Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepertinya... Banyak yang Berubah
Aku sampai di rumah.
Suasananya tenang seperti biasa. Tidak banyak berubah.
Aku masuk, menutup pintu pelan, lalu langsung menuju kamar. Tidak banyak yang kupikirkan. Aku hanya ingin cepat bersiap.
Baju kuganti. Setelah itu mandi sebentar. Air dingin cukup membantu menyegarkan kepala, meski sisa-sisa pagi tadi masih terasa.
Selesai, aku keluar dan menuju dapur.
Kak Marisa sudah di sana.
“Kamu dari mana pagi-pagi?” tanyanya.
“Lari,” jawabku singkat sambil duduk.
Dia melirik sekilas. “Tumben.”
Aku hanya mengangkat bahu, lalu mulai makan. Tidak banyak bicara. Suasana dapur kembali tenang, hanya suara sendok dan piring yang terdengar pelan.
“Oh iya, Kak,” ucapku setelah beberapa saat.
Dia menoleh. “Hm?”
“Nanti kalau aku nelpon, jemput ya.”
“Motor kamu kenapa?”
“Mau diubah dulu di bengkel.”
Kak Marisa mengangguk. “Ya udah, kabarin aja.”
“Iya.”
Aku melanjutkan makan sampai habis. Setelah itu berdiri, mengambil kunci, lalu bersiap keluar.
Sempat berhenti sebentar di depan pintu, menarik napas pelan, lalu langsung melangkah pergi.
—
Bengkel sudah terlihat seperti biasa. Suaranya, baunya, suasananya—semuanya familiar.
“Wih, pagi amat,” sapa Andi begitu melihatku.
“Lagi pengen aja,” jawabku santai.
Bara ikut mendekat. “Motor lu mau diapain lagi sih?”
“Cuma sedikit ubahan.”
Bara langsung nyengir. “Sedikit katanya.”
Aku tidak terlalu menanggapi. Perhatianku justru tertarik ke satu orang di dalam.
Berbeda.
Lebih rapi. Lebih bersih dari yang lain.
Aku baru pertama kali melihatnya di sini.
“Eh, sini,” panggil Andi. “Kenalin dulu.”
Aku mendekat.
“Itu Bang Andra.”
Aku mengangguk. “Bang.”
Dia menoleh. Tatapannya tenang. “Iya?”
Aku langsung mengeluarkan konsep yang sudah kubuat dan menyerahkannya.
Dia menerimanya, lalu memperhatikan dengan serius.
Cukup lama.
“Hmm… gak buruk,” ucapnya akhirnya.
Aku sedikit lega.
“Tapi kalau mau lebih enak dilihat…” lanjutnya sambil mulai menunjuk beberapa bagian.
Dia menjelaskan dengan santai, tapi jelas. Mengubah beberapa detail, menyesuaikan bagian yang menurutnya kurang pas.
Aku memperhatikan.
Dan pelan-pelan… aku mulai melihatnya.
Versi yang dia bayangkan jauh lebih rapi. Lebih matang dari yang aku pikirkan sebelumnya.
Aku mengangguk. “Yang ini aja, Bang.”
Dia mengangguk balik. “Oke.”
Konsep itu dia pegang sebentar, lalu dilipat.
“Nanti gue bahas sama anak-anak dulu,” katanya.
Aku mengangguk.
Beberapa orang di bengkel mulai ikut mendekat. Mereka melihat sekilas konsep yang sudah disesuaikan.
“Wih…” Bara bersiul pelan. “Ini baru niat.”
Andi ikut mengangguk. “Keren sih.”
Aku hanya tersenyum kecil.
Entah kenapa… rasanya puas.
Bang Andra kemudian berdiri. “Nanti mereka yang kerjain,” katanya santai. “Gue pantau aja kalau lagi senggang.”
Aku mengangguk lagi. “Siap, Bang.”
Semua sudah jelas.
Dan untuk pertama kalinya sejak datang—
aku benar-benar merasa bersemangat.
Bukan cuma karena motor itu.
Tapi karena… rasanya seperti mulai masuk ke sesuatu yang lebih besar dari sekadar ide sendiri.
Kami masih berdiri di sana beberapa saat.
Obrolan ringan mengalir begitu saja.
Tidak terlalu penting.
Lebih banyak candaan—yang sebagian bahkan tidak perlu dipikirkan.
Bara beberapa kali melempar komentar yang tidak jelas arahnya, tapi tetap berhasil bikin Andi nyengir.
Aku hanya ikut sesekali.
Tidak terlalu masuk.
Entah kenapa, pikiranku masih setengah tertinggal di pagi tadi.
—
Setelah beberapa lama—
aku mulai merasa cukup.
“Kayaknya gue mau balik dulu deh,” ucapku akhirnya.
Andi langsung menoleh. “Ya elah, baru bentar. Mau dianterin nggak?”
Aku menggeleng kecil. “Nggak usah. Ada Kak Marisa yang mau jemput.”
Andi mengangguk santai.
“Oh ya udah…” jawabnya, dengan senyum yang agak mencurigakan.
Bara langsung menyenggol bahunya. “Modus, kan lu.”
“Apaan si,” balas Andi sambil nyengir.
Aku hanya tersenyum tipis, lalu mengeluarkan HP.
Kukirim titik lokasi.
Sekalian menelepon sebentar.
“Jemput, Kak,” ucapku singkat. “Lokasinya udah aku kirim.”
Seperti biasa, jawabannya tidak panjang.
“Iya. Tunggu.”
Telepon ditutup.
—
Kami kembali ke obrolan ringan.
Lebih banyak bercanda.
Bara mulai cerita yang dilebih-lebihkan, Andi menimpali seenaknya, dan aku sesekali ikut tertawa kecil.
Waktu terasa jalan begitu saja.
—
Tak lama kemudian—
sebuah mobil berhenti di depan bengkel.
Aku langsung menoleh.
Andi dan Bara ikut melihat.
Pintu mobil terbuka.
Kak Marisa turun.
Gerakannya tenang.
Rapi.
Tanpa tergesa.
Dia melangkah masuk ke area bengkel, matanya sempat menyapu sekitar.
Bukan seperti orang asing.
Lebih seperti… memperhatikan.
“Yang mana motornya?” tanyanya begitu sampai di dekatku.
“Belum dikerjain,” jawabku santai.
“Hm.” Dia mengangguk kecil.
“Konsepnya gimana?”
Aku tersenyum tipis. “Nanti juga kelihatan kalau udah jadi.”
Kak Marisa menatapku sebentar.
Seolah membaca.
Lalu mengangguk lagi.
Tidak bertanya lebih jauh.
Andi maju sedikit.
Senyumnya langsung berubah—lebih rapi dari biasanya.
“Silakan mampir dulu, Kak,” ucapnya santai, tapi jelas ada maksud.
Kak Marisa menoleh.
Menatap sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
“Nggak usah. Lain kali aja,” jawabnya halus.
Di sampingku, Bara hanya nyengir.
Melirik Andi sekilas, lalu menggeleng kecil sambil menahan tawa.
Sementara itu—
Bang Andra tidak banyak bergerak.
Tetap di tempatnya.
Tapi sesekali—
tatapannya terarah ke arah Kak Marisa.
Singkat.
Cepat.
Seolah tidak ingin ketahuan.
Aku menangkap itu.
Sedikit.
Tapi aku tidak mengatakan apa-apa.
“Ya udah, gue duluan ya,” ucapku akhirnya.
Andi langsung mengangkat tangan. “Siap.”
Bara ikut nimbrung, “Hati-hati di jalan, Kak.”
Andi langsung memukul bahunya pelan.
“Harusnya gue yang bilang gitu. Lu nggak usah ikutan,” bisiknya—tapi tetap kedengeran.
Kak Marisa menoleh.
Mereka langsung tersenyum, sedikit menunduk sopan.
Kak Marisa mengangguk ringan.
“Iya,” jawabnya, dengan senyum kecil—nyaris seperti menahan tawa.
—
Aku membuka pintu mobil.
Masuk.
Kak Marisa menyusul.
Pintu tertutup pelan.
—
Dari dalam—
aku sempat melirik keluar.
Andi masih berdiri di sana.
Bara di sampingnya, masih dengan senyum tipisnya.
Dan Bang Andra—
sudah kembali seperti biasa.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
—
Mobil mulai berjalan.
Perlahan meninggalkan bengkel.
—
Di dalam mobil—
hening.
Seperti biasa.
Aku menyandarkan badan.
Menarik napas pelan.
—
Mobil mulai berjalan.
Beberapa detik pertama… hening.
Seperti biasa.
“Kamu temenan sama yang tadi?” tanya Kak Marisa akhirnya.
Aku menoleh sedikit. “Yang mana?”
“Yang tadi ngajak mampir,” jawabnya santai.
“Oh… Andi.”
Dia mengangguk kecil. “Dia siapa? Kok kayaknya sering di bengkel?”
“Adiknya yang punya bengkel,” jawabku. “Bang Andra.”
Kak Marisa terlihat berpikir sebentar.
“Yang mana tadi?” tanyanya lagi.
“Itu… yang lagi ngerjain motor warna oranye tua.”
“Oh…” responnya pelan.
Ada jeda sebentar.
“Yang kelihatan beda sendiri, ya,” lanjutnya, dengan nada ringan—hampir seperti menahan senyum.
Aku sedikit tersenyum. “Iya.”
“Dia sebenarnya kerja di kantor,” tambahku. “Ke bengkel cuma kalau lagi santai aja.”
“Mm…” Kak Marisa mengangguk pelan.
Pandangan kembali ke depan.
Tidak melanjutkan pertanyaan.
—
Mobil terus melaju.
Dan obrolan itu…
berhenti begitu saja.
—
Aku sampai di rumah.
Suasananya masih sama seperti biasanya. Tenang.
Aku langsung masuk, lalu berjalan ke dalam tanpa banyak pikir.
Perutku sebenarnya lapar.
Tapi bukan itu yang pertama kali kepikiran.
Bayangan pagi tadi… masih ada.
Cila.
Cara dia meringis waktu kram.
Cara dia menahan.
Dan cara dia diam setelahnya.
Aku sempat berhenti di tengah ruang.
Menghela napas pelan.
Harusnya… cukup sampai tadi.
Harusnya.
Aku akhirnya tetap makan.
Seadanya.
Cepat.
Tidak benar-benar fokus.
Hanya supaya ada alasan untuk diam sebentar.
Setelah itu—
aku berdiri.
Tanpa banyak mikir lagi.
Langsung melangkah ke belakang rumah.
—
Pintu belakang kubuka.
Udara siang langsung terasa.
Tidak sepanas siang hari biasanya.
Masih ada sisa-sisa angin pagi.
Di antara rumah kami—
ada jalur kecil.
Sudah biasa dilewati.
Tidak perlu izin.
Tidak perlu berpikir dua kali.
Aku berjalan pelan.
Langkahku tidak cepat.
Seolah… masih memberi waktu untuk membatalkan.
Tapi tidak.
Aku tetap sampai.
Halaman belakang rumah Cila sepi.
Pintu samping sedikit terbuka.
Aku mengetuk pelan.
Dua kali.
Beberapa detik.
Lalu—
“Ya?”
Suara dari dalam.
Langkah kaki terdengar semakin mendekat.
“Eh, Den Rendra… mari masuk. Nanti Bude panggil Cilanya,” jawab Bude Wati.
“Oh iya, Bude. Saya tunggu di sini saja,” jawabku.
“Oh ya udah,” jawab Bude Wati sambil tersenyum.
Aku pun duduk di sofa luar belakang rumah Cila.
—
Tak lama—
selang beberapa menit—
Cila muncul.
Lalu duduk.
Rambutnya tidak serapi tadi pagi.
Wajahnya juga lebih santai.
“Tumben. Biasanya ngabarin dulu kalau mau ke sini.”
“Hehe…” aku menggaruk belakang kepala pelan.
“Gimana… kaki kamu?”
Langsung ke inti.
Tanpa basa-basi.
Cila blink sebentar.
Seolah tidak langsung menyambung.
“Oh…”
Dia menunduk sedikit, melihat kakinya.
“Udah mendingan kok.”
Aku mengangguk kecil.
“Masih sakit?”
“Dikit.”
Dia mengangkat bahu ringan.
“Tapi udah bisa jalan.”
Aku memperhatikan cara dia duduk.
Memang sudah lebih normal.
Hening sebentar.
Tidak ada yang langsung melanjutkan.
“Ada apa?” tanya Cila akhirnya.
Nada suaranya ringan.
Tapi matanya seperti… mencoba membaca.
Aku menarik napas pelan.
“Besok… kayaknya aku nggak bisa berangkat bareng.”
Singkat.
Langsung.
Cila sedikit mengernyit.
“Kenapa?”
“Motor aku lagi di bengkel.”
Dia mengangguk kecil.
“Oh…”
Hening lagi.
Sebentar.
“Ya udah… pakai motor aku aja.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Natural.
Seolah bukan hal besar.
Aku sedikit mengangkat alis.
“Motor kamu?”
“Iya. Tapi jarang dipakai.”
Aku diam sebentar.
Jawaban itu… sebenarnya sudah jelas.
Dalam hati—
aku sudah tahu.
Aku mau.
Tapi tetap saja—
aku tidak langsung menjawab.
“Gapapa?”
Cila mengangguk.
“Gapapa.”
Lalu menambahkan—
“Daripada besok kamu ribet sendiri.”
Aku menunduk sedikit.
“Iya sih.”
Tidak banyak kata.
Cila tersenyum kecil.
Tipis.
Tidak berlebihan.
“Berarti besok tetep?” tanyanya.
Aku menoleh.
Menatapnya sebentar.
Lalu mengangguk.
“Iya,” jawabku sambil sedikit tersenyum.
“Ya udah kalo gitu aku besok ke rumah kamu,” lanjutku.
Cila mengangguk.
“Iya.”
Aku berdiri.
“Kalau gitu aku pulang ya,” ucapku.
Mulai jalan kembali ke arah rumah.
Padahal dalam hati masih ingin ngobrol.
Tapi memang tidak ada yang perlu dibahas.
—
Belum sampai jauh—
“Ndra.”
Aku berhenti.
Menoleh.
“Makasih ya…”
Suaranya pelan.
Tapi jelas.
Aku tidak langsung menjawab.
Karena belum begitu paham… makasih untuk apa.
Aku hanya mengangguk kecil.
“Iya.”
Tidak ada tambahan.
Tidak ada penjelasan.
Aku melanjutkan langkah.
Kembali ke rumah.
Lewat jalur yang sama.
—
Dan entah kenapa—
langkahku kali ini terasa lebih ringan.
Padahal…
tidak ada yang benar-benar berubah.
Atau mungkin…
justru sudah mulai berubah.