Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahligai yang runtuh
Suasana di Pondok Pesantren Al-Husayn biasanya tenang dengan lantunan ayat suci, namun pagi ini udara terasa lebih berat. Di kediaman utama—ndalem—Syarifah Intan sedang menatap tumpukan undangan pernikahan yang baru saja tiba dari percetakan. Nama yang tertera di sana adalah Azlan Faris Al-Husayn dan Aira Salsabila.
"Semua sudah siap, Bah," ujar Syarifah Intan lembut kepada suaminya, Habib Fauzan Al-Husayn, yang sedang duduk di kursi kebesarannya. "Tinggal menghitung hari. Aira juga baru saja mengabari kalau gaun pengantin cadangannya sudah selesai dia desain sendiri."
Habib Fauzan hanya mengangguk pelan. Namun, gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajah tuanya. Sebagai seorang pemimpin pesantren, ia memiliki firasat yang kuat, tapi sebagai seorang ayah, ia hanya bisa berdoa untuk keselamatan putra bungsunya.
Di sisi lain kota, di sebuah gedung perkantoran mewah, Ghibran Fahreza Al-Husayn sedang menatap layar monitornya dengan dingin. Wajahnya tegas, sangat berbeda dengan Azlan yang selalu penuh senyum. Ghibran adalah tangan kanan Babanya dalam mengelola unit usaha pesantren, sementara Azlan dipersiapkan untuk meneruskan tonggak kepemimpinan spiritual.
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Azka, sekretaris sekaligus sahabat Ghibran yang juga keturunan Syarif, masuk dengan napas tersengal. Penampilan Azka yang biasanya rapi kini berantakan, dasinya miring ke kanan.
"Ghib! Gawat, Ghib!" seru Azka sambil menggebrak meja.
Ghibran tidak bergeming. Ia hanya mengangkat alisnya sedikit. "Azka, berapa kali kubilang? Ketuk pintu. Kamu itu sekretaris atau penagih hutang?"
"Ini bukan waktunya bercanda, Bos Dingin!" Azka menyeka keringatnya. "Azlan... Azlan pingsan di aula saat memimpin hafalan santri. Dia dilarikan ke Rumah Sakit Medika. Kondisinya kritis."
Pena di tangan Ghibran patah. Ia langsung berdiri, meraih jasnya tanpa kata-kata, dan melangkah lebar keluar ruangan. Azka mengekor di belakangnya sambil terus bergumam tentang betapa buruknya situasi di pesantren saat ini.
Rumah Sakit Medika, 14:00 WIB.
Aira Salsabila berdiri mematung di depan ruang ICU. Sebagai seorang desainer muda yang sedang naik daun, biasanya jemarinya lincah menggambar pola, namun kini jemari itu bergetar hebat. Di sampingnya, Bunda Aminah dan Ayah Amir berusaha menenangkan, namun tangis Aira tak kunjung reda.
"Bunda, Azlan janji akan menjemputku sore ini untuk fitting terakhir," bisik Aira parau.
Tak lama, rombongan keluarga Al-Husayn tiba. Ghibran berjalan di depan, diikuti Habib Fauzan dan Syarifah Intan. Di sana juga sudah ada teman-teman dekat Azlan: Abrisam dan Haziq. Mereka berdua tampak pucat, saling berpandangan dengan tatapan yang menyiratkan rahasia besar.
Ghibran menghampiri Abrisam. "Apa yang terjadi? Dia baik-baik saja tadi pagi."
Abrisam menunduk, tidak berani menatap mata tajam Ghibran. "Ghib, sebenarnya... Azlan sudah lama mengeluh sakit di dadanya. Tapi dia melarang kami bicara pada siapa pun, terutama pada Baba dan Umi. Dia ingin pernikahan ini tetap berjalan tanpa gangguan."
"Bodoh!" desis Ghibran. "Kenapa kalian baru bicara sekarang?"
Pintu ICU terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lesu. Aira langsung menyerbu dokter tersebut. "Dok, bagaimana calon suami saya? Dia akan sembuh, kan? Pernikahan kami tinggal tiga hari lagi!"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Habib Fauzan dengan penuh hormat namun penuh duka. "Kami sudah melakukan yang terbaik, Habib. Namun, Allah lebih menyayangi Azlan. Mas Azlan Faris Al-Husayn... baru saja mengembuskan napas terakhirnya."
Dunia seolah berhenti berputar. Aira jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. Jeritannya memecah keheningan koridor. Syarifah Intan pingsan di pelukan Habib Fauzan. Sementara Ghibran, ia hanya berdiri kaku, menatap adiknya dari balik kaca ICU yang kini sudah ditutupi kain putih.
Tiga Hari Kemudian.
Hari yang seharusnya menjadi hari pernikahan berubah menjadi hari ketiga tahlilan. Suasana duka masih menyelimuti kediaman Habib Fauzan. Namun, di dalam ruang keluarga tertutup, sebuah diskusi berat sedang terjadi antara dua keluarga besar.
Ayah Amir tampak ragu. "Habib, hubungan kita bukan sekadar bisnis atau formalitas. Aira sangat terpukul. Tapi, undangan sudah tersebar ke ribuan kolega, para ulama, dan pejabat. Membatalkan pernikahan ini secara total akan menimbulkan fitnah dan spekulasi yang tidak baik bagi nama besar Pesantren Al-Husayn."
Habib Fauzan mengusap wajahnya. "Saya paham, Amir. Marwah keluarga Syarif harus tetap dijaga, begitu juga dengan nama baik putri Anda."
Habib Fauzan menoleh ke arah Ghibran yang duduk di sudut ruangan dengan wajah gelap.
"Ghibran," panggil Babanya dengan suara berat yang mutlak.
Ghibran mendongak. "Ya, Bah?"
"Pernikahan ini tidak boleh batal. Akad harus tetap dilaksanakan lusa, di jam yang sama, di tempat yang sama."
Ghibran mengerutkan kening. "Maksud Baba? Azlan sudah tidak ada. Dengan siapa Aira akan menikah?"
Habib Fauzan menatap Ghibran dalam-dalam. "Denganmu, Ghibran. Kamu akan menggantikan adikmu untuk menjaga Aira dan menjaga kehormatan kedua keluarga kita."
Ghibran terdiam. Amarahnya memuncak namun tertahan oleh rasa hormat. Di sisi lain pintu, tanpa mereka sadari, Aira berdiri mendengarkan semuanya. Ia meremas kain hitam yang dipakainya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂