Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.
Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.
Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.
"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."
Bab 3 Pujian Palsu
Di dalam mobil, suasana terasa lebih panas daripada aspal jalan di siang hari. Bara mengemudi seperti orang kesetanan, meliuk-liuk di antara kemacetan dengan kecepatan yang bikin jantung Renata serasa mau copot. Cengkeraman tangan Bara pada kemudi begitu kuat.
"Bisa pelan sedikit nggak? Gue nggak mau mati konyol!" bentak Renata sambil berpegangan erat pada handle pintu.
Bara tidak menjawab. Dia justru menginjak gas lebih dalam, membuat mesin mobil menderu garang. Begitu jalanan sedikit lengang, dia mendadak menginjak rem dengan sentakan kasar sampai tubuh Renata terjerembap ke depan.
"Apa-apaan sih, Bar?!" Renata berteriak, napasnya memburu.
Bara menoleh, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Lo yang apa-apaan! Seneng lo jadi pusat perhatian di kantor tadi? Seneng lo dipuji-puji Reno di depan klien? Lo sengaja kan pake baju begini buat narik perhatian dia?"
Renata tertawa getir, nggak percaya sama apa yang dia denger. "Baju ini? Lo sendiri yang suruh gue dandan cantik biar nggak malu-maluin keluarga Adiwangsa! Sekarang lo malah nyalahin gue?"
"Tapi bukan buat ngegaet sepupu gue, Renata! Inget, lo itu istri gue. Jangan pernah berani lo kasih panggung buat Reno lagi kalau lo masih mau di anggap istri."
Renata terdiam, tenggorokannya terasa tercekat. Ancaman soal ayahnya selalu jadi kartu as yang bikin dia nggak berkutik. Dia memalingkan wajah ke jendela, air mata kemarahan mulai menggenang tapi dia tahan sekuat tenaga.
Begitu mobil sampai di depan gerbang rumah mewah itu, Bara menarik napas panjang. Dia merapikan rambutnya dan mengubah ekspresi wajahnya yang tadinya beringas menjadi tenang dalam hitungan detik. Di teras rumah, terlihat mobil sedan hitam milik Pak Baskoro.
"Turun!" ia menambabkan peringatan, "Sekarang Di rumah ada Papa jangan tunjukin muka melas lo itu di depan Papa," perintah Bara.
Begitu pintu rumah terbuka, suara hangat Pak Baskoro langsung menyambut mereka. "Nah, ini dia pasangan paling serasi kita sudah pulang!"
Bara tiba-tiba merangkul pinggang Renata dengan sangat lembut, seolah-olah dia adalah suami yang paling mencintai istrinya. "Iya, Pah. Maaf ya telat, tadi rapatnya agak lama."
Nyonya Sarah yang biasanya menatap Renata seperti kotoran, tiba-tiba berjalan mendekat dengan senyum lebar yang sangat asing. Dia merangkul bahu Renata, mengusapnya pelan. "Aduh, menantu Mama capek ya? Tadi Mama dapet laporan dari Reno kalau kamu hebat banget nemenin Bara rapat. Mama bangga deh punya menantu kayak kamu."
Renata merasa merinding. Pujian itu terdengar seperti racun yang dibalut madu. Dia melirik Siska yang duduk di sofa sambil pura-pura baca majalah, tapi sebenarnya sedang menahan tawa melihat sandiwara ibunya.
"Sini duduk, Sayang," Papah mengajak Renata duduk di sampingnya. Papah mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari saku jasnya. "Papa punya sesuatu buat kamu. Ini kalung berlian turun-temurun dari neneknya Bara. Papa mau kamu yang pakai, sebagai tanda kalau kamu sudah jadi nyawa di keluarga ini."
Renata terpaku melihat kalung yang berkilauan itu. "Papa... ini terlalu mahal buat aku."
"Nggak ada yang terlalu mahal buat kamu, Renata," sahut Papah tulus.
Di sudut ruangan, Renata bisa melihat mata Nyonya Sarah berkilat iri dan tajam, berlawanan dengan senyum palsu yang masih nempel di bibirnya. Sementara Bara cuma berdiri di belakang mereka, menyesap kopinya dengan tatapan kosong, seolah semua kemesraan ini hanyalah skenario yang membosankan baginya.
Nyonya Sarah bertepuk tangan pelan, memecah suasana haru yang sengaja dia ciptakan. "Sudah, sudah. Kalungnya simpan dulu, ayo kita ke meja makan. Mama sudah siapkan hidangan spesial buat menyambut kepulangan Papa dan keberhasilan rapat kalian tadi."
Mereka beranjak ke meja makan panjang yang sudah penuh dengan makanan mewah. Di bantu Bibi Sumi yang mondar-mandir menyiapkan piring dan makanan. Renata duduk di sebelah Bara, yang tiba-tiba menarikkan kursinya dengan gerakan sangat sopan, sandiwara yang hampir membuat Renata ingin tertawa saking ironisnya.
"Jadi, bagaimana pekerjaanmu di luar kota, Mas?" tanya Nyonya Sarah sambil menuangkan jus ke gelas suaminya. "Lancar? Sepertinya kamu kelihatan nggak ada beban."
Baskoro menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang dengan senyum tipis. "Ya, ada sedikit perubahan rencana. Proyek di sana sudah stabil, jadi aku memutuskan untuk tinggal di sini dulu selama beberapa bulan ke depan."
Mendengar itu, gerakan tangan Nyonya Sarah yang sedang memotong steaknya sempat terhenti sejenak, tapi dia langsung kembali tersenyum lebar. "Oh ya? Itu berita bagus dong! Rumah jadi terasa lengkap kalau ada kamu."
"Tapi," lanjut Baskoro sambil menatap Bara dan Renata bergantian. "Setelah beberapa bulan ini, aku harus berangkat lagi ke Amerika. Urusan di sana cukup mendesak dan sepertinya aku akan lama di sana. Mungkin sekitar tiga bulan."
Bara hanya mengangguk pelan sambil mengunyah makanannya tanpa ekspresi, sementara Siska sibuk memutar-mutar garpunya.
"Kalau kamu mau ikut, silakan, Sarah," tawar Pak Baskoro pada istrinya. "Soalnya aku bakal lama sekali di sana. Tapi kalau kamu lebih milih di sini juga tidak apa-apa."
Nyonya Sarah tampak menimbang-nimbang, matanya melirik ke arah Renata dengan kilatan yang sulit diartikan.
"Biar rumah ini ditempatin Renata sama Bara saja selama kita pergi, kalo kamu mau ikut," tambah Pak Baskoro tegas. "Terus biar mereka belajar mandiri mengurus rumah besar ini. Aku mau mereka punya privasi sebagai pengantin baru tanpa gangguan siapa pun."
Suasana meja makan mendadak sunyi. Siska hampir saja tersedak air minumnya, sementara Renata merasa dadanya sesak. Tiga bulan sendirian di rumah ini sama Bara tanpa ada Pak Baskoro? Itu bukan privasi bagi Renata, itu adalah vonis penjara tanpa pelindung.
"Wah, ide bagus itu, Pah," sahut Bara tiba-tiba, suaranya terdengar sangat manis tapi matanya melirik tajam ke arah Renata dari sudut pandangnya. "Bara rasa Renata juga butuh waktu buat belajar jadi ibu rumah tangga yang baik tanpa bantuan siapa-siapa, Iyak-an?"
Bara mengusap punggung tangan Renata di atas meja, tapi bagi Renata, sentuhan itu terasa seperti cengkeraman predator yang baru saja menemukan mangsa yang terpojok.
"I-iya, Pa. Aku setuju," jawab Renata terbata, mencoba tetap tersenyum di bawah tatapan Nyonya Sarah yang mulai berubah mendingin seiring rencana keberangkatan Pak Baskoro dibahas.
"Bagus kalau begitu," Baskoro menepuk meja dengan puas. "Papa mau liat, setelah Papa pulang dari Amerika nanti, apakah ada kabar gembira soal cucu buat Papa."
Renata nyaris menjatuhkan garpunya. Dia melirik ke arah Nyonya Sarah, dan benar saja, ibu mertuanya itu sedang menatapnya dengan tatapan yang seolah ingin menguliti Renata hidup-hidup. Begitu Baskoro tidak melihat, Nyonya Sarah membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Renata.
"Jangan senang dulu. Tiga bulan itu waktu yang sangat lama untuk membuat seseorang menghilang dari rumah ini," bisik Nyonya Sarah dengan senyum palsu yang paling mengerikan yang pernah dilihat Renata.
Baskoro meletakkan sendoknya, lalu menatap Renata dengan binar mata kebapakan yang sangat tulus. "Renata, Papa dari tadi cuma dengar omongan Sarah sama Bara. Sekarang Papa mau tanya langsung sama kamu. Gimana rasanya tinggal di sini? Apa kamu nyaman? Apa ada yang bikin kamu nggak betah?"
Mendengar pertanyaan itu, Bara yang sedang mengunyah tiba-tiba tersedak kecil. Dia langsung menyambar gelas air putihnya dan meminumnya dengan terburu-buru, seolah-olah air itu bisa menelan rasa gugupnya. Matanya melirik tajam ke arah Renata dari balik gelas, seolah memberi peringatan: Jangan macam-macam.
Renata menangkap kegelisahan di mata Bara. Dia terdiam sejenak, merasakan perih di pergelangan tangannya yang masih memerah tertutup lengan baju. Namun, begitu melihat wajah Pak Baskoro yang begitu berharap, Renata memaksakan sebuah senyum manis yang terlihat sangat natural.
"Nyaman banget, Pa," jawab Renata dengan suara yang dibuat serenyah mungkin. "Jujur, awalnya Renata takut nggak bisa adaptasi, tapi ternyata Mama Sarah baik banget. Renata merasa diperlakukan kayak anak kandung sendiri sama Mama Sarah. Terus juga Mama Sarah sering kasih nasihat yang berguna buat Renata."
Nyonya Sarah yang mendengar itu hampir saja menjatuhkan serbetnya. Dia menatap Renata dengan pandangan tak percaya—bagaimana bisa gadis yang tadi dia maki-maki sekarang memujinya setinggi langit di depan suaminya?
Renata tidak berhenti di situ. Dia menoleh ke arah Bara, lalu menyentuh lengan suaminya itu dengan lembut. "Apalagi Bara, Pa. Tadi mungkin kelihatan sibuk sama urusan pekerjaanya di kantor, tapi di dia ada rasa perhatian sama Renata. Dia selalu mastiin Renata nggak kekurangan apa pun. Renata beruntung banget bisa jadi istri Bara."
Bara hampir menyemburkan air yang masih ada di mulutnya. Dia menatap Renata dengan tatapan yang sulit diartikan, antara bingung, marah, dan... sesuatu yang mirip dengan rasa malu karena dipuji sedemikian rupa di saat dia tahu betapa brengseknya dia tadi di mobil.
"Hahaha! Bagus, bagus!" Baskoro tertawa puas, menepuk meja dengan gembira. "Dengar itu, Sarah? Kamu berhasil jadi ibu mertua yang hebat. Dan kamu, Bara, Papa bangga kamu bisa jaga istri kamu dengan baik."
Nyonya Sarah terpaksa ikut tertawa kecil, meski tawanya terdengar sangat garing. "Tentu saja, Pah. Renata kan sudah seperti permata di rumah ini, apa yang papa bilang pas di acara peresmian proyek baru."
Nyonya Sarah mendengus, matanya menyipit tajam ke arah Renata. Namun, sebelum mertuanya itu sempat melontarkan kata-kata pedas lainnya, Renata justru menoleh ke arah Pak Baskoro yang baru saja hendak melangkah menuju ruang kerjanya.
"Pah," panggil Renata lembut, membuat langkah pria paruh baya itu terhenti.
Baskoro mendongak dengan senyum ramah. "Iya, Sayang? Ada apa?"
Renata melirik sekilas ke arah Nyonya Sarah yang wajahnya mendadak kaku, lalu ke arah Bara. Siska yang tadi asyik dengan ponselnya kini ikut mendongak, penasaran dengan apa yang akan ditanyakan kakak iparnya itu.
"Tadi Papa tanya gimana perasaan Renata di sini. Sekarang... boleh Renata tanya satu hal sama Papa?" Renata mengatur napasnya, mencoba terdengar setenang mungkin. "Gimana sebenarnya pandangan Papa terhadap aku? Maksudnya... dari sekian banyak perempuan hebat di luar sana, kenapa Papa mau aku yang jadi menantu Papa?"
Pertanyaan itu seperti menjatuhkan bom di tengah meja makan. Suasana mendadak hening seketika. Nyonya Sarah meremas serbet di tangannya, wajahnya sedikit pucat karena takut Pak Baskoro akan membongkar alasan ekonomi di balik pernikahan ini. Bara pun terpaku, matanya menatap Renata dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
Baskoro bangun lalu mendekat ke renata, kemudian meletakkan tangannya di bahu Renata dengan penuh kasih.
"Karena Papa melihat sesuatu yang jarang Papa temukan di orang lain, Renata," jawab Baskoro dengan suara berat namun tulus. "Papa nggak butuh menantu yang cuma pamer harta atau gelar keluarganya. Papa butuh seseorang yang punya prinsip, seseorang yang bisa jadi pegangan buat Bara yang keras kepala ini. Dan saat pertama kali Papa melihat kamu, Papa tahu... kamu berbeda dari wanita lain."
Beliau melirik ke arah istrinya dan Bara sejenak sebelum kembali menatap Renata. "Banyak orang yang cuma bicara manis di depan, tapi kamu... kamu punya ketegaran buat bertahan meski keadaan sulit. Papa mau keluarga Adiwangsa punya wanita sepertimu."
Di bawah meja, Renata bisa merasakan kaki Siska menendang kakinya dengan sengaja karena kesal, tapi Renata tetap mempertahankan senyumnya. Dia tahu, dengan memuji mereka di depan Pak Baskoro, dia baru saja mengunci pergerakan Nyonya Sarah dan Bara untuk sementara waktu.
Nyonya Sarah terpaksa tersenyum kecut. "Tentu aja, Mas. Dugaan kamu emang nggak salah," ucapnya dengan nada yang sangat dipaksakan, meski hatinya panas mendengar pujian suaminya untuk mantunya.
Bara hanya diam, tapi rahangnya mengeras. Kata-kata ayahnya soal "prinsip" seolah menamparnya telak, karena dia tahu betul bahwa dialah orang pertama yang berusaha menginjak-injak prinsip Renata sejak malam pertama.
"Sudah ya, Papa harus telepon kolega dulu. Kalian istirahatlah," tutup Pak Baskoro sambil menepuk pelan puncak kepala Renata sebelum benar-benar pergi.
Begitu pintu ruang kerja Pak Baskoro tertutup rapat, suasana ramah di meja makan itu menguap begitu saja. Nyonya Sarah langsung berdiri, mendekati Renata hingga jarak mereka sangat dekat.
"Jangan senang dulu, Renata," bisik Nyonya Sarah dengan nada yang sangat rendah dan mengancam. "Suami saya mungkin melihat kamu itu orang baik, tapi saya... saya cuma melihat parasit yang pintar cari muka. Nikmati saja waktumu selagi suami saya ada di sini."
Siska ikut berdiri, melewati Renata sambil menabrak bahunya dengan sengaja. "Akting lo oke juga, Kak. Good job," sindirnya sebelum melenggang pergi.
Tinggal Renata dan Bara di ruang makan. Bara menatap Renata dengan pandangan yang sulit dibaca, antara benci, curiga, dan sedikit rasa aneh yang dia sendiri tak tahu apa namanya.
"Lo pinter banget narik simpati Bokap gue," desis Bara sambil melangkah pergi.
Setelah kepergian Bara yang meninggalkan jejak ketegangan di udara, Renata menghela napas panjang. Dia tidak langsung naik ke kamar. Tangannya perlahan meraih piring-piring kotor di hadapannya, mencoba menyibukkan diri agar pikirannya tidak melantur ke mana-mana.
"Eh, jangan Non! Biar Bibi saja," sebuah suara lembut menghentikan gerakan tangan Renata.
Seorang wanita paruh baya dengan celemek kusam dan raut wajah yang teduh muncul dari arah dapur. Ini pertama kalinya Renata melihat wanita ini sejak dia menginjakkan kaki di rumah Adiwangsa. Rambutnya yang mulai beruban diikat rapi, dan matanya memancarkan ketulusan yang kontras dengan tatapan tajam Nyonya Sarah.
"Nggak apa-apa, Bi. Saya bantu sedikit," jawab Renata pelan sambil tetap mengangkat tumpukan piring.
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, mendekat dan mengambil alih piring dari tangan Renata dengan gerakan cekatan. "Nama saya Sumi, Non. Panggil saja Bi Sumi. Saya yang mengurus dapur di sini."
Renata mengangguk lemah. "Saya Renata, Bi."
Bi Sumi menoleh ke arah tangga, memastikan Bara dan Nyonya Sarah sudah benar-benar tidak ada di sana. Dia kemudian mendekati Renata, meletakkan tangannya yang kasar namun terasa hangat di atas tangan Renata yang masih gemetar.
"Sabar ya, Non," bisik Bi Sumi dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti rahasia. "Non harus kuat. Gusti Allah tidak tidur."
Renata tertegun. Kalimat sederhana itu terasa seperti siraman air dingin di tengah padang pasir. Selama di rumah ini, semua orang hanya menuntut, menghina, atau berpura-pura. Baru kali ini ada seseorang yang memberikan empati tanpa syarat.
"Terima kasih, Bi," ucap Renata tulus, matanya sedikit berkaca-kaca.
"Sama-sama, Non. Sudah, Non naik saja ke atas. Istirahat. Biar sisa ini Bibi yang selesaikan. Jangan sampai Tuan Muda Bara menunggu terlalu lama, nanti dia marah lagi," Bi Sumi memberikan senyum penguat.
Renata mengangguk, lalu melangkah perlahan menuju lantai atas. Di setiap anak tangga, kata-kata Bi Sumi bergema di kepalanya. Sabar. Sebuah kata yang mudah diucapkan namun sangat berat untuk dijalani di bawah atap yang penuh dengan duri ini.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Renata berhenti sejenak. Dia memegang gagang pintu dengan tangan yang dingin. Dia tahu, di balik pintu ini ada Bara. Dengan satu tarikan napas panjang, Renata memutar kunci.