NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Pedang Awan yang Patah

​Kemunculan Zhang Han di atas arena mengubah atmosfer alun-alun seketika. Jika aura Lin Chen sebelumnya seperti lautan yang tenang namun dalam tak terhingga, maka aura Zhang Han bagaikan pedang telanjang yang tajam, siap menebas siapa saja yang menghalangi jalannya.

​Ranah Pengumpulan Qi!

​Bagi klan-klan kecil di Kota Awan Merah, mencapai Ranah Pengumpulan Qi sebelum usia dua puluh tahun adalah pertanda seorang jenius mutlak. Di ranah ini, Qi tidak lagi sekadar memperkuat fisik, melainkan bisa dilepaskan ke luar tubuh, membungkus senjata, dan membelah baja seperti memotong tahu.

​Di tribun VIP, Kepala Keluarga Liu, Liu Zhen, mengelus jenggotnya dengan senyum puas. "Lin Tian, putramu mungkin memiliki kekuatan fisik buas hasil kebetulan menelan harta karun. Tapi di hadapan teknik sejati dari Sekte Pedang Awan Surgawi, kekuatan fisik kasar hanyalah lelucon. Siapkan peti mati untuk putramu."

​Wajah Lin Tian menegang, namun ia tidak membalas. Matanya terkunci rapat ke arah arena.

​Di atas arena obsidian, angin mulai bertiup kencang, berpusat pada tubuh Zhang Han. Jubah putihnya berkibar. Pedang panjang di tangannya memancarkan cahaya biru terang, tanda bahwa Qi murni telah dialirkan ke dalam bilahnya.

​"Lin Chen, aku akui kekuatan fisikmu cukup mengejutkan. Tapi batas antara Pemurnian Tubuh dan Pengumpulan Qi adalah jurang surgawi yang tidak bisa dilompati," Zhang Han mengangkat pedangnya, mengarahkannya tepat ke tenggorokan Lin Chen. "Berlutut, potong lidahmu sendiri, dan hancurkan Dantianmu. Mungkin aku akan bermurah hati membiarkanmu hidup sebagai anjing cacat!"

​Lin Chen hanya memiringkan kepalanya sedikit. "Jurang surgawi? Kalian orang-orang dari sekte besar benar-benar memiliki kebiasaan buruk mengoceh sebelum bertarung. Jika kau ingin membunuhku, gunakan pedangmu, bukan mulutmu."

​Mata Zhang Han menajam, niat membunuh meledak dari tubuhnya. "Bocah sombong yang tidak tahu arti kematian! Seni Pedang Awan Mengalir: Tebasan Angin Membelah Awan!"

​Sring!

​Zhang Han melesat maju. Kecepatannya dua kali lipat lebih cepat dari Wang Lei. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Lin Chen. Pedangnya menebas lurus, membawa bayangan pedang biru yang berlapis-lapis. Udara di sekitarnya terbelah, menghasilkan suara desingan tajam yang menyakitkan telinga para penonton di barisan depan.

​Ini adalah teknik tingkat tinggi. Tidak ada celah untuk menghindar!

​Semua orang menahan napas. Wang Lie tersenyum ganas, menunggu darah memancar. Lin Tian berdiri dari kursinya.

​Namun, di mata Lin Chen yang telah melalui penyiksaan Mandi Darah Naga, gerakan mematikan ini terasa... biasa saja.

​"Kekuatan serangannya bahkan tidak mencapai setengah dari gigitan Singa Api Neraka," dengus Mo Xuan di dalam kepala Lin Chen.

​Saat bilah pedang bercahaya biru itu berjarak hanya satu inci dari leher Lin Chen, tangan kanan remaja itu tiba-tiba terangkat. Dua jarinya—jari telunjuk dan jari tengah—menjepit dengan presisi yang mengerikan, tepat di tengah-tengah bilah pedang.

​Tring!

​Suara logam berbenturan bergema nyaring.

​Waktu seolah membeku. Mulut Zhang Han terbuka lebar. Matanya menatap horor pada bilah pedangnya yang tiba-tiba berhenti total di udara, seolah-olah baru saja menabrak gunung besi yang tak tergoyahkan. Cahaya biru Qi di pedangnya berkedip-kedip sebelum akhirnya padam sepenuhnya, ditelan oleh secercah aura emas samar yang melapisi dua jari Lin Chen.

​"Menjepit senjata berlapis Qi... hanya dengan dua jari biasa?!" Tuan Kota Zhao Wuji berseru tanpa sadar, setengah bangkit dari kursi kebesarannya.

​Itu mustahil! Bahkan seorang ahli Ranah Pengumpulan Qi Bintang 5 pun tidak akan berani menangkap tajamnya pedang dengan tangan kosong!

​"Lepaskan!" Zhang Han meraung panik. Ia mengerahkan seluruh sisa Qi dan kekuatan fisiknya, mencoba menarik pedangnya kembali. Wajahnya memerah karena mengejan, tapi pedang itu sama sekali tidak bergeser, tertanam kuat di antara jari-jari Lin Chen bak berakar di bumi.

​Lin Chen menatap mata Zhang Han yang kini dipenuhi teror murni. Senyum iblis kembali terukir di wajahnya.

​"Sekte Pedang Awan Surgawi... hanya inikah kemampuan kalian?" bisik Lin Chen dingin.

​KRAK!

​Lin Chen memutar pergelangan tangannya perlahan. Bilah pedang baja berkualitas tinggi yang dibuat oleh penempa terbaik kota itu melengkung sesaat, sebelum akhirnya patah berkeping-keping layaknya sepotong kaca rapuh.

​Sebelum Zhang Han sempat bereaksi terhadap hancurnya pedang kesayangannya, Lin Chen melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka menjadi nol.

​Ia mengepalkan tangan kirinya. Kali ini, ia tidak menahan diri. Qi emas murni dari Seni Pemakan Surga Sembilan Naga bergolak di dalam Meridian Naganya, meledak keluar melalui kepalan tangannya yang dibalut kilat biru.

​Tapak Guntur Pecah: Kekuatan Penuh!

​BOOOOOOM!

​Tinju itu bersarang tepat di tengah dada Zhang Han.

​Suara ledakan tumpul terdengar jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Tulang dada Zhang Han amblas ke dalam. Gelombang kejut dari Qi emas menembus tubuhnya, menghancurkan organ dalamnya, mencabik-cabik seluruh meridian utamanya, dan secara harfiah meledakkan Dantiannya dari dalam.

​Tubuh Zhang Han terlipat menjadi huruf V di udara. Darah segar menyemprot dari mulutnya setinggi dua meter. Ia terlempar terbang dengan kecepatan peluru, melewati puluhan baris tribun, sebelum akhirnya menghantam pilar penyangga atap koloseum.

​Bruk!

​Tubuh yang kini layaknya karung daging tak bertulang itu merosot jatuh ke lantai tribun VIP, tepat di depan kaki tiga rekannya sesama Murid Luar Sekte Pedang Awan Surgawi.

​Darah mengalir membasahi lantai marmer putih. Mata Zhang Han terbuka kosong, napasnya nyaris tak terdengar. Ia belum mati, namun Dantian dan seluruh urat nadinya telah hancur total. Ia telah menjadi manusia cacat permanen, jauh lebih parah dari Lin Lang.

​Keheningan kembali merajai alun-alun, kali ini jauh lebih absolut. Bahkan napas pun terdengar menakutkan.

​Tidak ada yang bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Seorang Murid Luar dari Sekte besar... seorang ahli Ranah Pengumpulan Qi... dikalahkan hanya dengan dua jari dan satu pukulan mematikan?

​Di atas arena, Lin Chen perlahan menurunkan tangannya. Jubahnya sedikit pun tidak berkerut. Ia sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja bertarung, melainkan seperti raja tiran yang baru saja menyingkirkan lalat yang mengganggu.

​Ia mendongak ke arah tribun VIP, matanya menatap tajam ke arah tiga pemuda berseragam sekte yang kini berdiri dengan wajah pucat pasi dan marah.

​"Kalian membawa nama besar sekte, namun tulang kalian sangat lunak. Sangat mengecewakan," Lin Chen mengangkat tangannya, mengarahkan telunjuknya langsung ke arah ketiga murid sekte tersebut.

​"Kau... Kau berani menghancurkan kultivasi Kakak Senior Zhang?!" salah satu murid berteriak dengan suara bergetar, mencabut pedangnya.

​"Aturan turnamen adalah pertarungan hidup dan mati," balas Lin Chen dengan suara menggema yang menekan seluruh alun-alun. "Jika dia tidak punya kemampuan, dia tidak seharusnya mencari mati. Sekarang..."

​Tatapan Lin Chen berubah setajam pedang yang baru diasah, menyapu tribun dengan arogansi yang mendominasi langit dan bumi.

​"Daripada membuang waktuku satu per satu..." ucap Lin Chen, "...kalian bertiga sisa anjing dari Sekte Pedang Awan Surgawi, turunlah ke arena ini. Majulah bersama-sama."

1
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪1
yos helmi
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪
Fiktor
mantap alur cerita nya ngak bertele2👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
yos helmi
😄😄😄😄🙏🙏🙏👍👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!