Salam dari author untuk pembaca 😊✨🙏
Putri Adelia yang biasa di panggil adel, usianya kini menginjak 24 tahun. Dia menjalani kisah cinta yang romantis dan begitu membuat iri orang-orang.
Kisah cintanya dengan devan alvano begitu indah dan tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.
Devan adalah sosok pria yang hampir tidak memiliki celah—tampan, mapan, dan selalu bersikap lembut pada Adel. Di hadapannya, Devan seperti pria yang hanya hidup untuk mencintai satu wanita.
Tapi tiba-tiba semuanya runtuh ayah adel memutuskan untuk menjodohkan nya dengan kakak Devan, yaitu Lucas yang usianya sudah 36 tahun terpaut jauh dari usia adel.
HEHEH SEMOGA SUKA YA SAMA NOVEL AKU 🙏😁✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tayanlee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20.
* Wanita itu berdiri tegak, Ia tersenyum tipis pada Adel.
" Selamat pagi nona " sapanya dengan sopan, namun jelas.
" Pagi " jawab Adel. Ia terdiam mengamati wanita itu dengan saksama.
" Saya rena, pelayan yang di tugaskan oleh tuan Lucas " ucap nya sopan, Ia masih mempertahankan senyuman tipisnya.
" Iya masuk aja " ucap Adel.
Rena pun masuk, Ia tampak sudah terbiasa dengan apartemen ini, berjalan menuju dapur dan meletakkan keranjang belanjaan.
Adel mengamati dari jauh, Ia masih merasa asing dengan situasi ini.
" apa kamu sudah lama kerja di sini? " tanya Adel.
Rena mengangkat wajahnya, Ia menatap Adel, lalu tersenyum tipis.
" Saya sudah lumayan lama kerja di sini " jawabnya cepat.
Adel masih berdiri di sana, Ia tampak sedang memikirkan sesuatu, lalu tatapannya kembali ke Rena yang sedang mengeluarkan bahan masakan.
" sudah berapa lama " tanya Adel, Ia akhirnya berjalan pelan menuju meja makan, dekat dengan tempat Rena memasak.
" Mm... sekitar satu tahun...!! mungkin ada segitu nona " jawabnya.
" Oh..aku bertanya karena melihat kamu sangat terbiasa dengan rumah ini " ucap Adel, Ia menarik kursi lalu duduk di sana, memperhatikan Rena yang sedang menyusun makan ringan dan sereal ke dalam laci.
Rena tersenyum kecil tanpa menghentikan pekerjaannya.
" karena sudah lama, makanya jadi terbiasa " ucapnya sopan.
" nona mau sarapan apa? " tanya Rena.
Adel terdiam, ini pertama kalinya dia sarapan sendiri, tidak ada yang menemaninya.
Biasanya dia akan sarapan bersama keluarganya, Pa-pa dan ibu nya, sebelum menjalankan aktivitas masing-masing.
" aku ingin yang ringan aja " ucap Adel.
" baik, tolong tunggu sebentar " ucap Rena, Ia segera mengambil bahan makanan dari kulkas.
pandangan Adel masih setia mengikuti gerakan kecil Rena, tapi pikirannya bukan di sini melainkan di tempat lain.
" apa Lucas sering seperti itu " celetuk Adel.
Rena terdiam sesaat, wajahnya tampak bingung dengan pertanyaan Adel tadi.
" maksud nona bagaimana " tanyanya sopan.
" dia bicara dengan dingin, dan seakan tidak perduli " jelas Adel.
Rena terdiam sejenak, seolah memilih kata yang tepat untuk jawaban Adel.
" Tuan Lucas?... "
" tuan Lucas memang tidak banyak bicara " jawabnya hati-hati.
" Oh.. begitu "
Rena hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Adel, Ia pun sudah selesai dengan sarapan yang Adel minta.
" saya buatkan roti bakar, telor rebus dan salad " ucap Rena, Ia menyajikan sarapan untuk Adel di meja tepat di hadapan Adel.
" Terimakasih " ucap Adel pelan.
Rena mengangguk kecil dengan sopan.
" ini minumnya nona " ucap Rena, menaruhnya di samping piring sarapan.
/~~~
Ruangan itu luas, di dominasi oleh warna gelap dengan sentuhan elegan, dinding kaca tinggi memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.
Seorang pria duduk di kursi besar di balik meja kerja.
Lucas.
Tubuhnya tegap, jas hitam yang Ia kenakan tampak rapi tanpa cela, satu tangan bertumpu di meja , sementara yang lainnya memegang pena, mengetuk pelan permukaan meja.
Tok.. tok.. tok...
Lucas menoleh, tatapannya tertuju pada pintu besar itu.
" Tuan rapat akan di mulai lima menit lagi " ucap seseorang di depannya.
" baik " jawab Lucas singkat, Ia pun segera bangkit dari duduknya, Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut.
* Lucas berjalan di lorong dengan wibawa dan tegas, sosok yang paling di takuti oleh karyawan, di ikuti oleh sang asisten Mike.
Tiba-tiba Lucas berhenti di depa pintu kaca di mana rapat akan di mulai.
" Apa ada yang anda butuhkan tuan " tanya mike, melihat Lucas tiba-tiba berhenti membuatnya sedikit tegang.
Lucas berbalik, menatap mike untuk beberapa detik.
" kirim seseorang untuk mengamati wanita itu " ucap Lucas datar.
" wanita? " ulang mike, Ia tampak bingung.
" Iya wanita yang tadi pagi di apartemen "
" suruh seseorang untuk mengikutinya kemanapun dia pergi, apa yang dia lakukan, semuanya kirim padaku tanpa sedikitpun kesalahan "
Mike terdiam sesaat.
" baik tuan " jawabnya cepat.
" satu lagi, kirim pengawal untuk mengikuti wanita itu, jangan sampai dia tahu aku menaruh orang-orang ku padanya " ucap Lucas dingin dan datar, suaranya tampak tegas.
" Biak tuan, sesuai permintaan anda " jawab mike.
Lucas melangkah masuk ke ruang rapat, pintu besar itu tertutup pelan di belakangnya, suasana langsung berubah.
Beberapa orang yang sudah duduk di kursi masing-masing tampak menegakkan punggung mereka, udara terasa lebih barat dan tegang dari sebelumnya.
" Selamat siang, tuan Lucas " sapa mereka hampir bersamaan.
Lucas hanya mengangguk pelan tanpa senyum, Ia berjalan menuju kursi utama di ujung meja panjang, Ia duduk dengan tenang, sorot matanya berubah tajam dan fokus.
" Kita mulai " ucapnya singkat.
semua langsung bergerak, presentasi di mulai, layar besar menampilkan data dan grafik yang begitu rumit, suara salah satu direktur terdengar menjelaskan dengan hati-hati.
" ... jadi untuk proyek ini kita memerlukan tambahan_"
" Tidak efisien " potong Lucas.
Ruangan langsung hening, semua mata tertuju padanya, Lucas menggeser sedikit berkas yang ada di depannya, lalu menatap dingin pria yang tadi berbicara.
" jika kamu membutuhkan sumber daya dengan hasil yang sama, berarti perencanaan mu salah dari awal " ucap Lucas datar dengan wajah yang tegas.
Pria itu langsung terdiam, wajahnya berubah jadi pucat.
" Revisi, aku mau laporan sebelum sore " lanjut Lucas, tanpa memberi ruang untuk membantah.
" b.. baik tuan " jawabnya cepat.
Rapat kembali berjalan, tapi suasananya terlihat lebih tegang.
Mike yang berdiri di belakang hanya diam, sudah terbiasa dengan sikap Lucas yang seperti itu tegas, dingin, dan tidak memberi toleransi pada kesalahan.
Rapat telah selesai, terlihat Lucas berjalan dengan cepat menuju ruangannya.
Dua minggu di tinggal karena harus mengurus pernikahan, membuat meja kerja Lucas penuh dengan pekerjaan yang menumpuk.
Wajahnya terlihat lelah, Lucas menghembuskan nafas panjang, lalu tatapannya tertuju pada berkas-berkas yang tersusun rapi di meja.
Untuk beberapa detik dia hanya diam tanpa bergerak.
tok... tok... tok...
Lukas menoleh, Ia melihat mike masuk dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
" Maaf menganggu tuan " ucap sopan mike, Ia meletakkan kertas itu di meja kerja Lucas.
" apa ini " tanya Lucas.
" menurut saya ini lebih penting dari berkas-berkas di meja anda tuan "
" ini membutuhkan tanda tangan anda tuan " jawab mike.
Lucas melirik sekilas berkas yang di letakan di depannya, alisnya sedikit berkerut.
Lu doyan ma perempuan kaga sih 🙄🙄🙄🙄
a elaaaaaaah lu lambat banget jadi cwo.
Readers kecewa nih 😒😒😒
Reader : elu nyesel khan Cas, yg begitu lu anggurin.
Udeh buruan lu tubruk deh...udah halal juga khan
Lu gimana sih Lucaaaaaasss, masa iya lu diem aja dibilang laki ga normal.
Harusnya tuh lu tunjukin ke Adel...kasih paham ke Adel, kl lu laki tulen
Hanya Othorlah pemegang kendali atas segalanya
Tunjukkan kl kamu ga terpengaruh ocehan Karina, biar Karina tidak memandangmu remeh.