Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OPERASI DI TENGAH SENYAP
Bau tanah basah dan lumut yang menyengat memenuhi ceruk kecil itu. Keyra bersimpuh di atas tanah berlumpur, membiarkan lututnya kotor demi menopang kepala Ghazali yang terkulai lemas. Cahaya bulan hanya mampu mengintip sedikit dari celah akar bakau, memberikan bayangan kebiruan yang pucat pada wajah sang Kapten.
"Ghaz... bangun, Ghazali! Jangan biarkan aku sendirian di sini," bisik Keyra. Suaranya bergetar, namun tangannya dengan cekatan membuka tas medis yang ia dekap erat sejak terjun ke sungai tadi.
Ghazali mengerang kecil. Kelopak matanya bergerak berat, menyingkap netra hitam yang biasanya tajam kini meredup oleh demam. "Lari... Key... bawa chip itu ke Kota Z... cari Yudha..."
"Diam! Aku tidak menerima perintah sekarang. Di sini, aku dokternya," bentak Keyra pelan, meski air matanya nyaris tumpah. Ia meraba jari manisnya, merasakan lilitan kabel tembaga yang kini menjadi jangkar jiwanya. Aku sudah jadi tunanganmu, Kapten Kaku. Tunangan tidak meninggalkan pasangannya di tengah lumpur.
Keyra memeriksa luka bahu Ghazali. Jahitan daruratnya robek akibat hantaman air sungai yang deras, dan yang lebih mengerikan, ia melihat serpihan kayu yang tertanam lebih dalam, mulai membiru karena infeksi. Jika tidak segera dikeluarkan, Ghazali akan mengalami sepsis sebelum fajar.
"Ghaz, dengar aku," Keyra memegang wajah Ghazali, memaksa pria itu fokus. "Aku harus melakukan sesuatu. Mengeluarkan jaringan mati dan serpihan itu. Aku tidak punya obat bius yang cukup. Kamu harus bertahan."
Keyra melilitkan sobekan kain ke dalam mulut Ghazali agar suaranya tidak memancing musuh. Pria itu mengangguk lemah, tangannya mencengkeram akar pohon di sampingnya hingga buku-bukunya memutih dan kukunya masuk ke dalam tanah.
Dengan tangan gemetar namun penuh konsentrasi, Keyra mulai bekerja. Cahaya satu-satunya hanya berasal dari senter kecil yang ia gigit di mulutnya. Saat mata pisau bedah menyentuh kulit Ghazali, tubuh tegap itu tersentak hebat. Keringat dingin bercampur air sungai membanjiri tubuhnya, namun Ghazali hanya mampu mengerang tertahan di balik kain.
"Sedikit lagi... tahan,... sedikit lagi," bisik Keyra tanpa sadar.
Kling.
Sebuah serpihan kayu runcing berhasil dicabut dan jatuh ke atas kain kasa. Keyra segera menyiram luka itu dengan sisa cairan antiseptik terakhir dan menyuntikkan antibiotik dosis tinggi langsung ke otot lengan Ghazali.
Setelah satu jam yang terasa seperti selamanya, Keyra berhasil membalut luka itu dengan rapi. Ia duduk bersandar di dinding gua yang dingin, menarik tubuh Ghazali agar bersandar di dadanya, mencoba memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri yang juga menggigil kedinginan.
"Terima kasih... Dokter," bisik Ghazali parau, kepalanya bersandar di ceruk leher Keyra. Napasnya mulai sedikit lebih teratur, meski demamnya belum sepenuhnya turun.
Keyra mengusap rambut pendek pria itu, menatap cincin kabel di jarinya. "Jangan berterima kasih. Cukup pastikan kita sampai di Kota dan kamu mengganti kabel ini dengan sesuatu yang lebih berkilau, paham?"
Ghazali tersenyum tipis senyum yang sangat langka. Ia mencari tangan Keyra dalam kegelapan dan menggenggamnya erat.
Tiba-tiba, telinga tajam Ghazali menangkap sesuatu. Ia mendadak menegang. Di luar gua, suara dahan patah terdengar sangat jelas.
Krek.
Keyra membeku. Ia mematikan senter kecilnya seketika. Dari celah semak yang menutupi mulut gua, ia melihat sorotan lampu senter yang kuat menyapu permukaan rawa, hanya berjarak beberapa meter dari persembunyian mereka.
"Mereka pasti mendarat di sekitar sini. Cari jejak darah atau pakaian basah! Jangan biarkan mereka mencapai hulu!" Suara berat itu terdengar penuh ancaman.
Keyra meraba pisau bedahnya yang masih berdarah. Ia bukan tentara, ia tidak pernah memegang senjata api, tapi di dalam kegelapan itu, instingnya berubah. Jika musuh masuk, ia akan menjadi perisai bagi pria yang baru saja melamarnya di bawah ancaman maut.
Ghazali mencoba meraih senjatanya yang tergeletak di samping, namun Keyra menahannya. "Jangan bergerak, lukamu bisa terbuka lagi."
"Keyra... jika mereka masuk, kamu lari lewat celah belakang gua ini. Ada lubang kecil menuju rawa dalam," bisik Ghazali, matanya kembali tajam meski tubuhnya gemetar.
"Tidak akan," jawab Keyra tegas. "Kita masuk ke sini bersama, kita keluar pun harus bersama."
Langkah sepatu bot itu kini berhenti tepat di depan semak mulut gua. Keyra memejamkan mata, berdoa dalam hati agar keajaiban datang sebelum tim pemburu itu menyibak dedaunan pelindung mereka.
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....