Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Kesan baik yang ditunjukkan oleh Aron Walker tidak hanya sampai di mata Rian semata.
Sikap dan kepribadian pemuda itu begitu kuat dan tulus, sehingga dalam waktu yang sangat singkat, dia berhasil merebut hati kedua orang tua Selly sepenuhnya.
Malam itu, suasana makan malam di kediaman keluarga Adhitama terasa sangat hangat, sangat akrab, dan penuh dengan tawa canda.
Aron diundang makan malam bersama, dan dia hadir dengan penampilan yang sempurna. Tidak terlalu formal kaku, tapi tetap rapi, bersih, dan sangat berkelas.
Selama makan berlangsung, Aron menunjukkan betapa tingginya pendidikan dan adab yang dia miliki.
Dia tidak pernah menyela saat orang tua berbicara. Dia selalu mendengarkan dengan seksama, menatap mata lawan bicara dengan penuh hormat, dan menjawab setiap pertanyaan dengan bahasa yang santun, logis, serta enak didengar.
"Jadi Aron baru balik dari luar negeri ya Nak? Kamu pasti pintar banget waktu kuliah disana, pasti capek juga kan jauh dari orang tua," tanya Mama Elara sambil menyendokkan sayur ke piring Aron dengan penuh kasih sayang layaknya memperlakukan anak sendiri.
Aron langsung menunduk sedikit berterima kasih atas makanan itu, lalu menjawab dengan senyum manis.
"Iya Tante, iya Tante. Saya bersyukur banget sih Tante bisa selesaiin studi tepat waktu. Awalnya emang berat rasanya jauh dari keluarga, tapi semua itu jadi pelajaran buat Aron jadi lebih mandiri dan dewasa kok Tante."
"Wah hebat... hebat banget pemikirannya," puji Papa Andre dari seberang meja sambil mengangguk-angguk setuju.
"Terus sekarang Aron lagi ngapain? Udah mau nerusin usaha keluarga atau mau buka jalan sendiri nih anak muda?"
"Iya Om, rencananya Aron mau bantu-bantu Papa dulu di perusahaan keluarga, tapi Aron juga lagi kembangin start-up kecil-kecilan di bidang teknologi Om. Masih belajar dan berproses terus kok Om," jawab Aron rendah hati, tidak ada unsur pamer sama sekali meskipun semua orang tau keluarganya berada di kalangan atas.
"Bagus! Bagus banget! Anak muda sekarang harus punya visi jauh ke depan kayak gitu. Saya suka sama pola pikir kamu Ron," sahut Papa Andre makin senang.
Aron juga sangat pandai menempatkan diri. Dia tahu kapan harus bercanda agar suasana cair, dan tahu kapan harus bersikap serius saat membahas hal-hal penting.
Dia bahkan ingat betul menu makanan kesukaan Mama Elara, dan dia ingat hobi golf Papa Andre, sehingga topik obrolan mengalir begitu saja dengan sangat nyaman.
Tidak seperti seseorang yang dulu sering datang ke rumah ini... yang sikapnya dingin, datar, sering membuat suasana jadi kaku, dan seakan-akan datang hanya karena terpaksa.
Setelah makan malam selesai dan mereka pindah ke ruang keluarga sambil menikmati teh hangat dan buah-buahan...
Mama Elara dan Papa Andre duduk bersebelahan, mata mereka tak lepas dari pemandangan di hadapan mereka.
Di sana, terlihat Selly dan Aron yang sedang duduk tidak jauh dari mereka, asyik mengobrol berdua dengan santai.
Aron mendengarkan Selly bercerita dengan tatapan penuh perhatian, sesekali tertawa renyah mendengar lelucon putri kecil mereka, dan sesekali membantu mengambilkan buah atau minuman untuk Selly tanpa harus diminta.
Pemandangan itu begitu harmonis, begitu manis, dan begitu menenangkan hati orang tua mana pun yang melihatnya.
Mama Elara menyandarkan kepalanya pelan ke bahu suaminya, tersenyum lebar dan sangat bahagia.
"Pa... liat mereka berdua deh..." bisik Mama pelan.
"Cantik dan ganteng banget ya kalau disandingkan. Cocok banget kan , auranya juga nyambung banget."
Papa Andre pun ikut tersenyum lebar, matanya menyipit menatap putrinya yang terlihat begitu bahagia.
"Iya Ma... bener banget. Papa liat Aron itu anaknya luar biasa. Bukan cuma dari wajah yang ganteng atau dari orang tuanya yang terpandang, dia juga sopan dan ramah banget sama semua orang..."
Papa Andre berhenti sejenak, meneguk tehnya lalu melanjutkan dengan nada serius namun lembut.
"Tapi yang paling penting, dia punya akhlak yang bagus, sopan santunnya terjaga, caranya menghargai orang lain itu luar biasa, dan yang paling utama... dia bisa bikin Selly senyum dan ketawa lepas kayak gitu."
"Dulu kan kita sering khawatir banget Ma liat Selly sama Darren. Kita tau Darren anak baik dan keluarganya juga terpandang, tapi sikap dia ke Selly itu... terlalu dingin, terlalu cuek, dan sering bikin hati kita juga sakit liat anak kita diperlakukan gitu."
"Nah beda sama Aron... ini anak kelihatan banget tulusnya. Kelihatan banget sayang dan jagain Selly. Keluarganya juga orang baik-baik, terpandang, dan punya nama baik di masyarakat. Jadi kalau Selly sama dia, kita sebagai orang tua tenang banget Ma, tenang banget di hati."
Mama Elara mengangguk cepat setuju, matanya berkaca-kaca haru.
"Betul banget Pa... Aron itu definisinya calon menantu idaman banget deh pokoknya. Rajin, sopan, pintar, kaya raya, keluarga juga terpandang, dan yang paling penting... sayang banget sama anak kita."
"Rasanya pengen cepet-cepet aja gitu liat mereka berdua resmi dan bahagia selamanya."
Mendengar obrolan orang tuanya yang begitu memuji Aron, Selly yang tidak sengaja menangkap pembicaraan itu dari jauh pun jadi tersipu malu.
Pipinya memerah padam, jantungnya berdegup kencang campur aduk antara senang dan salah tingkah.
Tak lama kemudian, Mama Elara memangil Selly mendekat ke arah sofa tempat mereka duduk.
"Selly... sayang, kemari sebentar dong Nak," panggil Mama lembut.
Selly pun berjalan mendekat dengan langkah pelan, sementara Aron tersenyum melihatnya dan memberi ruang.
"Iya Ma? Kenapa Ma?" tanya Selly manis sambil duduk di samping ibunya.
Mama Elara langsung memegang tangan putrinya itu erat-erat, menatap wajah putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang dan harapan.
"Gini Nak... Mama sama Papa ngomong-ngomong soal Aron tadi lho."
Selly menelan ludah mendadak gugup. "Oh iya Ma... emang Aron kenapa?"
Papa Andre yang duduk di sebelah sana ikut bersuara dengan senyum lebar dan bangga.
"Gini Sel... Papa sama Mama cuma mau bilang sama kamu. Kamu itu anak yang baik, anak yang pintar, dan berharga banget di mata mama sama papa. Kamu pantas dapet yang terbaik di dunia ini."
"Dan menurut pendapat Papa sama Mama... Aron itu anak yang sangat baik. Keluarganya juga terpandang, orang tuanya kita kenal baik dan sangat dihargai banyak orang. Aron sendiri itu sopan, ramah, pintar, dan yang paling penting..."
Papa berhenti sejenak, menatap mata putrinya dalam-dalam.
"Aron itu calon menantu idaman, Sel."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Papa Andre, penuh keyakinan dan penuh rasa suka cita.
"Mama sama Papa sangat suka sama Aron. Kita merasa sangat tenang dan aman kalau kamu sama dia. Dia tau cara menghargai kamu, dia tau cara jagain kamu, dan dia bisa bikin kamu bahagia."
"Jadi... pertahankan ya Nak. Jaga hubungan baik ini. Mama sama Papa dukung penuh banget kalau sama Aron. Dia orang yang tepat buat kamu, Sayang."
Mendengar restu dan pujian sebesar itu langsung dari mulut kedua orang tuanya...
Air mata kebahagiaan hampir saja menetes dari mata Selly. Dadanya terasa penuh, hangat, dan sangat bahagia luar biasa.
Akhirnya... dia mendapatkan kebahagiaan yang tulus, dan akhirnya... keluarganya pun ikut bahagia melihat dia menemukan sosok yang benar-benar tepat.
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥