku.
Hidangan pembuka datang. Pelayan menuangkan sup krim jamur ke piring porselen bermotif emas. Bunyi denting sendok menjadi satu-satunya suara selama lima menit pertama.
"Gimana kabar Kesuma Group, Nay?" Surya memecah keheningan. Ia memotong roti panggang dengan keras. "Om dengar saham kalian melonjak tajam setelah acara Fashion Week kemarin."
"Puji Tuhan, Om. Semua berkat tim yang kerja keras." Shanaya menunduk sedikit.
"Perempuan pintar itu bagus, Nay." Mira menimpali dari sisi meja. Senyumnya lebar, tapi sorot matanya kosong. "Tapi ingat kodrat ya. Jangan sampai kesibukan kamu bikin kewajiban kamu sebagai istri terbengkalai nanti. Laki-laki itu egonya harus dijaga."
Shanaya mengaduk supnya pelan. Serangan pasif-agresif ini sangat familier di telinganya. Di kehidupan lalu, kalimat-kalimat racun seperti ini membuat Shanaya merasa bersalah. Tekanan pelan dari Mira sukses membuatnya perlahan melepaskan kendali perusahaannya kepada Alvian.
"Naya ngerti kok, Tante. Alvian juga banyak bantu Naya akhir-akhir ini." Shanaya mengangkat wajah. Ia menatap Alvian dengan tatapan penuh puja yang direkayasa telak.
Alvian langsung menegakkan punggungnya. "Iya, Pa. Aku udah siapin tim khusus buat masuk ke jajaran direksi Kesuma. Rencana integrasi pelan-pelan udah berjalan. Publik juga makin percaya sama posisi aku di samping Naya."
Alvian bicara terlalu cepat. Nada suaranya sarat dengan keputusasaan. Ia mencari persetujuan dari ayahnya dengan cara yang menyedihkan.
Surya meletakkan sendoknya. Bunyi benturan logam dan porselen itu memotong ucapan Alvian dengan kasar.
"Bicara gampang, eksekusi nol." Surya menatap anak laki-lakinya dengan pandangan merendahkan. "Kamu bilang bisa atur anak dari keluarga Lim itu buat mempercepat proses kita. Kenyataannya? Koleksi gadungan dia hancur berantakan di tangan media. Reputasi kita hampir ikut terseret ke dalam lubang plagiatnya."
Wajah Alvian memucat. Rahangnya mengetat keras, tapi ia tidak berani membalas tatapan tajam ayahnya. Pria yang biasanya penuh percaya diri itu kini menunduk dalam diam. Tangan Alvian di atas meja terkepal kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol.
Shanaya merekam dinamika ini ke dalam memori otaknya. Inilah akar dari semua rasa tidak aman Alvian. Ayahnya tidak pernah menghargainya sama sekali. Alvian sangat putus asa mencari validasi dari Surya Restu. Itulah alasan sejati Alvian berambisi merebut Kesuma Group. Alvian ingin membeli pengakuan ayahnya menggunakan harta keluarga Kesuma.
Kelemahan ini adalah senjata yang akan Shanaya ledakkan nanti.
Ponsel di dalam tas kecil Shanaya bergetar singkat. Ia meminta izin memohon waktu sebentar untuk memeriksa pesannya.
Pesan masuk dari Steven Aditya.
Keluarga Restu gagal bayar utang bank bulan lalu. Pabrik utama mereka masuk daftar sita resmi. Mereka butuh suntikan dana segar dari rekening Kesuma sebelum akhir bulan ini.
Shanaya menatap deretan teks di layar bercahaya itu. Steven tidak punya kewajiban memberitahunya informasi rahasia perbankan ini. Namun, pria itu meretas batas demi memberikannya amunisi. Steven memantau pergerakannya malam ini. Pria itu menyuplai senjata langsung ke tangannya saat ia sedang duduk manis di dalam kandang musuh.
Belum sempat Shanaya membalas, satu pesan lain masuk dari aplikasi penyadap milik Leo. Ini adalah salinan percakapan internal dari tim redaksi Kanal Satu.
Bos, asisten pengarsipan tanya. Artikel lama soal Shanaya Kesuma yang Bapak tahan dua tahun lalu, mau diarsipkan permanen atau dihapus saja?
Napas Shanaya tertahan di pangkal tenggorokan.
Dua tahun lalu? Waktu itu Shanaya baru mengambil alih posisi operasional awal di Kesuma Mode. Ia dan Steven belum pernah berinteraksi sama sekali dalam kapasitas apa pun. Kenapa produser dingin itu repot-repot menulis artikel tentangnya, lalu menyimpannya rapat-rapat dalam sistem berdasar instruksi pribadi? Apa isi artikel tak bertuan itu?
Shanaya mengunci layar ponselnya perlahan. Kepalanya mencatat teka-teki baru ini dengan cermat. Hubungannya dengan Steven jelas lebih rumit dari sekadar simbiosis media dan bisnis. Pria itu menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
"Ada masalah di kantor, Nay?" tanya Mira dengan nada penuh selidik. Wanita itu menyodorkan piring berisi potongan daging sapi panggang.
"Nggak ada, Tante. Cuma pesan dari vendor kain," jawab Shanaya santai. Ia meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Surya Restu menuangkan anggur merah ke gelas kristalnya. Pria itu menatap Shanaya lekat. "Kamu tahu, Nay. Mengelola perusahaan sebesar Kesuma sendirian itu beban berat. Apalagi kamu masih sangat muda. Banyak serigala di luar sana yang siap menerkam."
"Iya, Om. Untungnya para direksi senior banyak membimbing Naya."
"Direksi itu loyal pada gaji bulanan mereka, bukan pada keluarga." Surya menenggak anggurnya perlahan. "Om pikir, sudah saatnya Alvian masuk memegang kendali finansial penuh. Kalian akan segera menikah. Uang Kesuma adalah uang kalian berdua. Tidak ada salahnya menyatukan rekening perusahaan di bawah manajemen terpusat Restu Group untuk sementara waktu."
Shanaya menahan tawa dinginnya. Mereka bahkan tidak repot-repot membungkus niat merampok itu dengan rapi lagi. Desakan surat sita dari bank pasti sudah mencekik leher Surya hingga pria itu bertindak agresif malam ini.
"Naya sangat setuju, Om." Shanaya melebarkan senyumnya.
Wajah Alvian langsung cerah. Tarikan napas lega keluar dari hidung pria itu. Mira ikut tersenyum lebar menyetujui.
"Tapi," Shanaya memanjangkan nada bicaranya lambat-lambat. "Notaris keluarga Kesuma mengunci semua aset pencairan dana gabungan. Syarat mutlak pembukaan blokir manajemen itu butuh tanda tangan suami sah. Jadi selama kami belum terikat buku nikah resmi, Naya tidak punya wewenang hukum menyerahkan kendali kas ke tangan Mas Alvian."
Wajah Surya menegang seketika. Gelas anggur di tangannya berhenti di udara.
Mira berdeham canggung, mencoba menutupi kekecewaan yang gagal disembunyikan matanya. "Oh, begitu ya aturan dari almarhum papamu? Ketat sekali ya."
"Papaku orang yang sangat teliti, Tante." Shanaya memotong sayuran di piringnya dengan gerakan elegan. "Beliau selalu bilang, manusia bisa berkhianat, tapi dokumen hukum tidak."